Pengajian Keseratus Empat (104),
Assalamu’alaikum
War. Wab.
Bismillahirrahmanirrahiem,
“Dan apabila dikatakan kepada
mereka,”Berimanlah kepada Al-Qur’an yang diturunkan Allah.” Mereka
berkata,”Kami hanya beriman kepada apa yang diturunkan kepada kami.” Dan mereka
kafir kepada Al-Qur’an yang diturunkan sesudahnya, padahal Al-Qur’an itu adalah
(Kitab) yang haq; yang membenarkan apa yang ada pada mereka.
Katakahlah,”Mengapa kamu dahulu membunuh para nabi Allah, jika benar kamu
orang-orang yang beriman?” (91). Sesungguhnya Musa telah datang kepadamu
membawa bukti-bukti kebenaran (mukjizat), kemudian kamu jadikan anak sapi
(sebagai sembahan) sesudah (kepergiannya), dan sebenarnya kamu adalah
orang-orang yang dzalim”.(92); Al-Baqoroh : 91-92.
Sebagaimana
tradisi pengajian ini, kita akan membahas ayat ini dengan pendekatan eklektik
secara holistis dari berbagai sudut pandang, baik teologi, antropologi, historiografi
maupun psikologi, agar dapat mencapai pemahaman yang komprehensif dah hikmah
yang setinggi-tingginya dari kandungan ayat ini.
Pokok
Bahasan.
Ayat
91 masih tentang Bani Israil, dan dilihat dari redaksinya, ayat ini ditujukan
kepada Bani Israil di zaman Rasulullah SAW pada periode Madinah tentunya,
karena suku-suku Bani Israil itu terdapat di Madinah dan sekitarnya a.l yang
besar-besar adalah Bani Nadhir, Bani Quraizah dan Bani Qainuqa. Di Mekah dan
seputarnya tidak terdapat pemukiman Yahudi, kalaupun ada hanya kecil dan kurang
memberikan pengaruh dalam arus utama komunitas Yahudi di Hejaz.
Ayat
ini menceritakan tentang sikap Bani Israil terhadap da’wah Rasulullah SAW yang
menyeru mereka agar beriman kepada Al-Qur’an, Kitab Suci yang membenarkan kitab
suci yang diturunkan sebelumnya kepada Bani Israil, yaitu Kitab Taurat. Bani Israil
menanggapi seruan ini dengan menyatakan, bahwa mereka hanya beriman kepada
kitab suci yang diturunkan kepada mereka; jumhur mufassirin menyebutnya Kitab Taurat.
Ibnu Katsir menyebutkan ‘Taurat dan Injil’. Ini agak aneh karena mainstream
Bani Israil tidak pernah mengakui keberadaan Kitab Injil dan menolak kenabian
Isa a.s. Kecuali ada Bani Israil yang masuk Kristen, maka mungkin ia beriman
kepada Taurat dan Injil. Tapi Ibnu Katsir tidak menjelaskan demikian. Namun
pada hakekatnya Kitab Injil dan kerasulan Isa a.s. ditujukan kepada Bani
Israil. Jadi pendapat Ibnu Katsir ada dasarnya. Sementara kedua Imam Jalal
berpendapat kitab suci Yahudi adalah Taurat.
Dari
perspektif Bani Israil, jawaban diatas adalah benar. Secara obyektif semua
komunitas agama akan bersikap seperti itu. Tetapi apakah mereka benar-benar
jujur dengan sikapnya itu ? Apakah motif mereka menolak Al-Qur’an semata-mata
berdasarkan pada keteguhan prinsip kitab suci mereka ? Dan apakah dasar mereka
membunuh nabi-nabi yang diutus kepada mereka seperti Nabi Zakaria dan Nabi
Yahya ? Menurut jumhur mufassirin, ayat 92 mengungkapkan ketidakjujuran Bani
Israil, ketika nenek moyang mereka membangun patung anak sapi emas untuk
disembah, sementara Musa menerima wahyu Taurat di bukit Tursina (selama 40
hari). Setelah itu mereka membunuh nabi-nabi yang diutus kepada mereka seperti
Nabi Zakaria dan Nabi Yahya, dan terakhir berupaya membunuh Nabi Isa a.s. Akhir
ayat 92 mengklasifikasi Bani Israil sebagai
orang-orang yang dzalim yang menurut persepsi jumhur mufassirin sebagai
orang-orang yang menolak kebenaran dengan membohongkan kebenaran.
Pada
beberapa pengajian terdahulu telah dijelaskan tentang dasar-dasar psikologi
Bani Israil yang telah membentuk Konstitusi Jiwa yang sudah mapan jauh sebelum
Musa a.s. menyatakan dirinya sebagai Rasul Allah. Dan perlu dipahami bahwa yang
diakui kitab suci oleh Bani Israil bukan hanya satu Taurat melainkan 40 kitab
suci, 5 diantaranya adalah Pentateuch
yang disebut Taurat, yaitu Kitab-kitab : 1. Kejadian, 2. Keluaran, 3. Imamat
Orang Lewi, 4. Bilangan, dan 5. Ulangan. Diluar itu masih terdapat 35 kitab
suci Yahudi sebagaimana sudah diterangkan pada Pengajian ke-96; 16/6/06. Jadi
disini terjadi salah persepsi dikalangan mufassirin yang menganggap Bani Israil
hanya memiliki satu kitab suci, yaitu Taurat, padahal mereka memiliki 40 kitab
suci, 39 kanon dan 1 Talmud yang merupakan kitab induk. 39 kitab kanon itu
dapat digolongkan sbb : a. Kitab Taurat (terdiri 5 kitab), b. Kitab Nabi-nabi
Terdahulu (terdiri 7 kitab), c. Kitab Nabi-nabi Kemudian (terdiri 17 kitab) dan
d. Surat-surat (terdiri 10 kitab). Kesemuanya terdiri 929 surat dan 23.160 ayat. Disamping itu masih
terdapat kitab induk yang disebut Talmud
yang terdiri dari 12 kitab yang di bagi dalam dua bagian utama, yaitu Halachah dan Hagadah yang berisi aturan ritual serta legenda dan tradisi Yahudi
yang menjadi kitab utama dan pedoman sehari-hari kaum Yahudi dalam melaksanakan
ajaran-ajaran nenek-moyang mereka. Kitab-kitab suci itulah yang menjadi basis
ideology Judaism yang berintikan pada ajaran Qabbala yang sudah dikembangkan
kalangan Bani Israil di Mesir sejak masa Yusuf a.s. di zaman Dinasti Amalik
(agresor) pada abad ke-19 SM hingga sekitar 4-5 abad kemudian di zaman Dinasti
Ahmez (pribumi) pada abad ke-15 SM, di saat mana Musa a.s. menyatakan
kerasulannya dan terjadi sinkretisme Judaisme.
Maka
kalimat “nu’minu bimaa unzila ‘alainaa…”
: “kami hanya beriman kepada apa yang diturunkan kepada kami…”, dari
persepsi Bani Israil tidak merujuk hanya kepada Taurat, melainkan kepada 40
kitab suci tsb. Sudah barangtentu ini mutlak berbeda dengan jumhur mufassirin
yang berpendapat kitab suci Bani Israil hanya Taurat. Pertanyaannya adalah,
siapakah yang berhak menentukan kitab suci bagi suatu komunitas agama, apakah
orang lain atau komunitas itu sendiri ? Apakah kita berhak memaksa Bani Israil agar
mengikuti pendirian kita dalam menentukan kitab suci mereka ? Ataukah kita
berpendapat Bani Israil tidak berhak menentukan keyakinan spiritualnya sendiri,
dan harus mengikuti keyakinan dan kebudayaan kita ?
Tentang
nabi-nabi yang dibunuh, seperti sudah sering diterangkan pada pengajian
sebelumnya, dari sudut pandang Bani Israil, mereka adalah para pengkhianat yang
bermaksud merusak ajaran dan masyarakat Yahudi dari dalam. Karena itu mereka di
hukum mati menurut hukum Talmud. Hal itu diberlakukan pula terhadap nabi Isa
a.s. yang dihukum sebagai penjahat biasa dengan di salib sampai mati di bukit
Golgotta pada abad pertama Masehi.
Pada
zaman ini saya berpendapat Islam adalah nilai kebenaran tertinggi dan rahmat
bagi semesta alam, dan karena itu Islam menjamin kebebasan setiap orang untuk
menjalankan keyakinan dan budayanya yang berbeda-beda. Bagaimana mereka diajak masuk
Islam ? Bukan dengan ancaman dan kekerasan, melainkan dengan peningkatan kualitas
dakwah dan kasih sayang. Kalimat sederhana “Bismillahirrahmanirrahiem”
yang disunnahkan dibaca di awal semua tindakan kiranya dapat diimplementasikan
dalam sikap mental dan perilaku yang efektif. Bukan hanya slogan kosong seumur
hidup.
Ancaman perang nuklir
Kini
segala kebencian dan kekerasan spiritual seperti yang selalu didalilkan para
mufassir keduabelah pihak telah menjelma menjadi perang dahsyat antara Israel
lawan Arab untuk kesekian kalinya. Peperangan ini sendiri bukan hal baru.
Perang sudah menjadi ideology kedua ras-semit ini sejak 3000 th yang silam.
Dari awal sejarah mereka sama-sama menyembah Dewa Perang Ba’al El Elyon di
Bukit Zion dan
di Ka’bah. Agama-agama modern yang dianut kemudian seperti Taurat dan Islam
ternyata tidak mengubah sikap mental dan perilaku dasar kedua ras-semit itu.
Ketidaksadaran kolektif mereka dan konstitusi jiwa mereka masih terikat erat
dengan Dewa Perang dan kegemaran berperang, sejak perang besar mereka yang
pertama pada akhir abad ke-11 SM di bukit Gilboa yang menewaskan Raja Israel
pertama Saul dan putranya Yonathan, dan awal abad ke-10 SM di Edom dimana Raja
Daud membantai suku-suku Arab dengan kejam. Sejak itu maka perang antara kedua
ras-semit itu menjadi tradisi, dan sepeninggal Daud dan Sulaiman bangsa Yahudi
selalu kalah terhadap bangsa-bangsa Arabia . Baru
sekarang inilah Bani Israil mengalami sedikit masa kejayaan dan kemenangan
terbatas terhadap bangsa Arabia .
Tetapi
kalau kita menyimak secara seksama, maka sesungguhnya Israel dan Amerika Serikat berada dalam
kepanikan dan kekhawatiran yang tinggi terhadap kemampuan militer Hezbollah
dengan rudal-rudalnya yang ternyata mampu menjangkau hampir semua wilayah Israel .
Sejak bubarnya Uni Sovyet di dunia banyak terdapat hulu ledak nuklir yang tidak terkontrol. Diperkirakan tidak
kurang dari 13 000 hulu ledak nuklir yang tidak begitu terkontrol yang tersebar
di negara-negara bekas Uni Sovyet yang sebagian diyakini telah menyebar pula ke
Timur Tengah. Dan bukan mustahil Hezbollah memilikinya, mengingat dukungan kuat
Iran dan Syria kepada organisasi Syi’ah
militant ini. Dapat dibayangkan jika kemudian Hezbollah memutuskan menggunakan
hulu ledak nuklir pada rudal-rudal yang diluncurkan ke wilayah Israel .
Ini akan menjadi pemicu perang dunia ketiga seperti dirancang Albert Pike.
Ketakutan inilah yang menjadi motif Israel dengan dukungan AS terus membabi
buta ingin membinasakan Hezbollah, tetapi kenyataannya Hezbollah yang diduga
juga diperkuat dengan militer Iran dan Syria yang menyamar, tidak mudah
ditundukkan. Bahkan pada pertempuran hari Minggu sore 6/7 Hezbollah menunjukkan
keunggulannya. Rudal Hezbollah menghantam Kfar Giladi, sebuah daerah pertanian
di perbatasan, 9 tentara Israel
dan dua orang sipil tewas, sementara 14 orang luka-luka. Sejak perang pecah 12
Juli 2006 inilah hari terburuk Israel .
Hiruk
pikuk perang ini tidak akan membuat kita lupa terhadap tiga aktor yang menjadi
pendorong utama perang ini, yaitu Mahmud Ahmad Dinejad (Presiden Iran ),
Ismail Haniya (PM. Palestina-Hamas) dan Ehud Olmert (PM. Israel-Kadima). Kita
sudah mengindikasi ketiganya adalah instrument gerakan “Illuminati-Freemasonry”
dalam upaya untuk meletupkan perang dunia ketiga yang akan menjadi jalan bagi
terwujudnya “Novus Ordo Seclorum” dan
“E Pluribus Unum” yang menjadi platform gerakan
neo-qabala itu. Sekian, terima kasih, kita lanjutkan Jum’at depan.
Birrahmatillahi
Wabi’aunihi fi Sabilih.
Wassalamu’alaikum
War. Wab.
Pengasuh,
KH.
AGUS MIFTACH
Ketua
Umum Front Persatuan Nasional,
Tidak ada komentar:
Posting Komentar