11.7.17

Pengajian Kedelapanpuluh Tujuh (87),

Pengajian Kedelapanpuluh Tujuh (87),

Oleh : KH. Agus Miftach

Assalamu’alaikum War. Wab.
Bismillahirrahmanirrahiem,

“Sesungguhnya orang-orang Mukmin, orang-orang Yahudi, Nasrani, Shabi’ien, siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari akhir, dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari sisi Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati” ; Al-Baqoroh : 62.

Eklektik pembahasan meliputi aspek-aspek teologis, antropologis, historiografis dan psikologis, secara holistis unt mencapai pendalaman yang komprehensif agar diperoleh hikmah yang setinggi-tingginya dari ayat ini.

Pokok Bahasan.

Dari Ibnu Abu Hatim dan Adani dalam Musnadnya, dari jalur Ibnu Abu Najih, dari Mujahid, Salman r.a. bertanya kepada Rasulullah SAW tentang penganut agama-agama yang pernah mereka anut termasuk dirinya di masa lalu. Salman menceritakan tentang cara beribadahnya dll. Nabi  menjawab :”Mereka di neraka”. Salman merasakan seakan-akan bumi gelap gulita. Setelah itu turunlah ayat ini, maka Salman merasakan seolah-olah dunia menjadi terang-benderang.

Yang dimaksud orang-orang Mukmin ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasulullah SAW pada  masa kerasulan beliau yang berlangsung hingga akhir zaman. Tentang hal ini tidak ada perbedaan. Tetapi mengenai orang-orang Yahudi dan Nasrani terdapat beberapa pandangan para mufassir yang berbeda.

Tafsir Ibnu Katsir dan Tafsir Jalalain berpendapat bahwa yang dimaksud orang-orang Yahudi dan Nasrani adalah orang-orang yang beriman tauhid menurut ajaran Musa dan Isa dan meninggal sebelum masa kerasulan Muhammad SAW, serta yang hidup di masa kerasulan Muhammad SAW dan beriman kepada Allah dan Rasulullah SAW, seperti Salman Al-Farisi dan Abu Dzar Al-Ghiffari.

Ini adalah pendapat yang terbanyak.  Pendapat yang lain ialah, mereka tetap dalam agamanya (Yahudi dan Nasrani) dalam arti benar, yaitu beriman tauhid menurut ajaran Musa dan Isa, dan tidak berubah menjadi Muslim.

Sedangkan kaum Shabi’ien, menurut Ibnu Taimiyah adalah kaum paganis. Arke dari kaum Shabi’ah ini Ibnu Taimiyah menyebut kota Haran (kota Ibrahiem memulai perjalanan ke Kana’an). Di kota itulah peradabaan Shabi’ien memiliki bentuknya yang pertama. Ibnu Taimiyah rahimahullah menyebutnya sebagai patung dalil pertama, patung akal pertama, patung nafsu keseluruhan, patung saturnus, patung jupiter, patung mars, patung matahari, venus, mercury dan bulan. Paganisme menjadi agama mereka sebelum lahirnya agama Nasrani.

Ketika datang agama Nasrani sebagian mereka beriman tauhid mengikuti ajaran Isa a.s., sedangkan sebagian yang lain musyrik (sinkretis). Masjid Jami’ Damaskus dahulunya adalah pusat peribadatan kaum paganis itu dengan kiblat Kutub Utara. Dengan demikian kaum Shabi’ah terdiri dua jenis, yaitu : (1) yang hanif dan bertauhid, dan (2) yang musyrik. Shabi’ah jenis pertama adalah yang dipuji Allah dalam ayat ini, mereka beriman kepada-Nya, hari akhir dan beramal saleh. Baik Ibnu Taimiyah, Tafsir Jalalain maupun Tafsir Ibnu Katsir tidak secara eksplisit mensyaratkan kaum Shabi’ien itu harus masuk Islam untuk mencapai kategori sebagaimana dimaksud ayat ini. Berbeda dengan pandangan mereka terhadap kaum Yahudi dan Nasrani dimana mereka mensyaratkan harus menjadi Muslim, meskipun sebagian kecil ‘ulama’ berpendapat tidak perlu.

Tentang arke (awal mula) peradaban Sabi’ien, saya berpendapat tidak hanya berasal dari kota Haran, itu hanya salah satunya. India dan Tiongkok memuat lebih banyak situs arke kaum Shabi’ien, diantaranya negeri Bharata di kaki Himalaya pada abad ke-31 SM yang menjadi arke salah satu peradaban pagan (Shabi’ien) yang terbesar di dunia, Hindu dan agama pagan terbesar saat ini. Secara keseluruhan Tiongkok dengan falsafah Sam-Kao nya adalah paganis dan setara dengan Hindu merupakan peradaban pagan yang terbesar di dunia dan masih tetap eksist hingga saat ini.

Sumber-sumber peradaban.

Sumber-sumber peradaban dunia dibawah ini membuktikan fitrah dunia yang multikultur, yang tidak memungkinan adanya otoritas monokultur yang bertentangan dengan Sunnatullah :

Pada abad ke 32 SM (th. 3137 SM), inilah masa peradaban Bharata, di zaman inilah lahir Kitab Bhagawat Gita (Nyanyian Tuhan) yang berisi ajaran luhur umat manusia. Kitab Shabi’ah ini telah mengajarkan keluhuran kasih sayang sesama diatas ambisi duniawi, dan lebih tinggi lagi keimanan kepada kebenaran sejati yang disebutnya Atma, yaitu Roh Suci dan Abadi yang memiliki keberadaan yang hakiki diatas kasih sayang manusia dan tata-lahir duniawi ini.

Dalam kitab itu dikisahkan, Arjuna seorang ksatria agung Bharata ketika ditengah medan Bharatayudha berkeluh kepada Sri Kreshna penjelmaan dewata yang menjadi saksi dan pemandu Bharatayudha : “Apakah patut kita menghabiskan nyawa sanak-keluarga (bangsa) sendiri, dan apakah kita dapat menikmati kebahagiaan dengan membinasakan turunan (bangsa) sendiri ? Dengan demikian akan lenyaplah darma (kebajikan), lalu timbul adarma (kekacauan) yang meluas pada sisa keturunan (genarasi selanjutnya) ?”.

Pernyataan humanisme Arjuna itu dijawab oleh Sri Kreshna dengan visi keimanan yang transendent :

“Orang-orang yang arif dan bijaksana tidak akan merasa sedih atas orang-orang yang hidup dan yang mati. Raga (duniawi) kita memang tidak kekal, tetapi Atma (Roh) yang mengisi raga  kita, tidak terikat hidup dan mati, tidak ada awal atau akhir, kekal-abadi dan tak terukur luasnya, meliputi semesta alam. Bagi yang sudah mengetahui hakekat kebenaran tidak ada keterikatan duniawi, maka susah dan senang, ada dan tiada sama saja. Atma tidak dapat dilihat, tidak dapat dipikirkan,  tidak dilahirkan dan tidak mati, meliputi segalanya, tak berubah sifatnya, tegak, kokoh dan kuat selamanya tanpa akhir. Barangsiapa mengenal Dia tidak akan bersedih hati terhadap apapun dan siapapun. Dan barangsiapa menjalankan Sankhya-Yoga (keseimbangan dalam segala hal dan pengendalian diri) akan telepas dari belenggu  nafsu duniawi dan akan menuju ke tempat yang bebas dari segala sengsara”.

Ajaran Shabi’ah yang luhur itu sudah ada sejak abad ke-32 SM dan menjadi salah satu sumber peradaban dunia hingga pada masa sekarang, dengan penganut sekitar 1 milyar manusia. Dapatkah itu terjadi tanpa qadha dan qadar-Nya.?

Pada abad ke-15 SM, pemimpin Bani Israil-Musa a.s. menyatakan dirinya menerima wahyu (Taurat) dari Yahweh El-Syada’i (Tuhan Yang Maha Kuasa) yang menjadi dasar agama Yahudi, yaitu suatu agama yang mengajarkan tentang Tuhan Yang Esa. Tetapi tentang Ke-Esaan Tuhan itu sudah diajarkan pula oleh nabi-nabi sebelumnya, mulai nabi Adam, Nuh dan seterusnya. Hanya wahyu-wahyu yang diturunkan di zaman silam itu belum dibukukan sebagaimana Taurat. Maka dapat dikatakan bahwa agama Yahudi berakar sejak ajaran Adam hingga Musa. Inti ajaran itu ialah tentang ketauhidan, bahwa Tuhan adalah Esa, dan tidak ada tuhan selain Allah atau yang disebut Yahweh. Setelah mereka keluar dari Mesir dalam eksodus yang menjadi inti sejarah religius Bani Israil itu, dan mereka tiba  di gurun Sinai, Allah membuat perjanjian dengan Bani Israil yang intinya agar Bani Israil hanya menyembah Allah sebagai satu-satunya tuhan; mengenal keesaan Tuhan dan menyampaikannya kepada umat manusia. Sebenarnya itulah tugas suci Bani Israil yang menjadikannya Sya’bullah al Mukhtar (bangsa yang terpilih pada zamannya). Dengan demikian, maka akar dari agama samawi (agama Yahudi, Nasrani dan Islam) adalah agama Yahudi. Namun suatu kenyataan bahwa dalam sejarahnya Bani Israil tidak pernah sepenuhnya menyembah Allah Tuhan Yang Esa. Selalu ada pengaruh kemusyrikan-paganisme dalam kehidupan spiritual Bani Israil.

Terdapat kompilasi 4 Kitab Suci Agama Yahudi, yaitu Kitab Taurat, Kitab Nabi-nabi, Surat-surat dan Kitab Talmud. Dalam praktek sehari-hari Kitab Talmud yang dianggap memiliki rentang waktu sejak nabi-nabi sebelum Musa, lebih dominan dan mempengaruhi pelaksanaan semua kitab-kitab lainnya. Kitab Talmud terdiri dua bagian utama, yaitu Halachah yang berisi tentang undang-undang dan peraturan-peraturan, terutama tentang peribadatan, dan Hagadah yang berisi tentang moral dan sejarah  Yahudi serta mitos-mitos yang bernuansa paganis (kemusyrikan).

Terlepas dari segala cacat-celanya, Musa dan Bani Israil yang beriman adalah peletak dasar agama-agama samawi selanjutnya (Nasrani dan Islam) yang kini merupakan agama-agama terbesar di dunia dan menjadi mainstream peradaban dunia selama masa 21 abad terakhir ini.

Pada abad ke-5 SM (551-479 SM) , di kota Qufu, Tiongkok lahir seorang filsuf terbesar, Khonghucu yang bekerja keras untuk mewujudkan perdamaian dan persatuan bangsanya; mengajarkan egaliterianisme melalui pendidikan dengan tradisi Hsueh (pedidikan dan keteladanan). Mainstream ajaran Khonghucu adalah harmonisme makrokosmos dan mikrokosmos yang pada tingkat individual akan melahirkan visi tertinggi yang disebut Te, yaitu kekuatan dan dan kebajikan moral. Khonghucu percaya bahwa Thian (Tuhan) adalah kesatuan harmonis semesta alam. Maka memelihara harmonisme berarti memelihara hubungan dengan Thian. Dalam hal ini Khonghucu memandang penting makna Li (memelihara adat-istiadat) dan Ren (Kebajikan) yang harus menjadi dasar perilaku individu dan sosial.

Khonghucu adalah penemu tradisi China yang mewarnai spirit dan religi China sepanjang masa. Karya besarnya yang diterjemahkan di Barat terkenal dengan judul The Analects, merupakan kumpulan tulisan para muridnya yang mencatat perilaku dan pepatah-pepatah ringkasnya.

Seluruh karya agungnya  terdiri tigabelas karya klasik yang berisi  puisi, filsafat, sejarah, ritual dan ramalan, yang lalu disarikan dan dihimpunkan kedalam lima kitab yang telah dianggap oleh Bangsa China sebagai Kitab Suci China, yaitu Yi Ching (Kitab tentang Peruhahan), Shu Ching (Kitab Sejarah), Shih Ching (Kitab Puisi), Li Chi (Kitab Ritus) dan Ch’un-ch’iu (Kitab tentang Musim Semi dan Musim Gugur). Ajaran dan tradisi Konfusianisme mewarnai kehidupan lebih dari satu milyar umat manusia, menjadi sumber peradaban di daratan China dan negeri-negeri disekitarnya serta ras Tionghoa diseluruh dunia.

Abad ke-4 SM (469-399 SM), di Yunani muncul mahafilsuf Socrates  yang mengajarkan eudaemonia, yaitu jiwa yang baik yang harus dicapai dengan kebajikan dan keutamaan yang disebut arête, yang pada hakekatnya adalah pengetahuan. Maka baik dan jahat berdasarkan pengetahuan, bukan kemauan. Tidak ada orang sengaja berbuat salah, kecuali ia tidak berpengetahuan. Arete adalah alat untuk mencapai  eudaemonia yang bersifat tunggal dan menyeluruh. Maka memiliki eudaemonia (Kebajikan Yang Esa) berarti memiliki segala kebajikan.

Oleh penguasa Athena, Socrates dianggap murtad dan dijatuhi hukuman mati dengan meminum racun pada th. 399 SM dalam usia 70 th. Terdapat dua mazahab utama pemikiran Socrates sepeninggal Sang Filsuf, yang pertama mazhab Kunis dari  Antisthenes yang mengajarkan tentang etika, dimana manusia harus bebas secara mutlak dari anggapan orang banyak dan hukum-hukum mereka. Yang kedua madzhab Kurenis dari Aristippos yang mengajarkan tentang hedone (kenikmatan) dimana orang bijak harus menguasai kenikmatan, bukan dikuasai kenikmatan. Nyala pikiran Socrates terus menerangi akal pikiran manusia, membawa kemajuan peradaban, dan terus hidup selama 2400 th.

Abad ke-1 SM, di kota Betlehem atau Baitul Maqdis di bagian kota Nazareth, lahir seorang bayi dari rahim suci Maryam tanpa proses seksualitas, sebuah mukjizat dari Allah SWT. Dialah Isa Al-Masih a.s. yang dipercaya sebagai Mesias (Juru Selamat). Reformer terhadap ajaran Taurat yang sudah banyak diselewengkan. Tetapi para penguasa dan pendeta Yahudi yang hedonis-materialis tidak mengakuinya. Tanpa kenal takut di bukit Golgota Yesus Al-Masih menyampaikan khotbah akbarnya  yang sekaligus menjadi essensi dasar ajarannya. Yesus a.s. bersabda : “Bahwa kerajaan Allah bukan kerajaan berdasarkan kekerasan, melainkan Kerajaan Kasih, yakni kasih kepada Allah dan kepada sesama manusia”; (Cerita-cerita Al-Kitab Perjanjian Baru, hal.6788). Isa Al-Masih memiliki 13 murid yang disebut Al-Hawariyyun yang selalu setia menyertainya. Namun salah satunya Yudas Iskariot berkhianat.

Yesus dari Nazareth ditangkap oleh konspirasi penguasa Yahudi-Romawi dan disalibkan di bukit Golgota sebagai penggenapan teologi penebusan dosa (berdasarkan keyakinan Nasrani). Tetapi spirit Al-Masih tidak pernah padam. Ritual tri-Paskah membuktikan hakekatnya Yesus tidak pernah mati di tiang salib itu. Allah telah mengangkat tinggi derajatnya, dan ajarannya kini menjadi panutan umat Katholik/Protestan di seluruh dunia yang jumlahnya lebih satu setengah milyar manusia. Terlepas dari kontroversi penyaliban, serta keilahian dan kemanusiaan Yesus, ajaran dan tradisi Nasrani merupakan salah satu mainstream peradaban dunia yang sudah berlangsung selama 2000 th terakhir.

Abad ke-6 (20 April 571/Tahun Fil ke-1), Muhammad dilahirkan di bumi Mekah. Sebuah kelahiran yang menandai terbitnya sebuah zaman baru. Pada usia 25 th Muhammad menikah dengan Siti Khadijah seorang bangsawan Quraisy yang memiliki kedudukan kuat. Inilah scenario Allah Ta’aala yang mempersiapkan kelahiran seorang pemimpin besar umat manusia. Ketika telah dianggap cukup matang, pada waktu usia Muhammad mencapai 40 th Allah menurunkan wahyu yang pertama, saat Muhammad uzlah di gua Hira :”Iqro’ bismi robbikalladzi kholaq (1); Kholaqol-insaana min ‘alaq (2); Iqro’ wa-robbukal-akrom (3); Alladzie allama bil-qolam (4); Allamal-insaana maalam ya’lam (5); “Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang telah menciptakan (1); Yang telah menciptakan manusia dari segumpal darah (2); Bacalah dan Tuhanmu Maha Pemurah (3); Yang telah mengajar manusia dengan perantaraan pena (4); Dia mengajarkan kepada manusia apa yang ia tidak tahu (5); (Al-‘Alaq : 1-5).

Itulah letupan cahaya Tauhid yang terbesar di jazirah Arabia dan di seluruh dunia. Terang benderang menyinari jiwa manusia, membangkitkan spirit perubahan terbesar manusia dari kegelapan kepada cahaya kebenaran,”minadzdzulumati ilan-nuur”. Inilah awal Revolusi Hijrah, Revolusi Tauhid yang terbesar yang merupakan awal pencerahan dunia yang sebenarnya, yang bermula dari kegelapan Arabia lalu memancar terang keseluruh dunia. Inilah langkah awal sublimasi besar umat manusia dari absurditas roh-roh kegelapan kepada Allah Zat Yang Maha Esa; dari mitologi yang fana kepada transcendental yang abadi. Istrinya Khadijah beriman pertama, lalu sepupunya Ali bin Abi Thalib, Arqam bin Abil-Arqam, Abdullah bin Mas’ud, Abu Hurairah, Amr bin  Yasir, Bilal bin Rabah dll.

Rasulullah SAW mengajarkan : “Semua orang dalam kesesatan kecuali menyempurnakan tali (kasih) hubungan dengan Allah dan tali (kasih) hubungan dengan sesama manusia”. Itulah prasyarat untuk mencapai kebahagian hakiki di dunia dan di akhirat. Sebagaimana Isa a.s., Rasulullah SAW juga menghadapi banyak tantangan dari kalangan bangsanya sendiri seperti ramalan pendeta Nasrani Bakhira dan Masthura. Ketika tekanan terhadap Kaum Muslimin semakin menghebat di Mekah, Rasulullah SAW sesuai petunjuk Allah memutuskan untuk Hijrah ke Yatsrib yang kemudian disebut Madinah Al-Munawarah atau Madinatur-Rasul (Kota Rasul). Peristiwa Hijrah menjadi titik tolak kebangkitan Kaum Muslimin.

Setelah itu Allah membukakan jalan kemenangan dan kejayaan yang tak lagi terbendung, dan membawa Islam ke puncak peradaban dunia hingga masa 1500 tahun kemudian. Sebagai salah satu arus utama peradaban dunia, Islam dewasa ini dianut oleh tidak kurang dari satu setengah milyar umat manusia di seluruh dunia, dan merupakan satu-satunya agama Tauhid.

Selamat merayakan Maulid Rasulullah SAW, dan bagi ikhwan umat Nasrani selamat ber-Hari Raya Paskah. Semoga Allah meridhoi., terima kasih.
Birrahmatillahi Wabi’aunihi fi Sabilih, Wassalamu’alaikum War. Wab.

Jakarta, 14 April 2006
Pengasuh,

K.H. AGUS MIFTACH

Ketua Umum Front Persatuan Nasional.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar