7.7.17

Pengajian Keempatpuluh Tujuh, Jkt. 17/6/05-TWU

 Pengajian Keempatpuluh Tujuh, Jkt. 17/6/05

Assalamu’alaikum War. Wab.
“Alladzie ja’ala-lakumul-ardho firoosyanw-wassamaa-i binaa-an; wwa-anzala minaassamaa-i maa-an fa-akhraja bihii minatstsamarooti rizqonllakum; falaa taj’aluu lillaahi  andaadanwwa-antum ta’maluuna” : “Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui”, (Al-Baqoroh : 22).
Kita akan membahas ayat tersebut dengan pendekatan  eklektik dari berbagai perspektif, teologis, historiografis, psikologis, filsafat dan sosiologis, bersifat holistis dalam rangka menggapai hikmah yang tertinggi dari ayat tersebut :

Pokok bahasan.
Allah telah menciptakan bumi sebagai hamparan bagi manusia; Tafsir Jalalain memperjelas sebagai hamparan atau lapisan yang tidak begitu keras dan tidak begitu lunak (dengan sifat-sifat nisbi), sehingga tidak mungkin didiami manusia secara tetap dan kekal. Artinya habitat bumi memang diciptakan dengan sifat dasar fana, tidak abadi. Dan langit sebagai atap yang menaungi yang turun daripadanya air hujan yang menciptakan berbagai kehidupan di bumi, sehingga keluarlah dari habitat bumi segala tetumbuhan dan buah-buahan yang menjadi makanan bagi manusia dan bagi segala binatang ternak yang kesemuanya itu merupakan rezki bagi manusia.  Semua proses itu seharusnya diperhatikan, direnungkan dan dipelajari lalu diolah agar bermanfaat sebesar-besarnya bagi manusia dan kemanusiaan. Semua itu memang sengaja diberikan Allah sebagai nikmat kehidupan, agar manusia dapat membangun kehidupan yang baik di muka bumi. Dengan penjelasan ayat ini, Allah mempertegas tanda-tanda keberadaan, kekuasaan dan kemurahan-Nya, dan dengan itu mengingatkan manusia untuk tidak berlaku musyrik dengan menyembah ilah-ilah selain Allah, yang sesungguhnya tidak mampu menciptakan hakekat kehidupan alam sekecil apapun, dan sama sekali tidak layak disebut sebagai tuhan dan disembah. Ayat ini mempertegas keberadaan Allah Yang Esa sebagai satu-satunya Tuhan yang wajib disembah semua manusia, dan agar orang-orang beriman menempatkan diri sebagai hamba Allah dengan penuh ketaqwaan.

Ulasan
Pengertian bumi sebagai hamparan, bukan berarti dataran rata seluruhnya, melainkan lapisan atas bumi (top-soil) yang menjadi hamparan kehidupan dan segala aspek pendukungnya. Lebih bermakna sebagai lingkungan mikro yang mendukung kebutuhan hidup ras homo sapiens (manusia) pada habitat masing-masing.. Bumi secara global berbentuk bulat dan merupakan satu planet kecil  di semesta raya yang maha luas. Setiap habitat bersifat mikro, bagian dari rentang ekosistem makro-kosmos. Meski Tafsir Ibnu Katsir mempertegas makna As-sama’ sebagai “atap”, bukan harafiah namun majasi dalam arti sebagai habitat mikro lingkungan yang memberikan daya dukung bagi kehidupan manusia. Langit adalah habitat makrokosmos, jauh dari pengertian atap secara harafiah, merupakan media bagi  seluruh benda-benda angkasa raya, berbentuk kehampaan helium yang gelap tak bertepi. Hanya sedikit yang diketahui manusia tentang langit atau antariksa.
Tentang sekutu-sekutu atau ilah-ilah selain Allah yang menjadi sumber kemusyrikan, memiliki dua kategoris, yaitu ekstra organis dan intra organis.
Yang bersifat Ekstra organis berupa system mitologi agama-agama berhala dengan ragam dewa pagan yang sangat banyak. Setiap kampung, suku, suku-bangsa, dan bangsa-bangsa  memiliki dewanya masing-masing. Zaman mitologi berlangsung ribuan tahun, hingga Allah SWT mengutus Musa a.s ke Mesir abad ke-15 SM. Peradaban berhala terbesar setelah Mesir pharao’s adalah Mesopotamia, Yunani kemudian Romawi. Dewa-dewa pagan yang terkenal dari zaman Mesir ialah Cabbala, suatu rejim dewa-dewa berkepala lembu dan kambing. Di Israel muncul dewa Ba’al dan Anat, lalu diatasnya terdapat dewa El (kepala dewa-dewi Kana’an) dengan kedua istrinya Astarte dan Asyera lambang kesuburan orang Kana’an. Dewa-dewi pagan Israel kesinambungan dari peradabaan Mesir berhala zaman Pharao’s yang bercampur dengan Judaism dan mengkristal dalam system Cabbala-Talmud yang menjadi induk Zionisme yang terus hidup hingga masa sekarang. Dari peradaban Mesopotamia dikenal mahadewa Enlil. Sedangkan dari Yunani dikenal pasangan dewa-dewi Osiris dan Isis. Di zaman Romawi lebih banyak lagi ragam dewa-dewi pagan yang bersumber dari mitologi, yang tertinggi dewa matahari. Seluruh peradaban berhala itu kemudian berfusi dalam satu system Cabbala-Freemasonry dengan tuhan pagannya “the Great Archittec of  the Universe” (TGAOTU) yang dewasa ini bermaksud menciptakan tata dunia baru dengan membebaskan manusia dari dogma agama-agama samawi yang dianggap menghambat kemajuan.  Dewa-dewi pagan yang disembah kaum jahiliyah Arab-Hejaz (Cabbala-Quraisy) bersumber dari peradaban Mesir-Israel dan Mesopotamia, sebagaimana telah diterangkan terdahulu, a.l. Ba’al, Hubal, Manat, Latta dan Uzza. Dalam kaitan hal ini, Tafsir Ibnu Katsir menguraikan suatu penegasan bersumber dari ayat tersebut diatas (QS 2 : 22) sbb. : “Yakni, janganlah kamu menyekutukan dengan Allah beberapa sekutu (dewa-dewi pagan) yang tidak dapat memberi manfaat dan mudarat, padahal kamu mengetahui bahwa tidak ada tuhan selain Allah yang memberikan rezki kepadamu”.

Adapun yang bersifat intra-organis ialah, rejim instinktif yang berisi dorongan-dorongan impulsive, baik berupa dorongan-dorongan hidup maupun dorongan-dorongan mati. Dorongan hidup, intinya impuls sexual dan stomach, sedangkan dorongan mati intinya impuls agresive. Jika orang terlalu dipengaruhi oleh impuls instinktif, ia berada pada derajat hewani,  psiko-kognitifnya hanya dipenuhi oleh keinginan mengejar kesenangan hawa nafsu belaka, serta berbuat kedzaliman. Akhirnya dia akan menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Faktor instrinsic ini akan mudah bersenyawa dengan factor extrinsic berupa system agama berhala yang menempatkan hawa nafsu sebagai factor penting tujuan ritual-nya seperti seks dan perang yang mendominasi ritual agama berhala Israel dan Arab-Hejaz. Dalam sisi intra organis (kejiwaan manusia) terdapat pula archeytipus yang sudah pernah kita bahas pada buku pertama pengajian, yang merupakan pusat bayang-bayang kegelapan manusia, berisi segala kecenderungan jahat ras manusia. Faktor intra organis tersebut dapat menjadi motivator penting bagi seseorang untuk meyakini kebenaran agama berhala yang banyak berisi unsur-unsur arsetip, seperti pengorbanan anak atau perawan kepada para dewa, dan lain-lain bentuk kedzaliman, yang biasanya bertujuan untuk memperoleh kekayaan, kekuasaan, kesehatan, panjang umur dan keabadian agnostic. Al-Qur’an menyebut mereka secara eksplisit dalam Al-Jatsiyah : 23 :”Afa ro-aita manittakhodza ilaahahu hawaahu….” : “Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya”.

Perlawanan terhadap paganisme
Perlawanan hebat terhadap mitologi paganisme dilakukan oleh Musa a.s. sebagai Rasul Allah yang diutus ke Mesir yang merupakan puncak peradaban mitologi pagan di dunia dan Mesir merupakan kekaisaran terbesar di dunia pada zaman itu. Pertikaian Musa vs Fir’aun (Pharao’s Rameses II) berpuncak dengan eksodus Musa dan kaum Yahudi meninggalkan Mesir kembali ke Kana’an atau Yerussalem negeri yang dijanjikan Allah pad abad ke-13 SM, dengan tujuan utama untuk mengembalikan iman tauhid mereka.Tetapi tidak seluruh Yahudi kembali ke tauhid, banyak diantara mereka yang telah memasukkan keyakinan agama berhala Mesir kedalam Judaism. Kenyataannya pada abad ke-10 SM sebagian dari suku-suku besar Yahudi kembali menjalankan system agama berhala Mesir, yang memaksa Raja Israel Daud menyerbu mereka di lembah Edom. Setelah itu mainstream peradaban dunia masih dikuasai oleh system mitologi pagan (agama berhala), seperti tampak para peradaban Mesopotamia, Yunani dan Romawi.

Perlawanan terhadap mite-mite paganisme dimulai lagi oleh para filsuf Yunani, Tiongkok dan India pada abad ke 6-5 SM, seperti Anaximandros,  Herakleitos, Parmenides, Sidharta Gautama, Lao-tzu, Khonghucu, Mo-zi dll dimana mereka mulai mendalilkan kekuatan akal pikiran mengatasi mite-mite takhayul paganisme agama berhala. Tetapi gerakan filsafat tidak sepenuhnya lepas dari mitologi paganisme. Ini tampak pada perkembangan Buddhisme dan Konghucuisme yang cenderung kembali kepada budaya pagan.
Namun demikian, tetap terdapat nilai-nilai berharga dari periode kebangkitan akal pikiran para filsuf yang banyak memberikan introducing monotheisme transcendental yang bangkit 11-12 abad kemudian oleh Rasulullah SAW.
Mari kita simak dalil filsuf besar Athena, Arsistoteles (384-322 SM) tentang hakekat gerak. Aristoteles, pada  masa 1000 tahun sebelum Rasulullah SAW, mendalilkan bahwa, tiap gerak mewujudkan perubahan dari potensi keberadaan kepada wujud keberadaan. Wujud keberadaan tidak dapat melakukan perubahan dengan dirinya sendiri. Setiap gerak di jagat raya ini digerakkan oleh sesuatu yang lain. Diperlukan Maha Penggerak yang pada dirinya sendiri telah memiliki kesempurnaan. Penggerak Pertama, yang tidak digerakkan oleh penggerak yang lain tidak mungkin dibagi-bagi, memiliki keleluasaan termasuk terhadap wujud keberadaan yang bersifat fisik. Kuasanya tak terhingga dan kekal. Penggerak Pertama yang memiliki sifat-sifat demikian itu tidak berasal dari dunia nisbi ini. Penggerak Pertama adalah Allah. Ialah yang menyebabkan gerak abadi, yang sendirinya tidak digerakkan, karena bebas dari materi, tidak berada dalam ruang terbatas dan kekal. Sedangkan setiap keberadaan di dunia bersifat materiil dan berada dalam ruang yang terbatas. Allah adalah Actus Purus, Aktus Murni, Keberadaan Yang Murni.
Pandangan Aristoteles bagaikan intrducing-factor yang mengawali jalan bagi Kebangkitan Tauhid yang dicanangkan Rasulullah SAW pada abad ke-7. Pencarian Aristoteles telah berakhir sejak wahyu Allah yang pertama kepada Muhammad SAW diturunkan (Al-Alaq : 1-5). Bahwa Penggerak Pertama yang sempurna, yang tak terbagi, bebas materi, ruang dan waktu, tidak lain ialah Allah Azza wa Jalla Yang Maha Esa yang agaknya memang sudah dikenal oleh Aristoteles melalui pendalamannya terhadap ajaran Musa a.s. (Taurat).

Penutup.
Sebagai penutup kajian ini, saya akan mengangkat dialog-tauhid antara Rasulullah  SAW dengan Abu Hurairah r.a..
Abu Hurairah bertanya : “ Ya Rasulullah, siapakah orang yang  yang sangat beruntung mendapatkan syafa’atmu di hari kiamat”?
Rasulullah menjawab : “Hai Abu Hurairah, aku rasa belum pernah ada seorangpun yang bertanya sebelum engkau tentang hal ini. Karena kulihat engkau sangat berhasrat untuk memperoleh pengetahuan ini, baiklah aku terangkan”. Lalu beliau bersabda :
“As’adunnaasi bisyifaa’atii yaomal-qiyaamati; man qoola : Laa ilaaha illallahu khoolishon min qibali nafsihi” : “Orang yang paling beruntung mendapat syafa’atku di hari kiamat ialah orang yang mengucapkan  : “Tiada Tuhan selain Allah” dengan ikhlas dari hatinya”, (HR. Muslim, dari Abu Hurairah r.a. : H.1768).
Sekian, terima kasih. Birrahmatillahi Wabi’aunihi fi Sabilih.
Wassalamu’alaikum War. Wab.
Pengasuh,


HAJI AGUS MIFTACH

Ketua Umum Front Persatuan Nasional.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar