Pengajian Kedelapanpuluh Dua (82)
Oleh : KH. Agus Miftach
Assalamu’alaikum War. Wab.
Bismillahirrahmanirrahiem,
“Dan Kami naungi kamu dengan awan, dan Kami
turunkan kepadamu ‘manna dan salwa’. Makanlah dari makanan yang baik-baik yang
telah Kami rezekikan kepadamu. Dan tidaklah mereka menganiaya Kami, tetapi
merekalah yang mendzalimi diri sendiri” ; (Al-Baqoroh : 57).
Ekletik pembahasan akan kita lakukan dari
sudut pandang teologis, historiografis, antropologis dan psikologis sesuai
tradisi yang selama ini berjalan, agar diperoleh pandangan dan kedalaman yang
komprehensif dari kandungan ayat ini.
Pokok Bahasan.
Ayat ini masih tetap dalam konsistensi
rangkaian ancient-historically Bani Israil abad ke-15 SM di zaman Musa
a.s. sebagai landasan teologis-histories Bani Israil selanjutnya. Dalam ayat ini Allah SWT
mengingatkan kembali tentang sejumlah nikmat Allah yang dianugerahkan kepada Bani Israil a.l. awan yang menaungi mereka
dalam perjalanan eksodus mereka dari Mesir ke Kana’an dimana mereka melewati
padang pasir yang sangat terik yang membuat mereka menderita dalam perjalanan.
Tafsir Ibnu Katsir menjelaskan lafadh “Al-Ghamam
adalah jamak dari ghammah”, maknanya menutupi langit, berupa awan putih
yang menaungi mereka. Ibnu Hatim mengatakan dengan sanad dari Mujahid bahwa ‘ghamam’
hakekatnya bukan awan, melainkan naungan yang sengaja ditampilkan Allah Ta’aala
khusus untuk menaungi Bani Israil dalam perjalanan yang dipimpin Musa itu, dan
kelak akan ditampilkan kembali pada Hari Kiamat untuk menaungi orang-orang yang
beriman. Ibnu Jarir dan Ats-Tsauri dari Ibnu Abas mengatakan ‘ghamam’
itu pula yang menaungi pasukan Muslimin pada Perang Badar ketika mereka berada
di padang pasir.
Disamping itu Allah menurunkan “manna dan
salwa”. Manna sejenis makanan bergizi tinggi seperti susu dan madu yang sempurna, yang
turun dari langit sejak terbit fajar hingga terbenam matahari yang dapat
memenuhi kebutuhan makanan bergizi setiap hari. Uniknya makanan ini tidak dapat
disimpan untuk hari berikutnya, menjadi rusak sehingga tidak tersisa. Kecuali
hari keenam, orang dapat mengambil dalam jumlah yang cukup untuk hari keenam
dan ketujuh, karena hari ketujuh merupakan hari raya mereka dimana tidak
diperbolehkan bekerja mencari nafkah.
Tentang Salwa menurut Qatadah r.a adalah
burung yang agak merah yang dihimpunkan angin selatan. Sama dengan manna, salwa
hanya dapat disembelih untuk hari itu saja, kecuali hari keenam dapat membuat
saldo kebutuhan untuk hari ketujuh. Kalender Yahudi mulai hari Ahad; sehingga
hari keenam adalah Jum’at dan hari ketujuh adalah Sabtu atau Sabbath
merupakan hari peribadatan, seperti Muslimin pada hari Jum’at dan Nasrani pada
hari Minggu.
Tafsir Jalalain mengemukakan bahwa segala
kenikmatan itu dan segala perintah Allah yang mengiringinya ditujukan bagi
manfaat manusia sendiri bukan bagi Allah, demikian pula segala larangan-Nya
ditujukan untuk keselamatan manusia sendiri dan agar manusia tidak mendzalimi
diri sendiri. Segala perilaku manusia tidak berpengaruh apapun bagi Allah
Yang Maha Agung dengan sendiri-Nya.
Meskipun secara tekstual ayat ini ditujukan kepada Bani Israil, namun
substansinya secara kontekstual berlaku pula bagi segenap Muslimin dan segenap
umat manusia.
Jerusalem.
Pada 520 SM, yaitu tahun kedua masa kekuasaan
Maharaja Parsi Darius, muncul cucu Raja Yoyakhin yang bernama Zerubabel
bersama Yosua seorang cucu kepala pendeta terakhir yang bertugas di
Haekal Sulaiman lama di Jerusalem. Dalam hal ini Zerubabel yang bangsawan
keturunan Daud itu bertindak sebagai peha (komisaris tinggi) Provinsi
Yehuda dari pemerintahan Parsi. Ini memberikan harapan baru terutama bagi para
Yahudi perantauan yang disebut Golah.
Mereka semua mengadakan perkumpulan di
Jerusalem dan berhasil membangun sebuah altar baru diatas situs altar lama.
Mereka mulai mempersembahkan kurban dan mengadakan festival-festival
tradisional. Tetapi hanya baru sampai tahap itu, segala sesuatunya, termasuk
pembangunan kembali Haekal secara menyeluruh masih harus tertunda. Kehidupan
terutama di sector ekonomi masih merupakan suatu perjuangan yang sulit di
Jerusalem yang hancur itu.
Pada Agustus 520 SM Nabi Hagai bersabda,
bahwa prioritas yang selama ini dicanangkan salah secara mendasar. Panen tidak
akan membaik, kesejahteraan tidak akan datang sampai Haekal dibangun. Nabi
Hagai berkeyakinan Rumah Yahweh akan selalu menjadi sumber kesuburan Tanah Yang
Dijanjikan. Salah, membangun rumah-rumah sendiri dan menelantarkan Rumah
Yahweh. Nabi Hagai kembali mendorong para Golah untuk bekerja melanjutkan
pembangunan Haekal. Hasilnya pada musim gugur th. 520 SM Fondasi Haekal kedua
berhasil diletakkan.
Pada pesta Sukkoth (pesta panen), Haekal baru
itu diresmikan dalam suatu upacara khusus dengan prosesi para pendeta, para
imam dari suku Lewi yang menyanyikan Mazmur (Zabur) dan membunyikan kimbal.
Tetapi bagi para generasi tua yang sempat menyaksikan keagungan Haekal yang
pertama, semua ini merupakan antiklimaks yang menyedihkan. Mereka meratapi
kesederhanaan situs Haekal yang kedua itu.
Tapi Nabi Hagai dan Nabi Zhakaria terus
memberikan semangat bahwa ini sebuah proses, kelak Haekal kedua akan lebih
besar, lebih agung dan lebih lama dari Haekal pertama. Zerubabel akan menjadi
Messiah didampingi pendeta Yosua memerintah semua Goyim (manusia non-Yahudi)
atas nama Yahweh. Artinya Yahweh akan kembali tinggal di Zion dan akan
mendirikan kekuasaannya melalui dua messiah itu. Kelak terbukti bahwa harapan
itu akan kandas dengan munculnya Am-Ha-Aretz yang menyulut pertikaian
baru di bumi Jerusalem yang berusaha bangkit itu.
Israel dan Palestina Modern.
Mei 1945 Nazi Jerman dipukul hancur oleh
Sekutu, setelah itu menyusul Jepang dan Italia. Pada Agustus 1945 praktis
Perang Dunia Kedua berakhir dan lahirlah tata dunia baru ditandai dengan
kemerdekaan bangsa-bangsa yang terjajah oleh system kolonialisme sebelumnya.
Momentum ini juga digunakan oleh Bangsa Palestina untuk menuntut kemerdekaan
dari Inggris sesuai keputusan “Perundingan Yalta” 1945 (vide, Pengajian ke 81).
Tapi Inggris bersikap hipokrit, dan lebih cenderung berpihak kepada kaum
Zionis, dengan menjalankan politik mengulur waktu.
Dengan cara itu Inggris memberi kesempatan
kepada kaum Zionis untuk mengakumulasikan migrasi orang-orang Yahudi dari luar
negeri ke bumi Palestina, hingga jumlahnya mencapai 400.000 orang. Kaum Zionis
membentuk milisi-milisi bersenjata dan mulai melancarkan aksi terror terhadap
penduduk Palestina. Bentrokan-bentrokan berdarah tak lagi terhindarkan.
Orang-orang Yahudi merampas tanah-tanah Palestina dan mendirikan
perkampungan-perkampungan baru serta terus mendesak pemukiman-pemukiman
Palestina di kota Jerusalem. Tentu saja kalangan Palestina melakukan
perlawanan-pelawanan sebagai keniscayaan yang tidak terhindarkan. Keadaan ini
membuat situasi politik dan keamanan di
bumi Palestina sangat mencemaskan.
Sementara pasukan Inggris sebagai pemegang
mandat tidak banyak daya untuk mengatasi keadaan. Hal itu memaksa PBB
mengeluarkan Resolusi No. 181, 19 Nopember 1947 yang memerintahkan Inggris
segera keluar dari bumi Palestina. Setelah itu hari-hari Palestina sangat
mencekam. Hampir diseluruh negeri orang-orang Arab Palestina dan Israel saling
bertempur, terror oleh
organisasi-organisasi kriminal Zionis terhadap warga Palestina semakin memperkeruh situasi dan
memaksa pengungsian warga Palestina keluar negeri hingga mencapai 700 000
orang.
Sebagaimana diketahui inti dari Resolusi PBB
No. 181/1947 adalah rekomendasi bagi didirikannya Negara Palestina dan Negara
Israel di bumi Palestina. Artinya baik bangsa Arab Palestina maupun bangsa
Israel sama-sama memiliki hak mendirikan negara di bumi Palestina. Tentu yang
harus diatur kemudian adalah pembagian teritori masing-masing negara yang harus
dirundingkan secara matang dan arif. Tetapi kaum Zionis sudah bersikap untuk
menggagalkan pendirian Negara Palestina. Bagi mereka di bumi Palestina hanya
boleh berdiri satu negara yaitu Negara Israel bahkan Erezt Israel (Israel
Raya).
Tgl, 15 Mei 1948 secara resmi PBB mencabut
mandat Inggris atas Palestina. Tetapi sehari sebelumnya, yakni tgl. 14 Mei 1948
jam 4 : 00 sore, pemimpin Yahudi David Ben Gurion mengumumkan berdirinya Negara
Israel, dengan David Ben Gurion sendiri sebagai Perdana Menteri dan Chaim
Weizmann sebagai Presiden. Hal yang patut disesalkan PBB tidak mencegah
berdirinya Negara Israel secara sepihak yang jelas bertentangan dengan Resolusi
PBB No. 181/1947 yang mewajibkan berdirinya dua negara, yaitu Israel dan
Palestina. Ketidaktegasan sikap PBB melahirkan perang berkepanjangan antara
Israel vs Palestina hingga masa sekarang, dan dalam perkembangan konstelasi
global merupakan hot-spot yang dapat menyulut Perang Dunia, seperti tampak
gejala-gejalanya akhir-akhir ini.
Barat vs Islam.
Banyak negara Arab atau Islam yang posisinya
sebagai pengekspor minyak, telah mencapai tingkat perkembangan social dan
ekonomi dimana bentuk-bentuk pemerintahan otokratis menjadi tidak relevan lagi,
dan usaha untuk demokratisasi menjadi semakin kuat. Beberapa keterbukaan dalam
system politik di Arab dan dunia Islam sudah mulai dilakukan. Adalah kenyataan
bahwa pihak yang paling diuntungkan dalam proses ini ialah gerakan radikal yang
kalangan Barat menyebutnya fundamentalis. Ringkasnya di dunia Islam dan Arab,
demokrasi Barat justru mengukuhkan kekuatan-kekuatan politik anti Barat. Sudah
tentu ini akan semakin memperumit hubungan-hubungan antara negara-negara Islam
dengan Barat.
Perhatikan kemenangan kubu Presiden Mahmud
Ahmad Dinejad di Iran, meningkatnya pengaruh kalangan Islam radikal di Pakistan
dan Indonesia. Ironi kemenangan kaum Shi’ah dalam Pemilu Irak, meningkatnya
gerakan anti-monarkhi dan otokrasi di Arab Saudi dan pemerintah negara-negara
Islam yang dianggap sekutu Barat. Dan yang paling spektakuler adalah kemenangan
Hamas dalam Pemilu Palestina. Ini semua membuktikan bahwa gerakan-gerakan Islam
radikal (fundamentalis) yang bekerja dengan pola LSM mendapat tempat di hati
mayoritas kalangan menengah dan grassroot Islam dibawah tekanan rejim monarkhi
dan otokrasi yang korup, lalim dan kolaborator yang mudah dicap sebagai
pengkhianat dan musuh Islam. Kalahnya Partai Fatah dalam Pemilu Palestina
terutama disebabkan isyu korupsi yang merajalela dikalangan pemimpin Fatah.
Uni Eropa dan Arab Saudi dibawah Raja
Abdullah termasuk jeli melihat trend-politik ini. Sikap Uni Eropa dan Arab
Saudi yang tetap akan menyalurkan bantuan keuangan kepada Otoritas Palestina
pimpinan Hamas merupakan terobosan baru untuk menjangkau basis peradaban Islam
yang sesungguhnya, bukan sekedar para penguasa otokrat yang menjadi jaringan
Amerika Serikat yang justru menyulut banyak kemarahan dan perlawanan.
Sementara itu pertemuan delegasi Hamas dengan
Presiden Rusia Vladimir Putin dan pemimpin tertinggi gereja ortodoks Rusia
menggambarkan perluasan koalisi
peradaban Islam, Khonghucu dan Pan Slavik sebagai antipool terhadap peradaban
Amerika Serikat-Eropa Barat yang dianggap sebagai peradaban Barat. Akumulasi
dan regrouping peradaban seperti itu menurut Huntington mempunyai kekuatan dan
pengaruh yang begitu besar dalam perang peradaban yang kemungkinan besar akan
menjadi model Perang Dunia ke III jika itu terjadi. Meskipun menurut Fouad
Ajami (Profesor Johns Hopkins University) paham kembali kepada fanatisme
agama adalah penjeblosan diri kedalam kerusakan. Tetapi faktanya faham itu saat
ini populer dalam menghadapi otokrasi di dunia Islam, dan dengan sendirinya
menjadi instrumen penggerak demokrasi di arus menengah- bawah.
Tidak diragukan bobot akademik dari
pernyataan Prof. Fouad Ajami, bahwa ‘fenomena yang kita namai fundamentalisme
Islam bukanlah tanda kebangkitan Islam melainkan hanya kepanikan, kebingungan
dan rasa bersalah karena perbatasan dengan ‘yang lain’ telah terseberangi’.
Tetapi fakta hari ini menjadi terbalik. Kemenangan dan peningkatan kekuatan
politik kaum yang dinamai fundamentalisme Islam dalam proses demokratisasi di
dunia Islam kini membuat Barat menjadi panik, bingung dan merasa bersalah
karena tiba-tiba menjumpai keadaan sudah jauh ketinggalan langkah.
Menyesali kekeliruan karena kurang mendukung
kekuatan-kekuatan moderat yang telah mempromosikan demokrasi di dunia Islam
sejak awal, dan sebaliknya lebih mengedepankan sikap pragmatic dengan para
penguasa otokrat yang korup dan lalim yang dianggap mampu melindungi
kepentingan Barat, yang ternyata kemudian menempatkan mereka bersama menjadi
musuh publik di dunia Islam. Sekian, kita lanjutkan pada pengajian mendatang.
Terima kasih.
Birrahmatillahi Wabi’aunihi fi Sabilih,
Wassalamu’alaikum War. Wab.
Jakarta, 10 Maret 2006,
Pengasuh,
KH AGUS MIFTACH
Ketua Umum Front Persatuan Nasional.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar