11.7.17

Pengajian Keseratus Lima (105)






Pengajian Keseratus Lima (105)

Assalamu’alaikum War. Wab.
Bismillahirrahmanirrahiem,









“Dan ingatlah ketika Kami mengambil janji dari kamu dan Kami angkat bukit (Thursina) diatasmu (seraya Kami berfirman),”Peganglah teguh-teguh apa yang telah Kami berikan kepadamu, dan dengarkanlah”. Mereka menjawab,”Kami mendengarkan tetapi tidak mentaati”. Dan telah diresapkan ke dalam hati mereka itu (kecintaan menyembah) anak sapi karena kekafirannya. Katakanlah,”Alangkah buruknya perbuatan yang diperintahkan imanmu kepadamu jika benar kamu beriman (kepada Taurat)”. ; Al-Baqoroh : 93.

Seperti biasa kita akan membahas ayat ini dengan pendekatan eklektik secara multiperspektif dan holistis untuk mencapai pemahaman yang mendalam dan komprehensif dari kandungan ayat ini.

Pokok Bahasan.
Narasi ayat ini mengungkapkan kembali mekanisme kekerasan untuk memaksa iman Bani Israil. Jumhur mufassirin menerangkan bahwa Allah mengangkat  bukit Thursina dengan ancaman akan ditimpakan kepada Bani Israil apabila mereka tidak mau berjanji beriman kepada Allah. Jalalain mengemukakan, kalimat  “ wa rofa’na  fauqokumuththuur(o)……” : “Dan Kami angkat bukit Thursina  diatasmu……” , bermakna sebagai ancaman untuk ditimpakan apabila Bani Israil menolak mengambil janji iman tauhid kepada Allah. Secara substantive ayat ini berkaitan dengan ayat 63 dan 64. Kenyataannya cara pemaksaan itu gagal total. Kalimat berikutnya yang berbunyi “sami’naa  wa ashoinaa….” : “Kami mendengar tetapi tidak mentaati….” membuktikan kegagalan mekanisme pemaksaan itu.
Lebih lanjut Ibnu Katsir menerangkan betapa mendalamnya kepercayaan menyembah berhala (anak sapi) di kalangan Bani Israil, yang menurut narasi ayat ini disebut sebagai bentuk kekafiran, tercermin dalam kalimat “bikufrihim”. Menurut Abdurrazak dari Qatadah r.a, “Kecintaan kepada dewa anak sapi,  telah meresap hingga menembus ke dalam hati mereka”.
Seperti telah sering diterangkan pada pengajian-pengajian sebelumnya bahwa kebudayaan menyembah anak sapi itu disebut Hathor dan Aphis merupakan bagian dari penyembahan dewa matahari dalam sistem agama Mesir purba yang sudah di anut Bani Israil sejak  abad 19 SM, yaitu sejak   zaman Yusuf a.s. dan Fir’aun Amalik yang penjajah itu. Ketika Musa menyatakan kerasulannya 4 atau 5 abad kemudian, sistem nilai penyembahan berhala Mesir itu sudah mapan dalam konstitusi jiwa Bani Israil, sehingga sangat sulit dibelokkan ke arah ajaran tauhid Musa a.s. Bahkan dengan mekanisme ancaman sekalipun seperti diterangkan jumhur mufassirin dalam narasi ayat ini, konstitusi jiwa Bani Israil tidak berubah. Dalam hal ini perlu di catat sekali lagi, bahwa secara rasional Bani Israil melihat fakta bahwa paganisme-agararis Mesir telah melahirkan peradaban Mesir yang tinggi yang merupakan negara termaju di dunia pada zaman itu. Sedangkan dogma-dogma agama tauhid yang diajarkan Musa barulah sebatas wacana yang belum membuktikan apa-apa. Sejumlah mukjizat yang dimunculkan Musa secara verbal dianggap tidak merepresentasikan suatu kekuatan yang dapat menciptakan kemajuan peradaban yang dapat menandingi keagungan peradaban Mesir.  Realitas inilah yang menjadikan Bani Israil tetap berkiblat pada sistem spiritual Mesir. Pertikaian Bani Israil dengan Fir’aun Ramses II dari Dinasti Ahmez (pribumi) berlatar belakang politik dan ekonomi, bukan agama. Maka di bidang agama baik Bani Israil maupun Dinasti Ahmez masih bisa sejalan. Jika terhadap Musa yang merupakan pemimpin Bani Israil yang disegani, hanya sebagian kecil dari Bani Israel yang beriman, maka rasanya memang sulit mengharap iman mereka kepada Rasulullah SAW yang bukan dari ras Bani Israil. Kaum Yahudi yakin bahwa kerasulan hanya diberikan kepada mereka sebagai Sya’bullah al-Mukhtar  (bangsa yang terpilih). Mereka percaya tidak ada kerasulan di luar komunitas Bani Israel, itulah sebabnya maka mereka tidak pernah beriman kepada Rasulullah SAW, karena menurut mereka kerasulan Muhammad adalah palsu. Bani Israil berpendapat tidak mungkin kerasulan itu dibangkitkan dari antara suku Arab gurun yang tidak berperadaban itu.
Dipihak lain jumhur mufassirin cenderung melakukan kekerasan spiritual dengan tidak mengakui adanya hak kebebasan Bani Israil untuk menentukan keyakinan spiritualnya sendiri. Padahal prinsip-prinsip agama Islam yang egaliter dan individual menjunjung tinggi hak-hak setiap orang dalam menentukan keyakinan agamanya seperti tercermin dalam ayat, “Lakum dienukum waliyadien” : “Bagimu agamamu dan bagiku agamaku” ;  Al-Kafiruun : 6.  Bagi jumhur mufassirin Bani Israil harus beriman kepada Rasulullah SAW, jika tidak mereka dinyatakan kafir, diancam masuk neraka  dan dianggap musuh. Bahkan pada narasi  sebelumnya jumhur mufassirin memaksa agar Bani Israil hanya menggunakan satu kitab suci saja. yaitu Taurat, dan memaksa Bani Israil agar mengakui bahwa di dalam Taurat itu terdapat pernyataan mengenai Nabi Muhammad SAW sebagai nabi penutup dan nabi akhir zaman yang diutus kepada semua umat manusia, tanpa menjelaskan pada surat ke berapa dan ayat ke berapa. Padahal sebagaimana telah dijelaskan pada pengajian-pengajian sebelumnya, Bani Israil memiliki 40 kitab suci, 5 diantaranya disebut Taurat (Pentateuch).

Perang yang abadi
Pada tgl. 12 Agustus 2006, Ketua Umum PBNU KH. Hasyim Muzadi mengundang Menlu Hasan Wirayuda, para dubes Lebanon, Palestina, Syria, Yordania dan Iran serta para tokoh nasional di ponpes asuhannya Al-Hikam di kota Malang, Jawa Timur, untuk mendiskusikan “Perang Timur Tengah” yang sudah berlangsung sebulan yang melahirkan penderitaan bagi rakyat Lebanon yang terbesar dan rakyat Israel. Jumlah korban, terutama korban sipil diperkirakan sudah mencapai ribuan, terutama dari kalangan rakyat Lebanon. Kehancuran infra struktur di negara Lebanon sudah membawa negara itu mundur 50 th.
Dalam diskusi itu Menlu Hasan menampilkan visi yang lemah yang tidak menunjukkan kualitas seorang Menlu negara besar, sementara para dubes hanya memaki-maki Israel dan Amerika Serikat, tidak mencerminkan statesmanship.  Kesan saya para dubes Timteng itu hanya para politisi brutal saja.
Dalam kesempatan itu saya selaku Ketua Umum FPN mengingatkan bahwa konflik dan perang antara Israel dan Arab sudah berlangsung ribuan tahun sejak abad 11 SM dan masih akan berlangsung terus sepanjang masa, dan perang mereka itu tidak ada sangkut pautnya dengan agama Islam. Sepanjang sejarahnya perang itu lebih banyak dimenangkan bangsa Arab. Pada abad ke-6 SM bahkan Maharaja Nebukadnezar dari Babilonia (Irak) membinasakan Negara Yehuda dan Israel. Di era  modern momentum Perang Israel-Arab di awali dengan “Dokumen-Balfour 1917” dimana Inggris merekomendasikan berdirinya negara Yahudi di bumi Palestina. “Dokumen Yalta 1945” yang menjiwai Resolusi PBB No. 181/1947 justru melahirkan pengkhianatan Zionist dan Inggris ketika pada tgl. 14 Mei 1948 pemimpin Yahudi David Ben Gurion secara sepihak mengumumkan berdirinya “Negara Yahudi Israel” tanpa ada pencegahan dari Inggris yang memegang mandat PBB di Palestina. Perang Arab-Israel sepanjang sejarahnya adalah perang sekuler yang didominasi kepentingan ekonomi. Perang saat ini telah menghasilkan rejeki nomplok (windfall profit) bagi Iran, Arab Saudi, Irak, Amerika Serikat, Rusia dan China sebagai produsen minyak, dengan kenaikan harga minyak dunia hingga 76 USD/barel. Cukup banyak untuk dibagi sebagai kompensasi kepada Israel, Palestina, Hezbollah dan Lebanon. Jangan lupa para pemain perang ini, Ismail Haniyah, Ehud Olmert dan Hezbollah tidak berdiri sendiri, dibelakang mereka ada para arsitek dibalik kepentingan AS, Rusia, Arab Saudi. Iran, Syria dan China yang paling diuntungkan dalam perang yang berlangsung sejak 12 Juli itu. Tetapi kisah windfall profit ini bisa berubah tragis apabila Hezbollah atau Israel terjerumus kedalam perang nuklir. Pada akhir perang dingin akhir abad 20 yang ditandai bubarnya Uni Sovyet di dunia terdapat 43 000 hulu ledak nuklir. Ternyata hanya 30 000 hulu ledak yang benar-benar terkontrol oleh IAEA. Sebanyak 13 000 hulu ledak tidak terkontrol, yang tersebar di bekas negara Uni Sovyet. Melihat kondisi perekonomian di negara-negara bekas Uni Sovyet yang masih labil, besar kemungkinan 13 000 hulu ledak nuklir itu memasuki pasar gelap dan masuk ke Timteng, dan besar kemungkinan Iran, Syria dan Hezbollah memilikinya. Apa yang terjadi jika Hezbollah mengganti hulu ledak rudalnya dengan hulu ledak nuklir ? Inilah hal yang paling di takutkan Israel dan AS. Dan ini pula alasan mereka berusaha membasmi Hezbollah, walau tidak berhasil. Tetapi “Illuminati-Freemasonry” justru menginginkan itu terjadi, karena akan menjadi tool menuju “Novus Ordo Seclorum” yang mereka cita-citakan.
Francis Fukuyama menyebut akhir Perang Dingin sebagai akhir sejarah, sedangkan Samuel Huntington mengajukan hipotesa “Perang Peradaban” sebagai pengganti Perang Dingin. Baik Huntington maupun Albert Pike tokoh Freemasonry AS akhir abad 19, sama-sama berpendapat bahwa konflik Israel-Palestina berpotensi menyulut perang berskala besar yang bisa melibatkan koneksitas peradaban yang luas. Tetapi Fouad Ajami professor dari John Hopkin University tidak mempercayai hipotesa Huntington. Perang yang akan terjadi di Timur Tengah adalah perang sekuler dengan alasan sekuler dan tujuan sekuler dengan petualangan yang tidak melibatkan sentiment peradaban, melainkan semata-mata kepentingan pragmatic seperti ditunjukkan dalam Perang Teluk yang lalu.
Seorang tokoh Muhammadiyyah Imam Daruqutni dalam diskusi di Malang mengusulkan agar dibentuk Komite Hejaz kedua, dengan mengenang kesuksesan Komite Hejaz pertama pada pertengah abad 20 ketika berhasil mempertahankan makam Rasulullah dari keganasan revolusi fundamentalis Wahabiyah di Hejaz pada waktu itu. Komite Hejaz kedua itu diharapkan merupakan inisiatif para ‘ulama’ untuk melakukan misi moral untuk menghentikan perang Israel-Arab itu.
Sekarang sudah ada Resolusi Dewan Keamanan PBB untuk dilaksanakannya gencatan senjata bagi kemanusiaan. Tetapi apakah target-target pihak-pihak yang berperang dan para pemain di belakang layar sudah tercapai ? Jika belum, perang ini tidak akan dapat dihentikan oleh Resolusi Dewan Keamanan PBB sekalipun. Sebagai bangsa yang konstitusinya mengamanatkan perdamaian dunia, kita akan selalu memberikan attensi yang kuat bagi penghentian perang Israel-Arab dan bagi kemerdekaan Palestina dan Israel secara damai. Tetapi perang itu merupakan tradisi internal Semit yang sudah berlangsung  3000 th, artinya perang sudah menjadi kebudayaan mereka. Maka kita akan melangkah dengan tetap berpijak pada kepentingan nasional sebagai implementasi kemerdekaan. Dirgahayu HUT RI ke 61, semoga jaya-abadi dan diridhoi Allah Azza wa Jalla. Sekian, kita lanjutkan Jum’at depan, terima kasih.

Birrahmatillahi Wabi’aunihi fi Sabilih,
Wassalamu’alaikum War. Wab.
Jakarta, 18 Agustus 2006,
Pengasuh,



KH. AGUS MIFTACH.
Ketua Umum Front Persatuan Nasional.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar