Pengajian Kelimapuluh Lima
Oleh : KH. Agus Miftach
Assalamu’alaikum War. Wab.
“Wa-idz-qoola robbuka lil-malaa-ikati innii jaa’ilun
fil-ardhi kholiifah; qoolu ataj’alu fiihaa man-yyufsidu fiiha wa yasfikuddimaa-a;
wa-nachnu nusabbichu bichamdika wa-nuqoddisulak; qooluu innii a’lamu maa laa
ta’lamuun” : “Dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat:
‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi’. Mereka
berkata : ‘Mengapa Engkau hendak menjadikan (kholifah) di bumi itu orang yang
akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa
bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau ?’. Tuhan berfirman :
‘Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui’; (Al-Baqoroh : 30).
Eklektik pembahasan bersifat multiperspektif dan
holistis, dari aspek teologis, psikologis, historiografis, filsafat dll, untuk
mencapai hikmah yang setinggi-tingginya dari ayat tersebut.
Pokok Bahasan.
Dalam ayat tersebut Allah memberitahu para
malaikat-Nya akan menjadikan Adam a.s. Khalifah di muka bumi, untuk
melaksanakan hukum-hukum dan peraturan-peraturan Nya dan memanfaatkan segala yang ada untuk
memakmurkan bumi. Serta merta para malaikat bertanya, mengapa Adam yang akan
diangkat menjadi khalifah di bumi, sedangkan dari keturunan Adam itu kelak akan
membuat kerusakan dengan perbuatan maksiat
dan menumpahkan darah dengan pembunuhan-pembunuhan di bumi ?
Tafsir Jalalain mengemukakan bahwa perilaku species manusia
itu menyerupai perilaku species jin yang
juga tinggal di bumi dan membuat kerusakan di bumi (sebelumnya). Oleh para
malaikat bangsa jin itu kemudian di buang ke pulau-pulau dan ke gunung-gunung.
Sebaliknya para malaikat itu menurut pengetahuan yang
mereka miliki beranggapan bahwa diri mereka lebih patut diangkat menjadi
khalifah di bumi, sebab mereka adalah ras makhluk yang senantiasa bertasbich,
memuji dan menyucikan Allah SWT. Huruf “lam” pada lafadz “laka” hanya sebagai
tambahan saja. Sedangkan sejak lafadz “wa-nachnu” berfungsi sebagai ‘stressing
point’ untuk menunjukkan keadaan dimana ras malaikat ‘merasa’ lebih layak untuk
diangkat menjadi kholifah daripada ras manusia. Menurut persepsi malaikat
‘Tuhan tidak pernah menciptakan makhluk yang lebih mulia dan lebih
berpengatahuan daripada species malaikat, karena malaikat tercipta lebih dahulu
dan melihat apa yang tidak dilihat makhluk lain’.
Tafsir Ibnu Katsir menerangkan bahwa ungkapan malaikat
dalam ayat tersebut diatas bukanlah suatu bantahan kepada Allah, karena
malaikat disifati Allah sebagai makhluk yang tidak dapat menyatakan apapun yang
tidak diizinkan Allah. Ibnu Juraij r.a. berpendanat bahwa para malaikat itu
berkata menurut apa yang telah diberitahukan Allah kepada mereka tentang ihwal
penciptaan Adam. Artinya semua pernyataan Malaikat itu sebagai sesuatu yang
dikehendaki dan diizinkan Allah Ta’alaa untuk menjadi pelajaran yang berharga
bagi semesta alam, terutama manusia.
Meski demikian, Allah Ta’aala perlu menerangkan
ketidakbenaran anggapan para malaikat. Allah menegaskan bahwa Diri-Nya
mengetahui apa yang tidak diketahui para malaikat berkaitan dengan kemaslahatan
pengangkatan Adam a.s. sebagai kholifah di bumi. Allah bertindak berdasarkan
hikmah pengetahuan Yang Maha Tinggi. Allah mengetahu bahwa diantara anak cucu
Adam terdapat kaum yang taat, para rasul, para nabi, para wali dan orang-orang
yang sholeh yang berkhidmat di Jalan Allah, disamping itu terdapat kaum yang
durhaka, para penyembah berhala, kafirin, fasikin dan musyrikin. Dengan
demikian akan tampaklah keadilan diantara mereka.
Tafsir Jalalain menerangkan, bahwa Allah menciptakan
Adam dari tanah atau lapisan bumi dengan mengambil dari setiap unsur yang ada
didalamnya, lalu diaduk dengan bermacam jenis air dan dibentuk (dengan
sempurna) serta ditiupkan-Nya ‘roh’ hingga menjadi makhluk yang dapat merasakan
(kehidupan), setelah sebelumnya hanyalah barang beku yang tidak bernyawa.
Kitab Perjanjian Lama (Taurat) mengungkapkan : “ketika
itulah Tuhan Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan
nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang
hidup” (Kitab Kejadian 1,2 : 7).
Ulasan
Menurut Tafsir Ibnu Katsir pemberitahuan Allah SWT
kepada para malaikat ihwal penciptaan Adam a.s. tersebut dilakukan di suatu
chazanah yang disebut al-Mala’ul A’la (Tempat Yang Maha Tinggi) sebagai
suatu penghormatan, yang dilakukan sebelum Adam diciptakan. Artinya apa yang
diterangkan diatas merupakan paparan Allah SWT
tentang rencana penciptaan Adam a.s. yang akan berfungsi sebagai
Kholifah di bumi.
Ibnu Juraij r.a. menerangkan bahwa terlebih dahulu
Allah menerangkan tentang sifat-sifat species Adam (manusia), tentang potensi
pembangunannya dan potensi pengrusakannya. Maka muncullah pertanyaan para
malaikat tersebut diatas, yaitu : “Mengapa Engkau hendak menjadikan (kholifah)
di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah ?…”.
Pertanyaan ini bersifat meminta informasi dan penjelasan. Demikian pula nuansa
pertanyaan dan pernyataan malaikat yang lain. (Adapun mengenai kefasikan Iblis
terhadap penciptaan Adam, akan diterangkan pada ayat yang berkaitan langsung
pada pengajian yang akan datang).
Pengertian “kholifah” dalam ayat ini juga bukan
berarti wakil Allah, karena Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu hingga
sekecil atom-pun, dan Allah Yang Maha
Agung, Maha Mulia dan Maha Kuasa tidak
memerlukan mewakilkan kepada manusia untuk mengurus segalanya. Ayat tersebut
diatas bermakna :”Aku hendak menjadikan seorang kholifah di muka bumi”,
bukan “Aku hendak menjadikan seorang kholifah untuk-Ku di muka bumi”.
Pengertian “kholifah” dimaksudkan untuk menjalankan
hukum dan peraturan-peraturan Allah Azza wa Jalla di bumi dalam mainstream dan
spectrum ras Bani Adam dan memanfaatkan semua habitat-nya untuk membangun
peradaban Tauchid. Tentu saja tidak bermakna rigid dalam pengertian Adam secara
individual, melainkan secara artificial kepada ras yang beriman, mulai dari
generasi Adam a.s. ke generasi-generasi selanjutnya yang akan menggantikan satu
sama lain, kurun demi kurun, generasi demi geneasi, peradaban demi peradaban
hingga peradaban di zaman ini”.
Konsep materialisme.
Dari kubu secularist-materialist, kita catat
pernyataan penting Ernest Renan : “Jika manusia dididik dan diterangi
dengan ilmu pengetahuan positif, akan memberikan alasan bahwa kepercayaan
kepada agama adalah hal yang sia-sia, dan dogma iman akan roboh dengan
sendirinya”. Pernyataan materialist-atheistic ini diperkuat dengan pernyataan tokoh lainnya, Lessing’s
: “Jika manusia dididik dan diterangi dengan ilmu pengetahun positif, akan
dapat dicapai suatu kondisi yang tidak lagi membutuhkan agama”.
Dari arah pandangan ini sudah jelas, bahwa deskripsi
agama tentang penciptaan manusia seperti tersebut didepan tidak dapat diterima.
Bahkan eksistensi Tuhan sebagaimana diterangkan dalam Al-Qur’an dan Taurat juga
tidak dapat mereka terima.
Seperti sudah pernah kita ungkapkan pada pengajian
terdahulu, kaum secularist-materialist-freemasonry berpendapat bahwa manusia
tercipta secara spontan dari koleksi atom. Demikian pula binatang dan
tetumbuhan, semuanya terbentuk dari unsur yang sama. Saldo dalam aliran listrik
antar atom menjadi dasar kelangsungan makhluk hidup. Ketika saldo ini
dibinasakan manusia mati, demikian pula kehidupan yang lain, kembali ke bumi dan dibubarkan ke dalam atom,
sementara energinya kembali ke alam lepas sebagai sumber energi. Inilah yang disebut sebagai asal-usul dan
hakekat keberadaan manusia. Master Masonic Selami Insindag menuliskan
prinsip freemasonry ini dalam “Masonkluktan
Esinmeleler” (Inspirasi dari Freemasonry) tentang Orisinalitas Filosofi
Freemasonry atau Neo-Zionist.
Timbul pertanyaan, jika semua terbuat dari unsur yang
sama, mengapa otak manusia memiliki tingkatan yang tertinggi dibanding semua
binatang ? Dan mengapa manusia memiliki naluri dan kesadaran, dan binatang
hanya memiliki naluri tanpa kesadaran ? Dan jika semua benda juga terbentuk
dari causa materi atom yang sama, artinya koleksi atom dari manusia dapat di
transfer ke dalam “batu”.
Tetapi batu
tetap tidak akan memiliki kesadaran dan inteligensia seperti manusia.
Dan sebaliknya jika koleksi atom dari “batu” di transfer kedalam manusia, tidak
akan mengubah struktur biologi manusia dengan kesadaran dan inteligensia-nya.
Pada pengajian terdahulu sudah pernah kita kaji hasil penelitian psikologi yang
menghasilkan tiga non-materi dalam diri manusia, yaitu “emotion-mind-will”
(perasaan, kesadaran dan harapan). Ternyata terdapat kekuatan batin dari
keseimbangan berfungsinya sel dalam otak dan hormon. Ini membuktikan
keberadaan ‘roh’ yang menjadi dasar kehidupan manusia.
Ilmu pengetahuan positif menerima dalil, bahwa
‘keberadaan berasal dari ketiadaan, dan berakhir dengan kebinasaan’. Ternyata
materialist-freemasory yang mendalilkan dirinya sebagai pendekar dan manifes
ilmu pengetahuan positif, dalam filosofinya bertentangan dengan ilmu
pengetahuan positif. Menurut faham freemasonry alam semesta adalah keseluruham
energi dengan tidak ada permulaan atau akhir. Segalanya dilahirkan dari
keseluruhan energi ini, berkembang dan sekarat, tetapi tidak pernah secara
total menghilang.
Para pemikir materialist-qabbalist seperti Marx,
Engels, Lenin, Politzer, Sagan dan Monod bersikukuh tidak terdapat ‘roh’ yang
lepas dari badan. Mereka mendalilkan, bahwa semesta alam merupakan kesatuan
absolut yang kekal-abadi. Manusia terjadi dengan sendirinya dari seleksi alam.
Tidak diciptakan oleh tuhan yang tidak terlihat dan tidak dikenal.
Ini bukan ilmu pengetahuan positif, tetapi
extra-scientific alias khayal dan dogma atheistic-qabbalist yang sia-sia, dan
justru terbantah oleh berbagai penemuan dan dalil independen ilmu pengetahuan
posistif seperti diungkapkan pada Pengajian ke-54 tentang awal semesta alam.
Seperti dalil mahafilsuf Athena Aristoteles
tentang Actus Purus (keberadaan yang murni) 24 abad yang silam, hukum Thermodinamic
menunjukkan bahwa alam semesta tidak mampu mengorganisir diri sendiri, dan sungguh
merupakan hasil dari suatu maha daya cipta. Desain system biologi yang luar
biasa, membuktikan keberadaan Sang Maha
Pencipta yang membuat pola ras-sepecies dalam perbedaan dan persamaan pada
rumpun genetika masing-masing, teristimewa rumpun homo-sapience
(manusia) dengan dimensi non-materi yang menonjol seperti emotion-mind-will,
dengan inteligensia dan kesadaran yang membutikan keberadaan “roh” dalam system
biologi.
Perjanjian roh.
Rasulullah bersabda : “Laa yazaalunnaasu
yas-aluunakum ‘anil’ilmi cahtta yaquuluu : ‘Hadzalloohu kholaqnaa, faman
kholaqolloh ?” : “Manusia (yang tidak beriman) akan selalu bertanya kepadamu
tentang ilmu, sampai mereka berani menanyakan : ‘Allah-lah yang menciptakan
kita, lalu siapakah yang menciptakan Allah?’”(HR. Muslim dari Abu Hurairah r.a.
H :17). Itulah pula pertanyaan qabbalist-materialist-freemasonry pada masa
ini.
Saya ingin mengingatkan kembali ‘perjanjian roh’
dengan Allah SWT sebelum ditiupkan ke dalam badan manusia, seperti diungkapkan
Firman Allah : “’Alastu birobbikum ?”
‘Qooluu : ‘Bala syahidna’” : “Bukankah Aku ini Tuhanmu ?” Mereka
menjawab : ‘Benar dan kami bersaksi’”;
(Al-A’rof : 172). Sayang setelah roh diperbadankan manusia
terjangkit penyakit amnesia, lupa perjanjian ini, dan baru mengingat kembali
setelah ajal tiba, seperti Fir’aun menjelang tenggelam di Laut Merah yang
menjadikannya kekal dalam kesia-siaan adzab akhirat. Na’udzubillahi min dzalik.
Sekian, terima kasih.
Birrahmatillahi wa bi ‘aunihi fi Sabilih.
Wassalamu’alaikum War. Wab.
Jakarta, 12 Agustus 2005,
Pengasuh,
KH. AGUS MIFTACH
Ketua Umum Front Persatuan Nasional.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar