Pengajian Ketujuhpuluh
Enam (76).
Assalamu’alaikum
War. Wab.
Bismillahirrahmanirrahiem,
“Dan
(ingatlah) ketika Kami berjanji kepada Musa (memberikan Taurat) sesudah empat
puluh malam, lalu kamu menjadikan anak lembu (sembahanmu) sepeninggalnya, dan
kamu adalah orang-orang yang dzalim” ; (Al-Baqoroh : 51).
Sesuai
tradisi pengajian ini, kita akan membahas ayat diatas dengan pendekatan
eklektik secara multiperspektif untuk mencapai kedalaman dan hikmah yang
setinggi-tingginya dari kandungan ayat.
Pokok
Bahasan.
Ayat
diatas merupakan satu kesatuan rangkaian dengan ayat sebelumnya. Maka makna
yang mengantar ayat ini ialah : ‘setelah
diselamatkan Allah menyeberangi Laut
Merah, Bani Israil bertanya kepada Musa a.s. : “Kapankah Allah akan menurunkan
kitab suci kepada Musa ?”. Maka Allah menjanjikan kepada Musa akan memberikan
Kitab Taurat untuk menjadi pedoman bagi Bani Israil; dan Allah menentukan
waktunya adalah empat puluh malam. Tafsir Ibnu Katsir menuturkan, masa 40 malam
itu terbagi 30 hari dalam bulan Dzulqo’idah dan 10 hari terakhir dalam bulan
Dzulhijjah.
Bani
Israil menganggap waktu penantian itu terlalu lama, maka dalam kesesatannya
mereka dengan pelopor Samiri membuat patung anak sapi dari emas yang dapat
bersuara yang mereka jadikan sebagai sesembahan lain mereka. Atas peristiwa itu
Tafsir Jalalain menyatakan Bani Israil telah menganiaya diri sendiri dengan
berlaku syirik terhadap Allah SWT. Kondisi kejiwaan Bani Israil sungguh
misterius. Kepada mereka akan diturunkan Kitab Suci (Taurat) seperti yang
mereka harapkan, dan itu merupakan nikmat yang sangat besar dari Allah setelah
nikmat-nikmat sebelumnya, tetapi mereka balas dengan perbuatan keji, kafir dan
bodoh. Tidak ada lain jawabannya ialah bahwa konstitusi jiwa Bani Israil telah
sepenuhnya berisi nilai-nilai system penyembahan berhala Mesir dimana mereka
telah tinggal dalam mainstream kebudayaan itu selama sekitar 4 abad. Sesuatu
yang tidak mudah diubah karena telah mendominasi ketidaksadaran kolektif mereka
dan mempengaruhi seluruh struktur nilai kesadaran, sehingga seluruh sikap
mental dan perilaku Bani Israil masih sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai
peradaban penyembahan berhala Mesir itu, walaupun mereka telah menyaksikan
dengan nyata ketuhanan Allah SWT.
Ordo
Illuminaiti.
Ini
adalah bahasan yang keenam dari kajian Ordo Illuminaiti. Ambisi
Illuminati-Freemasonry untuk menguasai keuangan Rusia, Jerman, Jepang dan
Amerika Serikat pada akhirnya berhasil. Satu jenjang strategis untuk menguasai
dunia dalam Novus Ordo Seclorum. Mendiang Albert Pike sebagai seorang
pemimpin Qabalis sejati menyebut rencana
ini sebagai karya besar Lucifer. Untuk mencapai mahakarya ini pengorbanan tidak
perlu dirisaukan, bahkan ratusan juta jiwa umat manusia-pun sepadan. Perang
Dunia ke I dan II membuktikan semangat haus darah-Qabbalis dari Ordo Illuminati-Freemasonry itu.
Jika
rencana-rencana Albert Pike berjalan, maka Perang Dunia ke-III yang
direncanakan terjadi pada awal abad ke-21 akan berawal dari masalah Israel
dengan Palestina. Pandangan Samuel P Huntington dalam “the Clash of
Civilization” yang memprediksi benturan peradaban Barat dengan peradaban
Islam dan Khonghucu dimana Barat akan keluar sebagai pemenang, secara tidak
langsung telah membenarkan rencana Albert Pike dan Novus Ordo Seclorum-nya.
Untuk
mencapai tujuan ‘Satu Pemerintahan Dunia atau E Pluribus Unum’,
Illuminti-Freemasonry merekayasa penghancuran semua identitas nasional dan
kebanggaan nasional. Sesungguhnya globalisasi dewasa ini mengarah ke suatu
fragmentasi bangsa-bangsa atau the end of nation states (akhir dari
negara-bangsa), melalui rekayasa konflik etnik, agama, budaya dan kedaerahan
yang dengan sendirinya akan memecah belah negara-negara nasional. Contoh
penting pola itu ialah bubarnya Uni Sovyet dan Yugoslavia. Saya ingin mengatakan
bahwa pola yang sama dapat terjadi di Asia Timur dan Asia Tenggara, tidak
terkecuali Indonesia. Pola persaingan bebas, juga memiliki agenda tersembunyi,
yaitu multikonflik yang akan melahirkan sempalan-sempalan yang akan dengan
mudah di aneksasi kedalam pengaruh Illuminati-Freemasonry, menjadi teritori
ideology Neo-Zionis dunia. Perlu pula diperhatikan system yang disebut Zbignew
Brzezinski dengan istilah “technotronic”, yaitu suatu penguasaan
opini publik melalui media massa dan terorisme internasional.
Illuminti
juga mendorong legalisasi madat dan pornografi yang dikamuflasekan sebagai
“bentuk seni”, sehingga lambat laun dapat diterima masyarakat dan dianggap
wajar. Suatu fakta bahwa sejumlah majalah pornografi dan terakhir rencana
penerbitan majalah pornografi “Playboy” edisi Indonesia, didukung oleh dana
kelompok bisnis Zionis.
Sesungguhnya
serangan terhadap peradaban tengah dilancarkan oleh Illuminati-Freemasonry
dalam upaya mereka untuk menemukan pijakan yang kokoh ditingkat dunia untuk
melahirkan “Tatanan Dunia Baru dan Pemerintahan Dunia Tunggal” Neo-Zionisme.
Sejumlah
pemimpin dan pemikir dikalangan
negara-negara yang memiliki pengamatan yang tajam tentu melihat serangan
tsb. Inilah yang menurut sosiolog Samuel P Huntington melahirkan
kecenderungan negara-negara kembali menengok budaya, nilai-nilai dan pola
perilaku tradisional mereka, Saya melihat itu merupakan suatu keniscayaan untuk
mempertahankan eksistensi nasional mereka dari serangan Illuminati-Freemasonry
melalui sosok peradaban Barat. Ini akan dapat menjebak dunia dalam konflik
peradaban Barat dan non-Barat.
Melihat
kecenderungan itu, maka identitas peradaban menjadi penting sekaligus krusial
di masa depan. Dan pada kenyataannya dunia dibentuk sebagian besar oleh
hubungan timbal balik beberapa peradaban besar a.l. : peradaban Barat, Islam,
Khonghucu, Jepang, Hindu, Slavik-Ortodoks, Amerika Latin dan Afrika. Pola
Illuminati-Freemasonry akan memicu konflik sepanjang perbatasan budaya yang
memisahkan satu peradaban dengan peradaban lain menjadi garis perang yang
nyata. Sang genius sesat Albert Pike telah melihat gejala ini pada akhir abad
19.
Perbedaan
peradaban bersifat mendasar, meliputi sejarah, bahasa, budaya, tradisi dan yang
paling penting agama. Perbedaan peradaban menyangkut perbedaan pandangan
tentang hubungan Tuhan dengan manusia, individu dengan kelompok, penduduk
dengan negara, orang tua dengan anak, suami dan istri, hak dan kewajiban,
otoritas dan kebebasan, hierarki dan persamaan. Perbedaan-perbedaan peradaban
ini merupakan produk sejarah selama beradab-abad bahkan berpuluh abad
sebelumnya. Mendominasi ketidaksadaran kolektif manusia dan mempengaruhi
seluruh struktur nilai kesadaran. Maka tidak akan mudah lenyap. Nilai-nilainya
jauh lebih mendasar dibanding perbedaan-perbedaan ideology politik dan
rezim-rezim politik. Meskipun perbedaan tidak selalu bermakna konflik dan
kekerasan. Namun suatu kenyataan, selama berabad-abad perbedaan peradaban telah
menghasilkan berbagai konflik berkepanjangan dan keras seperti tampak dalam
sejarah panjang Jerusalem hingga masa kini. Dengan demikian maka dasar
pemikiran Albert Pike (Illuminati-Freemasonry) yang dilegitimasi oleh Samuel P.
Huntington bukan utopia, tetap logik. Dan karena itu kita tidak dapat
menganggpnya tidak ada. Apalagi kalau kita menyimak proses Revolusi Perancis,
PD I dan PD II serta kecenderungan yang terjadi di dunia dewasa ini, terutama
akibat serangan Amerika terhadap Irak dan ketegangan antara Amerika dengan
Iran, rasanya kita harus semakin
memperteguh ketauhidan kita dan meningkatkan akselerasi modernitas sampai
kepuncaknya. Cara terbaik adalah akulturasi dan simbiosisme peradaban modern
yang netral terhadap konflik sejarah dan berpihak kepada masa depan bersama
dalam tatanan dunia yang baru yang adil, sejahtera, bebas dan beriman.
Kehancuran
Jerusalem.
Kita
lanjutkan parallel pembahasan khilafat di Jerusalem yang memasuki babak
dekreasi (pembinasaan). Kota suci Jerusalem setelah kehancurannya pada th. 586
SM akibat serbuan Kaisar Babilonia Nebukadnezar, kini tinggal menjadi
reruntuhan yang najis dan dipandang hina. Dalam keputusasaan warganya terdengar
ratapan-ratapan yang tak lagi mengutuk Babilonia melainkan menyesali dosa-dosa
mereka, sehingga Yahweh menghancurkan Jerusalem, terutama karena dosa Bani
Israil sendiri.
Jerusalem
tak dapat dihuni lagi, terlalu hancur untuk dijadikan pemukiman yang layak.
Sementara di ujung bagian selatan bekas Kerajaan Yehuda dibanjiri orang-orang Edom (Arab Palestina) musuh
tradisional Bani Israil. Kabilah-kabilah Edom itu meletakkan fondasi Kerajaan
Idumea masa depan.
Adapun sebagian
besar orang-orang Yehuda yang tertinggal dari deportasi bermigrasi ke Samerina
di Utara (sisa negeri Israel), kelompok-kelompok mereka tinggal di Mizpah,
Gibeon (ibukota lama Israel) atau Bethel (kota suci di Utara).
Nebukadnezar
mengangkat Gedalya, cucu laki-laki sekretaris Raja Yosia menjadi
Gubernur Israel/Yehuda berkedudukan di Mizpah. Gedalya berusaha keras untuk
menormalisasi keadaan dengan dukungan Babilonia yang berkeinginan membangun
kembali Negeri Kana’an itu. Babilonia membagi-bagikan tanah milik deportan
kepada orang-orang miskin yang tinggal di sektor-sektor tertinggal yang paling
di eksploitasi sebelumnya di Yehuda, dalam upaya untuk meraih loyalitas bekas
Kerajaan ini. Tapi upaya ini gagal. Para perwira tentara Yehuda yang melarikan
diri ke Transyordania kembali ke Jerusalem dibawah pimpinan Ishmael dari
keturunan Monarki Daud. Mereka melakukan kudeta, membunuh Gedalya dan para
pembantunya, tetapi mereka gagal meraih dukungan rakyat bawah yang telah dibina
pihak Babilonia dan pemerintah Gedalya selama ini. Ishmael melarikan diri ke
Ammon (sekarang Oman), sementara yang lain bersembunyi di Mesir yang belakangan
menjadi tempat pelarian banyak para politisi dan militer bekas Kerajaan Yehuda
dan Israel. Setelah peristiwa Ishmael, selama 50 th kemudian tidak terdengar
informasi mengenai Jerusalem. Sekian, kita lanjutkan pengajian berikutnya.
Selamat
Tahun Baru Imlek 2557, Ghong Xi Fa Cai.
Birrahmatillahi
Wabi’aunihi fi Sabilih,
Wassalamu’alaikum
War. Wab.
Jakarta,
27 Januari 2006,
Pengasuh,
HAJI AGUS MIFTACH
Ketua Umum Front Persatuan Nasional.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar