Pengajian Kedelapanpuluh (80),
Assalamu’alaikum
War. Wab.
Bismillahirrahmanirrahiem,
“Dan
(ingatlah) ketika kamu berkata, “Hai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu
sebelum kami melihat Allah dengan nyata”. Karena itu kamu disambar halilintar,
sedang kamu menyaksikannya.” ; (Al-Baqoroh : 55).
Kita
akan membahas secara eklektik dari berbagai sudut pandang, baik dari perspektif
teologis, historiografis, antropologis maupun psikologis untuk memperoleh
pemahaman secara komprehensif dari kandungan ayat ini.
Pokok
Bahasan.
Ayat ini masih merupakan rangkain yang utuh dengan
ayat sebelumnya berkaitan dengan pengkhianatan Bani Israil kepada Allah Azza wa
Jalla dimana mereka menyembah lembu Samiri, ketika Musa menerima wahyu Taurat
di bukit Tursina selama tenggat waktu 40 malam. Pada ayat yang lalu Bani Israil
diperintahkan melakukan pertobatan dengan cara khusus karena besarnya dosa
mereka, yaitu dengan cara saling membunuh satu sama lain, tidak peduli ayah
atau anak, sehingga 70 000 orang terbunuh. Kemudian Allah menetapkan menerima
pertobatan mereka semua, baik yang terbunuh maupun yang membunuh. Musa, Harun
dan seluruh Bani Israil yang semula bersedih berubah menjadi bersuka cita.
Setelah itu Allah memerintahkan Musa membawa 70 kepala suku Bani Israil naik ke
bukit Tursina untuk melakukan pertobatan yang lebih dalam kepada Allah karena
kedudukan mereka sebagai pemimpin. Diatas bukit itu terjadi mukjizat dimana
awan turun meliputi bukit dan menyelimuti seputar mereka. Musa lalu menjalankan
sholat, bersyukur dan berdoa kepada Allah. Melihat cara Musa a.s. sholat kepada
Allah yang tidak kasat mata, melainkan hanya dalam transendensi keimanan Yang
Ghoib, para pemimpin suku Bai Israil itu berkata, “Kami tidak akan beriman
kepadamu sampai kami dapat melihat Allah secara terang-nyata”. Menurut Tafsir
Jalalain, akibat dari kekurangajaran mereka itu, Allah menurunkan azab berupa
halilintar yang menyambar mati sebagian mereka, sementara yang lain
menyaksikan. Setelah itu menyambar mati sebagian yang menyaksikan itu. Berkat
permohonan ampun dan doa Musa mereka dihidupkan kembali, dengan harapan agar
mereka bertobat dan menjadi umat yang membangun peradaban tauhid. Setelah itu
Allah mendatangkan azab dengan berbagai penyakit dari makhluk-makhluk renik
yang membinasakan sebagian besar Bani Israil.
Menurut
Tafsir Ibnu Katsir, petir itu adalah wujud dari permintaan Bani Israil untuk
melihat Allah secara ‘jahrah’ (nyata) yang tidak mungkin disanggupi oleh
makhluk seperti mereka. Maka ketika Allah menampakkan bayangannya sebagai lidah
api dari langit matilah 70 pemimpin suku itu.
Peristiwa
ini kembali memberi pengertian betapa dalamnya mitologi penyembahan berhala
(paganisme) peradaban Mesir merasuk
dalam jiwa Bani Israil, menguasai seluruh struktur nilai kesadaran dan
ketidaksadaran kolektif mereka, menjadi konstitusi jiwa yang mempengaruhi
seluruh sikap mental dan perilaku Bani israil, membuat mereka sangat sukar
menerima stimulus iman tauhid yang transenden kepada Allah Al-Ghoib. Dalam
kurun waktu antara 3-4 abad sepeninggal generasi Yusuf a.s, Bani Israil dan
Bangsa Mesir mengalami proses akulturasi yang menghasilkan sinkretisme dalam
budaya dan agama masing-masing. Maka berkembanglah budaya kemusyrikan secara
luas dikalangan Bani Israil dimana mereka menyembah Allah bersama ilah-ilah
berhala Mesir, sementara dikalangan pribumi Mesir mulai dikenal Allah disamping
tuhan-tuhan berhala mereka. Kedatangan Musa a.s. adalah untuk membawa Bani
Israil kembali ke Agama Tauhid dan meninggalkan kemusyrikan dengan ilah-ilah pagan
Mesir. Eksodus meninggalkan Mesir adalah pilihan yang paling damai, karena
Allah Yang Maha Pengasih memang tidak bermaksud menghancurkan peradaban agraris
Mesir-Pharaos yang tinggi dari proses pembentukah peradaban selama ribuan tahun
sebelumnya. Dan lebih dari itu pengenalan Mesir akan Allah terbukti menjadikan
bangsa itu menjadi pemeluk Agama Islam yang tauhid dikelak kemudian hari,
sementara sebagian besar Bani Israil justru masih paganis hingga hari ini
seperti tampak dalam gerakan Illuminati-Freemasonry yang merupakan kiblat
neo-paganisme di dunia selama kurun waktu terakhir ini.
Ordo
Illuminati.
Ini
merupakan bahasan kesepuluh dari gerakan Ordo Illuminti-Freemasonry, yang dalam
tiga pengajian terakhir ini (78,79 dan 80) berada di lingkup Kristen, dengan
pengungkapan naskah-naskah asli ajaran Kristus yang ditemukan dalam Dead Sea
Scrolls di gua Qumron, Yudea (1950) dan
Gulungan Koptik atau Naskah Ginostik di Nag Hammadi, Mesir (1945).
Seperti
telah diuraikan dalam Pengajian ke 78 dan 79, kedua naskah itu telah mendasari
pengungkapan Dan Brown dalam international best-seller-nya “the Da
Vinci Code” tentang kesejatian Yesus-Kristus sebagai nabi dan rasul yang
agung,namun sepenuhnya manusia, bukan ilahi. Keilahian Yesus baru ditentukan
pada Konsili Nicea th. 325 M oleh Kaisar Romawi yang paganis Konstantin Agung,
melalui voting. Artinya sebelum 325 M Yesus bukan ilahi. Menurut Dan Brown ini
semata-mata politik untuk kebutuhan tahta Romawi dan kekuasaan Gereja serta
kebutuhan akan figure dewata yang biasa dimiliki kaum paganis Romawi.
Konstantin lalu mentransformasikan tradisi pagan kedalam tradisi Kristen yang
sedang tumbuh, termasuk hari-hari raya dan ritual untuk menjadikan agama
Kristen sebagai agama Hybrid yang dapat diterima kaum paganis dan kristen untuk
menghindarkan perang dan memelihara kestabilan negara. Pada Pengajian ke 79
telah diungkapkan tentang kesejatian Maria Magdalena yang ternyata adalah istri
Yesus Kristus dan ibu dari keturunan Yesus Kristus. Fitnah gereja terhadap
Maria Magdalena sebagai pelacur menurut Dan Brown berkaitan dengan perampasan hak
atas tahta suci dari Maria Magdalena dan keturunannya yang terbukti merupakan
hierarkhi sah tahta-suci yang mencakup Kristen dan Yahudi. Yesus adalah
keturunan Daud sedang Magdalena adalah keturunan
Benyamin. Untuk menghindari ancaman, Magdalena
bersembunyi di Perancis dan melahirkan anak Yesus, Sarah dalam lindungan
komunitas Yahudi. Dengan berbagai penyamaran silsilah keluarga Yesus ini dapat
terus dipertahankan. Menurut Da Vinci Code pada abad ke 5 seorang
keturunan Yesus menikah dengan bangsawan Perancis yang menciptakan sebuah garis
keturunan Mirovingian yang menjadi pendiri kota
Paris . Inilah
yang menjadi penyebab kentalnya kisah-kisah Maria Magdalena dalam kode-kode
rahasia Holy Grail di Perancis. Salah seorang keturunan Mirovingian
bahkan sempat menjadi raja, bernama Dagobert yang menurut Dan Brown
dibunuh oleh Vatikan berkomplot dengan Pepin d’Herstal dengan ditusuk
matanya ketika tidur, diakhir abad ke-7. Dengan terbunuhnya Dagobert keturunan
Mirovingian nyaris punah. Untunglah putra Dagobert, yaitu Sigisbert,
diam-diam berhasil lolos dari serangan sehingga bisa melanjutkan garis
keturunan Yesus. Dari garis ini lahir Godefroi de Bouillon yang menjadi
pendiri “Biarawan Sion” (Priory of Sions) yang merupakan pimpinan
spiritual dalam komunitas Freemasonry yang memiliki tugas khusus menjaga
keselamatan dokumen dan keselamatan keturunan Yesus.
Dead Sea Scrolls dan Gulungan Koptik berasal dari abad
ke-1 berisi 52 – 80 kitab a.l. Injil Thomas dan Injil Philips yang menurut Dan
Brown dan para pakar pendukungnya lebih tua dari Injil-injil Matius, Markus,
Lukas dan Yohanes. Para pakar menemukan
kutipan-kutipan isi yang cukup panjang dalam Injil Matius dan Lukas bersumber dari Injil Thomas dan Philips.
Didalam keseluruhan materi itu tidak terdapat dogma tentang kematian dan
kebangkitan kembali Yesus. Menurut visi Da Vinci Code, para pengikut paling
awal Yesus menggunakan Kitab-kitab Injil asli dari Dead Sea Scrolls dan
Gulungan Koptik ini sebagai kitab suci, yang secara substantif sangat berbeda
dengan ‘gambaran’ kemudian tentang Yesus dalam Kitab-kitab Injil produk Konsili
Nicea th.325 M.
Pandangan-pandangan Injil Philips dan Injil Thomas
tentang kerasulan Yesus sebagai manusia sepenuhnya, sama dengan pandangan
Al-Qur’anul Kariem sejak 1500 th yang lalu yang memandang Yesus adalah Nabi Isa
Al-Masih a.s. salah seorang nabi dan rasul yang diakui dalam Islam dalam
derajad kemanusiaannya sebagaimana Rasulullah SAW. Namun demikian terhadap
berbagai pandangan paganisme dan neo-paganisme dalam Da Vinci Code yang
sekaligus menginformasikan keanggotaan Dan Brown dalam Illuminati-Freemasonry,
Islam tidak sependapat. Sebagai agama tauhid monotheis, Islam hanya mengakui
satu ilah, yaitu Allah Subhanahu wa Ta’aala. Tidak ada ilah lain selain Allah.
Ini memang berbeda dengan agama Yahudi, yang mengakui adanya ilah-ilah lain,
namun terpanggil hanya menyembah Yahweh saja. Dan lebih berbeda lagi dengan
Illuminati-Fremasonry yang mengkompromikan semua ilah-ilah pagan yang mereka
sembah sejak zaman Paharo’s Mesir dengan Yahweh. Sublimasinya mereka namakan,
“The Great Architec of the Universe” (TGAOTU) yang merupakan “the Power of
Evolution” dan “totaliltas materi dan energi” (vide, Buku Spirit Islam ke-4).
Betapapun
Dan Brown dengan Da Vinci Code-nya telah menggoncangkan keyakinan tradisional
Kristen. Vatikan, para pimpinan Ordo Katolik dan Protestan mulai menyusun
langkah untuk melawan Da Vinci Code. Tidak kurang dari Uskup Opus Dei yang
banyak disebut dalam Da Vinci Code, menggelar konferensi pers yang menjelaskan
eksistensi Opus Dei dan ritual penyiksaan dirinya yang banyak diungkapkan dalam
Da Vinci Code dan kini menjadi pertanyaan khalayak. Diterbitkan buku Cracking
(mematahkan) Da Vinci Code, yang ditulis oleh dua orang teolog James
Garlow dan Peter Jones. Tetapi sejauh ini tidak ada yang cukup
canggih untuk menandingi Da Vinci Code yang merupakan novel bermutu tinggi.
Cracking Da Vinci Code ditinjau dari segi susastra dan keilmiahan masih terlalu
kerdil dibandingkan Da Vinci Code Dan Brown, sehingga tidak mematahkan apapun,
dan pengaruh Da Vinci Code terus berderap diseluruh dunia membangkitkan suasana
baru dalam spirit kekristenan. Kini telah lahir organisasi reformasi Kristen
dengan nama Jesus Seminar yang telah mengibarkan panji-panji revolusi,
dan bertekad dalam satu generasi mereka akan menggunakan gulungan-gulungan
kitab suci yang asli itu untuk :
Konflik Barat dengan Islam.
Konflik peradaban Islam dengan
Barat berlangsung sepanjang masa, bahkan sejak ratusan tahun silam, dalam
pengertian konflik Arabia-Israel bahkan sudah berlangsung sejak ribuan tahun
silam. Dari batas konflik Barat vs Islam setidaknya sudah berlangsung selama
1.300 th. Dimulai dengan penyerbuan bangsa Arab dan Moor ke Barat dan Utara dan
berakhir di Tours pada th. 732. Dari
abad ke 11-13 pasukan Perang Salib berusaha keras membawa agama Kristen dan
kekuasaan Kristen ke tanah suci Jerusalem, dan hanya berhasil untuk sementara
waktu saja. Pada masa itu Jerusalem berada dibawah kekuasaan Panglima Besar
Salahuddin Al-Ayyubi yang berhasil menaklukkan seluruh gabungan pasukan Salib
di “medan perang Hattin” yang bersejarah. Selanjutnya pada abad ke 14-17
Kekaisaran Turki Ottoman mengambil alih Jerusalem, membalikkan keseimbangan dan
memperluas kekuasaan mereka sampai ke Timur Tengah dan Balkan, merebut
Istanbul, dan dua kali mengepung Wina. Pada abad ke 19 dan awal abad 20 ketika
kekuasaan Ottoman mulai merosot, kekuatan Inggris, Prancis dan Italia bangkit
mengukuhkan kendali Barat hampir di seluruh Afrika Utara dan Timur Tengah.
Setelah Perang Dunia II, Barat mulai
mundur, kekaisaran kolonial hilang berganti dengan munculnya nasionalisme Arab
awal, kemudian muncul fundamentalisme Islam; pada saat mana Barat mulai bergantung
pada pasokan minyak negara-negara Teluk Persia yang kaya raya dan kalau mau
bisa kaya senjata juga. Setelah periode ini, Barat mulai merekayasa perang
diantara negara-negara Arab dengan Israel. Pada th. 1950 Prancis menggelar
perang Aljazair yang sangat kejam dan berdarah. Th. 1956 Inggris dan Prancis
menginvasi Mesir. Th. 1958 pasukan Amerika Serikat memasuki Libanon, menyerang
Libia dan terlibat berbagai pertempuran dengan Iran. Sekian, kita lanjutkan
pada pengajian mendatang. Semoga Perang Dunia ke III tidak pecah di awal abad
ini sebagaimana scenario Albert Pike dan prediksi Samuel P Huntington.
Birrahmatillahi Wabi’aunihi fi Sabilih,
Wassalamu’alaikum War. Wab.
Jakarta, 24 Februari 2006,
Pengasuh,
Tidak ada komentar:
Posting Komentar