![]() |
PENGURUS PUSAT
PENGAJIAN TAUHID WAHDATUL UMMAH
Manggala Wanabakti Bldg, Blok IV Lt.6, No.
609 A
Jln. Jend. Gatot Subroto Jakarta 10270, Tlp.
/Fax (021) 5701151
Pengajian Keempatpuluh Dua,
Assalamu'alaikum War. Wab.
Matsaluhum kamatsalilladzis-tao-qoda
naaron; falammaa a-dhoo 'at maa chaolahuu dzahaballaahu binuurihim watarokahum
fi dzulumaatin-llayubshiruun" :”Perumpamaan mereka seperti orang yang
menyalakan api; maka setelah api itu menyinari sekelilingnya Allah menghilangkan
cahaya (yang menyinari) mereka dan membiarkan mereka dalam kegelapan tidak
dapat melihat"; ( Al-Baqoroh :17)
Kita akan melakukan pembahasan
eklektik multiperspektif untuk memperoleh hikmah yang sebanyak-banyaknya dan
setinggi-tingginya.
Asbabun-nuzul ayat tersebut masih
berkaitan dengan asbabun-nuzul Al-Baqoroh : 14, yaitu perilaku Abdullah bin
Ubay dkk yang melecehkan shahabat Abu Bakar Umar dan Ali r.anhum.
Ini merupakan bagian ke-10 dari ke~i3
ayatul-munafikin (AIBaqofoh 8 : 20) yang tengah kita bahas secara berurutan.
dari pengajian ke-33.
Tafsir dan Hadiest :
Tafsir Jalalain : Perumpamaan
mereka (sitat mereka dalam kemunafikannya itu) seperti orang yang menyalakan
api (atau menghidupkari api dalam kegelapan); maka setelah api itu menyinari
sekelilingnya (hingga Ia dapat melihat, berdiang dan merasa aman dari apa yang
ditakutinya)~ Allah men ghilangkan cahaya yang menyinari mereka (yaitu dengan
memadamkannya : Kata ganti orang dijadikan jamak ‘him’ merujuk pada makna
‘alladzie); dan membiarkan mereka dalam kegelapan tidak dapat melihat apa yang
terdapat disekelilirig mereka, sehingga tidak tahu jalan dan mereka dalam
keadaan kecemasan. Demikan hal-nya orang-orang munafik yang mengucapkan
kata-kata beriman, bila mereka mati mereka akan ditimpa ketakutan dan
azab"; Al-Ba qoroh : 17)
Untuk
memahami uraian Tafsir Jalalain tersebut, perlu kita simak kembali
ayatul-minafieqin yang pertama, yaitu Surat Al-Baqoroh : 8 Wa-minannaasi man
yaquulu aamanna billaahi wa bil-yaomil-akhiri ; wa maahum bimu’mmniena~:
“Diantara manusia ada orang yang mengatakan: “Kami beriman kepada Allah dan
hari akhir, padahal mereka bukan orang-orang yang beriman ".
Ini
menjelaskan bahwa ucapan kata-kata beriman orang-orang munafik seperti
diungkapkan Tafsir Jalalain terhadap AI-Baqoroh:17 tetap berakar pada sifat
dusta kaum munafikin yang terdapat pada AI-Baqoroh: 8 yang merupakan ayat
pertama dari ketigabelas ayatul-munafieqin. Pada Pengajian Keempatpuluh Satu
sudah diungkapkan bahwa kedustaan merupakan disposition of rigidity (watak
asli) dari munafikin.
Tindakan
Allah memadamkan cahaya (api) dan membiarkan mereka dalam kegelapan,
sehingga tidak tahu jalan dan cemas, bersifat agnostic dan transenden, dialami
dalam masa kehidupan mereka di dunia dan masa kehidupan sesudah kematian di
akhirat. Hal itu merupakan balasan yang adil terhadap perilaku mereka sendiri.
Allah Yang Maha Adil tidak melebihkan dan mengurangkan melainkan membalasi
setiap perbuatan secara sepadan. Perhatikan Sabda Rasulullah SAW ketika
menerangkan Firman Allah secara khusus (bagian dan sebuah matan hadiest yang
panjang):
Annahu
qoola : "Ya 'ibaadi innamaa hiyaa a'malukum; uhshiechaa lakum tsumma
uwaffiekum iyyaahaa ; faman wajad khoiron falyahmadillaha ‘Azza wa Jalla;
wa-man wajad-ghoiro dzalika falaa yaluu manna illa nafsahu”: Beliau SAW
menuturkan Firman Allah: "Hai hamba-Ku sesungguhnya amal perbuatan kalian
selalu Aku hitung untuk kalian sendiri kemudian Aku berikan balasan.
Barangsiapa mendapatkan kebaikan, maka hendaklah Ia memuji Allah Azza wa Jalla:
Dan barangsiapa mendapatkan selain itu, maka janganlah dia mencela kecuali
terhadap dirinya sendiri"; (HR Muslim 1828 dari Abu Idris al- Khauleni
dari Abu Dzarr r.a.)
Psikologi
Kebudayaan
Seorang
pemikir psikologi kebudayaan abad 20 Eduard Spranger berpendapat bahwa
kebudayaan adalah system nilai, merupakan kumpulan nilai-nilai kebudayaan yang
diatur dan disusun menurut struktur tertentu. Corak dan sikap hidup seseorang
ditentukan oleh nilai kebudayaan yang dominan, yaitu suatu nilai kebudayaan
yang dianggap tertinggi. Ia akan memandang segala sesuatu, termasuk nilai-nilai
kebudayaan lain dan agama lain dengan kacamata nilai kebudayaan yang dominan
dalam dirinya.
Nilai
kebudayaan apakab yang dominan dalam diri munafikin Quraisy? Seperti telah
banyak diuraikan dalam rangkaian pengajian terdahulu, bahwa mainstream
kebudayaan mitologis Arab-Hejaz adalah sinkretisme kebudayaan penyembahan
berhala Israel purba dan Mesopotamia purba yang memuja dewa-dewi symbol hawa
nafsu dengan inti ritualitas yang bernafaskan seks dan perang.
ltulah
yang menjadi Roh Obyektif kebudayaan Jahiliyah Arab-Hejaz yang mewarnai
kehidupan Arabia selama berabad-abad sebelumnya. Perhatikan AI-Jatsiyah 23 yang
mengungkapkan existensi penyembahan hawa nafsu sebagai tuhan munafikin Mekkah.
Selanjutnya AI-Jatsiyah 24 mengungkapkannilai-nilai hedonisme yang dangkal dan
semata-mata bersifat inderawiyah tanpa pemahaman sedikitpun tentang konsep
kehidupan sesudah mati yang transenden yang disebut alam akhirat. Kebodohan
psiko-kognitif inilah yang menjadi kunci kegagalan kaum kafirin dan munafikin
Quraisy Mekkah dalam memahami arus perubahan peradaban dengan munculnya agama
Islam. Kebodohan itu banyak menimbulkan tragedy dalam kehidupan umat manusia.
Tetapi tragedy terbesar akan dialami kafirin dan munafikin sendiri seperti
diungkapkan dalam Tafsir ayat tersebut didepan.
Meskipun
sebagian besar Quraisy Mekkah pada akhimya menerima perubahan dan memeluk
Islam, namun sebagian kecil dari rnereka tetap menolak dan rnenentang Islam.
Diantara pernimpin mereka adalah Urnar bin Hisyam yang digelari oleh kaum
Muslimin Abu Jahal dan yang satunya lagi adalah Abu Lahab. Lalu sebagian lagi
bersikap ambigue atau munafik dengan tokoh utamanya Abdullah bin Ubay.
Disposisi psikologis kafirin dan munafikin tetap hidup dikalangan manusia
hingga masa sekarang dengan sikap mental dan perilaku yang memiliki kwalitas
nilai yang sama.
Ulasan
Menurut
Andras Angyal pakar psikologi organismik abad 20, terdapat kualitas jiwa
yang disebut "otonomi", suatu bentuk ekspansi individu dengan
jalan mengasimilasikan dan menguasai lingkungan. Merupakan dorongan egoistis
dimana individu berusaha memenuhi kebutuhan serta mengembangkan
kepentingan-kepentingannya dengan mengikatkan lingkungan dengan
kebutuhan-kebutuhannya.
lnilah
arah jiwa kafirin dan munafikin yang selalu berusaha mengeksploitasi lingkungan
untuk pemenuhan kebutuhan instinktit das Es, bahkan pemenuhan nafsu arsetip
yang gelap yang menjadi akar segala kedzaliman. Kedatangan Islam yang mendorong
terciptanya sublimasi budaya manusia dari struktur nilai primitif-instinktif
yang rendah kepada struktur nilai Iman-Tauhid yang tinggi diferensiasinya,
telah menghilangkan kesempatan asimilasi otonomi yang egoistis-hedonis kalangan
pemimpin munafikin Quraisy. lnilah yang menjadi alasan utama perlawanan mereka
terhadap Rasulullah SAW, karena semata-mata hilangnya kesenangan-kesenangan
hawa nafsu yang mereka nikmati selama ini akibat dakwah-dakwah Rasulullah yang
menyerukan akhlaqulkarimah yang membuat segala perilaku instinktif harus
disublimasikan kepada bentuk-bentuk substitusi yang karimah sopan santun
dan budi pekerti luhur).
Kebalikan
dari kualitas jiwa otonomi adalah "homonomi", yang mendorong
individu untuk menyesuaikan diri menerima perubahan lingkungan yang positif dan
berpartisipasi pada hal-hal yang lebih luas dari dirinya sendiri. lndividu
menundukkan diri pada kepentingan yang Iebih besar, seperti nilai-nilai
kesatuan dan harmonisme dengan lingkungan sosial, alam dan agama. Homonomi
merupakan manifest kebutuhan status, cinta-alam, iman, patriotisme dsb. Dalam
bentuknya yang sempurna homonomi adalah "Ukhuwah Islamiyah" dalam
arti yang seluas-luasnya dimana didalamnya justru terkandung keseimbangan
otonomi-homonomi seperti makna ukhuwah bashariyah, ukhuwah wathoniyah dll
dalam dimensi hablun-minannaas dalam satu nafas ketakwaan yang
berdimensi hablun-minallah. Sekian, terima kasih.
Birrahmatillahi
Wabi'aunihi Fi Sabilih,
Wassalamu’alaikuin
War. Wab.
Jakarta,
13 Mei 2005,
Pengasuh,
HAJI AGUS MIFTACH
Ketua Umum Front Persatuan Nasional

Tidak ada komentar:
Posting Komentar