11.7.17

Dunia Mengejar Kita - Mereka Mengejar Dunia


Catatan Kontemplasi: Kukuh –jkt 2007
Mas Syukur adalah Pria sederhana Pengusaha Hotel dengan ciri khas Pemandian dan Kolam Renang Air Panas terbaik di Asia Tenggara, pinjam istilah Gus Miftach. Dari keuletannya menekuni dunia Pariwisata, Lelaki kelahiran Garut Jawa Barat ini beberapa kali harus ketemu beberapa Presiden RI, sejak Soeharto sampai kini, hanya untuk menerima Penghargaan Pemerintah.
HOTEL-SUMBERALAM - GARUT -JAWABARAT

Jauh sebelum Mas Syukur terjun sebagai Pengusaha dibidang Pariwisata, pemilik suara Tenor ini memang sejak muda telah gemar melanglang buana. Dari Bermuda sampai Negeri Sakura, mulai Singapura sampai Singaparna, bahkan mungkin juga menyeberangi Laut Merah sampai laut Hitam, sudah dilakoninya.

Kini, ketika status Pengusaha disandangnya,setiap tahun Mas Syukur punya jadwal menghadiri Konferensi Komunitas Agama Internasional di Inggeris, Jerman, Jepang, Australia, Kanada, Amerika dan sebagainya. Uniknya, walaupun disediakan Penginapan sekelas Hotel Bintang Lima diberbagai Negera itu, jika Konferensi berlangsung, Mas Syukur lebih memilih tidur menginap di Masjid atau di tenda-tenda lapangan terbuka yang juga disiapkan Panitia.


Salah satu fasilitas Panitia yang tak ditolak Mas Syukur adalah sarana transportasi Gratis untuk berkeliling dibeberapa kota besar Eropa seperti London tersebut. Yang tidak kalah menarik, sopir mobil yang mengantar Syukur juga tidak dibayar Panitia, karena para sopir itu juga berstatus Peserta Konferensi yang datang lebih duluan, dengan niat sengaja ingin jadi sukarelawan untuk mengkhidmati para tamu Masih Mau’ud as.

Sambil berkeliling kota menikmati pemandangan Eropa, Mas Syukur mulai membuka dialog dengan Sopir yang dengan takzim setia mengantar kemanapun tujuan sang Tamu. “Sudah lama tiba di London”?, tanya Mas Syukur. “Jauh Sebelum Konferensi dimulai , saya sudah datang dan langsung mendaftar ke Panitia sebagai tenaga Sukarelawan Wakaf Arzi”, jawab sang sopir.



London
Mendengar jawaban sopir, Mas Syukur berfikir, tentulah sopir ini termasuk orang kaya. Soalnya, bagi orang Indonesia, untuk bisa datang ke London- UK dan nginap tiga hari saja, sudah lumayan menguras kantong. Itu karena tingginya harga kebutuhan hidup sehari-hari di London. Mulai makan, transportasi, dan penginapan. Dan sopir ini sudah datang ke London jauh sebelum Konferensi dimulai. Padahal Mas Syukur saja, bisa agak mengatur isi kantong karena mendapat hak Gratis Tiga Hari Tiga malam, mulai Akomodasi, Konsumsi maupun Transportasi, sesuai tradisi dalam Islam yang diterapkan Panitia.


Bendera negara-negara dikibarkan dalam sebuah pertemuan agama di Inggris.
Setelah ngobrol lama barulah Mas Syukur tahu, rupanya sopir itu memang datang dari salah satu Negara Asia Selatan yang bukan termasuk negara Kaya. Hanya sopir muda ini berani mengadu nasib berwirausaha di London, dengan tingkat usaha sekelas maklar kendaraan bermotor.

Mas Syukur tambah ingin tahu keadaan si sopir, dengan asumsi perbandingan, jika Pengusaha Hotel seperti dirinya saja harus mengirit membelanjakan duitnya di London, kira-kira berapa penghasilan sopir yang sekelas maklar motor itu? Kembali Mas Syukur mengejar tanya : “Apakah Tuan tidak merasa cukup berat bersaing usaha dengan para wiraswastawan London yang juga datang dari berbagai belahan Dunia lainnya itu”? Dengan tenang sopir muda itu menjawab :”Semua tergantung niatnya”!

Jawaban si sopir tentu membuat Mas Syukur makin penasaran, apa hubungannya antara niat dengan persaingan usaha di kota sebesar London? “Tuan bisa menjelaskan tentang istilah tergantung niat tadi”? desak Mas Sykur lagi. “Ya, tentu saja bisa”! jawab sopir muda tadi tetap dengan mimik yang tenang, sambil melanjutkan bicara. “Ketika saya meninggalkan Negeri saya datang ke London ini untuk bekerja , niat saya agar saya tetap bisa ikut mensyiarkan Agama Allah”!

Wah, itu sih jawaban yang terlalu Filosofis, pikir Mas Syukur. Bahkan kalau didengar Gus Dur atau Gus Miftach, bisa dianggap jawaban berbau Mitos yang agak jauh dari Logos. Tapi seakan memahami pola pikir Mas Syukur, dan kebanyakan orang Indonesia, si sopir segera melanjutkan penjelasannya. “Teman-teman saya sesama pengusaha yang datang dari berbagai Negara ke London, untuk ukuran perolehan materi atau penghasilan , dalam kurun waktu yang sama tidak jauh beda dengan yang saya peroleh. Ada yang lebih kaya sedikit, ada pula yang dibawah saya”.

Kali ini Mas Syukur makin penasaran memandangi bahasa tubuh dan lisan sang sopir , ketika anak muda itu merajut kalimatnya dengan tenang dan tekanan nada penuh makna. “Ya , kami para pengusaha sama-sama datang ke London, kemudian sama-sama berhasil menjadi kaya. Bedanya, teman-teman saya ,ya niatnya dari awal memang hanya mencari kekayaan itu. 

Sedangkan saya berniat berwira usaha agar bisa ikut ambil bagian dalam Syiar Agama Allah. Kini hasilnya, ketika saya bisa dengan tenang, santai , mengobrol dengan para tamu Konferensi,dari berbagai Negara, Order tetap datang , yang artinya uang juga datang. Sementara teman-teman saya pengusaha lainnya, mereka terus tanpa henti mengejar “dunia” itu, dan belum tentu tiap hari berhasil”!

“Jadi, ketika niat teman-teman saya hanya mencari Dunia, sehari hari mereka hanya Mengejar Dunia, dan belum tentu dapat. Tapi kami yang dari awal , mencari Dunia dengan niat mengkhidmati Agama, sehari hari kami Dikejar Dunia , namun tetap bisa dengan tenang menikmati KaruniaNYA”!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar