Pengajian Keseratus Enam (106)
Assalamu’alaikum War. Wab,
Bismillahirrahmanirrahiem,
“Katakanlah,”Jika kamu menganggap bahwa
kampung akhirat (surga) itu khusus untukmu pada sisi Allah, bukan untuk orang
lain, maka dambakanlah kematian(mu), jika kamu memang benar”. (94). Dan
sekali-kali mereka tidak akan mendambakan kematian itu selama-lamanya, karena
kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat oleh tangan mereka (sendiri). Dan
Allah Maha Mengatahui siapa orang-orang yang aniaya. (95) Dan sungguh kamu akan
mendapati mereka, manusia yang paling loba kepada kehidupan (di dunia), bahkan
(lebih loba lagi) dari orang-orang musyrik. Masing-masing mereka ingin agar di
beri umur seribu tahun, padahal umur panjang itu sekali-kali tidak
menjauhkannya dari siksa. Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.
(96)”: Al-Baqoroh : 94-96.
Seperti tradisi pengajian ini, kita akan
melakukan pembahasan dengan pendekatan ekelektik-multiperspektif, baik dari
perspektif teologis, antropologis, historiografis dan psikologis secara
holistis dan komprehensif agar memperoleh hikmah yang sedalam-dalamnya dan
setinggi-tingginya dari kandungan ayat ini.
Pokok Bahasan
Dikemukakan oleh Ibnu Jarir dari Abul Aliyah,
“Orang-orang Yahudi mengatakan bahwa tidak akan masuk surga, kecuali hanya
orang-orang Yahudi saja”. Peristiwa itu menjadi asbabun-nuzul ayat ke-94. Hal
serupa dikemukakan pula oleh Muhammad bin Ishak dari Ibnu Abbas r.a, yang
intinya agar Rasulullah SAW mengajak Kaum Yahudi bermubahalah untuk membuktikan
hakekat kebenaran secara factual, dengan cara berdo’a kepada Allah memohon
kematian bagi salah satu kelompok yang berdusta, “Yahudi atau Islam”. Kaum
Yahudi menolak tantangan mubahalah itu. Ibnu Katsir menerangkan dari sumber
Ibnu Jarir, seandainya Bani Israil menerima tantangan mubahalah itu, niscaya
seluruh Bani Israil di muka bumi akan mati (vide, al-Jumu’ah : 6-8).
Jumhur mufassirin mengemukakan, bahwa
penolakan Yahudi terhadap tantangan mubahalah Rasulullah SAW membuktikan
kedustaan mereka, dan dipihak lain memperteguh iman Kaum Muslimin.
Pernyataan orang-orang Yahudi sebagaimana
diketengahkan oleh Ibnu Jarir diatas sebenarnya merupakan hal biasa, artinya
semua umat beragama memiliki keyakinan subyektif seperti itu, bukan hanya umat
Yahudi, melainkan umat Nasrani, Hindu, Buddha, Tao, Khonghucu dan semua umat
beragama yang ada di dunia ini, termasuk Muslimin berkeyakinan seperti itu.
“Hanya umat yang beriman menurut ajaran agama kami sajalah yang masuk sorga,
diluar itu adalah orang kafir yang tidak selamat”. Dan semua umat beragama
merasa diri sebagai umat yang terbaik dan umat yang terpilih.
Itu adalah bagian dari etnocentrisme agama
dan budaya. Tetapi mengapa narasi mufassirin demikian marah terhadap pernyataan
seperti itu dari kalangan Yahudi, sehingga mereka melaknat Yahudi dalam
kitab-kitab tafsir mereka ? Padahal semua umat beragama memiliki etnocentrisme
seperti umat Yahudi. Kalau begitu apakah kaum Muslimin harus menantang
mubahalah semua umat beragama di dunia ? Fitrah dunia terdiri dari peradaban
yang berbeda dan beragam. Dan itu merupakan karunia kehidupan (vide, ayat 62).
Kalimat, “fatamannawul-mauta…”:”dambakanlah
kematian…” pada ayat 94, menyiratkan sifat transenden sorga dimaksud ayat
ini dalam term alam sesudah kematian, yaitu Alam Akhirat. Sementara mainstream
Bani Israil yang menganut Judaism, yaitu sinkretisme Taurat dengan Qabbala,
tidak mempercayai adanya Alam Akhirat sesudah kematian (vide, Ahmad Salaby
(1991) dan Harun Yahya (2003)).
Kalimat,”Wa lan yatamannauhu abadaa…”:”Dan
sekali-kali mereka tidak akan mendambakan kematian itu selama-lamanya…”
pada ayat 95, memperjelas spirit agnostisisme dan materialisme kaum Yahudi.
Maka sorga dimaksud kaum Yahudi secara hakiki berbeda dengan sorga dimaksud
ayat 94.
Bagi kaum Yahudi, sorga bukan bersifat
transenden atau imaginatif, melainkan bersifat kongkret dalam peradaban dunia
materiil. Oleh karena itu mewujudkan imitatio-dei (keadaan serupa sorga)
di muka bumi ini melalui kerja keras dan pengejaran keuntungan duniawi jauh
lebih penting daripada beradu mubahalah
dengan orang-orang Islam tentang sorga yang transenden itu.
Sejak zaman Musa a.s. mainstream Bani Israil
tidak pernah mempercayai idealitas iman kepada Allah Al-Ghaib dan Alam Akhirat
sesudah kematian, kecuali sebagian kecil saja. Maka menjadi keniscayaan apabila
mayoritas Yahudi tidak beriman kepada Rasulullah SAW yang dalam pandangan
mereka hanyalah pemimpin suku-suku gurun yang tidak berperadaban.
Kalimat, “ya waddu ahaduhum lau yu’ammaru
alfa sanatin…”:”masing-masing mereka ingin agar diberi umur seribu tahun….”, pada
ayat 96, menegaskan struktur kepribadian dasar Bani Israil yang bersifat
agnostisisme-materialisme. Sebagaimana terbukti dalam perjalanan sejarah selama
kurang lebih 40 abad hingga masa sekarang faham materialisme Bani Israil itu
telah melahirkan peradaban Judeo-Griko yang menjadi landasan peradaban
materialisme Barat modern yang faktanya kini menjadi mainstream peradaban
dunia.
Dalam hal ini kebencian dan kemarahan yang
diwariskan oleh jumhur mufassirin ternyata justru tidak produktif, menghambat
perkembangan ilmu pengetahuan dan peradaban. Namun satu hal yang harus di
catat, generasi jumhur mufassirin 8 abad yang lalu dan generasi Wahdatul Ummah
sekarang ini sama-sama menjunjung tinggi nilai Tauhid. Pertanyaannya ialah
bagaimana memanifestasikan nilai Tauhid
menjadi bentuk peradaban yang dapat
merahmati, mengasihi dan memimpin dunia dalam equilibrium duniawi dan
ukhrowi.
Tantangan mubahalah pernah juga disampaikan
oleh Rasulullah SAW kepada Nasrani Najran, karena tidak dapat menerima
kebenaran hujjah yang disampaikan pihak Muslim berkaitan dengan Kisah Nabi Isa
a.s (vide, Ali Imran : 61).
Kekerasan agama
Kekerasan dikalangan agama samawi tidak hanya
terjadi di antara Yahudi vs Muslim atau Nasrani vs Muslim. Tetapi juga terjadi
diantara Nasrani vs Yahudi.
Setelah berhasil merebut Spanyol dari
Muslimin, pada tgl. 31 Maret 1492 pasangan penguasa Katolik Spanyol Ferdinand
dan Isabella menandatangani Edict of Expulsion (Perintah
Pengusiran) untuk membersihkan Spanyol dari kaum Yahudi. Untuk itu kaum Yahudi
di beri dua pilihan “masuk Kristen atau di deportasi”. Akibat dari itu, 70.000
Yahudi dipaksa masuk Kristen, sedangkan 80.000 ribu orang Yahudi menyeberang ke
Portugal, dan 50.000 mengungsi ke kerajaan baru Islam Turki-Utsmaniyyah
yang menyambut baik kedatangan mereka.
Penyatuan Spanyol yang ditandai dengan
kemenangan atas Granada benteng terakhir Muslim di Eropa, dan dilanjutkan
dengan pembersihan etnis, membuat orang-orang Yahudi dan Islam kehilangan
tempat berpijak di bumi Spanyol. Namun korban terbesar dalam era inkuisisi
Spanyol ini adalah kaum Yahudi.
Hancurnya perkampungan besar Yahudi di
Spanyol yang merupakan basis induk kaum Yahudi sejak Diaspora th. 70, ditangisi
warga Yahudi di seluruh dunia. Di zaman kekuasaan Islam di Spanyol agama
Yahudi, Kristen dan Islam dapat berdampingan dengan harmonis selama 6 abad.
Bahkan di zaman al-Andalus (nama Islam Spanyol) itu, kaum Yahudi mengalami
kebangkitan spiritual dan cultural, dan dibawah Imperium Islam, mereka tidak
pernah mengalami pembantaian seperti yang di alami kalangan Yahudi di belahan
Eropa lainnya (Karen Armstrong, 2000).
Tetapi Pasukan Kristen (Katolik) yang berjuang
membebaskan Eropa dari kekuasaan Islam ternyata membawa pula semangat
anti-Semitisme. Pada th. 1378 dan 1391, komunitas Yahudi di Aragon dan Castile
di serang pasukan Kristen. Kaum Yahudi dipaksa dibaptis atau dibunuh. Kaum
Yahudi yang terpaksa masuk Kristen untuk menghindari kematian itu disebut “converso”
(kaum yang berpindah agama), tetapi orang-orang Kristen menjuluki mereka “marano”
(babi).
Kaum Yahudi memang memiliki dinamika yang
tinggi, ternyata para converso itu berhasil meraih kesuksesan di bidang sosial
ekonomi, bahkan merambah pula ke bidang politik. Diantara mereka banyak yang
menjadi pengusaha besar, menjadi pendeta tinggi dan menjalin hubungan keluarga
dengan kalangan bangsawan yang berkuasa. Mobilitas vertical ini ditentang
kalangan Kristen. Diantara th. 1449-1474 kaum Nasrani (Kristen) membantai,
menjarah dan mengusir kaum Yahudi converso dari kota. Akibat peristiwa ini para
converso diam-diam menjalin organisasi rahasia untuk kembali ke agama Yahudi
atau Judaism.
Raja Ferdinand dan Ratu Isabella
memerintahkan petugas Inkuisisi untuk menumpas mereka. Akibatnya 13.000
converso Yahudi di bunuh dalam program Inkuisisi (periode dua belas tahun
pertama). Diantara mereka termasuk Katolik yang saleh dan benar-benar beriman
dan tidak ingin kembali ke ajaran Yahudi. Kekejaman Inkuisisi Spanyol ini
menimbulkan reaksi anti-Katolik dan skeptis di banyak kalangan yang justru
mengawali proses sekularisasi dan liberalisasi yang digerakkan oleh kalangan
cendekiawan Yahudi dan non-Yahudi di bawah tanah.
Sepanjang abad ke-15 itu kaum Yahudi di usir
oleh para penguasa Kristen (Katolik) dari hampir seluruh pemukiman mereka di
Eropa Barat. Berikut rentetan peristiwanya : Pada th. 1421 kaum Yahudi di usir
dari Wina dan Linz, pada th. 1424 di usir dari Cologne, th. 1439 di usir dari
Augsburg, th. 1442 di usir dari Bavaria, th. 1454 di usir dari Moravia, th.
1485 diusir dari Perugia, th. 1486 di usir dari Venezia, th. 1488 di usir dari
Parma, th. 1489 di usir dari Milan dan Lucca, dan th. 1489 di usir dari Tuscany.
Kaum Yahudi lalu bergeser ke Eropa Timur, mereka membuat tempat perlindungan
rahasia di Polandia, kemudian di Afrika Utara dan Balkan dibawah perlindungi
para khalifah Utsmaniyyah. Pembauran masyarakat Yahudi dengan Muslim adalah hal
yang sudah biasa terjadi.
Hilangnya Spanyol adalah hilangnya peradaban
Yahudi pasca diaspora, sementara pengusiran dirasakan sebagai dislokasi
spiritual dan fisikal. Segala sesuatunya menjadi serba salah. Kaum Yahudi
bertanya-tanya mengapa Tuhan Yang Maha Pemurah dan Maha Pengasih menciptakan
kejahatan ini ? Tetapi ketika 6 abad kemudian pasukan Israel membombardir
komunitas Kristen di Marj Ayoun, Lebanon, awalAgustus 2006. Umat Kristen di
kawasan itu juga bertanya-tanya,”Mengapa Tuhan Yang Maha Pengasih membiarkan
kejahatan ini terjadi ?” Sekian, semoga momentum Isra’-Mi’raj meningkatkan rasa
kasih sayang kita kepada umat manusia dan ketaqwaan kita kepada Allah
Rahman-Rahiem. Terima kasih.
Birrahmatillahi Wabi’aunihi fi Sabilih,
Wassalamu’alaikum War. Wab.
Jakarta, 25 Agustus 2006,
Pengasuh,
KH. AGUS MIFTACH
Ketua Umum Front Persatuan Nasional
Tidak ada komentar:
Posting Komentar