11.7.17

Pengajian Kedelapanpuluh Dua (82)


Pengajian Kedelapanpuluh Dua (82)

Oleh : KH. Agus Miftach

Assalamu’alaikum War. Wab.
Bismillahirrahmanirrahiem,

“Dan Kami naungi kamu dengan awan, dan Kami turunkan kepadamu ‘manna dan salwa’. Makanlah dari makanan yang baik-baik yang telah Kami rezekikan kepadamu. Dan tidaklah mereka menganiaya Kami, tetapi merekalah yang mendzalimi diri sendiri” ; (Al-Baqoroh : 57).

Ekletik pembahasan akan kita lakukan dari sudut pandang teologis, historiografis, antropologis dan psikologis sesuai tradisi yang selama ini berjalan, agar diperoleh pandangan dan kedalaman yang komprehensif dari kandungan ayat ini.

Pokok Bahasan.

Ayat ini masih tetap dalam konsistensi rangkaian ancient-historically Bani Israil abad ke-15 SM di zaman Musa a.s. sebagai landasan teologis-histories Bani Israil  selanjutnya. Dalam ayat ini Allah SWT mengingatkan kembali tentang sejumlah nikmat Allah yang dianugerahkan kepada  Bani Israil a.l. awan yang menaungi mereka dalam perjalanan eksodus mereka dari Mesir ke Kana’an dimana mereka melewati padang pasir yang sangat terik yang membuat mereka menderita dalam perjalanan.

Tafsir Ibnu Katsir menjelaskan lafadh “Al-Ghamam adalah jamak dari ghammah”, maknanya menutupi langit, berupa awan putih yang menaungi mereka. Ibnu Hatim mengatakan dengan sanad dari Mujahid bahwa ‘ghamam’ hakekatnya bukan awan, melainkan naungan yang sengaja ditampilkan Allah Ta’aala khusus untuk menaungi Bani Israil dalam perjalanan yang dipimpin Musa itu, dan kelak akan ditampilkan kembali pada Hari Kiamat untuk menaungi orang-orang yang beriman. Ibnu Jarir dan Ats-Tsauri dari Ibnu Abas mengatakan ‘ghamam’ itu pula yang menaungi pasukan Muslimin pada Perang Badar ketika mereka berada di padang pasir.

Disamping itu Allah menurunkan “manna dan salwa”. Manna sejenis makanan bergizi tinggi  seperti susu dan madu yang sempurna, yang turun dari langit sejak terbit fajar hingga terbenam matahari yang dapat memenuhi kebutuhan makanan bergizi setiap hari. Uniknya makanan ini tidak dapat disimpan untuk hari berikutnya, menjadi rusak sehingga tidak tersisa. Kecuali hari keenam, orang dapat mengambil dalam jumlah yang cukup untuk hari keenam dan ketujuh, karena hari ketujuh merupakan hari raya mereka dimana tidak diperbolehkan bekerja mencari nafkah.

Tentang Salwa menurut Qatadah r.a adalah burung yang agak merah yang dihimpunkan angin selatan. Sama dengan manna, salwa hanya dapat disembelih untuk hari itu saja, kecuali hari keenam dapat membuat saldo kebutuhan untuk hari ketujuh. Kalender Yahudi mulai hari Ahad; sehingga hari keenam adalah Jum’at dan hari ketujuh adalah Sabtu atau Sabbath merupakan hari peribadatan, seperti Muslimin pada hari Jum’at dan Nasrani pada hari Minggu.

Tafsir Jalalain mengemukakan bahwa segala kenikmatan itu dan segala perintah Allah yang mengiringinya ditujukan bagi manfaat manusia sendiri bukan bagi Allah, demikian pula segala larangan-Nya ditujukan untuk keselamatan manusia sendiri dan agar manusia tidak mendzalimi diri sendiri. Segala perilaku manusia tidak berpengaruh apapun bagi Allah Yang  Maha Agung dengan sendiri-Nya. Meskipun secara tekstual ayat ini ditujukan kepada Bani Israil, namun substansinya secara kontekstual berlaku pula bagi segenap Muslimin dan segenap umat manusia.

Jerusalem.

Pada 520 SM, yaitu tahun kedua masa kekuasaan Maharaja Parsi Darius, muncul cucu Raja Yoyakhin yang bernama Zerubabel bersama Yosua seorang cucu kepala pendeta terakhir yang bertugas di Haekal Sulaiman lama di Jerusalem. Dalam hal ini Zerubabel yang bangsawan keturunan Daud itu bertindak sebagai peha (komisaris tinggi) Provinsi Yehuda dari pemerintahan Parsi. Ini memberikan harapan baru terutama bagi para Yahudi perantauan yang disebut Golah.

Mereka semua mengadakan perkumpulan di Jerusalem dan berhasil membangun sebuah altar baru diatas situs altar lama. Mereka mulai mempersembahkan kurban dan mengadakan festival-festival tradisional. Tetapi hanya baru sampai tahap itu, segala sesuatunya, termasuk pembangunan kembali Haekal secara menyeluruh masih harus tertunda. Kehidupan terutama di sector ekonomi masih merupakan suatu perjuangan yang sulit di Jerusalem yang hancur itu.

Pada Agustus 520 SM Nabi Hagai bersabda, bahwa prioritas yang selama ini dicanangkan salah secara mendasar. Panen tidak akan membaik, kesejahteraan tidak akan datang sampai Haekal dibangun. Nabi Hagai berkeyakinan Rumah Yahweh akan selalu menjadi sumber kesuburan Tanah Yang Dijanjikan. Salah, membangun rumah-rumah sendiri dan menelantarkan Rumah Yahweh. Nabi Hagai kembali mendorong para Golah untuk bekerja melanjutkan pembangunan Haekal. Hasilnya pada musim gugur th. 520 SM Fondasi Haekal kedua berhasil diletakkan.

Pada pesta Sukkoth (pesta panen), Haekal baru itu diresmikan dalam suatu upacara khusus dengan prosesi para pendeta, para imam dari suku Lewi yang menyanyikan Mazmur (Zabur) dan membunyikan kimbal. Tetapi bagi para generasi tua yang sempat menyaksikan keagungan Haekal yang pertama, semua ini merupakan antiklimaks yang menyedihkan. Mereka meratapi kesederhanaan situs Haekal yang kedua itu.

Tapi Nabi Hagai dan Nabi Zhakaria terus memberikan semangat bahwa ini sebuah proses, kelak Haekal kedua akan lebih besar, lebih agung dan lebih lama dari Haekal pertama. Zerubabel akan menjadi Messiah didampingi pendeta Yosua memerintah semua Goyim (manusia non-Yahudi) atas nama Yahweh. Artinya Yahweh akan kembali tinggal di Zion dan akan mendirikan kekuasaannya melalui dua messiah itu. Kelak terbukti bahwa harapan itu akan kandas dengan munculnya Am-Ha-Aretz yang menyulut pertikaian baru di bumi Jerusalem yang berusaha bangkit itu.

Israel dan Palestina Modern.

Mei 1945 Nazi Jerman dipukul hancur oleh Sekutu, setelah itu menyusul Jepang dan Italia. Pada Agustus 1945 praktis Perang Dunia Kedua berakhir dan lahirlah tata dunia baru ditandai dengan kemerdekaan bangsa-bangsa yang terjajah oleh system kolonialisme sebelumnya. Momentum ini juga digunakan oleh Bangsa Palestina untuk menuntut kemerdekaan dari Inggris sesuai keputusan “Perundingan Yalta” 1945 (vide, Pengajian ke 81). Tapi Inggris bersikap hipokrit, dan lebih cenderung berpihak kepada kaum Zionis, dengan menjalankan politik mengulur waktu.

Dengan cara itu Inggris memberi kesempatan kepada kaum Zionis untuk mengakumulasikan migrasi orang-orang Yahudi dari luar negeri ke bumi Palestina, hingga jumlahnya mencapai 400.000 orang. Kaum Zionis membentuk milisi-milisi bersenjata dan mulai melancarkan aksi terror terhadap penduduk Palestina. Bentrokan-bentrokan berdarah tak lagi terhindarkan. Orang-orang Yahudi merampas tanah-tanah Palestina dan mendirikan perkampungan-perkampungan baru serta terus mendesak pemukiman-pemukiman Palestina di kota Jerusalem. Tentu saja kalangan Palestina melakukan perlawanan-pelawanan sebagai keniscayaan yang tidak terhindarkan. Keadaan ini membuat situasi  politik dan keamanan di bumi Palestina sangat mencemaskan.

Sementara pasukan Inggris sebagai pemegang mandat tidak banyak daya untuk mengatasi keadaan. Hal itu memaksa PBB mengeluarkan Resolusi No. 181, 19 Nopember 1947 yang memerintahkan Inggris segera keluar dari bumi Palestina. Setelah itu hari-hari Palestina sangat mencekam. Hampir diseluruh negeri orang-orang Arab Palestina dan Israel saling bertempur,  terror oleh organisasi-organisasi kriminal Zionis terhadap warga  Palestina semakin memperkeruh situasi dan memaksa pengungsian warga Palestina keluar negeri hingga mencapai 700 000 orang.

Sebagaimana diketahui inti dari Resolusi PBB No. 181/1947 adalah rekomendasi bagi didirikannya Negara Palestina dan Negara Israel di bumi Palestina. Artinya baik bangsa Arab Palestina maupun bangsa Israel sama-sama memiliki hak mendirikan negara di bumi Palestina. Tentu yang harus diatur kemudian adalah pembagian teritori masing-masing negara yang harus dirundingkan secara matang dan arif. Tetapi kaum Zionis sudah bersikap untuk menggagalkan pendirian Negara Palestina. Bagi mereka di bumi Palestina hanya boleh berdiri satu negara yaitu Negara Israel bahkan Erezt Israel (Israel Raya).

Tgl, 15 Mei 1948 secara resmi PBB mencabut mandat Inggris atas Palestina. Tetapi sehari sebelumnya, yakni tgl. 14 Mei 1948 jam 4 : 00 sore, pemimpin Yahudi David Ben Gurion mengumumkan berdirinya Negara Israel, dengan David Ben Gurion sendiri sebagai Perdana Menteri dan Chaim Weizmann sebagai Presiden. Hal yang patut disesalkan PBB tidak mencegah berdirinya Negara Israel secara sepihak yang jelas bertentangan dengan Resolusi PBB No. 181/1947 yang mewajibkan berdirinya dua negara, yaitu Israel dan Palestina. Ketidaktegasan sikap PBB melahirkan perang berkepanjangan antara Israel vs Palestina hingga masa sekarang, dan dalam perkembangan konstelasi global merupakan hot-spot yang dapat menyulut Perang Dunia, seperti tampak gejala-gejalanya akhir-akhir ini.

Barat vs Islam.

Banyak negara Arab atau Islam yang posisinya sebagai pengekspor minyak, telah mencapai tingkat perkembangan social dan ekonomi dimana bentuk-bentuk pemerintahan otokratis menjadi tidak relevan lagi, dan usaha untuk demokratisasi menjadi semakin kuat. Beberapa keterbukaan dalam system politik di Arab dan dunia Islam sudah mulai dilakukan. Adalah kenyataan bahwa pihak yang paling diuntungkan dalam proses ini ialah gerakan radikal yang kalangan Barat menyebutnya fundamentalis. Ringkasnya di dunia Islam dan Arab, demokrasi Barat justru mengukuhkan kekuatan-kekuatan politik anti Barat. Sudah tentu ini akan semakin memperumit hubungan-hubungan antara negara-negara Islam dengan Barat.

Perhatikan kemenangan kubu Presiden Mahmud Ahmad Dinejad di Iran, meningkatnya pengaruh kalangan Islam radikal di Pakistan dan Indonesia. Ironi kemenangan kaum Shi’ah dalam Pemilu Irak, meningkatnya gerakan anti-monarkhi dan otokrasi di Arab Saudi dan pemerintah negara-negara Islam yang dianggap sekutu Barat. Dan yang paling spektakuler adalah kemenangan Hamas dalam Pemilu Palestina. Ini semua membuktikan bahwa gerakan-gerakan Islam radikal (fundamentalis) yang bekerja dengan pola LSM mendapat tempat di hati mayoritas kalangan menengah dan grassroot Islam dibawah tekanan rejim monarkhi dan otokrasi yang korup, lalim dan kolaborator yang mudah dicap sebagai pengkhianat dan musuh Islam. Kalahnya Partai Fatah dalam Pemilu Palestina terutama disebabkan isyu korupsi yang merajalela dikalangan pemimpin Fatah.

Uni Eropa dan Arab Saudi dibawah Raja Abdullah termasuk jeli melihat trend-politik ini. Sikap Uni Eropa dan Arab Saudi yang tetap akan menyalurkan bantuan keuangan kepada Otoritas Palestina pimpinan Hamas merupakan terobosan baru untuk menjangkau basis peradaban Islam yang sesungguhnya, bukan sekedar para penguasa otokrat yang menjadi jaringan Amerika Serikat yang justru menyulut banyak kemarahan dan perlawanan.

Sementara itu pertemuan delegasi Hamas dengan Presiden Rusia Vladimir Putin dan pemimpin tertinggi gereja ortodoks Rusia menggambarkan  perluasan koalisi peradaban Islam, Khonghucu dan Pan Slavik sebagai antipool terhadap peradaban Amerika Serikat-Eropa Barat yang dianggap sebagai peradaban Barat. Akumulasi dan regrouping peradaban seperti itu menurut Huntington mempunyai kekuatan dan pengaruh yang begitu besar dalam perang peradaban yang kemungkinan besar akan menjadi model Perang Dunia ke III jika itu terjadi. Meskipun menurut Fouad Ajami (Profesor Johns Hopkins University) paham kembali kepada fanatisme agama adalah penjeblosan diri kedalam kerusakan. Tetapi faktanya faham itu saat ini populer dalam menghadapi otokrasi di dunia Islam, dan dengan sendirinya menjadi instrumen penggerak demokrasi di arus menengah- bawah.

Tidak diragukan bobot akademik dari pernyataan Prof. Fouad Ajami, bahwa ‘fenomena yang kita namai fundamentalisme Islam bukanlah tanda kebangkitan Islam melainkan hanya kepanikan, kebingungan dan rasa bersalah karena perbatasan dengan ‘yang lain’ telah terseberangi’. Tetapi fakta hari ini menjadi terbalik. Kemenangan dan peningkatan kekuatan politik kaum yang dinamai fundamentalisme Islam dalam proses demokratisasi di dunia Islam kini membuat Barat menjadi panik, bingung dan merasa bersalah karena tiba-tiba menjumpai keadaan sudah jauh ketinggalan langkah.

Menyesali kekeliruan karena kurang mendukung kekuatan-kekuatan moderat yang telah mempromosikan demokrasi di dunia Islam sejak awal, dan sebaliknya lebih mengedepankan sikap pragmatic dengan para penguasa otokrat yang korup dan lalim yang dianggap mampu melindungi kepentingan Barat, yang ternyata kemudian menempatkan mereka bersama menjadi musuh publik di dunia Islam. Sekian, kita lanjutkan pada pengajian mendatang. Terima kasih.

Birrahmatillahi Wabi’aunihi fi Sabilih,
Wassalamu’alaikum War. Wab.

Jakarta, 10 Maret 2006,
Pengasuh,

KH AGUS MIFTACH
Ketua Umum Front Persatuan Nasional.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar