7.7.17

Pengajian Keempatpuluh Dua,-TWU

PENGURUS PUSAT
PENGAJIAN TAUHID WAHDATUL UMMAH
Manggala Wanabakti Bldg, Blok IV Lt.6, No. 609 A
Jln. Jend. Gatot Subroto Jakarta 10270, Tlp. /Fax (021) 5701151

Pengajian Keempatpuluh Dua,

Assalamu'alaikum War. Wab.         
Matsaluhum kamatsalilladzis-tao-qoda naaron; falammaa a-dhoo 'at maa chaolahuu dzahaballaahu binuurihim watarokahum fi dzulumaatin-llayubshiruun" :”Perumpamaan mereka seperti orang yang menyalakan api; maka setelah api itu menyinari sekelilingnya Allah menghilangkan cahaya (yang menyinari) mereka dan membiarkan mereka dalam kegelapan tidak dapat melihat"; ( Al-Baqoroh :17)
Kita akan melakukan pembahasan eklektik multiperspektif untuk memperoleh hikmah yang sebanyak-banyaknya dan setinggi-tingginya.

Asbabun-nuzul ayat tersebut masih berkaitan dengan asbabun-nuzul Al-Baqoroh : 14, yaitu perilaku Abdullah bin Ubay dkk yang melecehkan shahabat Abu Bakar Umar dan Ali r.anhum.
Ini merupakan bagian ke-10 dari ke~i3 ayatul-munafikin (AIBaqofoh 8 : 20) yang tengah kita bahas secara berurutan. dari pengajian ke-33.

Tafsir dan Hadiest :
Tafsir Jalalain : Perumpamaan mereka (sitat mereka dalam kemunafikannya itu) seperti orang yang menyalakan api (atau menghidupkari api dalam kegelapan); maka setelah api itu menyinari sekelilingnya (hingga Ia dapat melihat, berdiang dan merasa aman dari apa yang ditakutinya)~ Allah men ghilangkan cahaya yang menyinari mereka (yaitu dengan memadamkannya : Kata ganti orang dijadikan jamak ‘him’ merujuk pada makna ‘alladzie); dan membiarkan mereka dalam kegelapan tidak dapat melihat apa yang terdapat disekelilirig mereka, sehingga tidak tahu jalan dan mereka dalam keadaan kecemasan. Demikan hal-nya orang-orang munafik yang mengucapkan kata-kata beriman, bila mereka mati mereka akan ditimpa ketakutan dan azab"; Al-Ba qoroh : 17)

Untuk memahami uraian Tafsir Jalalain tersebut, perlu kita simak kembali ayatul-minafieqin yang pertama, yaitu Surat Al-Baqoroh : 8 Wa-minannaasi man yaquulu aamanna billaahi wa bil-yaomil-akhiri ; wa maahum bimu’mmniena~: “Diantara manusia ada orang yang mengatakan: “Kami beriman kepada Allah dan hari akhir, padahal mereka bukan orang-orang yang beriman ".

Ini menjelaskan bahwa ucapan kata-kata beriman orang-orang munafik seperti diungkapkan Tafsir Jalalain terhadap AI-Baqoroh:17 tetap berakar pada sifat dusta kaum munafikin yang terdapat pada AI-Baqoroh: 8 yang merupakan ayat pertama dari ketigabelas ayatul-munafieqin. Pada Pengajian Keempatpuluh Satu sudah diungkapkan bahwa kedustaan merupakan disposition of rigidity (watak asli) dari munafikin.
Tindakan Allah memadamkan cahaya (api) dan membiarkan mereka dalam kegelapan, sehingga tidak tahu jalan dan cemas, bersifat agnostic dan transenden, dialami dalam masa kehidupan mereka di dunia dan masa kehidupan sesudah kematian di akhirat. Hal itu merupakan balasan yang adil terhadap perilaku mereka sendiri. Allah Yang Maha Adil tidak melebihkan dan mengurangkan melainkan membalasi setiap perbuatan secara sepadan. Perhatikan Sabda Rasulullah SAW ketika menerangkan Firman Allah secara khusus (bagian dan sebuah matan hadiest yang panjang):
Annahu qoola : "Ya 'ibaadi innamaa hiyaa a'malukum; uhshiechaa lakum tsumma uwaffiekum iyyaahaa ; faman wajad khoiron falyahmadillaha ‘Azza wa Jalla; wa-man wajad-ghoiro dzalika falaa yaluu manna illa nafsahu”: Beliau SAW menuturkan Firman Allah: "Hai hamba-Ku sesungguhnya amal perbuatan kalian selalu Aku hitung untuk kalian sendiri kemudian Aku berikan balasan. Barangsiapa mendapatkan kebaikan, maka hendaklah Ia memuji Allah Azza wa Jalla: Dan barangsiapa mendapatkan selain itu, maka janganlah dia mencela kecuali terhadap dirinya sendiri"; (HR Muslim 1828 dari Abu Idris al- Khauleni dari Abu Dzarr r.a.)

Psikologi Kebudayaan
Seorang pemikir psikologi kebudayaan abad 20 Eduard Spranger berpendapat bahwa kebudayaan adalah system nilai, merupakan kumpulan nilai-nilai kebudayaan yang diatur dan disusun menurut struktur tertentu. Corak dan sikap hidup seseorang ditentukan oleh nilai kebudayaan yang dominan, yaitu suatu nilai kebudayaan yang dianggap tertinggi. Ia akan memandang segala sesuatu, termasuk nilai-nilai kebudayaan lain dan agama lain dengan kacamata nilai kebudayaan yang dominan dalam dirinya.
Nilai kebudayaan apakab yang dominan dalam diri munafikin Quraisy? Seperti telah banyak diuraikan dalam rangkaian pengajian terdahulu, bahwa mainstream kebudayaan mitologis Arab-Hejaz adalah sinkretisme kebudayaan penyembahan berhala Israel purba dan Mesopotamia purba yang memuja dewa-dewi symbol hawa nafsu dengan inti ritualitas yang bernafaskan seks dan perang.
ltulah yang menjadi Roh Obyektif kebudayaan Jahiliyah Arab-Hejaz yang mewarnai kehidupan Arabia selama berabad-abad sebelumnya. Perhatikan AI-Jatsiyah 23 yang mengungkapkan existensi penyembahan hawa nafsu sebagai tuhan munafikin Mekkah. Selanjutnya AI-Jatsiyah 24 mengungkapkannilai-nilai hedonisme yang dangkal dan semata-mata bersifat inderawiyah tanpa pemahaman sedikitpun tentang konsep kehidupan sesudah mati yang transenden yang disebut alam akhirat. Kebodohan psiko-kognitif inilah yang menjadi kunci kegagalan kaum kafirin dan munafikin Quraisy Mekkah dalam memahami arus perubahan peradaban dengan munculnya agama Islam. Kebodohan itu banyak menimbulkan tragedy dalam kehidupan umat manusia. Tetapi tragedy terbesar akan dialami kafirin dan munafikin sendiri seperti diungkapkan dalam Tafsir ayat tersebut didepan.
Meskipun sebagian besar Quraisy Mekkah pada akhimya menerima perubahan dan memeluk Islam, namun sebagian kecil dari rnereka tetap menolak dan rnenentang Islam. Diantara pernimpin mereka adalah Urnar bin Hisyam yang digelari oleh kaum Muslimin Abu Jahal dan yang satunya lagi adalah Abu Lahab. Lalu sebagian lagi bersikap ambigue atau munafik dengan tokoh utamanya Abdullah bin Ubay. Disposisi psikologis kafirin dan munafikin tetap hidup dikalangan manusia hingga masa sekarang dengan sikap mental dan perilaku yang memiliki kwalitas nilai yang sama.

Ulasan
Menurut Andras Angyal pakar psikologi organismik abad 20, terdapat kualitas jiwa yang disebut "otonomi", suatu bentuk ekspansi individu dengan jalan mengasimilasikan dan menguasai lingkungan. Merupakan dorongan egoistis dimana individu berusaha memenuhi kebutuhan serta mengembangkan kepentingan-kepentingannya dengan mengikatkan lingkungan dengan kebutuhan-kebutuhannya.
lnilah arah jiwa kafirin dan munafikin yang selalu berusaha mengeksploitasi lingkungan untuk pemenuhan kebutuhan instinktit das Es, bahkan pemenuhan nafsu arsetip yang gelap yang menjadi akar segala kedzaliman. Kedatangan Islam yang mendorong terciptanya sublimasi budaya manusia dari struktur nilai primitif-instinktif yang rendah kepada struktur nilai Iman-Tauhid yang tinggi diferensiasinya, telah menghilangkan kesempatan asimilasi otonomi yang egoistis-hedonis kalangan pemimpin munafikin Quraisy. lnilah yang menjadi alasan utama perlawanan mereka terhadap Rasulullah SAW, karena semata­-mata hilangnya kesenangan-kesenangan hawa nafsu yang mereka nikmati selama ini akibat dakwah-dakwah Rasulullah yang menyerukan akhlaqul­karimah yang membuat segala perilaku instinktif harus disublimasikan kepada bentuk-bentuk substitusi yang karimah sopan santun dan budi pekerti luhur).
Kebalikan dari kualitas jiwa otonomi adalah "homonomi", yang mendorong individu untuk menyesuaikan diri menerima perubahan lingkungan yang positif dan berpartisipasi pada hal-hal yang lebih luas dari dirinya sendiri. lndividu menundukkan diri pada kepentingan yang Iebih besar, seperti nilai-nilai kesatuan dan harmonisme dengan lingkungan sosial, alam dan agama. Homonomi merupakan manifest kebutuhan status, cinta-alam, iman, patriotisme dsb. Dalam bentuknya yang sempurna homonomi adalah "Ukhuwah Islamiyah" dalam arti yang seluas-luasnya dimana didalamnya justru terkandung keseimbangan otonomi-homonomi seperti makna ukhuwah bashariyah, ukhuwah wathoniyah dll dalam dimensi hablun-minannaas dalam satu nafas ketakwaan yang berdimensi hablun-minallah. Sekian, terima kasih.
Birrahmatillahi Wabi'aunihi Fi Sabilih,
Wassalamu’alaikuin War. Wab.
Jakarta, 13 Mei 2005,
Pengasuh,



HAJI AGUS MIFTACH

Ketua Umum Front Persatuan Nasional

Tidak ada komentar:

Posting Komentar