Pengajian Keseratus Lima (105)
Assalamu’alaikum
War. Wab.
Bismillahirrahmanirrahiem,
“Dan ingatlah ketika Kami
mengambil janji dari kamu dan Kami angkat bukit (Thursina) diatasmu (seraya
Kami berfirman),”Peganglah teguh-teguh apa yang telah Kami berikan kepadamu,
dan dengarkanlah”. Mereka menjawab,”Kami mendengarkan tetapi tidak mentaati”.
Dan telah diresapkan ke dalam hati mereka itu (kecintaan menyembah) anak sapi
karena kekafirannya. Katakanlah,”Alangkah buruknya perbuatan yang diperintahkan
imanmu kepadamu jika benar kamu beriman (kepada Taurat)”. ; Al-Baqoroh : 93.
Seperti
biasa kita akan membahas ayat ini dengan pendekatan eklektik secara
multiperspektif dan holistis untuk mencapai pemahaman yang mendalam dan
komprehensif dari kandungan ayat ini.
Pokok
Bahasan.
Narasi
ayat ini mengungkapkan kembali mekanisme kekerasan untuk memaksa iman Bani
Israil. Jumhur mufassirin menerangkan bahwa Allah mengangkat bukit Thursina dengan ancaman akan ditimpakan
kepada Bani Israil apabila mereka tidak mau berjanji beriman kepada Allah. Jalalain
mengemukakan, kalimat “ wa rofa’na
fauqokumuththuur(o)……” : “Dan
Kami angkat bukit Thursina diatasmu……”
, bermakna sebagai ancaman untuk ditimpakan apabila Bani Israil menolak
mengambil janji iman tauhid kepada Allah. Secara substantive ayat ini berkaitan
dengan ayat 63 dan 64. Kenyataannya cara pemaksaan itu gagal total. Kalimat
berikutnya yang berbunyi “sami’naa wa ashoinaa….” : “Kami mendengar tetapi tidak
mentaati….” membuktikan kegagalan mekanisme pemaksaan itu.
Lebih
lanjut Ibnu Katsir menerangkan betapa mendalamnya kepercayaan menyembah berhala
(anak sapi) di kalangan Bani Israil, yang menurut narasi ayat ini disebut
sebagai bentuk kekafiran, tercermin dalam kalimat “bikufrihim”. Menurut Abdurrazak dari Qatadah r.a, “Kecintaan kepada
dewa anak sapi, telah meresap hingga
menembus ke dalam hati mereka”.
Seperti
telah sering diterangkan pada pengajian-pengajian sebelumnya bahwa kebudayaan
menyembah anak sapi itu disebut Hathor dan Aphis merupakan bagian dari penyembahan
dewa matahari dalam sistem agama Mesir purba yang sudah di anut Bani Israil
sejak abad 19 SM, yaitu sejak zaman Yusuf a.s. dan Fir’aun Amalik yang
penjajah itu. Ketika Musa menyatakan kerasulannya 4 atau 5 abad kemudian, sistem
nilai penyembahan berhala Mesir itu sudah mapan dalam konstitusi jiwa Bani
Israil, sehingga sangat sulit dibelokkan ke arah ajaran tauhid Musa a.s. Bahkan
dengan mekanisme ancaman sekalipun seperti diterangkan jumhur mufassirin dalam narasi
ayat ini, konstitusi jiwa Bani Israil tidak berubah. Dalam hal ini perlu di
catat sekali lagi, bahwa secara rasional Bani Israil melihat fakta bahwa
paganisme-agararis Mesir telah melahirkan peradaban Mesir yang tinggi yang
merupakan negara termaju di dunia pada zaman itu. Sedangkan dogma-dogma agama tauhid
yang diajarkan Musa barulah sebatas wacana yang belum membuktikan apa-apa.
Sejumlah mukjizat yang dimunculkan Musa secara verbal dianggap tidak
merepresentasikan suatu kekuatan yang dapat menciptakan kemajuan peradaban yang
dapat menandingi keagungan peradaban Mesir. Realitas inilah yang menjadikan Bani Israil
tetap berkiblat pada sistem spiritual Mesir. Pertikaian Bani Israil dengan
Fir’aun Ramses II dari Dinasti Ahmez (pribumi) berlatar belakang
politik dan ekonomi, bukan agama. Maka di bidang agama baik Bani Israil maupun
Dinasti Ahmez masih bisa sejalan. Jika terhadap Musa yang merupakan pemimpin
Bani Israil yang disegani, hanya sebagian kecil dari Bani Israel yang beriman,
maka rasanya memang sulit mengharap iman mereka kepada Rasulullah SAW yang
bukan dari ras Bani Israil. Kaum Yahudi yakin bahwa kerasulan hanya diberikan
kepada mereka sebagai Sya’bullah
al-Mukhtar (bangsa yang terpilih).
Mereka percaya tidak ada kerasulan di luar komunitas Bani Israel, itulah
sebabnya maka mereka tidak pernah beriman kepada Rasulullah SAW, karena menurut
mereka kerasulan Muhammad adalah palsu. Bani Israil berpendapat tidak mungkin
kerasulan itu dibangkitkan dari antara suku Arab gurun yang tidak berperadaban
itu.
Dipihak
lain jumhur mufassirin cenderung melakukan kekerasan spiritual dengan tidak
mengakui adanya hak kebebasan Bani Israil untuk menentukan keyakinan
spiritualnya sendiri. Padahal prinsip-prinsip agama Islam yang egaliter dan
individual menjunjung tinggi hak-hak setiap orang dalam menentukan keyakinan
agamanya seperti tercermin dalam ayat, “Lakum
dienukum waliyadien” : “Bagimu agamamu dan bagiku agamaku” ; Al-Kafiruun : 6. Bagi jumhur mufassirin Bani Israil harus
beriman kepada Rasulullah SAW, jika tidak mereka dinyatakan kafir, diancam
masuk neraka dan dianggap musuh. Bahkan
pada narasi sebelumnya jumhur mufassirin
memaksa agar Bani Israil hanya menggunakan satu kitab suci saja. yaitu Taurat,
dan memaksa Bani Israil agar mengakui bahwa di dalam Taurat itu terdapat
pernyataan mengenai Nabi Muhammad SAW sebagai nabi penutup dan nabi akhir zaman
yang diutus kepada semua umat manusia, tanpa menjelaskan pada surat ke berapa
dan ayat ke berapa. Padahal sebagaimana telah dijelaskan pada
pengajian-pengajian sebelumnya, Bani Israil memiliki 40 kitab suci, 5
diantaranya disebut Taurat (Pentateuch).
Perang
yang abadi
Pada
tgl. 12 Agustus 2006, Ketua Umum PBNU KH. Hasyim Muzadi mengundang Menlu Hasan
Wirayuda, para dubes Lebanon, Palestina, Syria, Yordania dan Iran serta para
tokoh nasional di ponpes asuhannya Al-Hikam di kota Malang, Jawa Timur, untuk
mendiskusikan “Perang Timur Tengah” yang sudah berlangsung sebulan yang
melahirkan penderitaan bagi rakyat Lebanon yang terbesar dan rakyat Israel.
Jumlah korban, terutama korban sipil diperkirakan sudah mencapai ribuan,
terutama dari kalangan rakyat Lebanon .
Kehancuran infra struktur di negara Lebanon sudah membawa negara itu
mundur 50 th.
Dalam
diskusi itu Menlu Hasan menampilkan visi yang lemah yang tidak menunjukkan
kualitas seorang Menlu negara besar, sementara para dubes hanya memaki-maki Israel dan
Amerika Serikat, tidak mencerminkan statesmanship.
Kesan saya para dubes Timteng itu
hanya para politisi brutal saja.
Dalam
kesempatan itu saya selaku Ketua Umum FPN mengingatkan bahwa konflik dan perang
antara Israel dan Arab sudah berlangsung ribuan tahun sejak abad 11 SM dan
masih akan berlangsung terus sepanjang masa, dan perang mereka itu tidak ada
sangkut pautnya dengan agama Islam. Sepanjang sejarahnya perang itu lebih
banyak dimenangkan bangsa Arab. Pada abad ke-6 SM bahkan Maharaja Nebukadnezar dari Babilonia (Irak)
membinasakan Negara Yehuda dan Israel .
Di era modern momentum Perang
Israel-Arab di awali dengan “Dokumen-Balfour
1917” dimana Inggris merekomendasikan berdirinya negara Yahudi di bumi
Palestina. “Dokumen Yalta 1945” yang
menjiwai Resolusi PBB No. 181/1947
justru melahirkan pengkhianatan Zionist dan Inggris ketika pada tgl. 14 Mei
1948 pemimpin Yahudi David Ben Gurion
secara sepihak mengumumkan berdirinya “Negara Yahudi Israel” tanpa ada
pencegahan dari Inggris yang memegang mandat PBB di Palestina. Perang
Arab-Israel sepanjang sejarahnya adalah perang sekuler yang didominasi
kepentingan ekonomi. Perang saat ini telah menghasilkan rejeki nomplok
(windfall profit) bagi Iran, Arab Saudi, Irak, Amerika Serikat, Rusia dan China
sebagai produsen minyak, dengan kenaikan harga minyak dunia hingga 76
USD/barel. Cukup banyak untuk dibagi sebagai kompensasi kepada Israel , Palestina, Hezbollah dan Lebanon . Jangan
lupa para pemain perang ini, Ismail Haniyah, Ehud Olmert dan Hezbollah tidak
berdiri sendiri, dibelakang mereka ada para arsitek dibalik kepentingan AS,
Rusia, Arab Saudi. Iran , Syria dan China yang paling diuntungkan dalam
perang yang berlangsung sejak 12 Juli itu. Tetapi kisah windfall profit ini
bisa berubah tragis apabila Hezbollah atau Israel terjerumus kedalam perang
nuklir. Pada akhir perang dingin akhir abad 20 yang ditandai bubarnya Uni
Sovyet di dunia terdapat 43 000 hulu ledak nuklir. Ternyata hanya 30 000 hulu
ledak yang benar-benar terkontrol oleh IAEA. Sebanyak 13 000 hulu ledak tidak
terkontrol, yang tersebar di bekas negara Uni Sovyet. Melihat kondisi
perekonomian di negara-negara bekas Uni Sovyet yang masih labil, besar
kemungkinan 13 000 hulu ledak nuklir itu memasuki pasar gelap dan masuk ke
Timteng, dan besar kemungkinan Iran, Syria dan Hezbollah memilikinya. Apa yang
terjadi jika Hezbollah mengganti hulu ledak rudalnya dengan hulu ledak nuklir ?
Inilah hal yang paling di takutkan Israel dan AS. Dan ini pula alasan
mereka berusaha membasmi Hezbollah, walau tidak berhasil. Tetapi “Illuminati-Freemasonry” justru
menginginkan itu terjadi, karena akan menjadi tool menuju “Novus Ordo Seclorum” yang mereka cita-citakan.
Francis Fukuyama menyebut akhir Perang Dingin sebagai akhir
sejarah, sedangkan Samuel Huntington
mengajukan hipotesa “Perang Peradaban” sebagai pengganti Perang Dingin. Baik
Huntington maupun Albert Pike tokoh Freemasonry
AS akhir abad 19, sama-sama
berpendapat bahwa konflik Israel-Palestina berpotensi menyulut perang berskala
besar yang bisa melibatkan koneksitas peradaban yang luas. Tetapi Fouad Ajami professor dari John Hopkin University tidak mempercayai hipotesa Huntington . Perang yang
akan terjadi di Timur Tengah adalah perang sekuler dengan alasan sekuler dan
tujuan sekuler dengan petualangan yang tidak melibatkan sentiment peradaban,
melainkan semata-mata kepentingan pragmatic seperti ditunjukkan dalam Perang
Teluk yang lalu.
Seorang
tokoh Muhammadiyyah Imam Daruqutni dalam diskusi di Malang mengusulkan agar
dibentuk Komite Hejaz kedua, dengan mengenang kesuksesan Komite Hejaz pertama
pada pertengah abad 20 ketika berhasil mempertahankan makam Rasulullah dari
keganasan revolusi fundamentalis Wahabiyah di Hejaz pada waktu itu. Komite
Hejaz kedua itu diharapkan merupakan inisiatif para ‘ulama’ untuk melakukan
misi moral untuk menghentikan perang Israel-Arab itu.
Sekarang
sudah ada Resolusi Dewan Keamanan PBB untuk dilaksanakannya gencatan senjata
bagi kemanusiaan. Tetapi apakah target-target pihak-pihak yang berperang dan
para pemain di belakang layar sudah tercapai ? Jika belum, perang ini tidak
akan dapat dihentikan oleh Resolusi Dewan Keamanan PBB sekalipun. Sebagai
bangsa yang konstitusinya mengamanatkan perdamaian dunia, kita akan selalu
memberikan attensi yang kuat bagi penghentian perang Israel-Arab dan bagi
kemerdekaan Palestina dan Israel
secara damai. Tetapi perang itu merupakan tradisi internal Semit yang sudah
berlangsung 3000 th, artinya perang
sudah menjadi kebudayaan mereka. Maka kita akan melangkah dengan tetap berpijak
pada kepentingan nasional sebagai implementasi kemerdekaan. Dirgahayu HUT RI ke
61, semoga jaya-abadi dan diridhoi Allah Azza wa Jalla. Sekian, kita lanjutkan
Jum’at depan, terima kasih.
Birrahmatillahi
Wabi’aunihi fi Sabilih,
Wassalamu’alaikum
War. Wab.
Pengasuh,
KH.
AGUS MIFTACH.
Ketua
Umum Front Persatuan Nasional.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar