Pengajian Keenampuluh
Satu (61).
“Lalu
keduanya digelincirkan oleh setan dari surga itu dan dikeluarkan dari keadaan
semula. Dan Kami berfirman, “Turunlah kamu ! sebagian kamu menjadi musuh bagi
yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi dan kesenangan hidup
hingga waktu yang ditentukan”. (Al-Baqoroh : 36).
Ayat ini masih dalam rangkaian penciptaan Adam sejak ayat
ke-30. Kita akan membahasnya secara eklektik dari multiprespektif dan holistis,
agar tercapai pemahaman yang utuh dan komprehensif serta hikmah yang
setinggi-tingginya.
Pokok Bahasan
Dalam ayat ini, diungkapkan bahwa setan telah menggoda Adam
dan Hawa agar memakan buah yang diharamkan Allah yang dinamakan setan buah
“pohon khuldi” (pohon keabadian);
Firman Allah :
“Kemudian
setan membisikkan pikiran jahat kepadanya, dengan berkata : ‘Hai Adam maukah
saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldi, dan kerajaan yang tidak akan binasa
?’” ; (Thoha : 120).
Demikianlah Adam dan Hawa memakan buah khuldi, artinya telah
melanggar larangan Allah. Karena kesalahan itu, mereka diperintahkan keluar
dari surga dan turun ke bumi. Ras keturunan mereka akan bermusuhan satu sama
lain. Namun mereka mendapatkan pula sejumlah kenikmanatan di bumi berupa rizki
dan lain-lain sampai ajal masing-masing..
Dengan demikian maka secara agnostic tidak ada kehidupan kekal di bumi.
Akhir dari seluruh kehidupan di bumi adalah hari kiamat. Secara harfiah setan telah membohongi dan
menyesatkan pikiran mereka.
Tetapi transfer Adam dan Hawa dari surga yang transcendent
ke bumi yang agnostic bukan bersifat pembinasaan, melainkan memenuhi fungsinya
sebagai khalifah untuk membangun peradaban di bumi dalam masa yang ditentukan
dan kelak kembali lagi ke alam transendent (akhirat). Dengan demikian, maka
peristiwa “buah khuldi” ini terjadi dengan kehendak Allah pula. Maka tidak
dibinasakannya Iblis oleh Allah mengandung pula rahasia sebuah fungsi yang
bersifat point of selections. Maka semua peristiwa ini dalam mekanisme yang
memang sudah dirancang oleh Allah Yang Maha Mengetahui tentang rahasia-rahasia
dan hikmat yang tinggi dibalik perbuatan Allah sendiri.
Menurut riwayat Ibnu Abi Hatim, Adam diturunkan di India
bersama Hajar Aswad, sedangkan Hawa diturunkan di Jeddah. Sementara Iblis diturunkan
di Dastamaisan dekat Bashrah.
Muslim dan Nasa’i
meriwayatkan dari Abu Hurairah r.a., bahwa Rasulullah saw bersabda :
“Hari terbaik dimana matahari terbit adalah hari Jum’at. Pada hari itu Adam
diciptakan, dimasukkan ke dalam surga dan dikeluarkan darinya”. (Disarikan dari
Tafsir Jalalain dan Tafsir Ibnu Katsir).
Ulasan.
Dalam peradaban manusia dikenal tiga species yang tertinggi,
yaitu manusia, malaikat dan iblis. Sifat-sifat dasar ketiganya tercemin dalam
sifat-sifat dasar origin species Adam, Malaikat dan Iblis dengan ciri-ciri :
a. perpaduan akal-pikiran,
ruh, dan nafsu/naluri (ras manusia),
b. perpaduan ruh dan
akal-naluri (ras malaikat)
c. perpaduan nafsu dan
akal-naluri (ras jin).
Oleh karena perbedaan genetic tersebut, maka terjadi
perbedaan konstitusi dan jalan hidup masing-masing :
1. Species malaikat hanya
tahu satu jalan, yaitu patuh dan taat kepada Yang Maha Ruh, yaitu Allah Azza wa
Jalla. Akal-nalurinya secara mekanis hanya bekerja untuk itu.
2. Species jin hanya tahu
memenuhi hawa nafsu. Akal nalurinya secara mekanis hanya bekerja untuk itu,
3. Species manusia
mengetahui jalan ruh dan jalan nafsu sekaligus. Akal pikiran manusia memiliki
kebebasan untuk memilih jalan yang mana atau mengkombinasikan kedua jalan itu
dan membentuk jalan baru, jalan ketiga yang berbeda dari jalan malaikat dan
jalan iblis, yaitu jalan tauchid, dimana kesadaran akal-pikiran, ruh dan nafsu
bekerja untuk mencapai titik-equilibrium tertinggi dan menyatu dengan Sang Maha
Pencipta. Itulah jalan para nabi dan para rasul dan orang-orang yang mengikuti
mereka.
Melihat dasar-dasar genetika tersebut, maka hanya manusia
beriman-tauchid dan malaikat yang akan mengisi alam akhirat sesudah kematian,
karena hanya origin “ruh” yang dapat menjadi penghuni habitat akhirat.
Sedangkan iblis tidak memiliki ruh. Nafsu dan akal-naluri yang menjadi inti
iblis (ras-jin) tidak bersifat transcendental
melainkan agnostic. Maka iblis akan sirna bersama seluruh konstelasi
alam agnostic (inderawi) pada hari kiamat.
Khalifah di Jerusalem
Secara empirik sejarah manusia belum berhasil mengungkapkan
peradaban zaman Adam. Dunia ilmu pengetahuan belum memiliki bukti-bukti
arkeologis tentang keberadaan zaman itu. Peradaban agama-agama samawi baru
terjejaki pada masa Jerusalem, terutama pada masa Raja Daud yang naik tahta di
Jerusalem pada th. 1000 SM. Tentang Raja Kanaan bersatu ini telah kita kaji
secara antropologis dalam dua pengajian terdahulu, dan masih akan terus kita
lanjutkan.
Perhatikan Firman Allah :
“Hai
Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka
berilah keputusan (perkara) diantara manusia dengan adil dan janganlah kamu
mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah.
Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat adzab yang
berat karena mereka melupakan hari perhitungan” ; (Shaad : 26).
Ayat tersebut memastikan posisi Daud a.s. dalam struktur
transendensi Islam, yaitu sebagai seorang khalifah (di Jerusalem) yang membawa
misi keadilan di jalan Allah. Untuk itu Daud harus mengikuti tuntunan Allah dan
tidak boleh mengikuti hawa nafsu yang menjadi sumber kesesatan.
Jerusalem yang telah ditetapkan sebagai Kota Daud dan
ibukota dari Kerajaan Kanaan bersatu yang terdiri dari Kerajaan Israel di Utara
dan Kerajaan Yehuda di Selatan, memiliki letak strategis yang jauh lebih
menguntungkan dibandingkan ibukota Kerajaan Yehuda-Hebron yang menjadi pusat
kedudukan Daud sebelumnya sebagai Raja Yehuda. Terletak didataran tinggi yang
dirasa aman dari serangan tiba-tiba dari Filistin, Sinai dan Negev. Bahkan
cukup aman dari serangan kerajaan-kerajaan baru Amon dan Moab di tepi timur
Sungai Yordan. Daud adalah raja terbesar Kanaan, namun belum sempurna kalau ia
belum memindahkan “Tabut Perjanjian”. Maka diputuskanlah untuk memindahkan
tabut suci itu, yang diyakini oleh kaum Yahwis sebagai singgasana Yahweh di muka bumi, dari tempat penyimpanannya di sebuah tenda di
Kireath-Jearim di perbatasan sebelah
barat kerajaan ke Jerusalem. Tujuan utama Daud ialah untuk mendapatkan
legitimasi dari suku-suku Israel di Utara, karena kedudukan Jerusalem yang
tidak memiliki ikatan sacral dengan kaum Yahwis, dengan pemindahan “Tabut
Perjanjian” itu akan menjadikan Jerusalem sebagai kota-suci Yahweh. Tabut suci
itu setelah dipindahkan, seperti biasanya ditempatkan disebuah tenda, dan
disambut meriah di samping Mata Air Gihon diluar tembok Jerusalem dimana Daud
menari-nari dan mempersembahkan korban. Namun ketika Daud bermaksud membangun
kuil (tempat ibadah) yang premanen untuk Yahweh yang memang belum pernah
dibangun sebelumnya, nabi Nathan memberitahu Daud, bahwa Yahweh berfirman,
bahwa Dia selalu menjalani kehidupan sebagai pengembara di sebuah tenda. Dia
tidak ingin rumah untuk Diri-Nya sendiri; sebaliknya Dia akan membangun sebuah
rumah untuk Daud, sebuah dinasti yang akan berlangsug selamanya (Karen
Armstrong 1997).
Para antropolog berpendapat nabi Nathan khawatir terlalu
cepatnya menurunkan El-Elyon, tuhan Jerusalem, tuhannya bangsa Yebus, dengan
menaikkan Yahweh sebagai tuhan tertinggi yang masih dirasa asing bagi mayoritas
Yebus di Jerusalem, bisa mengundang sensibilitas yang tidak menguntungkan.
Disamping itu terdapat keberatan dikalangan suku-suku Israel dan Yehuda yang
terbiasa dengan citra nomadic Yahweh yang tidak seperti tuhan-tuhan pagan di Kanaan
yang terbatas pada suatu tempat suci tertentu. Wal-hasil sepanjang
pemerintahannya Daud belum berhasil membangun kuil agung atau tempat suci bagi
pemujaan Yahweh yang premanen di Jerusalem. Ini baru tercapai pada masa
pemerintahan Raja Sulaiman putra Daud, yang kelak disebut Haekal Sulaiman.
Apakah Yahweh sama dengan Allah ? Muslimin memandang Allah
tidak sebagaimana Bani Israil memandang Yahweh, meskipun terdapat pula
persamaan-persamaannya. Kita juga memandang Nabi Daud a.s. tidak sama seperti
mereka memandang Raja Daud meskipun terdapat pula persamaan-persamaannya. Bagi
mereka Daud adalah raja ideal, tapi bukan nabi. Dimasa Daud yang diakui sebagai
nabi Yahudi adalah Nathan. Sebaliknya Muslimin tidak mengenal nabi Nathan. Kita
lanjutkan pada pengajian berikutnya.
Terima Kasih, Birrachmatillahi Wabi’aunihi fi Sabilih.
Wassalamu’alaikumk War. Wab.
Jakarta, 23 September 2005,
Pengasuh,
HAJI AGUS MIFTACH
Ketua Umum Front Persatuan Nasional.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar