Pengajian Keenampuluh
Lima (65).
Assalamu’alaikum
War. Wab.
“Hai
Bani Israel, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu dan penuhilah janjimu
kepada-Ku, niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu, dan hanya kepada-Ku-lah kamu
harus takut (tunduk)” ; (Al-Baqoroh : 40).
Ekletik pembahasan akan kita lakukan dengan perspektif
teologis, antropologis, historiografis dan psikologis secara holistis, untuk
mendapatkan hikmah yang setinggi-tingginya dari pembahasan ayat ini.
Pokok Bahasan.
Bangsa Yahudi adalah bangsa yang paling dahulu mengemban
Kitab-kitab samawiyah. Mereka adalah keturunan
Nabi Ya’kub a.s. Diantara mereka terdapat orang-orang yang dengan keras
menolak kerasulan Nabi Muhammad saw, dan memusuhi Kaum Muslimin. Padahal mereka
dahulu pernah berjanji kepada Allah akan beriman kepada nabi-nabi yang diutus
Allah, jika telah terdapat bukti yang nyata.
Dalam rentang waktu yang cukup lama Allah telah memilih
Nabi-nabiNya dari kalangan Bani Israil, sehingga mereka diberi julukan “Sya’bullah al-Muchtar”, yaitu hamba-hamba
Allah yang terpilih. Seharusnya senantiasa mereka ingat dan syukur akan nikmat
Allah itu, dan beriman kepada setiap Nabi yang diutus Allah untuk memberikan
bimbingan kepada manusia. Tetapi ternyata mereka telah menjadikan nikmat
tersebut sebagai suatu kesombongan untuk menolak seruan Rasulullah saw; mereka
mengatakan, “banwa nabi-nabi dan utusan Allah hanya datang dari kalangan
mereka. Nikmat Allah itu hanya tertuju kepada kaum mereka saja”. Begitulah
kesombongan mereka.
Pengingkaran janji Bani Israil kepada Allah itu, terutama
disebabkan hilangnya ketaatan mereka kepada Allah swt. Mereka lebih takut
sesama mereka dan pemimpin-pemimpin mereka yang dzalim daripada Allah swt. Maka
mereka tersesat dan menolak beriman kepada Nabi Muhammad saw. Allah akan
mengazab mereka karena tidak mensyukuri nikmat nikmat Allah yang telah begitu
banyak dilimpahkan kepada mereka.
Ulasan.
Intinya secara substansial ayat tersebut menyerukan Bani
Israil agar beriman kepada Rasulullah saw. Israil adalah Ya’kub a.s. Bani
Israil adalah keturunan Ya’kub, keturunan Ischak putra Ibrahim a.s. Dimasa lalu
mereka pernah diselamatkan Allah dari perbudakan Fir’aun di zaman Nabi Musa
a.s,dan diberikan kenikmatan dengan mukjizat Allah seperti makanan dari sorga (manna-seperti madu dan salwa-seperti burung puyuh).
Menurut Tafsir Ibnu Katsir, ayat diatas mengandung targhib (kabar menyenangkan) dan tarhib (kabar menakutkan) sekaligus. Tujuannya tak lain agar mereka mengikuti
kebenaran Muhammad saw. Al-Qur’an adalah bukti yang nyata, seharusnya Bani
Israil beriman paling awal, karena perihal kedatangan Rasulullah saw telah
diberitakan terlebih dahulu dalam kitab suci mereka, yaitu Taurat. Tetapi
sebaliknya Bani Israil justru menolak beriman kepada Al-Qur’an dan medustakan
kerasuluan Nabi Muhammad saw.
Tafsir Jalalain menerangkan Bani Israil memiliki dua janji
kepada Allah, pertama : menggunakan akal pikiran untuk mengetahui hakekat
segala sesuatu sebagai jalan untuk mengenal Allah. Kedua, dia berjanji hanya
menyembah kepada Allah semata dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatupun, dan
bahwa mereka akan beriman kepada Rasul-rasulNya. Jika Bani Israil memperhatikan
benar-benar isi Kitab Taurat mereka, sesungguhnya Allah telah mengisyaratkan
akan mengangkat seorang Rasul dari kalangan saudara nenek moyang mereka
(Ismail) yang menurunkan bangsa Arab. Jika mereka berfikir semestinya mereka
beriman kepada Rasulullah saw, dan termasuk dalam golongan orang-orang yang
mencapai kemenangan. Tafsir Jalalain menuturkan jika Bani Israil memenuhi janji
mereka kepada Allah tentu mereka akan diizinkan Allah untuk menetap di tanah
suci Palestina dan memperoleh kemuliaan serta kemakmuran.
Asal-usul Bani Israil.
Antropolog Ahmad Syalabi dalam Muqaranatul Adyan : Al-Yahudiyah mengatakan : “Bani
Israil berasal dari keturunan orang-orang Badui padang pasir yang disebut kaum
Ibrani (Hebrew) atau Ibri yang berasal dari keluarga Ibrahim bin Tarih (Abraham
putra Terah) dari Aur Khaldan (Ur). Kehidupan mereka tidak menetap, selalu berpindah-pindah
dari satu tempat ke tempat yang lain dengan membawa unta dan ternak untuk
mencari air dan padang rumput penggembalaan”.
Kata Ibrani atau Ibri (Hebrew) diberikan oleh Ibrahim
a.s. sebagai nama dari rumpun keluarganya. Arti kata itu tidak pasti, tetapi
mendekati makna tepi Sungai, berkaitan dengan asal-usul keluarga Nabi Ibrahim
yang berasal dari tepi Sungai Euphrat. Tetapi Ahmad Syalabi lebih suka
mengartikan sebagai “penghuni padang pasir”. Hal ini sesuai dengan kenyataan
hidup kaum Ibrani. Orang-orang Ibri berasal dari keturunan darah “Semitik” yang
berhubungan nasab dengan orang-orang Asyur dan Arab. Kawasan Arab Tengah dan
Utara adalah tempat domisili ras Semitik. Orang-orang Semitik yang tetap
tinggal di kawasan Arab kemudian menjadi nenek moyang bangsa Arab. Sedangkan orang-orang Semitik
yang meninggalkan hulu Sungai Euphrat dan berkembang di Asia dan Palestina
menjadi nenek moyang bangsa Asyur (Syiria) dan Israel. Disposisi fisiologis
orang Arab sekarang lebih mirip dengan konstitusi Semitik purba. Sedangkan
disposisi fisiologis Yahudi karena percampuran dengan ras Hittie di Asia Minor
lebih sedikit kemiripannya dengan konstitusi asli Semitik. Ketua arum atau
ketua asal ras Semitik yang masuk ke Palestina melalui Irak itulah Nabi Ibrahim
al-Khalil bin Tarih a.s. (Abraham putra Terah) yang nasab aslinya berakhir pada
Nabi Nuh a.s. Tetapi Ibrahim tidak dibesarkan di Arab Tengah maupun Utara,
namun dibesarkan di Aur Khaldan atau Ur di lembah Mesopotamia.
Menurut persepsi Al-Qur’an, Ibrahim meninggalkan kota Aur
karena tidak mau mengikuti kebudayaan menyembah berhala yang dianut penduduk
kota itu termasuk ayahnya Tarih. Bahkan Ibrahim telah merusak berhala-berhala
itu dengan kapak dan menggantungkan kapak itu dipundak berhala terbesar, sambil
berkata mengejek : “Berhala yang paling besar itu telah merusak semua
berhala-berhala”. Tarih ayahnya dengan gusar berkata: “Hai Ibrahim bagaimana
mungkin berhala yang terbesar itu berbuat, ia adalah batu yang tidak hidup”.
Ibrahim dengan cerdas menjawab : “Jika demikian, kenapa kalian sembah ?
Sedangkan kalian hidup. Sembahlah Allah yang menjadikan kamu dan berkuasa atas
segala sesuatu” (Al-Anbiyaa’: 52-73). Ini dapat dianggap sebagai letupan
revolusi pemikiran tauchid dan politik di negeri Aur. Tetapi mainstream
peradaban dan kebudayaan berhala masih sangat kuat di Aur Khaldan. Maka Ibrahim
dan keluarganya hijrah ke Utara ke wilayah bangsa Arami, lalu berpindah-pindah
hinga memasuki Kana’an pada th. 2000 SM dan menetap disana menikmati
kemakmuran. Bersama Ibrahim a.s. adalah istrinya Siti Sarah dan adik sepupunya
Lut. Mungkin karena latar belakang mereka yang lari dan menutup diri terhadap
lingkungan dan sistem sosial paganisme
di Aur-Khaldan, kaum Ibri memiliki karakter “inkoperasi” atau mengisolir diri.
Semula untuk menjaga diri dari segala bentuk paganisme orang-orang Aur-Khaldan
dan hal-hal serupa dinegeri-negeri lain yang mereka lalui. Tetapi kemudian
menjadi konstitusi jiwa dan mewaris sebagai disposisi-psikologis ke
genarsi-generasi Yahudi selanjutnya hingga masa sekarang dan mengkristal
menjadi bentuk chauvinism yang membahayakan
kehidupan dan peradaban umat manusia.
Tentang ketauhidan, subyektivisme Al-Qur’an tidak sama
dengan persepsi Bibel dan para antropolog Barat yang melihat Abraham sebagai
sosok yang berkompromi dengan peradaban paganisme, seperti ditunjukkan ketika
ia memberikan upeti 10 % kepada Raja dan Imam Shalem, Melkisidek, pemimpin
bangsa Yebus yang menjadi pendiri Jerusalem. Pada ketika itu Abraham ikut serta
Melkiside memberikan penghormatan kepada Dewa Yebus El-Eliyon di kota Jerusalem
(Karen Armstrong, 2005). Sebaliknya antropolog muslim Ahmad Syalabi tidak
menyebut-nyebut adanya Raja bangsa Yebus dan Imam Jerusalem kuno Melkisidek
dalam historiografi Agama Yahudi. Masalah ini akan terus kita dalami pada
pengajian-pengajian selanjutnya.
Khilafat di Jerusalem.
Sejak Pengajian ke-59 kita mendalami khilafat Bani Israil di
Jerusalem sebagai satu bentuk peradaban agama samawi yang dapat dibuktikan
keberadaannya. Kita telah membahasnya sejak Raja Israel yang pertama Saul, Al-Qur’an menyebutnya Thalut (Al-Baqoroh : 249). Saul tewas dalam perang besar melawan
bangsa Filistin (Palestina) di Wadi Bazrail pada th. 1010 SM, baju kebesarannya
ditanggalkan, mayatnya di bawa ke Kuel Finus orang-orang Palestina, dan
mayatnya disalibkan di tembok rumah Syaan
seorang
tokoh Palestina (Ahmad Syalabi, 1991). Saul digantikan puteranya Esybaal atau Ishbosheth dalam logat Arab. Pada
waktu itu ibukota kerajaan masih di Gibeon. Ketika Saul terbunuh,
Daud dengan bantuan orang-orang Filistin yang ironinya merupakan musuh
tradisional bangsa Israel, mendirikan kerajaan Yehuda di Selatan dengan ibukota Hebron yang merupakan vassal (kerajaan bawahan Filistin).
Permusuhan kedua kerajaan Bani Israil itu berakhir dengan terbunuhnya Esybaal dan panglimanya Abner (panglima dari zaman Saul) oleh Daud. Setelah itu Daud yang
juga menantu Saul dilantik sebagai Raja Kana’an Bersatu yang meliputi seluruh
wilayah Israel di Utara dan Yehuda di Selatan. Pada th. 1000 SM Daud berhasil
menaklukkan kota Jerusalem dan menamakannya dengan Ir-Daud (kota Daud). Itulah
permulaan Jerusalem sebagai ibukota Kerajaan Kana’an Bersatu. Pada th. 970 SM
Raja Daud mangkat dan digantikan puteranya dari permaisuri Batsyeba yang orang
Yebus, yaitu Sulaiman yang memerintah hinga mangkatnya th. 930 SM.
Tentang Daud dan Sulaiman, Al-Qur’an menyebutnya sbb :
“Dan
sesungguhnya Kami telah memberi ilmu kepada Daud dan Sulaiman, dan keduanya
mengucapkan :’Segala puji bagi Allah yang melebihkan kami dari kebanyakan
hamba-hamba-Nya yang beriman’” ; (An-Naml : 15).
Ayat ini meneguhkan kedudukan spiritual kedua raja Bani
Israil, Daud dan Sulaiman sebagai pemimpin orang-orang mukminin yang berada di
Jalan Allah. Ini tentu berbeda dengan kisah Bibel dan penelitian para
antropolog yang menempatkan Daud dan Sulaiman sebagai pemimpin-pemimpin Yahudi
yang berkompromi dengan paganisme.
Para penulis Al-Qur’an yang terdiri 65 orang yang
mengumpulkan semua data-data wahyu yang bersumber dari Rasulullah saw, juga
tidak pernah menyebut-nyebut kekejaman dan kesadisan Daud, yang menurut
antropolog muslim Ahmad Syalabi lebih menyerupai sejarah seorang yang bersifat
durjana daripada raja dalam peradaban sekarang. Syalabi menuliskan dalam Muqaranatul Adyan : Al-Yahudiyah, “Daud dan
balatentaranya menyerang Rabah ibukota Amon (sekarang Oman), merampas mahkota
dari atas kepala Raja Amon, merampas harta benda sebanyak-banyaknya, dan
memerintahkan seluruh rakyat dibunuh dengan gergaji besar, pisau-pisau pemotong
dan kapak-kapak besi, kemudian mayat-mayat mereka dibakar ditempat-tempat
pembakaran”.
Demikian pula tentang Sulaiman, para penulis wahyu
mengisahkan dalam Al-Qur’an Raja Yahudi yang legendaries itu layaknya sebuah
dongeng yang menakjubkan tanpa cacat cela sedikitpun. Sementara itu dalam
deskripsi penelitiannya Ahmad Syalabi menulis :”Faktor utama yang membuat
perpecahan dan akhirnya keruntuhan kerajaan Sulaiman adalah sifat keangkuhan,
kekejaman, terlalu banyak istri dan perselisihan diantara anak-anaknya”.
Saya berpendapat ke-65 penulis Al-Qur’an telah menuliskan
wahyu dengan benar, dan kita beriman terhadap apa yang telah mereka tuliskan.
Adanya perbedaan antara idealitas-Qur’ani dengan realitas tidak mengurangi
kadar keimanan kita terhadap Al-Qur’an dalam susunannya yang ada sekarang,
melainkan menjadi tantangan untuk kita terus mendalami Al-Qur’an. Insya Allah
segala sesuatunya akan menjadi terang kelak pada akhir bahasan.
Setelah mangkat, Raja Sulaiman digantikan putranya Rehabeam atau Rahub’am dalam bahasa Arab th.
930 SM. Kekuasannya diterima di Yehuda di Selatan, tetapi ditolak di Israel di
Utara yang telah diperas kering oleh program mercu suar Sulaiman yang
kontra-produktif dengan pendapatan kecil dan rekruitmen kerja paksa massal yang
membuat negeri yang luas itu kekurangan tenaga kerja produktif. Dalam suatu
pertemua di Sikhem, para tetua Israel
menyatakan, mereka akan menerima Rehabem sebagai raja apabila dia mengurangi
beban pajak dan tugas-tugas berat. Rehabeam menolak usulan para tetua yang
berpengalaman itu dan berpihak pada
angkatan muda yang ambisius dalam pemerintahannya. Ini menjadi awal perpecahan
dan malapetaka bagi Kerajaan Kana’an. Kita lanjutkan pada pengajian mendatang.
‘Iedun Mubarak, semoga Allah mengampuni dan meridhoi kita semua.
Birrahmatillahi Wabi’aunihi fi Sabilih.
Wassalamu’alaikumn War. Wab.
Jakarta, 21 Oktober 2005,
Pengasuh,
HAJI AGUS MIFTACH
Ketua Umum Front
Persatuan Nasional.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar