Pengajian
Keempatpuluh Tujuh, Jkt. 17/6/05
“Alladzie ja’ala-lakumul-ardho
firoosyanw-wassamaa-i binaa-an; wwa-anzala minaassamaa-i maa-an fa-akhraja
bihii minatstsamarooti rizqonllakum; falaa taj’aluu lillaahi andaadanwwa-antum ta’maluuna” : “Dialah yang
menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia
menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu
segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan
sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui”, (Al-Baqoroh : 22).
Kita akan membahas
ayat tersebut dengan pendekatan eklektik
dari berbagai perspektif, teologis, historiografis, psikologis, filsafat dan
sosiologis, bersifat holistis dalam rangka menggapai hikmah yang tertinggi dari
ayat tersebut :
Pokok bahasan.
Allah telah
menciptakan bumi sebagai hamparan bagi manusia; Tafsir Jalalain memperjelas
sebagai hamparan atau lapisan yang tidak begitu keras dan tidak begitu lunak
(dengan sifat-sifat nisbi), sehingga tidak mungkin didiami manusia secara tetap
dan kekal. Artinya habitat bumi memang diciptakan dengan sifat dasar fana,
tidak abadi. Dan langit sebagai atap yang menaungi yang turun daripadanya air
hujan yang menciptakan berbagai kehidupan di bumi, sehingga keluarlah dari
habitat bumi segala tetumbuhan dan buah-buahan yang menjadi makanan bagi
manusia dan bagi segala binatang ternak yang kesemuanya itu merupakan rezki
bagi manusia. Semua proses itu seharusnya
diperhatikan, direnungkan dan dipelajari lalu diolah agar bermanfaat
sebesar-besarnya bagi manusia dan kemanusiaan. Semua itu memang sengaja
diberikan Allah sebagai nikmat kehidupan, agar manusia dapat membangun
kehidupan yang baik di muka bumi. Dengan penjelasan ayat ini, Allah mempertegas
tanda-tanda keberadaan, kekuasaan dan kemurahan-Nya, dan dengan itu
mengingatkan manusia untuk tidak berlaku musyrik dengan menyembah ilah-ilah
selain Allah, yang sesungguhnya tidak mampu menciptakan hakekat kehidupan alam
sekecil apapun, dan sama sekali tidak layak disebut sebagai tuhan dan disembah.
Ayat ini mempertegas keberadaan Allah Yang Esa sebagai satu-satunya Tuhan yang
wajib disembah semua manusia, dan agar orang-orang beriman menempatkan diri
sebagai hamba Allah dengan penuh ketaqwaan.
Ulasan
Pengertian bumi
sebagai hamparan, bukan berarti dataran rata seluruhnya, melainkan lapisan atas
bumi (top-soil) yang menjadi hamparan kehidupan dan segala aspek pendukungnya.
Lebih bermakna sebagai lingkungan mikro yang mendukung kebutuhan hidup ras homo
sapiens (manusia) pada habitat masing-masing.. Bumi secara global berbentuk
bulat dan merupakan satu planet kecil di
semesta raya yang maha luas. Setiap habitat bersifat mikro, bagian dari rentang
ekosistem makro-kosmos. Meski Tafsir Ibnu Katsir mempertegas makna As-sama’ sebagai “atap”, bukan harafiah namun
majasi dalam arti sebagai habitat mikro lingkungan yang memberikan daya dukung
bagi kehidupan manusia. Langit adalah habitat makrokosmos, jauh dari pengertian
atap secara harafiah, merupakan media bagi
seluruh benda-benda angkasa raya, berbentuk kehampaan helium yang gelap
tak bertepi. Hanya sedikit yang diketahui manusia tentang langit atau
antariksa.
Tentang
sekutu-sekutu atau ilah-ilah selain Allah yang menjadi sumber kemusyrikan,
memiliki dua kategoris, yaitu ekstra organis dan intra organis.
Yang bersifat
Ekstra organis berupa system mitologi agama-agama berhala dengan ragam dewa
pagan yang sangat banyak. Setiap kampung, suku, suku-bangsa, dan
bangsa-bangsa memiliki dewanya
masing-masing. Zaman mitologi berlangsung ribuan tahun, hingga Allah SWT
mengutus Musa a.s ke Mesir abad ke-15 SM. Peradaban berhala terbesar setelah
Mesir pharao’s adalah Mesopotamia, Yunani kemudian Romawi. Dewa-dewa pagan yang
terkenal dari zaman Mesir ialah Cabbala, suatu rejim
dewa-dewa berkepala lembu dan kambing. Di Israel muncul dewa Ba’al dan Anat, lalu diatasnya terdapat dewa El (kepala dewa-dewi Kana’an) dengan
kedua istrinya Astarte dan Asyera lambang kesuburan orang Kana’an.
Dewa-dewi pagan Israel kesinambungan dari peradabaan Mesir berhala zaman
Pharao’s yang bercampur dengan Judaism dan mengkristal dalam system Cabbala-Talmud yang menjadi induk Zionisme
yang terus hidup hingga masa sekarang. Dari peradaban Mesopotamia dikenal
mahadewa Enlil. Sedangkan dari
Yunani dikenal pasangan dewa-dewi Osiris dan Isis. Di zaman Romawi lebih banyak lagi
ragam dewa-dewi pagan yang bersumber dari mitologi, yang tertinggi dewa
matahari. Seluruh peradaban berhala itu kemudian berfusi dalam satu system Cabbala-Freemasonry
dengan tuhan pagannya “the Great Archittec of the Universe” (TGAOTU) yang dewasa ini
bermaksud menciptakan tata dunia baru dengan membebaskan manusia dari dogma
agama-agama samawi yang dianggap menghambat kemajuan. Dewa-dewi pagan yang disembah kaum jahiliyah
Arab-Hejaz (Cabbala-Quraisy) bersumber dari peradaban Mesir-Israel dan
Mesopotamia, sebagaimana telah diterangkan terdahulu, a.l. Ba’al, Hubal, Manat, Latta dan Uzza. Dalam kaitan hal
ini, Tafsir Ibnu Katsir menguraikan suatu penegasan bersumber dari ayat tersebut
diatas (QS 2 : 22) sbb. : “Yakni, janganlah kamu menyekutukan dengan Allah
beberapa sekutu (dewa-dewi pagan) yang tidak dapat memberi manfaat dan mudarat,
padahal kamu mengetahui bahwa tidak ada tuhan selain Allah yang memberikan
rezki kepadamu”.
Adapun yang bersifat
intra-organis ialah, rejim instinktif yang berisi dorongan-dorongan
impulsive, baik berupa dorongan-dorongan hidup maupun dorongan-dorongan mati.
Dorongan hidup, intinya impuls sexual
dan stomach, sedangkan dorongan mati intinya impuls
agresive. Jika orang terlalu
dipengaruhi oleh impuls instinktif, ia berada pada derajat hewani, psiko-kognitifnya hanya dipenuhi oleh
keinginan mengejar kesenangan hawa nafsu belaka, serta berbuat kedzaliman.
Akhirnya dia akan menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Faktor instrinsic ini akan mudah
bersenyawa dengan factor extrinsic berupa system agama
berhala yang menempatkan hawa nafsu sebagai factor penting tujuan ritual-nya
seperti seks dan perang yang mendominasi ritual agama berhala Israel dan Arab-Hejaz.
Dalam sisi intra organis (kejiwaan manusia) terdapat pula archeytipus yang sudah pernah
kita bahas pada buku pertama pengajian, yang merupakan pusat bayang-bayang
kegelapan manusia, berisi segala kecenderungan jahat ras manusia. Faktor intra
organis tersebut dapat menjadi motivator penting bagi seseorang untuk meyakini
kebenaran agama berhala yang banyak berisi unsur-unsur arsetip, seperti
pengorbanan anak atau perawan kepada para dewa, dan lain-lain bentuk
kedzaliman, yang biasanya bertujuan untuk memperoleh kekayaan, kekuasaan,
kesehatan, panjang umur dan keabadian agnostic. Al-Qur’an menyebut mereka
secara eksplisit dalam Al-Jatsiyah : 23 :”Afa
ro-aita manittakhodza ilaahahu hawaahu….” : “Maka pernahkah kamu melihat orang
yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya”.
Perlawanan terhadap
paganisme
Perlawanan hebat
terhadap mitologi paganisme dilakukan oleh Musa a.s. sebagai Rasul Allah yang
diutus ke Mesir yang merupakan puncak peradaban mitologi pagan di dunia dan
Mesir merupakan kekaisaran terbesar di dunia pada zaman itu. Pertikaian Musa vs
Fir’aun (Pharao’s Rameses II) berpuncak dengan eksodus Musa dan kaum Yahudi
meninggalkan Mesir kembali ke Kana’an atau Yerussalem negeri yang dijanjikan
Allah pad abad ke-13 SM, dengan tujuan utama untuk mengembalikan iman tauhid
mereka.Tetapi tidak seluruh Yahudi kembali ke tauhid, banyak diantara mereka
yang telah memasukkan keyakinan agama berhala Mesir kedalam Judaism.
Kenyataannya pada abad ke-10 SM sebagian dari suku-suku besar Yahudi kembali
menjalankan system agama berhala Mesir, yang memaksa Raja Israel Daud menyerbu
mereka di lembah Edom. Setelah itu mainstream peradaban dunia masih dikuasai
oleh system mitologi pagan (agama berhala), seperti tampak para peradaban
Mesopotamia, Yunani dan Romawi.
Perlawanan terhadap
mite-mite paganisme dimulai lagi oleh para filsuf Yunani, Tiongkok dan India
pada abad ke 6-5 SM, seperti Anaximandros,
Herakleitos, Parmenides, Sidharta Gautama, Lao-tzu, Khonghucu, Mo-zi dll
dimana mereka mulai mendalilkan kekuatan akal pikiran mengatasi mite-mite
takhayul paganisme agama berhala. Tetapi gerakan filsafat tidak sepenuhnya
lepas dari mitologi paganisme. Ini tampak pada perkembangan Buddhisme dan
Konghucuisme yang cenderung kembali kepada budaya pagan.
Namun demikian,
tetap terdapat nilai-nilai berharga dari periode kebangkitan akal pikiran para
filsuf yang banyak memberikan introducing monotheisme transcendental yang
bangkit 11-12 abad kemudian oleh Rasulullah SAW.
Mari kita simak
dalil filsuf besar Athena, Arsistoteles
(384-322
SM) tentang hakekat gerak. Aristoteles, pada
masa 1000 tahun sebelum Rasulullah SAW, mendalilkan bahwa, tiap gerak
mewujudkan perubahan dari potensi keberadaan kepada wujud keberadaan. Wujud
keberadaan tidak dapat melakukan perubahan dengan dirinya sendiri. Setiap gerak
di jagat raya ini digerakkan oleh sesuatu yang lain. Diperlukan Maha Penggerak
yang pada dirinya sendiri telah memiliki kesempurnaan. Penggerak Pertama, yang
tidak digerakkan oleh penggerak yang lain tidak mungkin dibagi-bagi, memiliki
keleluasaan termasuk terhadap wujud keberadaan yang bersifat fisik. Kuasanya
tak terhingga dan kekal. Penggerak Pertama yang memiliki sifat-sifat demikian
itu tidak berasal dari dunia nisbi ini. Penggerak
Pertama adalah Allah. Ialah yang menyebabkan gerak abadi, yang sendirinya tidak
digerakkan, karena bebas dari materi, tidak berada dalam ruang terbatas dan
kekal. Sedangkan setiap keberadaan di dunia bersifat materiil dan berada dalam
ruang yang terbatas. Allah
adalah Actus Purus, Aktus Murni, Keberadaan Yang Murni.
Pandangan
Aristoteles bagaikan intrducing-factor yang mengawali
jalan bagi Kebangkitan Tauhid yang dicanangkan Rasulullah SAW pada abad ke-7.
Pencarian Aristoteles telah berakhir sejak wahyu Allah yang pertama kepada
Muhammad SAW diturunkan (Al-Alaq : 1-5). Bahwa Penggerak Pertama yang sempurna,
yang tak terbagi, bebas materi, ruang dan waktu, tidak lain ialah Allah Azza wa
Jalla Yang Maha Esa yang agaknya memang sudah dikenal oleh Aristoteles melalui
pendalamannya terhadap ajaran Musa a.s. (Taurat).
Penutup.
Sebagai penutup
kajian ini, saya akan mengangkat dialog-tauhid antara Rasulullah SAW dengan Abu Hurairah r.a..
Abu Hurairah
bertanya : “ Ya Rasulullah, siapakah orang yang
yang sangat beruntung mendapatkan syafa’atmu di hari kiamat”?
Rasulullah menjawab
: “Hai Abu Hurairah, aku rasa belum pernah ada seorangpun yang bertanya sebelum
engkau tentang hal ini. Karena kulihat engkau sangat berhasrat untuk memperoleh
pengetahuan ini, baiklah aku terangkan”. Lalu beliau bersabda :
“As’adunnaasi bisyifaa’atii
yaomal-qiyaamati; man qoola : Laa ilaaha illallahu khoolishon min qibali
nafsihi” : “Orang yang paling beruntung mendapat syafa’atku di hari kiamat
ialah orang yang mengucapkan : “Tiada
Tuhan selain Allah” dengan ikhlas dari hatinya”, (HR. Muslim, dari Abu Hurairah
r.a. : H.1768).
Sekian, terima
kasih. Birrahmatillahi Wabi’aunihi fi Sabilih.
Wassalamu’alaikum
War. Wab.
Pengasuh,
HAJI AGUS MIFTACH
Ketua Umum Front
Persatuan Nasional.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar