11.7.17

Pengajian Ketujuhpuluh Enam (76).






Pengajian Ketujuhpuluh Enam (76).

Assalamu’alaikum War. Wab.
Bismillahirrahmanirrahiem,






“Dan (ingatlah) ketika Kami berjanji kepada Musa (memberikan Taurat) sesudah empat puluh malam, lalu kamu menjadikan anak lembu (sembahanmu) sepeninggalnya, dan kamu adalah orang-orang yang dzalim” ; (Al-Baqoroh : 51).

Sesuai tradisi pengajian ini, kita akan membahas ayat diatas dengan pendekatan eklektik secara multiperspektif untuk mencapai kedalaman dan hikmah yang setinggi-tingginya dari kandungan ayat.

Pokok Bahasan.

Ayat diatas merupakan satu kesatuan rangkaian dengan ayat sebelumnya. Maka makna yang mengantar  ayat ini ialah : ‘setelah diselamatkan Allah menyeberangi  Laut Merah, Bani Israil bertanya kepada Musa a.s. : “Kapankah Allah akan menurunkan kitab suci kepada Musa ?”. Maka Allah menjanjikan kepada Musa akan memberikan Kitab Taurat untuk menjadi pedoman bagi Bani Israil; dan Allah menentukan waktunya adalah empat puluh malam. Tafsir Ibnu Katsir menuturkan, masa 40 malam itu terbagi 30 hari dalam bulan Dzulqo’idah dan 10 hari terakhir dalam bulan Dzulhijjah.
Bani Israil menganggap waktu penantian itu terlalu lama, maka dalam kesesatannya mereka dengan pelopor Samiri membuat patung anak sapi dari emas yang dapat bersuara yang mereka jadikan sebagai sesembahan lain mereka. Atas peristiwa itu Tafsir Jalalain menyatakan Bani Israil telah menganiaya diri sendiri dengan berlaku syirik terhadap Allah SWT. Kondisi kejiwaan Bani Israil sungguh misterius. Kepada mereka akan diturunkan Kitab Suci (Taurat) seperti yang mereka harapkan, dan itu merupakan nikmat yang sangat besar dari Allah setelah nikmat-nikmat sebelumnya, tetapi mereka balas dengan perbuatan keji, kafir dan bodoh. Tidak ada lain jawabannya ialah bahwa konstitusi jiwa Bani Israil telah sepenuhnya berisi nilai-nilai system penyembahan berhala Mesir dimana mereka telah tinggal dalam mainstream kebudayaan itu selama sekitar 4 abad. Sesuatu yang tidak mudah diubah karena telah mendominasi ketidaksadaran kolektif mereka dan mempengaruhi seluruh struktur nilai kesadaran, sehingga seluruh sikap mental dan perilaku Bani Israil masih sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai peradaban penyembahan berhala Mesir itu, walaupun mereka telah menyaksikan dengan nyata ketuhanan Allah SWT.

Ordo Illuminaiti.

Ini adalah bahasan yang keenam dari kajian Ordo Illuminaiti. Ambisi Illuminati-Freemasonry untuk menguasai keuangan Rusia, Jerman, Jepang dan Amerika Serikat pada akhirnya berhasil. Satu jenjang strategis untuk menguasai dunia dalam Novus Ordo Seclorum. Mendiang Albert Pike sebagai seorang pemimpin Qabalis sejati  menyebut rencana ini sebagai karya besar Lucifer. Untuk mencapai mahakarya ini pengorbanan tidak perlu dirisaukan, bahkan ratusan juta jiwa umat manusia-pun sepadan. Perang Dunia ke I dan II membuktikan semangat haus darah-Qabbalis  dari Ordo Illuminati-Freemasonry itu.
Jika rencana-rencana Albert Pike berjalan, maka Perang Dunia ke-III yang direncanakan terjadi pada awal abad ke-21 akan berawal dari masalah Israel dengan Palestina. Pandangan Samuel P Huntington dalam “the Clash of Civilization” yang memprediksi benturan peradaban Barat dengan peradaban Islam dan Khonghucu dimana Barat akan keluar sebagai pemenang, secara tidak langsung telah membenarkan rencana Albert Pike dan Novus Ordo Seclorum-nya.

Untuk mencapai tujuan ‘Satu Pemerintahan Dunia atau E Pluribus Unum’, Illuminti-Freemasonry merekayasa penghancuran semua identitas nasional dan kebanggaan nasional. Sesungguhnya globalisasi dewasa ini mengarah ke suatu fragmentasi bangsa-bangsa atau the end of nation states (akhir dari negara-bangsa), melalui rekayasa konflik etnik, agama, budaya dan kedaerahan yang dengan sendirinya akan memecah belah negara-negara nasional. Contoh penting pola itu ialah bubarnya Uni Sovyet dan Yugoslavia. Saya ingin mengatakan bahwa pola yang sama dapat terjadi di Asia Timur dan Asia Tenggara, tidak terkecuali Indonesia. Pola persaingan bebas, juga memiliki agenda tersembunyi, yaitu multikonflik yang akan melahirkan sempalan-sempalan yang akan dengan mudah di aneksasi kedalam pengaruh Illuminati-Freemasonry, menjadi teritori ideology Neo-Zionis dunia. Perlu pula diperhatikan system yang disebut Zbignew Brzezinski dengan istilah “technotronic”, yaitu suatu penguasaan opini publik melalui media massa dan terorisme internasional.
Illuminti juga mendorong legalisasi madat dan pornografi yang dikamuflasekan sebagai “bentuk seni”, sehingga lambat laun dapat diterima masyarakat dan dianggap wajar. Suatu fakta bahwa sejumlah majalah pornografi dan terakhir rencana penerbitan majalah pornografi “Playboy” edisi Indonesia, didukung oleh dana kelompok bisnis Zionis.
Sesungguhnya serangan terhadap peradaban tengah dilancarkan oleh Illuminati-Freemasonry dalam upaya mereka untuk menemukan pijakan yang kokoh ditingkat dunia untuk melahirkan “Tatanan Dunia Baru dan Pemerintahan Dunia Tunggal” Neo-Zionisme.

Sejumlah pemimpin dan pemikir dikalangan  negara-negara yang memiliki pengamatan yang tajam tentu melihat serangan tsb. Inilah yang menurut sosiolog Samuel P Huntington melahirkan kecenderungan negara-negara kembali menengok budaya, nilai-nilai dan pola perilaku tradisional mereka, Saya melihat itu merupakan suatu keniscayaan untuk mempertahankan eksistensi nasional mereka dari serangan Illuminati-Freemasonry melalui sosok peradaban Barat. Ini akan dapat menjebak dunia dalam konflik peradaban Barat dan non-Barat.
Melihat kecenderungan itu, maka identitas peradaban menjadi penting sekaligus krusial di masa depan. Dan pada kenyataannya dunia dibentuk sebagian besar oleh hubungan timbal balik beberapa peradaban besar a.l. : peradaban Barat, Islam, Khonghucu, Jepang, Hindu, Slavik-Ortodoks, Amerika Latin dan Afrika. Pola Illuminati-Freemasonry akan memicu konflik sepanjang perbatasan budaya yang memisahkan satu peradaban dengan peradaban lain menjadi garis perang yang nyata. Sang genius sesat Albert Pike telah melihat gejala ini pada akhir abad 19.
Perbedaan peradaban bersifat mendasar, meliputi sejarah, bahasa, budaya, tradisi dan yang paling penting agama. Perbedaan peradaban menyangkut perbedaan pandangan tentang hubungan Tuhan dengan manusia, individu dengan kelompok, penduduk dengan negara, orang tua dengan anak, suami dan istri, hak dan kewajiban, otoritas dan kebebasan, hierarki dan persamaan. Perbedaan-perbedaan peradaban ini merupakan produk sejarah selama beradab-abad bahkan berpuluh abad sebelumnya. Mendominasi ketidaksadaran kolektif manusia dan mempengaruhi seluruh struktur nilai kesadaran. Maka tidak akan mudah lenyap. Nilai-nilainya jauh lebih mendasar dibanding perbedaan-perbedaan ideology politik dan rezim-rezim politik. Meskipun perbedaan tidak selalu bermakna konflik dan kekerasan. Namun suatu kenyataan, selama berabad-abad perbedaan peradaban telah menghasilkan berbagai konflik berkepanjangan dan keras seperti tampak dalam sejarah panjang Jerusalem hingga masa kini. Dengan demikian maka dasar pemikiran Albert Pike (Illuminati-Freemasonry) yang dilegitimasi oleh Samuel P. Huntington bukan utopia, tetap logik. Dan karena itu kita tidak dapat menganggpnya tidak ada. Apalagi kalau kita menyimak proses Revolusi Perancis, PD I dan PD II serta kecenderungan yang terjadi di dunia dewasa ini, terutama akibat serangan Amerika terhadap Irak dan ketegangan antara Amerika dengan Iran,  rasanya kita harus semakin memperteguh ketauhidan kita dan meningkatkan akselerasi modernitas sampai kepuncaknya. Cara terbaik adalah akulturasi dan simbiosisme peradaban modern yang netral terhadap konflik sejarah dan berpihak kepada masa depan bersama dalam tatanan dunia yang baru yang adil, sejahtera, bebas dan beriman.

Kehancuran Jerusalem.

Kita lanjutkan parallel pembahasan khilafat di Jerusalem yang memasuki babak dekreasi (pembinasaan). Kota suci Jerusalem setelah kehancurannya pada th. 586 SM akibat serbuan Kaisar Babilonia Nebukadnezar, kini tinggal menjadi reruntuhan yang najis dan dipandang hina. Dalam keputusasaan warganya terdengar ratapan-ratapan yang tak lagi mengutuk Babilonia melainkan menyesali dosa-dosa mereka, sehingga Yahweh menghancurkan Jerusalem, terutama karena dosa Bani Israil sendiri.

Jerusalem tak dapat dihuni lagi, terlalu hancur untuk dijadikan pemukiman yang layak. Sementara di ujung bagian selatan bekas Kerajaan Yehuda dibanjiri  orang-orang Edom (Arab Palestina) musuh tradisional Bani Israil. Kabilah-kabilah Edom itu meletakkan fondasi Kerajaan Idumea masa depan.
Adapun  sebagian besar orang-orang Yehuda yang tertinggal dari deportasi bermigrasi ke Samerina di Utara (sisa negeri Israel), kelompok-kelompok mereka tinggal di Mizpah, Gibeon (ibukota lama Israel) atau Bethel (kota suci di Utara).
Nebukadnezar mengangkat Gedalya, cucu laki-laki sekretaris Raja Yosia menjadi Gubernur Israel/Yehuda berkedudukan di Mizpah. Gedalya berusaha keras untuk menormalisasi keadaan dengan dukungan Babilonia yang berkeinginan membangun kembali Negeri Kana’an itu. Babilonia membagi-bagikan tanah milik deportan kepada orang-orang miskin yang tinggal di sektor-sektor tertinggal yang paling di eksploitasi sebelumnya di Yehuda, dalam upaya untuk meraih loyalitas bekas Kerajaan ini. Tapi upaya ini gagal. Para perwira tentara Yehuda yang melarikan diri ke Transyordania kembali ke Jerusalem dibawah pimpinan Ishmael dari keturunan Monarki Daud. Mereka melakukan kudeta, membunuh Gedalya dan para pembantunya, tetapi mereka gagal meraih dukungan rakyat bawah yang telah dibina pihak Babilonia dan pemerintah Gedalya selama ini. Ishmael melarikan diri ke Ammon (sekarang Oman), sementara yang lain bersembunyi di Mesir yang belakangan menjadi tempat pelarian banyak para politisi dan militer bekas Kerajaan Yehuda dan Israel. Setelah peristiwa Ishmael, selama 50 th kemudian tidak terdengar informasi mengenai Jerusalem. Sekian, kita lanjutkan pengajian berikutnya.
Selamat Tahun Baru Imlek 2557, Ghong Xi Fa Cai.

Birrahmatillahi Wabi’aunihi fi Sabilih,
Wassalamu’alaikum War. Wab.

Jakarta, 27 Januari 2006,
Pengasuh,



HAJI AGUS MIFTACH


Ketua Umum Front Persatuan Nasional.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar