7.7.17

Pengajian Keenampuluh Satu (61).-TWU

Pengajian Keenampuluh Satu (61).

Assalamu’alaikum War. Wab.

“Lalu keduanya digelincirkan oleh setan dari surga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula. Dan Kami berfirman, “Turunlah kamu ! sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi dan kesenangan hidup hingga waktu yang ditentukan”. (Al-Baqoroh : 36).

Ayat ini masih dalam rangkaian penciptaan Adam sejak ayat ke-30. Kita akan membahasnya secara eklektik dari multiprespektif dan holistis, agar tercapai pemahaman yang utuh dan komprehensif serta hikmah yang setinggi-tingginya.

Pokok Bahasan

Dalam ayat ini, diungkapkan bahwa setan telah menggoda Adam dan Hawa agar memakan buah yang diharamkan Allah yang dinamakan setan buah “pohon khuldi” (pohon keabadian);

Firman Allah :





“Kemudian setan membisikkan pikiran jahat kepadanya, dengan berkata : ‘Hai Adam maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldi, dan kerajaan yang tidak akan binasa ?’” ; (Thoha : 120).

Demikianlah Adam dan Hawa memakan buah khuldi, artinya telah melanggar larangan Allah. Karena kesalahan itu, mereka diperintahkan keluar dari surga dan turun ke bumi. Ras keturunan mereka akan bermusuhan satu sama lain. Namun mereka mendapatkan pula sejumlah kenikmanatan di bumi berupa rizki dan lain-lain sampai ajal masing-masing..  Dengan demikian maka secara agnostic tidak ada kehidupan kekal di bumi. Akhir dari seluruh kehidupan di bumi adalah hari kiamat.  Secara harfiah setan telah membohongi dan menyesatkan pikiran mereka.
Tetapi transfer Adam dan Hawa dari surga yang transcendent ke bumi yang agnostic bukan bersifat pembinasaan, melainkan memenuhi fungsinya sebagai khalifah untuk membangun peradaban di bumi dalam masa yang ditentukan dan kelak kembali lagi ke alam transendent (akhirat). Dengan demikian, maka peristiwa “buah khuldi” ini terjadi dengan kehendak Allah pula. Maka tidak dibinasakannya Iblis oleh Allah mengandung pula rahasia sebuah fungsi yang bersifat point of selections. Maka semua peristiwa ini dalam mekanisme yang memang sudah dirancang oleh Allah Yang Maha Mengetahui tentang rahasia-rahasia dan hikmat yang tinggi dibalik perbuatan Allah sendiri.

Menurut riwayat Ibnu Abi Hatim, Adam diturunkan di India bersama Hajar Aswad, sedangkan Hawa diturunkan di Jeddah. Sementara Iblis diturunkan di Dastamaisan dekat Bashrah.
Muslim dan Nasa’i  meriwayatkan dari Abu Hurairah r.a., bahwa Rasulullah saw bersabda : “Hari terbaik dimana matahari terbit adalah hari Jum’at. Pada hari itu Adam diciptakan, dimasukkan ke dalam surga dan dikeluarkan darinya”. (Disarikan dari Tafsir Jalalain dan Tafsir Ibnu Katsir).

Ulasan.

Dalam peradaban manusia dikenal tiga species yang tertinggi, yaitu manusia, malaikat dan iblis. Sifat-sifat dasar ketiganya tercemin dalam sifat-sifat dasar origin species Adam, Malaikat dan Iblis dengan ciri-ciri :
a.    perpaduan akal-pikiran, ruh,  dan nafsu/naluri (ras manusia),
b.    perpaduan ruh dan akal-naluri (ras malaikat)
c.    perpaduan nafsu dan akal-naluri (ras jin).

Oleh karena perbedaan genetic tersebut, maka terjadi perbedaan konstitusi dan jalan hidup masing-masing :
1.     Species malaikat hanya tahu satu jalan, yaitu patuh dan taat kepada Yang Maha Ruh, yaitu Allah Azza wa Jalla. Akal-nalurinya secara mekanis hanya bekerja untuk itu.
2.    Species jin hanya tahu memenuhi hawa nafsu. Akal nalurinya secara mekanis hanya bekerja untuk itu,
3.    Species manusia mengetahui jalan ruh dan jalan nafsu sekaligus. Akal pikiran manusia memiliki kebebasan untuk memilih jalan yang mana atau mengkombinasikan kedua jalan itu dan membentuk jalan baru, jalan ketiga yang berbeda dari jalan malaikat dan jalan iblis, yaitu jalan tauchid, dimana kesadaran akal-pikiran, ruh dan nafsu bekerja untuk mencapai titik-equilibrium tertinggi dan menyatu dengan Sang Maha Pencipta. Itulah jalan para nabi dan para rasul dan orang-orang yang mengikuti mereka.

Melihat dasar-dasar genetika tersebut, maka hanya manusia beriman-tauchid dan malaikat yang akan mengisi alam akhirat sesudah kematian, karena hanya origin “ruh” yang dapat menjadi penghuni habitat akhirat. Sedangkan iblis tidak memiliki ruh. Nafsu dan akal-naluri yang menjadi inti iblis (ras-jin) tidak bersifat transcendental   melainkan agnostic. Maka iblis akan sirna bersama seluruh konstelasi alam agnostic (inderawi) pada hari kiamat.

Khalifah di Jerusalem

Secara empirik sejarah manusia belum berhasil mengungkapkan peradaban zaman Adam. Dunia ilmu pengetahuan belum memiliki bukti-bukti arkeologis tentang keberadaan zaman itu. Peradaban agama-agama samawi baru terjejaki pada masa Jerusalem, terutama pada masa Raja Daud yang naik tahta di Jerusalem pada th. 1000 SM. Tentang Raja Kanaan bersatu ini telah kita kaji secara antropologis dalam dua pengajian terdahulu, dan masih akan terus kita lanjutkan.



Perhatikan Firman Allah :






“Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) diantara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat adzab yang berat karena mereka melupakan hari perhitungan” ; (Shaad : 26).

Ayat tersebut memastikan posisi Daud a.s. dalam struktur transendensi Islam, yaitu sebagai seorang khalifah (di Jerusalem) yang membawa misi keadilan di jalan Allah. Untuk itu Daud harus mengikuti tuntunan Allah dan tidak boleh mengikuti hawa nafsu yang menjadi sumber kesesatan.

Jerusalem yang telah ditetapkan sebagai Kota Daud dan ibukota dari Kerajaan Kanaan bersatu yang terdiri dari Kerajaan Israel di Utara dan Kerajaan Yehuda di Selatan, memiliki letak strategis yang jauh lebih menguntungkan dibandingkan ibukota Kerajaan Yehuda-Hebron yang menjadi pusat kedudukan Daud sebelumnya sebagai Raja Yehuda. Terletak didataran tinggi yang dirasa aman dari serangan tiba-tiba dari Filistin, Sinai dan Negev. Bahkan cukup aman dari serangan kerajaan-kerajaan baru Amon dan Moab di tepi timur Sungai Yordan. Daud adalah raja terbesar Kanaan, namun belum sempurna kalau ia belum memindahkan “Tabut Perjanjian”. Maka diputuskanlah untuk memindahkan tabut suci itu, yang diyakini oleh kaum Yahwis sebagai singgasana Yahweh di muka bumi, dari tempat penyimpanannya di sebuah tenda di Kireath-Jearim di perbatasan sebelah barat kerajaan ke Jerusalem. Tujuan utama Daud ialah untuk mendapatkan legitimasi dari suku-suku Israel di Utara, karena kedudukan Jerusalem yang tidak memiliki ikatan sacral dengan kaum Yahwis, dengan pemindahan “Tabut Perjanjian” itu akan menjadikan Jerusalem sebagai kota-suci Yahweh. Tabut suci itu setelah dipindahkan, seperti biasanya ditempatkan disebuah tenda, dan disambut meriah di samping Mata Air Gihon diluar tembok Jerusalem dimana Daud menari-nari dan mempersembahkan korban. Namun ketika Daud bermaksud membangun kuil (tempat ibadah) yang premanen untuk Yahweh yang memang belum pernah dibangun sebelumnya, nabi Nathan memberitahu Daud, bahwa Yahweh berfirman, bahwa Dia selalu menjalani kehidupan sebagai pengembara di sebuah tenda. Dia tidak ingin rumah untuk Diri-Nya sendiri; sebaliknya Dia akan membangun sebuah rumah untuk Daud, sebuah dinasti yang akan berlangsug selamanya (Karen Armstrong 1997).

Para antropolog berpendapat nabi Nathan khawatir terlalu cepatnya menurunkan El-Elyon, tuhan Jerusalem, tuhannya bangsa Yebus, dengan menaikkan Yahweh sebagai tuhan tertinggi yang masih dirasa asing bagi mayoritas Yebus di Jerusalem, bisa mengundang sensibilitas yang tidak menguntungkan. Disamping itu terdapat keberatan dikalangan suku-suku Israel dan Yehuda yang terbiasa dengan citra nomadic Yahweh yang tidak seperti tuhan-tuhan pagan di Kanaan yang terbatas pada suatu tempat suci tertentu. Wal-hasil sepanjang pemerintahannya Daud belum berhasil membangun kuil agung atau tempat suci bagi pemujaan Yahweh yang premanen di Jerusalem. Ini baru tercapai pada masa pemerintahan Raja Sulaiman putra Daud, yang kelak disebut Haekal Sulaiman.

Apakah Yahweh sama dengan Allah ? Muslimin memandang Allah tidak sebagaimana Bani Israil memandang Yahweh, meskipun terdapat pula persamaan-persamaannya. Kita juga memandang Nabi Daud a.s. tidak sama seperti mereka memandang Raja Daud meskipun terdapat pula persamaan-persamaannya. Bagi mereka Daud adalah raja ideal, tapi bukan nabi. Dimasa Daud yang diakui sebagai nabi Yahudi adalah Nathan. Sebaliknya Muslimin tidak mengenal nabi Nathan. Kita lanjutkan pada pengajian berikutnya.
Terima Kasih, Birrachmatillahi Wabi’aunihi fi Sabilih.
Wassalamu’alaikumk War. Wab.

Jakarta, 23 September 2005,
Pengasuh,



HAJI AGUS MIFTACH
Ketua Umum Front Persatuan Nasional.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar