11.7.17

Pengajian Keseratus Enam (106)

Pengajian Keseratus Enam (106)

Assalamu’alaikum War. Wab,
Bismillahirrahmanirrahiem,

“Katakanlah,”Jika kamu menganggap bahwa kampung akhirat (surga) itu khusus untukmu pada sisi Allah, bukan untuk orang lain, maka dambakanlah kematian(mu), jika kamu memang benar”. (94). Dan sekali-kali mereka tidak akan mendambakan kematian itu selama-lamanya, karena kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat oleh tangan mereka (sendiri). Dan Allah Maha Mengatahui siapa orang-orang yang aniaya. (95) Dan sungguh kamu akan mendapati mereka, manusia yang paling loba kepada kehidupan (di dunia), bahkan (lebih loba lagi) dari orang-orang musyrik. Masing-masing mereka ingin agar di beri umur seribu tahun, padahal umur panjang itu sekali-kali tidak menjauhkannya dari siksa. Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan. (96)”: Al-Baqoroh : 94-96.

Seperti tradisi pengajian ini, kita akan melakukan pembahasan dengan pendekatan ekelektik-multiperspektif, baik dari perspektif teologis, antropologis, historiografis dan psikologis secara holistis dan komprehensif agar memperoleh hikmah yang sedalam-dalamnya dan setinggi-tingginya dari kandungan ayat ini.

Pokok Bahasan

Dikemukakan oleh Ibnu Jarir dari Abul Aliyah, “Orang-orang Yahudi mengatakan bahwa tidak akan masuk surga, kecuali hanya orang-orang Yahudi saja”. Peristiwa itu menjadi asbabun-nuzul ayat ke-94. Hal serupa dikemukakan pula oleh Muhammad bin Ishak dari Ibnu Abbas r.a, yang intinya agar Rasulullah SAW mengajak Kaum Yahudi bermubahalah untuk membuktikan hakekat kebenaran secara factual, dengan cara berdo’a kepada Allah memohon kematian bagi salah satu kelompok yang berdusta, “Yahudi atau Islam”. Kaum Yahudi menolak tantangan mubahalah itu. Ibnu Katsir menerangkan dari sumber Ibnu Jarir, seandainya Bani Israil menerima tantangan mubahalah itu, niscaya seluruh Bani Israil di muka bumi akan mati (vide, al-Jumu’ah : 6-8).

Jumhur mufassirin mengemukakan, bahwa penolakan Yahudi terhadap tantangan mubahalah Rasulullah SAW membuktikan kedustaan mereka, dan dipihak lain memperteguh iman Kaum Muslimin.

Pernyataan orang-orang Yahudi sebagaimana diketengahkan oleh Ibnu Jarir diatas sebenarnya merupakan hal biasa, artinya semua umat beragama memiliki keyakinan subyektif seperti itu, bukan hanya umat Yahudi, melainkan umat Nasrani, Hindu, Buddha, Tao, Khonghucu dan semua umat beragama yang ada di dunia ini, termasuk Muslimin berkeyakinan seperti itu. “Hanya umat yang beriman menurut ajaran agama kami sajalah yang masuk sorga, diluar itu adalah orang kafir yang tidak selamat”. Dan semua umat beragama merasa diri sebagai umat yang terbaik dan umat yang terpilih.

Itu adalah bagian dari etnocentrisme agama dan budaya. Tetapi mengapa narasi mufassirin demikian marah terhadap pernyataan seperti itu dari kalangan Yahudi, sehingga mereka melaknat Yahudi dalam kitab-kitab tafsir mereka ? Padahal semua umat beragama memiliki etnocentrisme seperti umat Yahudi. Kalau begitu apakah kaum Muslimin harus menantang mubahalah semua umat beragama di dunia ? Fitrah dunia terdiri dari peradaban yang berbeda dan beragam. Dan itu merupakan karunia kehidupan (vide, ayat 62).

Kalimat, “fatamannawul-mauta…”:”dambakanlah kematian…” pada ayat 94, menyiratkan sifat transenden sorga dimaksud ayat ini dalam term alam sesudah kematian, yaitu Alam Akhirat. Sementara mainstream Bani Israil yang menganut Judaism, yaitu sinkretisme Taurat dengan Qabbala, tidak mempercayai adanya Alam Akhirat sesudah kematian (vide, Ahmad Salaby (1991) dan Harun Yahya (2003)).

Kalimat,”Wa lan yatamannauhu abadaa…”:”Dan sekali-kali mereka tidak akan mendambakan kematian itu selama-lamanya…” pada ayat 95, memperjelas spirit agnostisisme dan materialisme kaum Yahudi. Maka  sorga dimaksud kaum Yahudi  secara hakiki berbeda dengan sorga dimaksud ayat 94.

Bagi kaum Yahudi, sorga bukan bersifat transenden atau imaginatif, melainkan bersifat kongkret dalam peradaban dunia materiil. Oleh karena itu mewujudkan imitatio-dei (keadaan serupa sorga) di muka bumi ini melalui kerja keras dan pengejaran keuntungan duniawi jauh lebih penting daripada  beradu mubahalah dengan orang-orang Islam tentang sorga yang transenden itu.

Sejak zaman Musa a.s. mainstream Bani Israil tidak pernah mempercayai idealitas iman kepada Allah Al-Ghaib dan Alam Akhirat sesudah kematian, kecuali sebagian kecil saja. Maka menjadi keniscayaan apabila mayoritas Yahudi tidak beriman kepada Rasulullah SAW yang dalam pandangan mereka hanyalah pemimpin suku-suku gurun yang tidak berperadaban.

Kalimat, “ya waddu ahaduhum lau yu’ammaru alfa sanatin…”:”masing-masing mereka ingin agar diberi umur seribu tahun….”, pada ayat 96, menegaskan struktur kepribadian dasar Bani Israil yang bersifat agnostisisme-materialisme. Sebagaimana terbukti dalam perjalanan sejarah selama kurang lebih 40 abad hingga masa sekarang faham materialisme Bani Israil itu telah melahirkan peradaban Judeo-Griko yang menjadi landasan peradaban materialisme Barat modern yang faktanya kini menjadi mainstream peradaban dunia.

Dalam hal ini kebencian dan kemarahan yang diwariskan oleh jumhur mufassirin ternyata justru tidak produktif, menghambat perkembangan ilmu pengetahuan dan peradaban. Namun satu hal yang harus di catat, generasi jumhur mufassirin 8 abad yang lalu dan generasi Wahdatul Ummah sekarang ini sama-sama menjunjung tinggi nilai Tauhid. Pertanyaannya ialah bagaimana memanifestasikan nilai  Tauhid menjadi bentuk peradaban yang dapat  merahmati, mengasihi dan memimpin dunia dalam equilibrium duniawi dan ukhrowi.

Tantangan mubahalah pernah juga disampaikan oleh Rasulullah SAW kepada Nasrani Najran, karena tidak dapat menerima kebenaran hujjah yang disampaikan pihak Muslim berkaitan dengan Kisah Nabi Isa a.s (vide, Ali Imran : 61).

Kekerasan agama

Kekerasan dikalangan agama samawi tidak hanya terjadi di antara Yahudi vs Muslim atau Nasrani vs Muslim. Tetapi juga terjadi diantara Nasrani vs Yahudi.
Setelah berhasil merebut Spanyol dari Muslimin, pada tgl. 31 Maret 1492 pasangan penguasa Katolik Spanyol Ferdinand dan Isabella menandatangani Edict of Expulsion (Perintah Pengusiran) untuk membersihkan Spanyol dari kaum Yahudi. Untuk itu kaum Yahudi di beri dua pilihan “masuk Kristen atau di deportasi”. Akibat dari itu, 70.000 Yahudi dipaksa masuk Kristen, sedangkan 80.000 ribu orang Yahudi menyeberang ke Portugal, dan 50.000 mengungsi ke kerajaan baru Islam Turki-Utsmaniyyah yang menyambut baik kedatangan mereka.

Penyatuan Spanyol yang ditandai dengan kemenangan atas Granada benteng terakhir Muslim di Eropa, dan dilanjutkan dengan pembersihan etnis, membuat orang-orang Yahudi dan Islam kehilangan tempat berpijak di bumi Spanyol. Namun korban terbesar dalam era inkuisisi Spanyol ini adalah kaum Yahudi.

Hancurnya perkampungan besar Yahudi di Spanyol yang merupakan basis induk kaum Yahudi sejak Diaspora th. 70, ditangisi warga Yahudi di seluruh dunia. Di zaman kekuasaan Islam di Spanyol agama Yahudi, Kristen dan Islam dapat berdampingan dengan harmonis selama 6 abad. Bahkan di zaman al-Andalus (nama Islam Spanyol) itu, kaum Yahudi mengalami kebangkitan spiritual dan cultural, dan dibawah Imperium Islam, mereka tidak pernah mengalami pembantaian seperti yang di alami kalangan Yahudi di belahan Eropa lainnya (Karen Armstrong, 2000).

Tetapi Pasukan Kristen (Katolik) yang berjuang membebaskan Eropa dari kekuasaan Islam ternyata membawa pula semangat anti-Semitisme. Pada th. 1378 dan 1391, komunitas Yahudi di Aragon dan Castile di serang pasukan Kristen. Kaum Yahudi dipaksa dibaptis atau dibunuh. Kaum Yahudi yang terpaksa masuk Kristen untuk menghindari kematian itu disebut “converso” (kaum yang berpindah agama), tetapi orang-orang Kristen menjuluki mereka “marano” (babi).

Kaum Yahudi memang memiliki dinamika yang tinggi, ternyata para converso itu berhasil meraih kesuksesan di bidang sosial ekonomi, bahkan merambah pula ke bidang politik. Diantara mereka banyak yang menjadi pengusaha besar, menjadi pendeta tinggi dan menjalin hubungan keluarga dengan kalangan bangsawan yang berkuasa. Mobilitas vertical ini ditentang kalangan Kristen. Diantara th. 1449-1474 kaum Nasrani (Kristen) membantai, menjarah dan mengusir kaum Yahudi converso dari kota. Akibat peristiwa ini para converso diam-diam menjalin organisasi rahasia untuk kembali ke agama Yahudi atau Judaism.

Raja Ferdinand dan Ratu Isabella memerintahkan petugas Inkuisisi untuk menumpas mereka. Akibatnya 13.000 converso Yahudi di bunuh dalam program Inkuisisi (periode dua belas tahun pertama). Diantara mereka termasuk Katolik yang saleh dan benar-benar beriman dan tidak ingin kembali ke ajaran Yahudi. Kekejaman Inkuisisi Spanyol ini menimbulkan reaksi anti-Katolik dan skeptis di banyak kalangan yang justru mengawali proses sekularisasi dan liberalisasi yang digerakkan oleh kalangan cendekiawan Yahudi dan non-Yahudi di bawah tanah.

Sepanjang abad ke-15 itu kaum Yahudi di usir oleh para penguasa Kristen (Katolik) dari hampir seluruh pemukiman mereka di Eropa Barat. Berikut rentetan peristiwanya : Pada th. 1421 kaum Yahudi di usir dari Wina dan Linz, pada th. 1424 di usir dari Cologne, th. 1439 di usir dari Augsburg, th. 1442 di usir dari Bavaria, th. 1454 di usir dari Moravia, th. 1485 diusir dari Perugia, th. 1486 di usir dari Venezia, th. 1488 di usir dari Parma, th. 1489 di usir dari Milan dan Lucca, dan th. 1489 di usir dari Tuscany. Kaum Yahudi lalu bergeser ke Eropa Timur, mereka membuat tempat perlindungan rahasia di Polandia, kemudian di Afrika Utara dan Balkan dibawah perlindungi para khalifah Utsmaniyyah. Pembauran masyarakat Yahudi dengan Muslim adalah hal yang sudah biasa terjadi.

Hilangnya Spanyol adalah hilangnya peradaban Yahudi pasca diaspora, sementara pengusiran dirasakan sebagai dislokasi spiritual dan fisikal. Segala sesuatunya menjadi serba salah. Kaum Yahudi bertanya-tanya mengapa Tuhan Yang Maha Pemurah dan Maha Pengasih menciptakan kejahatan ini ? Tetapi ketika 6 abad kemudian pasukan Israel membombardir komunitas Kristen di Marj Ayoun, Lebanon, awalAgustus 2006. Umat Kristen di kawasan itu juga bertanya-tanya,”Mengapa Tuhan Yang Maha Pengasih membiarkan kejahatan ini terjadi ?” Sekian, semoga momentum Isra’-Mi’raj meningkatkan rasa kasih sayang kita kepada umat manusia dan ketaqwaan kita kepada Allah Rahman-Rahiem. Terima kasih.

Birrahmatillahi Wabi’aunihi fi Sabilih,
Wassalamu’alaikum War. Wab.
Jakarta, 25 Agustus 2006,
Pengasuh,

KH. AGUS MIFTACH
Ketua Umum Front Persatuan Nasional


Tidak ada komentar:

Posting Komentar