"KGB"

Menebar Jaring
Komunitas Guru Bangsa

Latar Belakang:
            Ditengah suasana keterpurukan Bangsa yang tak kunjung usai ditimpa bencana, sementara  Pemerintah dan banyak komponen Bangsa lainnya terjebak  pada pertikaian multi SARA, ada sekelompok kecil Kader anak Bangsa  secara routin mencari solusi untuk keluar dari berbagai jeratan problema Negara. Mereka ini terdiri dari sejumlah Jendral, Mantan Presiden, Politisi, Budayawan, Seniman, Mahasiswa, Pengusaha, Para Kyai, Pendeta, sampai Rakyat jelata.
            Kelompok kecil ini tergabung dalam Pengajian Tauhid Wahdatul Ummah -TWU , yang bernaung dibawah FPN- Front Persatuan Nasional, sebuah aliansi sekitar 50 Parpol dan LSM Nasional , dan terus bertambah pengikutnya seiring makin semaraknya pemunculan Parpol-2 baru.
Walaupun namanya Pengajian, namun pesertanya Lintas Agama, Lintas Suku, Lintas Usaha, Lintas Parpol, Lintas keyakinan, yang tiap Jum’at malam Sabtu berkumpul dan berdiskusi membahas topik-topik aktual. Permasalahan apapun yang tengah berkembang di wacana Nasional maupun Internasional , secara terbuka, bebas dibahas untuk mencari solusi bersama mamadukan kaidah Dunia dan kaidah Agama.
            KH Agus Miftach, Ketua KPU 1999  dan lulusan Akademi Intelejen International Belgia, yang akrab dipanggil Gus Miftach bertindak sebagai fasilitator , komunikator sekaligus perekat bagi para tokoh Nasional dan komponen Bangsa lainya, dengan menyediakan rumahnya di Permata Hijau AA/3 Jakarta Selatan untuk berkumpulnya para Aktivis Bangsa itu.
            Sampai tulisan ini disusun sudah lebih 125 Jum’at kelompok ini berkumpul dan berdiskusi mencari solusi problema Bangsa. Dalam rentang waktu sekitar dua setengah tahun itu sejumlah Partai Politik Baru telah lahir yang Pimpinan dan pengurusnya merupakan peserta Pengajian TWU. Bahkan beberapa peserta Pengajian lainnya kini menduduki  sejumlah jabatan penting di Pemerintahan SBY. Padahal  dalam banyak diskusi di TWU Presiden ke 6 RI ini sering dijadikan sasaran kritik Pedas.
            Yang juga menarik banyak tokoh yang secara Politik maupun Keyakinan Agama saling bertentangan cukup Keras, ketika masuk menjadi peserta Pengajian TWU ini mereka memperoleh pencerahan sehingga kemudian bisa saling menghargai satu sama lain. Ada Panglima Pasukan Berani Mati- KH Nuril Arifin yang membela habis-2an saat Gus Dur diambang kejatuhannya dari Kursi Presiden, tapi juga ada Egi Sujana yang punya Pasukan Berani Mati’in, yang musuh besar Gus Dur saat berkembang isu Naga Hijau. Ada Saut Aritonang Tokoh Kristen Pengkritik Organisasi “Centeng” Pemuda Pancasila, tapi juga ada dr Hudaefah Huda yang Ketua  Dewan Pembina Pemuda Pancasila Pusat.
            Akan makin menarik jika kita membaca  daftar hadir  di buku Pengajian TWU maupun  forum Dialog FPN lainnya. Ada Polycarpus yang dituduh membunuh Munir, ada Ali Asegaf “Sang Diplomat Syiah”, Ir. Akbar Tanjung mantan Ketua Golkar, Agum Gumelar, Letjen Jaja Suparman, Letjen Agus Wijoyo, Sampai Ridwan Saidi yang anti Ahmadiyah dan HR Syukur Maskawan yang Sekjen Ahmadiyah Indonesia. Bahkan juga ada Prof Dr Mashuri Naim yang Gurubesar IAIN lulusan Arab Saudi, tapi juga ada Pendeta Yahya Sunarya yang Sekjen Gereja Kristen Indonesia. Selain itu sejumlah tokoh Nasional  dari berbagai disiplin ilmu terlalu banyak jika harus disebut satu persatu.
           
Permasalahan
            Forum Lintas Agama, Lintas Parpol, Lintas Budaya  yang mampu menghimpun berbagai tokoh komponen Bangsa untuk hadir  membahas dan mencari solusi berbagai persoalan Bangsa semacam  itu, routin dan sudah ratusan kali pertemuan  tiap Jum’at, sayangnya tak banyak Media Cetak maupun Elektronik yang mengexspose. Kalaupun ada sejumlah wartawan TV , Radio, dan Surat Kabar yang sesekali datang, mereka tak memberi porsi yang memadai atas pemberitaan isi Pengajian TWU. Ini tentu terkait dengan kenyataan bahwa hampir sebagian besar  Idealisme Media sudah”terbeli” oleh kepentingan para pemilik modal.
            Padahal jika isi pengajian dan pembahasan di forum tersebut bisa tersebar luas di masyarakat, banyak ilmu yang bisa diperoleh Bangsa ini untuk keluar dari krisis multri demensi.
            Sementara itu “Kampanye Hitam” terhadap Tokoh Pengasuh  Forum TWU ,Gus Miftach, nampaknya juga banyak menyebar dikalangan awak Media. Walaupun Gus Miftach sendiri dengan jujur mengaku ”Bukan Orang Suci” , dan bahkan disinyalir ada Tokoh-2 yang anti terhadap Keturunan Sunan Bonang dari Demak ini memberi julukan pengganti Jendral Rudini di Ketum KPU 1999 ini sebagai “Binatang Buas” , namun faktanya Gus Miftach mampu menjadi perekat banyak tokoh berbagai komponen Bangsa ini yang selalu hadir kerumahnya tanpa diberi ongkos, kecuali sekedar nasi bungkus dan air putih.

Fenomena Kontradiksi Media
            “Boikot” Media  pernah dialami Raja Ndangdut Oma Irama di era 1970an, dengan tidak boleh tampil di TVRI yang masih satu-2nya Televisi di Negeri kita waktu itu. Oma berhasil menembus pasar sesuai kebutuhan Rakyat  yang terjangkau dengan memperbanyak  produksi  kaset. Hasilnya , Oma merupakan musikus pertama Indonesia yang mampu menandingi Peralatan DEEP Purple, bahkan popularitasnya  jauh melampaui para musikus Barat itu hingga kini.
            Dalam kasus yang hampir sama Dalang Kondang sekelas Narto Sabdo almarhum dan Anom Suroto di Jawatengah, sangat sedikit mendapat porsi tampil di TV dan media lainnya. Namun dengan memperbanyak produksi kaset  mereka tetap menjadi jutawan kalau belum boleh disebut milyarder, dengan penggemar setia Jutaan orang masyarakat Jawa yang tersebar di seluruh Indonesia Narto Sabdo bahkan merupakan Dalang Pertama Indonesia yang memiliki Studio Rekaman sendiri bernama Wisanda Record. Banyak lagu Ciptaannya yang hingga kini  di modifikasi para musikus muda dalam berbagai irama.
            Bahkan saat ini ada beberapa Da’i Muda  di Jateng Jatim, yang nyaris tak pernah tampil di TV manapun dan media cetak lainnya, namun mereka mempunyai Jutaan penggemar sehingga jika kita ingin menanggapnya terpaksa  ngantri dua sampai tiga bulan. Jutaan CD dan kasetnya beredar , dan jadwal manggungnya lebih duapuluh hari tiap bulan.

Alternatip Solusi      
            Berkaca dari beberapa pemaparan diatas, bisa kita sedikit ambil kesimpulan , bahwa jika  kita memiliki Potensi yang layak untuk memenuhi  kebutuhan Rakyat , Bangsa dan Negara , namun terkendala oleh blokade Media, maka salah satu alternatip solusinya kita membangun Media Mandiri.
            Media semacam  Jasa Rekaman Instan saat ini tengah berkembang di Jakarta. Dengan membayar  sejumlah uang  yang terjangkau oleh banyak kalangan , setiap orang bisa  merekam suara dan gambar dirinya  ketika sedang bernyanyi, berpidato dll, dan langsung jadi dalam bentuk CD.
            Pada tahun 1980an di Komunitas Pengajian Gunung Agung ada  team audio Visual yang merekam semua Dialog dari setiap Santri dengan Nara Sumber, setelah selesai acara setiap orang bisa membeli kaset Video rekaman Pengajian yang mereka ikuti sebelumnya.
            Komunitas Pengajian Padang Mbulan yang diawaki Emha Ainun Najib bahkan awalnya tidak menyiapkan team perekam kegiatannya. Namun dipasaran umum beredar banyak kaset dan CD Kyai Kanjeng, Group Musik dan penutur Dakwahnya Cak Nun. Walaupun secara materi Cak Nun tidak menerima langsung royalti dari beredarnya kaset dan CD Kyai Kanjeng yang tanpa ijin dan kontrak resmi itu, namun popularitas Cak Nun kian Berkibar sehingga membanjir pesanan manggung dari dalam maupun luar Negeri.
            Beberapa ilustrasi tadi rasanya bisa kita jadikan acuan untuk menangkap peluang bagi Penyebaran Potensi Pengajian TWU melalui produksi CD  &VCD ketengah Rakyat dan Bangsa Indonesia. Jika mungkin dengan kerjasama berbagai fihak kita bisa merintis PH sederhana sebelum mampu mencapai yang profesional yang memang perlu persiapan finansial besar modal. Menebar Jaring Komunitas  Guru Bangsa mungkin padanan kata yang layak untuk program ini.
            Sejumlah pilihan tabel hitungan keperluan aset, sarana dan prasarana produksi VCD & DVD kami lampirkan untuk  kajian  mencari solusi bersama. Semoga Allah swt. Meridhoi niat, langkah serta amal ibadah kita yang lemah ini. Amien.

Jakarta, 05 Maret 2007
Wassalam, hormat kami yang lemah


N.Kukuh Sudjano
Ka.LASATGASSUS FPN
HP. 0817 6336 595
Dari Rapat terbatas FPN di Kantor Akuntan Publik H&R Aminta Plaza Lantai 7 no. 704 Jaksel- Rabu 6 Maret 2006  Jam.09.30 s/d 11.30 menghasilkan beberapa usulan.
  1. Kukuh menjelaskan Materi Rapat yang ditanyakan oleh Fuad Hamidi sebelum GM datang, dan menyampaikan copy mini Proposal pengantar Rapat berjudul Menebar jaring Komunitas Guru Bangsa.
  2. Fuad Hamidi (Ketua Wu Shu - KONI Pusat), mengusulkan agar Forum TWU memiliki web untuk mempromosikan dan memasarkan segala produk potensi FPN.
  3. Hadi Wahyudi menjelaskan bahwa walaupun dengan fasilitas  minim dari masing-masing peserta Pengajian TWU telah mulai mendokumentasikan berbagai kegiatan FPN dan membuatnya dalam bentuk VCD & DVD yang sebagian telah beredar diberbagai daerah Indonesia.
  4. Mark Sungkar Menyampaikan pengalaman ketika mendirikan Yayasan HIRA bersama Setiawan Jodi Cs, dan mengusulkan agar ada beberapa Produk TWU diantaranya : Biografi GM, Buku-2 berbagai materi potensi dialog TWU, VCD dll. Namun menurut Mark, agar tidak terulang kegagalan seperti saat membuat program dengan HIRA, ia ingin tahu lebih dahulu  apa sesungguhnya visi misi arah tujuan GM dan FPN  dimasa depan.
  5. GM menjelaskan visi misi FPN dan menegaskan bahwa FPN tidak akan menjadi Partai Politik, melainkan akan tetap menjadi wadah bagi semua kelompok  Parpol, Ormas dan individu lintas agama , golongan, suku dan berbagai keyakinan. Tujuan FPN menciptakan kader Bangsa yang tetap komit pada toleransi atas berbagai perbedaan, serta membawa Negeri ini kearah kemajuan dengan amal efektip seraya mengadopsi segala potensi kemajuan teknologi dan globalisasi namun tetap dalam Bingkai Tauhid Ilahi.
  6. GM menunjuk Mark Sungkar sebagai Ketua Persiapan tim FPN merealisir  berbagai gagasan yang tertuang dalam Rapat. Sementara forum menyetujui akan ada Rapat berkelanjutan dengan waktu dan tempat yang akan dikomunikasikan kemudian.


Dialog dari Forum Tauhid Wahdatul Ummah Permata Hijau AA/3 Jakarta Selatan

  1. Dr. Soekmana Soema – Ketua ICMA (2 Maret 2007) agak pesimis, dengan mengemukakan  kekawatiran jangan- jangan 20 tahun yang akan datang  kita sudah tidak  bisa memiliki Paspor Indonesia, karena Indonesia mungkin sudah bubar.
  2. Marwah Daud Ibrahim- Ketua Umum ICMI (2 Maret 2007) , mengajukan gagasan untuk meraih kemakmuran dan keadilan bagi Bangsa Indonesia, dengan konsep membagi Zona Indonesia Barat, Tengah dan Timur. Zona Barat terdiri dari seluruh Propinsi yang ada di Sumatra dan sekitarnya sampai  DKI sekitar dan Jawabarat. Zona Tengah terdiri dari Kalimantan Jawa Tengah DIY . Zona Timur terdiri dari  Sulawesi sekitarnya Jawa Timur sampai Papua. Menurut Marwah, sebaiknya ada beberapa Ibukota sesuai karakter dan Potensi  Daerah. Karena selama ini Jakarta telah kian terlalu berat menjadi Ibukota dengan segala fungsi. Ibukota Negara dan Pemerintahan, tapi juga Pusat Bisnis, Pusat Film, Pusat Industri, Perdagangan dll. Dimasa depan sebaiknya dipisahkan ada Ibu Kota Pemerintahan, ada Kota  Pusat Film, , Kota Industri dll, yang menyebar diseluruh wilayah Indonesia. Marwah juga mengemukakan rasa optimismenya akan masa depan Indonesia yang diyakini bisa memimpin peradapan dunia, dengan asumsi sejarah siklus kebangkitan dan Kejayaan Kerajaan-2 Besar di kawasan Nusantara Raya yang terjadi setiap 700 tahun. Marwah menyebut nama kerajaan Besar semacam Kutai Kartanegara, Sriwijaya, Singosari , Majapahit dll. Jika memakai asumsi siklus 700 tahunan itu maka , Indonesia akan  meraih kebangkitan dan kejayaan diabad 21 ini, ujar Marwah yakin.
  3. Gus Nuril – Ketua FORKHAGAMA (23 Feb 2007) banyak mengritik pedas SBY dan pemerintahannya. Tertutama berkaitan dengan nasib para petani beras, dan ketidak setujuan GN atas import beras menjelang panen raya yang dilakukan Pemerintah, berakibat tingginya harga beras yang keuntungannya tidak dinikmati para petani , melainkan hanya dinikmati oleh segelintir calo importir beras. Akibatnya GN memperoleh tanggapan keras pula dari peserta pengajian yang nampaknya pendukung SBY, dengan mengatakan, jangan menyalahkan SBY dong. Kan SBY dipilih langsung oleh Rakyat! Jadi salahkan juga Rakyat yang memilih.  
  4. GN dengan tangkas menjawab orang yang sok membela SBY sambil menyuruh salahkan Rakyat yang memilih SBY. Kata GN, jangan coba- coba menyalahkan Rakyat. Karena yang salah bukan Rakyat, melainkan orang dan lembaga serta Undang-2 yang menyuruh Rakyat memilih langsung Presiden, padahal mereka puluhan tahun tidak boleh belajar Politik. Rakyat hanya tahu dan butuh makan. Jadi siapapun yang ngasih uang buat makan, biasanya itulah yang dipilih rakyat. Nah, sistem ini jelas hanya memberi peluang mereka yang banyak duit untuk berkuasa. Kalo menurut Gus Miftach, yang bisa mengumpulkan duit banyak ya hanya para koruptor, para bandit, dan penjahat lainnya.


   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar