11.7.17

Pengajian Keenampuluh Lima (65).






Pengajian Keenampuluh Lima (65).

Assalamu’alaikum War. Wab.






“Hai Bani Israel, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Aku  anugerahkan kepadamu dan penuhilah janjimu kepada-Ku, niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu, dan hanya kepada-Ku-lah kamu harus takut (tunduk)” ; (Al-Baqoroh : 40).

Ekletik pembahasan akan kita lakukan dengan perspektif teologis, antropologis, historiografis dan psikologis secara holistis, untuk mendapatkan hikmah yang setinggi-tingginya dari pembahasan ayat ini.

Pokok Bahasan.

Bangsa Yahudi adalah bangsa yang paling dahulu mengemban Kitab-kitab samawiyah. Mereka adalah keturunan  Nabi Ya’kub a.s. Diantara mereka terdapat orang-orang yang dengan keras menolak kerasulan Nabi Muhammad saw, dan memusuhi Kaum Muslimin. Padahal mereka dahulu pernah berjanji kepada Allah akan beriman kepada nabi-nabi yang diutus Allah, jika telah terdapat bukti yang nyata.

Dalam rentang waktu yang cukup lama Allah telah memilih Nabi-nabiNya dari kalangan Bani Israil, sehingga mereka diberi julukan “Sya’bullah al-Muchtar”, yaitu hamba-hamba Allah yang terpilih. Seharusnya senantiasa mereka ingat dan syukur akan nikmat Allah itu, dan beriman kepada setiap Nabi yang diutus Allah untuk memberikan bimbingan kepada manusia. Tetapi ternyata mereka telah menjadikan nikmat tersebut sebagai suatu kesombongan untuk menolak seruan Rasulullah saw; mereka mengatakan, “banwa nabi-nabi dan utusan Allah hanya datang dari kalangan mereka. Nikmat Allah itu hanya tertuju kepada kaum mereka saja”. Begitulah kesombongan mereka.
Pengingkaran janji Bani Israil kepada Allah itu, terutama disebabkan hilangnya ketaatan mereka kepada Allah swt. Mereka lebih takut sesama mereka dan pemimpin-pemimpin mereka yang dzalim daripada Allah swt. Maka mereka tersesat dan menolak beriman kepada Nabi Muhammad saw. Allah akan mengazab mereka karena tidak mensyukuri nikmat nikmat Allah yang telah begitu banyak dilimpahkan kepada mereka.

Ulasan.

Intinya secara substansial ayat tersebut menyerukan Bani Israil agar beriman kepada Rasulullah saw. Israil adalah Ya’kub a.s. Bani Israil adalah keturunan Ya’kub, keturunan Ischak putra Ibrahim a.s. Dimasa lalu mereka pernah diselamatkan Allah dari perbudakan Fir’aun di zaman Nabi Musa a.s,dan diberikan kenikmatan dengan mukjizat Allah seperti makanan dari sorga (manna-seperti madu dan salwa-seperti burung puyuh).

Menurut Tafsir Ibnu Katsir, ayat diatas mengandung targhib (kabar menyenangkan) dan tarhib (kabar menakutkan)  sekaligus. Tujuannya tak lain agar mereka mengikuti kebenaran Muhammad saw. Al-Qur’an adalah bukti yang nyata, seharusnya Bani Israil beriman paling awal, karena perihal kedatangan Rasulullah saw telah diberitakan terlebih dahulu dalam kitab suci mereka, yaitu Taurat. Tetapi sebaliknya Bani Israil justru menolak beriman kepada Al-Qur’an dan medustakan kerasuluan Nabi Muhammad saw.
Tafsir Jalalain menerangkan Bani Israil memiliki dua janji kepada Allah, pertama : menggunakan akal pikiran untuk mengetahui hakekat segala sesuatu sebagai jalan untuk mengenal Allah. Kedua, dia berjanji hanya menyembah kepada Allah semata dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatupun, dan bahwa mereka akan beriman kepada Rasul-rasulNya. Jika Bani Israil memperhatikan benar-benar isi Kitab Taurat mereka, sesungguhnya Allah telah mengisyaratkan akan mengangkat seorang Rasul dari kalangan saudara nenek moyang mereka (Ismail) yang menurunkan bangsa Arab. Jika mereka berfikir semestinya mereka beriman kepada Rasulullah saw, dan termasuk dalam golongan orang-orang yang mencapai kemenangan. Tafsir Jalalain menuturkan jika Bani Israil memenuhi janji mereka kepada Allah tentu mereka akan diizinkan Allah untuk menetap di tanah suci Palestina dan memperoleh kemuliaan serta kemakmuran.

Asal-usul Bani Israil.

Antropolog Ahmad Syalabi dalam Muqaranatul Adyan : Al-Yahudiyah mengatakan : “Bani Israil berasal dari keturunan orang-orang Badui padang pasir yang disebut kaum Ibrani (Hebrew) atau Ibri yang berasal dari keluarga Ibrahim bin Tarih (Abraham putra Terah) dari Aur Khaldan (Ur). Kehidupan mereka tidak menetap, selalu berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lain dengan membawa unta dan ternak untuk mencari air dan padang rumput penggembalaan”.

Kata Ibrani atau Ibri (Hebrew) diberikan oleh Ibrahim a.s. sebagai nama dari rumpun keluarganya. Arti kata itu tidak pasti, tetapi mendekati makna tepi Sungai, berkaitan dengan asal-usul keluarga Nabi Ibrahim yang berasal dari tepi Sungai Euphrat. Tetapi Ahmad Syalabi lebih suka mengartikan sebagai “penghuni padang pasir”. Hal ini sesuai dengan kenyataan hidup kaum Ibrani. Orang-orang Ibri berasal dari keturunan darah “Semitik” yang berhubungan nasab dengan orang-orang Asyur dan Arab. Kawasan Arab Tengah dan Utara adalah tempat domisili ras Semitik. Orang-orang Semitik yang tetap tinggal di kawasan Arab kemudian menjadi nenek moyang  bangsa Arab. Sedangkan orang-orang Semitik yang meninggalkan hulu Sungai Euphrat dan berkembang di Asia dan Palestina menjadi nenek moyang bangsa Asyur (Syiria) dan Israel. Disposisi fisiologis orang Arab sekarang lebih mirip dengan konstitusi Semitik purba. Sedangkan disposisi fisiologis Yahudi karena percampuran dengan ras Hittie di Asia Minor lebih sedikit kemiripannya dengan konstitusi asli Semitik. Ketua arum atau ketua asal ras Semitik yang masuk ke Palestina melalui Irak itulah Nabi Ibrahim al-Khalil bin Tarih a.s. (Abraham putra Terah) yang nasab aslinya berakhir pada Nabi Nuh a.s. Tetapi Ibrahim tidak dibesarkan di Arab Tengah maupun Utara, namun dibesarkan di Aur Khaldan atau Ur di lembah Mesopotamia.
Menurut persepsi Al-Qur’an, Ibrahim meninggalkan kota Aur karena tidak mau mengikuti kebudayaan menyembah berhala yang dianut penduduk kota itu termasuk ayahnya Tarih. Bahkan Ibrahim telah merusak berhala-berhala itu dengan kapak dan menggantungkan kapak itu dipundak berhala terbesar, sambil berkata mengejek : “Berhala yang paling besar itu telah merusak semua berhala-berhala”. Tarih ayahnya dengan gusar berkata: “Hai Ibrahim bagaimana mungkin berhala yang terbesar itu berbuat, ia adalah batu yang tidak hidup”. Ibrahim dengan cerdas menjawab : “Jika demikian, kenapa kalian sembah ? Sedangkan kalian hidup. Sembahlah Allah yang menjadikan kamu dan berkuasa atas segala sesuatu” (Al-Anbiyaa’: 52-73). Ini dapat dianggap sebagai letupan revolusi pemikiran tauchid dan politik di negeri Aur. Tetapi mainstream peradaban dan kebudayaan berhala masih sangat kuat di Aur Khaldan. Maka Ibrahim dan keluarganya hijrah ke Utara ke wilayah bangsa Arami, lalu berpindah-pindah hinga memasuki Kana’an pada th. 2000 SM dan menetap disana menikmati kemakmuran. Bersama Ibrahim a.s. adalah istrinya Siti Sarah dan adik sepupunya Lut. Mungkin karena latar belakang mereka yang lari dan menutup diri terhadap lingkungan dan sistem sosial  paganisme di Aur-Khaldan, kaum Ibri memiliki karakter “inkoperasi” atau mengisolir diri. Semula untuk menjaga diri dari segala bentuk paganisme orang-orang Aur-Khaldan dan hal-hal serupa dinegeri-negeri lain yang mereka lalui. Tetapi kemudian menjadi konstitusi jiwa dan mewaris sebagai disposisi-psikologis ke genarsi-generasi Yahudi selanjutnya hingga masa sekarang dan mengkristal menjadi bentuk chauvinism yang membahayakan kehidupan dan peradaban umat manusia.

Tentang ketauhidan, subyektivisme Al-Qur’an tidak sama dengan persepsi Bibel dan para antropolog Barat yang melihat Abraham sebagai sosok yang berkompromi dengan peradaban paganisme, seperti ditunjukkan ketika ia memberikan upeti 10 % kepada Raja dan Imam Shalem, Melkisidek, pemimpin bangsa Yebus yang menjadi pendiri Jerusalem. Pada ketika itu Abraham ikut serta Melkiside memberikan penghormatan kepada Dewa Yebus El-Eliyon di kota Jerusalem (Karen Armstrong, 2005). Sebaliknya antropolog muslim Ahmad Syalabi tidak menyebut-nyebut adanya Raja bangsa Yebus dan Imam Jerusalem kuno Melkisidek dalam historiografi Agama Yahudi. Masalah ini akan terus kita dalami pada pengajian-pengajian selanjutnya.

Khilafat di Jerusalem.

Sejak Pengajian ke-59 kita mendalami khilafat Bani Israil di Jerusalem sebagai satu bentuk peradaban agama samawi yang dapat dibuktikan keberadaannya. Kita telah membahasnya sejak Raja Israel yang pertama Saul, Al-Qur’an menyebutnya Thalut (Al-Baqoroh : 249). Saul tewas dalam perang besar melawan bangsa Filistin (Palestina) di Wadi Bazrail pada th. 1010 SM, baju kebesarannya ditanggalkan, mayatnya di bawa ke Kuel Finus orang-orang Palestina, dan mayatnya disalibkan di tembok rumah Syaan seorang tokoh Palestina (Ahmad Syalabi, 1991). Saul digantikan puteranya Esybaal atau Ishbosheth dalam logat Arab. Pada waktu itu ibukota kerajaan masih di Gibeon. Ketika Saul terbunuh, Daud dengan bantuan orang-orang Filistin yang ironinya merupakan musuh tradisional bangsa Israel, mendirikan kerajaan Yehuda di Selatan dengan ibukota Hebron yang merupakan vassal (kerajaan bawahan Filistin). Permusuhan kedua kerajaan Bani Israil itu berakhir dengan terbunuhnya Esybaal dan panglimanya Abner (panglima dari zaman Saul) oleh Daud. Setelah itu Daud yang juga menantu Saul dilantik sebagai Raja Kana’an Bersatu yang meliputi seluruh wilayah Israel di Utara dan Yehuda di Selatan. Pada th. 1000 SM Daud berhasil menaklukkan kota Jerusalem dan menamakannya dengan Ir-Daud (kota Daud). Itulah permulaan Jerusalem sebagai ibukota Kerajaan Kana’an Bersatu. Pada th. 970 SM Raja Daud mangkat dan digantikan puteranya dari permaisuri Batsyeba yang orang Yebus, yaitu Sulaiman yang memerintah hinga mangkatnya th. 930 SM.
Tentang Daud dan Sulaiman, Al-Qur’an menyebutnya sbb :





“Dan sesungguhnya Kami telah memberi ilmu kepada Daud dan Sulaiman, dan keduanya mengucapkan :’Segala puji bagi Allah yang melebihkan kami dari kebanyakan hamba-hamba-Nya yang beriman’” ; (An-Naml : 15).

Ayat ini meneguhkan kedudukan spiritual kedua raja Bani Israil, Daud dan Sulaiman sebagai pemimpin orang-orang mukminin yang berada di Jalan Allah. Ini tentu berbeda dengan kisah Bibel dan penelitian para antropolog yang menempatkan Daud dan Sulaiman sebagai pemimpin-pemimpin Yahudi yang berkompromi dengan paganisme.

Para penulis Al-Qur’an yang terdiri 65 orang yang mengumpulkan semua data-data wahyu yang bersumber dari Rasulullah saw, juga tidak pernah menyebut-nyebut kekejaman dan kesadisan Daud, yang menurut antropolog muslim Ahmad Syalabi lebih menyerupai sejarah seorang yang bersifat durjana daripada raja dalam peradaban sekarang. Syalabi menuliskan dalam Muqaranatul Adyan : Al-Yahudiyah, “Daud dan balatentaranya menyerang Rabah ibukota Amon (sekarang Oman), merampas mahkota dari atas kepala Raja Amon, merampas harta benda sebanyak-banyaknya, dan memerintahkan seluruh rakyat dibunuh dengan gergaji besar, pisau-pisau pemotong dan kapak-kapak besi, kemudian mayat-mayat mereka dibakar ditempat-tempat pembakaran”.
Demikian pula tentang Sulaiman, para penulis wahyu mengisahkan dalam Al-Qur’an Raja Yahudi yang legendaries itu layaknya sebuah dongeng yang menakjubkan tanpa cacat cela sedikitpun. Sementara itu dalam deskripsi penelitiannya Ahmad Syalabi menulis :”Faktor utama yang membuat perpecahan dan akhirnya keruntuhan kerajaan Sulaiman adalah sifat keangkuhan, kekejaman, terlalu banyak istri dan perselisihan diantara anak-anaknya”.
Saya berpendapat ke-65 penulis Al-Qur’an telah menuliskan wahyu dengan benar, dan kita beriman terhadap apa yang telah mereka tuliskan. Adanya perbedaan antara idealitas-Qur’ani dengan realitas tidak mengurangi kadar keimanan kita terhadap Al-Qur’an dalam susunannya yang ada sekarang, melainkan menjadi tantangan untuk kita terus mendalami Al-Qur’an. Insya Allah segala sesuatunya akan menjadi terang kelak pada akhir bahasan.

Setelah mangkat, Raja Sulaiman digantikan putranya Rehabeam atau Rahub’am dalam bahasa Arab th. 930 SM. Kekuasannya diterima di Yehuda di Selatan, tetapi ditolak di Israel di Utara yang telah diperas kering oleh program mercu suar Sulaiman yang kontra-produktif dengan pendapatan kecil dan rekruitmen kerja paksa massal yang membuat negeri yang luas itu kekurangan tenaga kerja produktif. Dalam suatu pertemua di Sikhem, para tetua Israel menyatakan, mereka akan menerima Rehabem sebagai raja apabila dia mengurangi beban pajak dan tugas-tugas berat. Rehabeam menolak usulan para tetua yang berpengalaman itu dan berpihak  pada angkatan muda yang ambisius dalam pemerintahannya. Ini menjadi awal perpecahan dan malapetaka bagi Kerajaan Kana’an. Kita lanjutkan pada pengajian mendatang. ‘Iedun Mubarak, semoga Allah mengampuni dan meridhoi kita semua.

Birrahmatillahi Wabi’aunihi fi Sabilih.
Wassalamu’alaikumn War. Wab.
Jakarta, 21 Oktober 2005,
Pengasuh,


HAJI AGUS MIFTACH
 Ketua Umum Front Persatuan Nasional.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar