11.7.17

Pengajian Keseratus Empat (104),






Pengajian Keseratus Empat (104),

Assalamu’alaikum War. Wab.
Bismillahirrahmanirrahiem,











Dan apabila dikatakan kepada mereka,”Berimanlah kepada Al-Qur’an yang diturunkan Allah.” Mereka berkata,”Kami hanya beriman kepada apa yang diturunkan kepada kami.” Dan mereka kafir kepada Al-Qur’an yang diturunkan sesudahnya, padahal Al-Qur’an itu adalah (Kitab) yang haq; yang membenarkan apa yang ada pada mereka. Katakahlah,”Mengapa kamu dahulu membunuh para nabi Allah, jika benar kamu orang-orang yang beriman?” (91). Sesungguhnya Musa telah datang kepadamu membawa bukti-bukti kebenaran (mukjizat), kemudian kamu jadikan anak sapi (sebagai sembahan) sesudah (kepergiannya), dan sebenarnya kamu adalah orang-orang yang dzalim”.(92); Al-Baqoroh : 91-92.

Sebagaimana tradisi pengajian ini, kita akan membahas ayat ini dengan pendekatan eklektik secara holistis dari berbagai sudut pandang, baik teologi, antropologi, historiografi maupun psikologi, agar dapat mencapai pemahaman yang komprehensif dah hikmah yang setinggi-tingginya dari kandungan ayat ini.


Pokok Bahasan.

Ayat 91 masih tentang Bani Israil, dan dilihat dari redaksinya, ayat ini ditujukan kepada Bani Israil di zaman Rasulullah SAW pada periode Madinah tentunya, karena suku-suku Bani Israil itu terdapat di Madinah dan sekitarnya a.l yang besar-besar adalah Bani Nadhir, Bani Quraizah dan Bani Qainuqa. Di Mekah dan seputarnya tidak terdapat pemukiman Yahudi, kalaupun ada hanya kecil dan kurang memberikan pengaruh dalam arus utama komunitas Yahudi di Hejaz.
Ayat ini menceritakan tentang sikap Bani Israil terhadap da’wah Rasulullah SAW yang menyeru mereka agar beriman kepada Al-Qur’an, Kitab Suci yang membenarkan kitab suci yang diturunkan sebelumnya kepada  Bani Israil, yaitu Kitab Taurat. Bani Israil menanggapi seruan ini dengan menyatakan, bahwa mereka hanya beriman kepada kitab suci yang diturunkan kepada mereka; jumhur mufassirin menyebutnya Kitab Taurat. Ibnu Katsir menyebutkan ‘Taurat dan Injil’. Ini agak aneh karena mainstream Bani Israil tidak pernah mengakui keberadaan Kitab Injil dan menolak kenabian Isa a.s. Kecuali ada Bani Israil yang masuk Kristen, maka mungkin ia beriman kepada Taurat dan Injil. Tapi Ibnu Katsir tidak menjelaskan demikian. Namun pada hakekatnya Kitab Injil dan kerasulan Isa a.s. ditujukan kepada Bani Israil. Jadi pendapat Ibnu Katsir ada dasarnya. Sementara kedua Imam Jalal berpendapat kitab suci Yahudi adalah Taurat.
Dari perspektif Bani Israil, jawaban diatas adalah benar. Secara obyektif semua komunitas agama akan bersikap seperti itu. Tetapi apakah mereka benar-benar jujur dengan sikapnya itu ? Apakah motif mereka menolak Al-Qur’an semata-mata berdasarkan pada keteguhan prinsip kitab suci mereka ? Dan apakah dasar mereka membunuh nabi-nabi yang diutus kepada mereka seperti Nabi Zakaria dan Nabi Yahya ? Menurut jumhur mufassirin, ayat 92 mengungkapkan ketidakjujuran Bani Israil, ketika nenek moyang mereka membangun patung anak sapi emas untuk disembah, sementara Musa menerima wahyu Taurat di bukit Tursina (selama 40 hari). Setelah itu mereka membunuh nabi-nabi yang diutus kepada mereka seperti Nabi Zakaria dan Nabi Yahya, dan terakhir berupaya membunuh Nabi Isa a.s. Akhir ayat 92  mengklasifikasi Bani Israil sebagai orang-orang yang dzalim yang menurut persepsi jumhur mufassirin sebagai orang-orang yang menolak kebenaran dengan membohongkan kebenaran.

Pada beberapa pengajian terdahulu telah dijelaskan tentang dasar-dasar psikologi Bani Israil yang telah membentuk Konstitusi Jiwa yang sudah mapan jauh sebelum Musa a.s. menyatakan dirinya sebagai Rasul Allah. Dan perlu dipahami bahwa yang diakui kitab suci oleh Bani Israil bukan hanya satu Taurat melainkan 40 kitab suci, 5 diantaranya adalah Pentateuch yang disebut Taurat, yaitu Kitab-kitab : 1. Kejadian, 2. Keluaran, 3. Imamat Orang Lewi, 4. Bilangan, dan 5. Ulangan. Diluar itu masih terdapat 35 kitab suci Yahudi sebagaimana sudah diterangkan pada Pengajian ke-96; 16/6/06. Jadi disini terjadi salah persepsi dikalangan mufassirin yang menganggap Bani Israil hanya memiliki satu kitab suci, yaitu Taurat, padahal mereka memiliki 40 kitab suci, 39 kanon dan 1 Talmud yang merupakan kitab induk. 39 kitab kanon itu dapat digolongkan sbb : a. Kitab Taurat (terdiri 5 kitab), b. Kitab Nabi-nabi Terdahulu (terdiri 7 kitab), c. Kitab Nabi-nabi Kemudian (terdiri 17 kitab) dan d. Surat-surat (terdiri 10 kitab). Kesemuanya terdiri 929 surat dan 23.160 ayat. Disamping itu masih terdapat kitab induk yang disebut Talmud yang terdiri dari 12 kitab yang di bagi dalam dua bagian utama, yaitu Halachah dan Hagadah yang berisi aturan ritual serta legenda dan tradisi Yahudi yang menjadi kitab utama dan pedoman sehari-hari kaum Yahudi dalam melaksanakan ajaran-ajaran nenek-moyang mereka. Kitab-kitab suci itulah yang menjadi basis ideology Judaism yang berintikan pada ajaran Qabbala yang sudah dikembangkan kalangan Bani Israil di Mesir sejak masa Yusuf a.s. di zaman Dinasti Amalik (agresor) pada abad ke-19 SM hingga sekitar 4-5 abad kemudian di zaman Dinasti Ahmez (pribumi) pada abad ke-15 SM, di saat mana Musa a.s. menyatakan kerasulannya dan terjadi sinkretisme Judaisme.
Maka kalimat “nu’minu bimaa unzila ‘alainaa…” : “kami hanya beriman kepada apa yang diturunkan kepada kami…”, dari persepsi Bani Israil tidak merujuk hanya kepada Taurat, melainkan kepada 40 kitab suci tsb. Sudah barangtentu ini mutlak berbeda dengan jumhur mufassirin yang berpendapat kitab suci Bani Israil hanya Taurat. Pertanyaannya adalah, siapakah yang berhak menentukan kitab suci bagi suatu komunitas agama, apakah orang lain atau komunitas itu sendiri ? Apakah kita berhak memaksa Bani Israil agar mengikuti pendirian kita dalam menentukan kitab suci mereka ? Ataukah kita berpendapat Bani Israil tidak berhak menentukan keyakinan spiritualnya sendiri, dan harus mengikuti keyakinan dan kebudayaan kita ?

Tentang nabi-nabi yang dibunuh, seperti sudah sering diterangkan pada pengajian sebelumnya, dari sudut pandang Bani Israil, mereka adalah para pengkhianat yang bermaksud merusak ajaran dan masyarakat Yahudi dari dalam. Karena itu mereka di hukum mati menurut hukum Talmud. Hal itu diberlakukan pula terhadap nabi Isa a.s. yang dihukum sebagai penjahat biasa dengan di salib sampai mati di bukit Golgotta pada abad pertama Masehi.
Pada zaman ini saya berpendapat Islam adalah nilai kebenaran tertinggi dan rahmat bagi semesta alam, dan karena itu Islam menjamin kebebasan setiap orang untuk menjalankan keyakinan dan budayanya yang berbeda-beda. Bagaimana mereka diajak masuk Islam ? Bukan dengan ancaman dan kekerasan, melainkan dengan peningkatan kualitas dakwah dan kasih sayang. Kalimat sederhana “Bismillahirrahmanirrahiem” yang disunnahkan dibaca di awal semua tindakan kiranya dapat diimplementasikan dalam sikap mental dan perilaku yang efektif. Bukan hanya slogan kosong seumur hidup.

 Ancaman perang nuklir

Kini segala kebencian dan kekerasan spiritual seperti yang selalu didalilkan para mufassir keduabelah pihak telah menjelma menjadi perang dahsyat antara Israel lawan Arab untuk kesekian kalinya. Peperangan ini sendiri bukan hal baru. Perang sudah menjadi ideology kedua ras-semit ini sejak 3000 th yang silam. Dari awal sejarah mereka sama-sama menyembah Dewa Perang Ba’al El Elyon di Bukit Zion dan di Ka’bah. Agama-agama modern yang dianut kemudian seperti Taurat dan Islam ternyata tidak mengubah sikap mental dan perilaku dasar kedua ras-semit itu. Ketidaksadaran kolektif mereka dan konstitusi jiwa mereka masih terikat erat dengan Dewa Perang dan kegemaran berperang, sejak perang besar mereka yang pertama pada akhir abad ke-11 SM di bukit Gilboa yang menewaskan Raja Israel pertama Saul dan putranya Yonathan, dan awal abad ke-10 SM di Edom dimana Raja Daud membantai suku-suku Arab dengan kejam. Sejak itu maka perang antara kedua ras-semit itu menjadi tradisi, dan sepeninggal Daud dan Sulaiman bangsa Yahudi selalu kalah terhadap bangsa-bangsa Arabia. Baru sekarang inilah Bani Israil mengalami sedikit masa kejayaan dan kemenangan terbatas terhadap bangsa Arabia.

Tetapi kalau kita menyimak secara seksama, maka sesungguhnya Israel dan Amerika Serikat berada dalam kepanikan dan kekhawatiran yang tinggi terhadap kemampuan militer Hezbollah dengan rudal-rudalnya yang ternyata mampu menjangkau hampir semua wilayah Israel. Sejak bubarnya Uni Sovyet di dunia banyak terdapat hulu ledak nuklir  yang tidak terkontrol. Diperkirakan tidak kurang dari 13 000 hulu ledak nuklir yang tidak begitu terkontrol yang tersebar di negara-negara bekas Uni Sovyet yang sebagian diyakini telah menyebar pula ke Timur Tengah. Dan bukan mustahil Hezbollah memilikinya, mengingat dukungan kuat Iran dan Syria kepada organisasi Syi’ah militant ini. Dapat dibayangkan jika kemudian Hezbollah memutuskan menggunakan hulu ledak nuklir pada rudal-rudal yang diluncurkan ke wilayah Israel. Ini akan menjadi pemicu perang dunia ketiga seperti dirancang Albert Pike. Ketakutan inilah yang menjadi motif Israel dengan dukungan AS terus membabi buta ingin membinasakan Hezbollah, tetapi kenyataannya Hezbollah yang diduga juga diperkuat dengan militer Iran dan Syria yang menyamar, tidak mudah ditundukkan. Bahkan pada pertempuran hari Minggu sore 6/7 Hezbollah menunjukkan keunggulannya. Rudal Hezbollah menghantam Kfar Giladi, sebuah daerah pertanian di perbatasan, 9 tentara Israel dan dua orang sipil tewas, sementara 14 orang luka-luka. Sejak perang pecah 12 Juli 2006 inilah hari terburuk  Israel.

Hiruk pikuk perang ini tidak akan membuat kita lupa terhadap tiga aktor yang menjadi pendorong utama perang ini, yaitu Mahmud Ahmad Dinejad (Presiden Iran), Ismail Haniya (PM. Palestina-Hamas) dan Ehud Olmert (PM. Israel-Kadima). Kita sudah mengindikasi ketiganya adalah instrument gerakan “Illuminati-Freemasonry” dalam upaya untuk meletupkan perang dunia ketiga yang akan menjadi jalan bagi terwujudnya “Novus Ordo Seclorum” dan “E Pluribus Unum” yang menjadi platform gerakan neo-qabala itu. Sekian, terima kasih, kita lanjutkan Jum’at depan.

Birrahmatillahi Wabi’aunihi fi Sabilih.
Wassalamu’alaikum War. Wab.
Jakarta, 11 Agustus 2006,
Pengasuh,



KH. AGUS MIFTACH
Ketua Umum Front Persatuan Nasional,









Tidak ada komentar:

Posting Komentar