11.7.17

Pengajian Kedelapanpuluh (80),






Pengajian Kedelapanpuluh (80),

Assalamu’alaikum War. Wab.
Bismillahirrahmanirrahiem,






“Dan (ingatlah) ketika kamu berkata, “Hai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan nyata”. Karena itu kamu disambar halilintar, sedang kamu menyaksikannya.” ; (Al-Baqoroh : 55).

Kita akan membahas secara eklektik dari berbagai sudut pandang, baik dari perspektif teologis, historiografis, antropologis maupun psikologis untuk memperoleh pemahaman secara komprehensif dari kandungan ayat ini.

Pokok Bahasan.

Ayat  ini masih merupakan rangkain yang utuh dengan ayat sebelumnya berkaitan dengan pengkhianatan Bani Israil kepada Allah Azza wa Jalla dimana mereka menyembah lembu Samiri, ketika Musa menerima wahyu Taurat di bukit Tursina selama tenggat waktu 40 malam. Pada ayat yang lalu Bani Israil diperintahkan melakukan pertobatan dengan cara khusus karena besarnya dosa mereka, yaitu dengan cara saling membunuh satu sama lain, tidak peduli ayah atau anak, sehingga 70 000 orang terbunuh. Kemudian Allah menetapkan menerima pertobatan mereka semua, baik yang terbunuh maupun yang membunuh. Musa, Harun dan seluruh Bani Israil yang semula bersedih berubah menjadi bersuka cita. Setelah itu Allah memerintahkan Musa membawa 70 kepala suku Bani Israil naik ke bukit Tursina untuk melakukan pertobatan yang lebih dalam kepada Allah karena kedudukan mereka sebagai pemimpin. Diatas bukit itu terjadi mukjizat dimana awan turun meliputi bukit dan menyelimuti seputar mereka. Musa lalu menjalankan sholat, bersyukur dan berdoa kepada Allah. Melihat cara Musa a.s. sholat kepada Allah yang tidak kasat mata, melainkan hanya dalam transendensi keimanan Yang Ghoib, para pemimpin suku Bai Israil itu berkata, “Kami tidak akan beriman kepadamu sampai kami dapat melihat Allah secara terang-nyata”. Menurut Tafsir Jalalain, akibat dari kekurangajaran mereka itu, Allah menurunkan azab berupa halilintar yang menyambar mati sebagian mereka, sementara yang lain menyaksikan. Setelah itu menyambar mati sebagian yang menyaksikan itu. Berkat permohonan ampun dan doa Musa mereka dihidupkan kembali, dengan harapan agar mereka bertobat dan menjadi umat yang membangun peradaban tauhid. Setelah itu Allah mendatangkan azab dengan berbagai penyakit dari makhluk-makhluk renik yang membinasakan sebagian besar Bani Israil.

Menurut Tafsir Ibnu Katsir, petir itu adalah wujud dari permintaan Bani Israil untuk melihat Allah secara ‘jahrah’ (nyata) yang tidak mungkin disanggupi oleh makhluk seperti mereka. Maka ketika Allah menampakkan bayangannya sebagai lidah api dari langit matilah 70 pemimpin suku itu.

Peristiwa ini kembali memberi pengertian betapa dalamnya mitologi penyembahan berhala (paganisme) peradaban Mesir  merasuk dalam jiwa Bani Israil, menguasai seluruh struktur nilai kesadaran dan ketidaksadaran kolektif mereka, menjadi konstitusi jiwa yang mempengaruhi seluruh sikap mental dan perilaku Bani israil, membuat mereka sangat sukar menerima stimulus iman tauhid yang transenden kepada Allah Al-Ghoib. Dalam kurun waktu antara 3-4 abad sepeninggal generasi Yusuf a.s, Bani Israil dan Bangsa Mesir mengalami proses akulturasi yang menghasilkan sinkretisme dalam budaya dan agama masing-masing. Maka berkembanglah budaya kemusyrikan secara luas dikalangan Bani Israil dimana mereka menyembah Allah bersama ilah-ilah berhala Mesir, sementara dikalangan pribumi Mesir mulai dikenal Allah disamping tuhan-tuhan berhala mereka. Kedatangan Musa a.s. adalah untuk membawa Bani Israil kembali ke Agama Tauhid dan meninggalkan kemusyrikan dengan ilah-ilah pagan Mesir. Eksodus meninggalkan Mesir adalah pilihan yang paling damai, karena Allah Yang Maha Pengasih memang tidak bermaksud menghancurkan peradaban agraris Mesir-Pharaos yang tinggi dari proses pembentukah peradaban selama ribuan tahun sebelumnya. Dan lebih dari itu pengenalan Mesir akan Allah terbukti menjadikan bangsa itu menjadi pemeluk Agama Islam yang tauhid dikelak kemudian hari, sementara sebagian besar Bani Israil justru masih paganis hingga hari ini seperti tampak dalam gerakan Illuminati-Freemasonry yang merupakan kiblat neo-paganisme di dunia selama kurun waktu terakhir ini.

Ordo Illuminati.

Ini merupakan bahasan kesepuluh dari gerakan Ordo Illuminti-Freemasonry, yang dalam tiga pengajian terakhir ini (78,79 dan 80) berada di lingkup Kristen, dengan pengungkapan naskah-naskah asli ajaran Kristus yang ditemukan dalam Dead Sea Scrolls di  gua Qumron, Yudea (1950) dan Gulungan Koptik atau Naskah Ginostik di Nag Hammadi, Mesir (1945).
Seperti telah diuraikan dalam Pengajian ke 78 dan 79, kedua naskah itu telah mendasari pengungkapan Dan Brown dalam international best-seller-nya “the Da Vinci Code” tentang kesejatian Yesus-Kristus sebagai nabi dan rasul yang agung,namun sepenuhnya manusia, bukan ilahi. Keilahian Yesus baru ditentukan pada Konsili Nicea th. 325 M oleh Kaisar Romawi yang paganis Konstantin Agung, melalui voting. Artinya sebelum 325 M Yesus bukan ilahi. Menurut Dan Brown ini semata-mata politik untuk kebutuhan tahta Romawi dan kekuasaan Gereja serta kebutuhan akan figure dewata yang biasa dimiliki kaum paganis Romawi. Konstantin lalu mentransformasikan tradisi pagan kedalam tradisi Kristen yang sedang tumbuh, termasuk hari-hari raya dan ritual untuk menjadikan agama Kristen sebagai agama Hybrid yang dapat diterima kaum paganis dan kristen untuk menghindarkan perang dan memelihara kestabilan negara. Pada Pengajian ke 79 telah diungkapkan tentang kesejatian Maria Magdalena yang ternyata adalah istri Yesus Kristus dan ibu dari keturunan Yesus Kristus. Fitnah gereja terhadap Maria Magdalena sebagai pelacur menurut Dan Brown berkaitan dengan perampasan hak atas tahta suci dari Maria Magdalena dan keturunannya yang terbukti merupakan hierarkhi sah tahta-suci yang mencakup Kristen dan Yahudi. Yesus adalah keturunan Daud sedang Magdalena adalah keturunan Benyamin. Untuk menghindari ancaman, Magdalena bersembunyi di Perancis dan melahirkan anak Yesus, Sarah dalam lindungan komunitas Yahudi. Dengan berbagai penyamaran silsilah keluarga Yesus ini dapat terus dipertahankan. Menurut Da Vinci Code pada abad ke 5 seorang keturunan Yesus menikah dengan bangsawan Perancis yang menciptakan sebuah garis keturunan Mirovingian yang menjadi pendiri kota Paris. Inilah yang menjadi penyebab kentalnya kisah-kisah Maria Magdalena dalam kode-kode rahasia Holy Grail di Perancis. Salah seorang keturunan Mirovingian bahkan sempat menjadi raja, bernama Dagobert yang menurut Dan Brown dibunuh oleh Vatikan berkomplot dengan Pepin d’Herstal dengan ditusuk matanya ketika tidur, diakhir abad ke-7. Dengan terbunuhnya Dagobert keturunan Mirovingian nyaris punah. Untunglah putra Dagobert, yaitu Sigisbert, diam-diam berhasil lolos dari serangan sehingga bisa melanjutkan garis keturunan Yesus. Dari garis ini lahir Godefroi de Bouillon yang menjadi pendiri “Biarawan Sion” (Priory of Sions) yang merupakan pimpinan spiritual dalam komunitas Freemasonry yang memiliki tugas khusus menjaga keselamatan dokumen dan keselamatan keturunan Yesus.

Dead Sea Scrolls dan Gulungan Koptik berasal dari abad ke-1 berisi 52 – 80 kitab a.l. Injil Thomas dan Injil Philips yang menurut Dan Brown dan para pakar pendukungnya lebih tua dari Injil-injil Matius, Markus, Lukas dan Yohanes. Para pakar menemukan kutipan-kutipan isi yang cukup panjang dalam Injil Matius dan Lukas  bersumber dari Injil Thomas dan Philips. Didalam keseluruhan materi itu tidak terdapat dogma tentang kematian dan kebangkitan kembali Yesus. Menurut visi Da Vinci Code, para pengikut paling awal Yesus menggunakan Kitab-kitab Injil asli dari Dead Sea Scrolls dan Gulungan Koptik ini sebagai kitab suci, yang secara substantif sangat berbeda dengan ‘gambaran’ kemudian tentang Yesus dalam Kitab-kitab Injil produk Konsili Nicea th.325 M.

Pandangan-pandangan Injil Philips dan Injil Thomas tentang kerasulan Yesus sebagai manusia sepenuhnya, sama dengan pandangan Al-Qur’anul Kariem sejak 1500 th yang lalu yang memandang Yesus adalah Nabi Isa Al-Masih a.s. salah seorang nabi dan rasul yang diakui dalam Islam dalam derajad kemanusiaannya sebagaimana Rasulullah SAW. Namun demikian terhadap berbagai pandangan paganisme dan neo-paganisme dalam Da Vinci Code yang sekaligus menginformasikan keanggotaan Dan Brown dalam Illuminati-Freemasonry, Islam tidak sependapat. Sebagai agama tauhid monotheis, Islam hanya mengakui satu ilah, yaitu Allah Subhanahu wa Ta’aala. Tidak ada ilah lain selain Allah. Ini memang berbeda dengan agama Yahudi, yang mengakui adanya ilah-ilah lain, namun terpanggil hanya menyembah Yahweh saja. Dan lebih berbeda lagi dengan Illuminati-Fremasonry yang mengkompromikan semua ilah-ilah pagan yang mereka sembah sejak zaman Paharo’s Mesir dengan Yahweh. Sublimasinya mereka namakan, “The Great Architec of the Universe” (TGAOTU) yang merupakan “the Power of Evolution” dan “totaliltas materi dan energi” (vide, Buku Spirit Islam ke-4).

Betapapun Dan Brown dengan Da Vinci Code-nya telah menggoncangkan keyakinan tradisional Kristen. Vatikan, para pimpinan Ordo Katolik dan Protestan mulai menyusun langkah untuk melawan Da Vinci Code. Tidak kurang dari Uskup Opus Dei yang banyak disebut dalam Da Vinci Code, menggelar konferensi pers yang menjelaskan eksistensi Opus Dei dan ritual penyiksaan dirinya yang banyak diungkapkan dalam Da Vinci Code dan kini menjadi pertanyaan khalayak. Diterbitkan buku Cracking (mematahkan) Da Vinci Code, yang ditulis oleh dua orang teolog James Garlow dan Peter Jones. Tetapi sejauh ini tidak ada yang cukup canggih untuk menandingi Da Vinci Code yang merupakan novel bermutu tinggi. Cracking Da Vinci Code ditinjau dari segi susastra dan keilmiahan masih terlalu kerdil dibandingkan Da Vinci Code Dan Brown, sehingga tidak mematahkan apapun, dan pengaruh Da Vinci Code terus berderap diseluruh dunia membangkitkan suasana baru dalam spirit kekristenan. Kini telah lahir organisasi reformasi Kristen dengan nama Jesus Seminar yang telah mengibarkan panji-panji revolusi, dan bertekad dalam satu generasi mereka akan menggunakan gulungan-gulungan kitab suci yang asli itu untuk :
*  Memberi label baru pada Yesus,
*  Menulis ulang asal-usul iman Kristen,
*  Menulis ulang sejarah Gereja perdana,
*  Menguraikan ulang isi Kanon (pedoman Kitabiah), dan
*  Menafsirkan ulang sepenuhnya iman Kristen sesuai spiritualitas Gnostik  (pembebasan dari kebodohan, bukan pembebasan dosa).

Konflik Barat dengan Islam.

Konflik peradaban Islam dengan Barat berlangsung sepanjang masa, bahkan sejak ratusan tahun silam, dalam pengertian konflik Arabia-Israel bahkan sudah berlangsung sejak ribuan tahun silam. Dari batas konflik Barat vs Islam setidaknya sudah berlangsung selama 1.300 th. Dimulai dengan penyerbuan bangsa Arab dan Moor ke Barat dan Utara dan berakhir di Tours pada  th. 732. Dari abad ke 11-13 pasukan Perang Salib berusaha keras membawa agama Kristen dan kekuasaan Kristen ke tanah suci Jerusalem, dan hanya berhasil untuk sementara waktu saja. Pada masa itu Jerusalem berada dibawah kekuasaan Panglima Besar Salahuddin Al-Ayyubi yang berhasil menaklukkan seluruh gabungan pasukan Salib di “medan perang Hattin” yang bersejarah. Selanjutnya pada abad ke 14-17 Kekaisaran Turki Ottoman mengambil alih Jerusalem, membalikkan keseimbangan dan memperluas kekuasaan mereka sampai ke Timur Tengah dan Balkan, merebut Istanbul, dan dua kali mengepung Wina. Pada abad ke 19 dan awal abad 20 ketika kekuasaan Ottoman mulai merosot, kekuatan Inggris, Prancis dan Italia bangkit mengukuhkan kendali Barat hampir di seluruh Afrika Utara dan Timur Tengah.
Setelah Perang Dunia II, Barat mulai mundur, kekaisaran kolonial hilang berganti dengan munculnya nasionalisme Arab awal, kemudian muncul fundamentalisme Islam; pada saat mana Barat mulai bergantung pada pasokan minyak negara-negara Teluk Persia yang kaya raya dan kalau mau bisa kaya senjata juga. Setelah periode ini, Barat mulai merekayasa perang diantara negara-negara Arab dengan Israel. Pada th. 1950 Prancis menggelar perang Aljazair yang sangat kejam dan berdarah. Th. 1956 Inggris dan Prancis menginvasi Mesir. Th. 1958 pasukan Amerika Serikat memasuki Libanon, menyerang Libia dan terlibat berbagai pertempuran dengan Iran. Sekian, kita lanjutkan pada pengajian mendatang. Semoga Perang Dunia ke III tidak pecah di awal abad ini sebagaimana scenario Albert Pike dan prediksi Samuel P Huntington.

Birrahmatillahi Wabi’aunihi fi Sabilih,
Wassalamu’alaikum War. Wab.

Jakarta, 24 Februari 2006,
Pengasuh,



HAJI AGUS MIFTACH

Ketua Umum Front Persatuan Nasional






Tidak ada komentar:

Posting Komentar