Pengajian Kedelapanpuluh Tujuh (87),
Oleh : KH. Agus Miftach
Assalamu’alaikum War. Wab.
Bismillahirrahmanirrahiem,
“Sesungguhnya orang-orang Mukmin, orang-orang
Yahudi, Nasrani, Shabi’ien, siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman
kepada Allah, hari akhir, dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari
sisi Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka
bersedih hati” ; Al-Baqoroh : 62.
Eklektik pembahasan meliputi aspek-aspek
teologis, antropologis, historiografis dan psikologis, secara holistis unt
mencapai pendalaman yang komprehensif agar diperoleh hikmah yang
setinggi-tingginya dari ayat ini.
Pokok Bahasan.
Dari Ibnu Abu Hatim dan Adani dalam
Musnadnya, dari jalur Ibnu Abu Najih, dari Mujahid, Salman r.a. bertanya kepada
Rasulullah SAW tentang penganut agama-agama yang pernah mereka anut termasuk
dirinya di masa lalu. Salman menceritakan tentang cara beribadahnya dll. Nabi menjawab :”Mereka di neraka”. Salman
merasakan seakan-akan bumi gelap gulita. Setelah itu turunlah ayat ini, maka
Salman merasakan seolah-olah dunia menjadi terang-benderang.
Yang dimaksud orang-orang Mukmin ialah
orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasulullah SAW pada masa kerasulan beliau yang berlangsung hingga
akhir zaman. Tentang hal ini tidak ada perbedaan. Tetapi mengenai orang-orang
Yahudi dan Nasrani terdapat beberapa pandangan para mufassir yang berbeda.
Tafsir Ibnu Katsir dan Tafsir Jalalain
berpendapat bahwa yang dimaksud orang-orang Yahudi dan Nasrani adalah
orang-orang yang beriman tauhid menurut ajaran Musa dan Isa dan meninggal
sebelum masa kerasulan Muhammad SAW, serta yang hidup di masa kerasulan
Muhammad SAW dan beriman kepada Allah dan Rasulullah SAW, seperti Salman
Al-Farisi dan Abu Dzar Al-Ghiffari.
Ini adalah pendapat yang terbanyak. Pendapat yang lain ialah, mereka tetap dalam
agamanya (Yahudi dan Nasrani) dalam arti benar, yaitu beriman tauhid menurut
ajaran Musa dan Isa, dan tidak berubah menjadi Muslim.
Sedangkan kaum Shabi’ien, menurut Ibnu
Taimiyah adalah kaum paganis. Arke dari kaum Shabi’ah ini Ibnu Taimiyah
menyebut kota Haran (kota Ibrahiem memulai perjalanan ke Kana’an). Di
kota itulah peradabaan Shabi’ien memiliki bentuknya yang pertama. Ibnu Taimiyah
rahimahullah menyebutnya sebagai patung dalil pertama, patung akal pertama,
patung nafsu keseluruhan, patung saturnus, patung jupiter, patung mars, patung
matahari, venus, mercury dan bulan. Paganisme menjadi agama mereka sebelum lahirnya
agama Nasrani.
Ketika datang agama Nasrani sebagian mereka
beriman tauhid mengikuti ajaran Isa a.s., sedangkan sebagian yang lain musyrik
(sinkretis). Masjid Jami’ Damaskus dahulunya adalah pusat peribadatan kaum
paganis itu dengan kiblat Kutub Utara. Dengan demikian kaum Shabi’ah terdiri
dua jenis, yaitu : (1) yang hanif dan bertauhid, dan (2) yang musyrik. Shabi’ah
jenis pertama adalah yang dipuji Allah dalam ayat ini, mereka beriman
kepada-Nya, hari akhir dan beramal saleh. Baik Ibnu Taimiyah, Tafsir Jalalain
maupun Tafsir Ibnu Katsir tidak secara eksplisit mensyaratkan kaum Shabi’ien
itu harus masuk Islam untuk mencapai kategori sebagaimana dimaksud ayat ini.
Berbeda dengan pandangan mereka terhadap kaum Yahudi dan Nasrani dimana mereka
mensyaratkan harus menjadi Muslim, meskipun sebagian kecil ‘ulama’ berpendapat
tidak perlu.
Tentang arke (awal mula) peradaban Sabi’ien,
saya berpendapat tidak hanya berasal dari kota Haran, itu hanya salah satunya.
India dan Tiongkok memuat lebih banyak situs arke kaum Shabi’ien, diantaranya
negeri Bharata di kaki Himalaya pada abad ke-31 SM yang menjadi arke salah satu
peradaban pagan (Shabi’ien) yang terbesar di dunia, Hindu dan agama
pagan terbesar saat ini. Secara keseluruhan Tiongkok dengan falsafah Sam-Kao
nya adalah paganis dan setara dengan Hindu merupakan peradaban pagan yang
terbesar di dunia dan masih tetap eksist hingga saat ini.
Sumber-sumber peradaban.
Sumber-sumber peradaban dunia dibawah ini
membuktikan fitrah dunia yang multikultur, yang tidak memungkinan adanya
otoritas monokultur yang bertentangan dengan Sunnatullah :
Pada abad ke 32 SM (th. 3137 SM),
inilah masa peradaban Bharata, di zaman inilah lahir Kitab Bhagawat Gita
(Nyanyian Tuhan) yang berisi ajaran luhur umat manusia. Kitab Shabi’ah ini
telah mengajarkan keluhuran kasih sayang sesama diatas ambisi duniawi, dan
lebih tinggi lagi keimanan kepada kebenaran sejati yang disebutnya Atma,
yaitu Roh Suci dan Abadi yang memiliki keberadaan yang hakiki diatas kasih
sayang manusia dan tata-lahir duniawi ini.
Dalam kitab itu dikisahkan, Arjuna seorang
ksatria agung Bharata ketika ditengah medan Bharatayudha berkeluh kepada Sri
Kreshna penjelmaan dewata yang menjadi saksi dan pemandu Bharatayudha : “Apakah
patut kita menghabiskan nyawa sanak-keluarga (bangsa) sendiri, dan apakah kita
dapat menikmati kebahagiaan dengan membinasakan turunan (bangsa) sendiri ?
Dengan demikian akan lenyaplah darma (kebajikan), lalu timbul adarma
(kekacauan) yang meluas pada sisa keturunan (genarasi selanjutnya) ?”.
Pernyataan humanisme Arjuna itu dijawab oleh
Sri Kreshna dengan visi keimanan yang transendent :
“Orang-orang yang arif dan bijaksana tidak
akan merasa sedih atas orang-orang yang hidup dan yang mati. Raga (duniawi)
kita memang tidak kekal, tetapi Atma (Roh) yang mengisi raga kita, tidak terikat hidup dan mati, tidak ada
awal atau akhir, kekal-abadi dan tak terukur luasnya, meliputi semesta alam.
Bagi yang sudah mengetahui hakekat kebenaran tidak ada keterikatan duniawi,
maka susah dan senang, ada dan tiada sama saja. Atma tidak dapat dilihat, tidak
dapat dipikirkan, tidak dilahirkan dan
tidak mati, meliputi segalanya, tak berubah sifatnya, tegak, kokoh dan kuat
selamanya tanpa akhir. Barangsiapa mengenal Dia tidak akan bersedih hati
terhadap apapun dan siapapun. Dan barangsiapa menjalankan Sankhya-Yoga
(keseimbangan dalam segala hal dan pengendalian diri) akan telepas dari
belenggu nafsu duniawi dan akan menuju
ke tempat yang bebas dari segala sengsara”.
Ajaran Shabi’ah yang luhur itu sudah ada
sejak abad ke-32 SM dan menjadi salah satu sumber peradaban dunia hingga pada
masa sekarang, dengan penganut sekitar 1 milyar manusia. Dapatkah itu terjadi
tanpa qadha dan qadar-Nya.?
Pada abad ke-15 SM, pemimpin Bani
Israil-Musa a.s. menyatakan dirinya menerima wahyu (Taurat) dari Yahweh
El-Syada’i (Tuhan Yang Maha Kuasa) yang menjadi dasar agama Yahudi, yaitu suatu
agama yang mengajarkan tentang Tuhan Yang Esa. Tetapi tentang Ke-Esaan Tuhan
itu sudah diajarkan pula oleh nabi-nabi sebelumnya, mulai nabi Adam, Nuh dan
seterusnya. Hanya wahyu-wahyu yang diturunkan di zaman silam itu belum
dibukukan sebagaimana Taurat. Maka dapat dikatakan bahwa agama Yahudi berakar
sejak ajaran Adam hingga Musa. Inti ajaran itu ialah tentang ketauhidan, bahwa
Tuhan adalah Esa, dan tidak ada tuhan selain Allah atau yang disebut Yahweh.
Setelah mereka keluar dari Mesir dalam eksodus yang menjadi inti sejarah
religius Bani Israil itu, dan mereka tiba
di gurun Sinai, Allah membuat perjanjian dengan Bani Israil yang intinya
agar Bani Israil hanya menyembah Allah sebagai satu-satunya tuhan; mengenal
keesaan Tuhan dan menyampaikannya kepada umat manusia. Sebenarnya itulah tugas
suci Bani Israil yang menjadikannya Sya’bullah al Mukhtar (bangsa yang
terpilih pada zamannya). Dengan demikian, maka akar dari agama samawi (agama
Yahudi, Nasrani dan Islam) adalah agama Yahudi. Namun suatu kenyataan bahwa
dalam sejarahnya Bani Israil tidak pernah sepenuhnya menyembah Allah Tuhan Yang
Esa. Selalu ada pengaruh kemusyrikan-paganisme dalam kehidupan spiritual Bani
Israil.
Terdapat kompilasi 4 Kitab Suci Agama Yahudi,
yaitu Kitab Taurat, Kitab Nabi-nabi, Surat-surat dan Kitab Talmud. Dalam
praktek sehari-hari Kitab Talmud yang dianggap memiliki rentang waktu sejak
nabi-nabi sebelum Musa, lebih dominan dan mempengaruhi pelaksanaan semua
kitab-kitab lainnya. Kitab Talmud terdiri dua bagian utama, yaitu Halachah yang
berisi tentang undang-undang dan peraturan-peraturan, terutama tentang
peribadatan, dan Hagadah yang berisi tentang moral dan sejarah Yahudi serta mitos-mitos yang bernuansa
paganis (kemusyrikan).
Terlepas dari segala cacat-celanya, Musa dan
Bani Israil yang beriman adalah peletak dasar agama-agama samawi selanjutnya
(Nasrani dan Islam) yang kini merupakan agama-agama terbesar di dunia dan
menjadi mainstream peradaban dunia selama masa 21 abad terakhir ini.
Pada abad ke-5 SM (551-479 SM) , di
kota Qufu, Tiongkok lahir seorang filsuf terbesar, Khonghucu yang
bekerja keras untuk mewujudkan perdamaian dan persatuan bangsanya; mengajarkan
egaliterianisme melalui pendidikan dengan tradisi Hsueh (pedidikan dan
keteladanan). Mainstream ajaran Khonghucu adalah harmonisme makrokosmos dan
mikrokosmos yang pada tingkat individual akan melahirkan visi tertinggi yang
disebut Te, yaitu kekuatan dan dan kebajikan moral. Khonghucu percaya
bahwa Thian (Tuhan) adalah kesatuan harmonis semesta alam. Maka
memelihara harmonisme berarti memelihara hubungan dengan Thian. Dalam hal ini
Khonghucu memandang penting makna Li (memelihara adat-istiadat) dan Ren
(Kebajikan) yang harus menjadi dasar perilaku individu dan sosial.
Khonghucu adalah penemu tradisi China yang
mewarnai spirit dan religi China sepanjang masa. Karya besarnya yang
diterjemahkan di Barat terkenal dengan judul The Analects, merupakan
kumpulan tulisan para muridnya yang mencatat perilaku dan pepatah-pepatah
ringkasnya.
Seluruh karya agungnya terdiri tigabelas karya klasik yang
berisi puisi, filsafat, sejarah, ritual
dan ramalan, yang lalu disarikan dan dihimpunkan kedalam lima kitab yang telah
dianggap oleh Bangsa China sebagai Kitab Suci China, yaitu Yi Ching
(Kitab tentang Peruhahan), Shu Ching (Kitab Sejarah), Shih Ching
(Kitab Puisi), Li Chi (Kitab Ritus) dan Ch’un-ch’iu (Kitab
tentang Musim Semi dan Musim Gugur). Ajaran dan tradisi Konfusianisme mewarnai
kehidupan lebih dari satu milyar umat manusia, menjadi sumber peradaban di
daratan China dan negeri-negeri disekitarnya serta ras Tionghoa diseluruh dunia.
Abad ke-4 SM (469-399 SM), di
Yunani muncul mahafilsuf Socrates yang mengajarkan eudaemonia, yaitu jiwa
yang baik yang harus dicapai dengan kebajikan dan keutamaan yang disebut arête,
yang pada hakekatnya adalah pengetahuan. Maka baik dan jahat berdasarkan
pengetahuan, bukan kemauan. Tidak ada orang sengaja berbuat salah, kecuali ia
tidak berpengetahuan. Arete adalah alat untuk mencapai eudaemonia yang bersifat tunggal dan
menyeluruh. Maka memiliki eudaemonia (Kebajikan Yang Esa) berarti
memiliki segala kebajikan.
Oleh penguasa Athena, Socrates dianggap
murtad dan dijatuhi hukuman mati dengan meminum racun pada th. 399 SM dalam
usia 70 th. Terdapat dua mazahab utama pemikiran Socrates sepeninggal Sang
Filsuf, yang pertama mazhab Kunis dari
Antisthenes yang mengajarkan tentang etika, dimana manusia
harus bebas secara mutlak dari anggapan orang banyak dan hukum-hukum mereka.
Yang kedua madzhab Kurenis dari Aristippos yang mengajarkan
tentang hedone (kenikmatan) dimana orang bijak harus menguasai
kenikmatan, bukan dikuasai kenikmatan. Nyala pikiran Socrates terus menerangi
akal pikiran manusia, membawa kemajuan peradaban, dan terus hidup selama 2400
th.
Abad ke-1 SM, di kota Betlehem atau
Baitul Maqdis di bagian kota Nazareth, lahir seorang bayi dari rahim suci
Maryam tanpa proses seksualitas, sebuah mukjizat dari Allah SWT. Dialah Isa
Al-Masih a.s. yang dipercaya sebagai Mesias (Juru Selamat). Reformer
terhadap ajaran Taurat yang sudah banyak diselewengkan. Tetapi para penguasa
dan pendeta Yahudi yang hedonis-materialis tidak mengakuinya. Tanpa kenal takut
di bukit Golgota Yesus Al-Masih menyampaikan khotbah akbarnya yang sekaligus menjadi essensi dasar ajarannya.
Yesus a.s. bersabda : “Bahwa kerajaan Allah bukan kerajaan berdasarkan
kekerasan, melainkan Kerajaan Kasih, yakni kasih kepada Allah dan kepada sesama
manusia”; (Cerita-cerita Al-Kitab Perjanjian Baru, hal.6788). Isa Al-Masih
memiliki 13 murid yang disebut Al-Hawariyyun yang selalu setia menyertainya.
Namun salah satunya Yudas Iskariot berkhianat.
Yesus dari Nazareth ditangkap oleh konspirasi
penguasa Yahudi-Romawi dan disalibkan di bukit Golgota sebagai penggenapan
teologi penebusan dosa (berdasarkan keyakinan Nasrani). Tetapi spirit Al-Masih
tidak pernah padam. Ritual tri-Paskah membuktikan hakekatnya Yesus tidak pernah
mati di tiang salib itu. Allah telah mengangkat tinggi derajatnya, dan
ajarannya kini menjadi panutan umat Katholik/Protestan di seluruh dunia yang
jumlahnya lebih satu setengah milyar manusia. Terlepas dari kontroversi
penyaliban, serta keilahian dan kemanusiaan Yesus, ajaran dan tradisi Nasrani
merupakan salah satu mainstream peradaban dunia yang sudah berlangsung selama
2000 th terakhir.
Abad ke-6 (20 April 571/Tahun Fil ke-1),
Muhammad dilahirkan di bumi Mekah. Sebuah kelahiran yang menandai terbitnya
sebuah zaman baru. Pada usia 25 th Muhammad menikah dengan Siti Khadijah
seorang bangsawan Quraisy yang memiliki kedudukan kuat. Inilah scenario Allah
Ta’aala yang mempersiapkan kelahiran seorang pemimpin besar umat manusia.
Ketika telah dianggap cukup matang, pada waktu usia Muhammad mencapai 40 th
Allah menurunkan wahyu yang pertama, saat Muhammad uzlah di gua Hira :”Iqro’
bismi robbikalladzi kholaq (1); Kholaqol-insaana min ‘alaq (2); Iqro’
wa-robbukal-akrom (3); Alladzie allama bil-qolam (4); Allamal-insaana maalam
ya’lam (5); “Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang telah menciptakan (1);
Yang telah menciptakan manusia dari segumpal darah (2); Bacalah dan Tuhanmu Maha
Pemurah (3); Yang telah mengajar manusia dengan perantaraan pena (4); Dia
mengajarkan kepada manusia apa yang ia tidak tahu (5); (Al-‘Alaq : 1-5).
Itulah letupan cahaya Tauhid yang terbesar di
jazirah Arabia dan di seluruh dunia. Terang benderang menyinari jiwa manusia,
membangkitkan spirit perubahan terbesar manusia dari kegelapan kepada cahaya
kebenaran,”minadzdzulumati ilan-nuur”. Inilah awal Revolusi Hijrah,
Revolusi Tauhid yang terbesar yang merupakan awal pencerahan dunia yang
sebenarnya, yang bermula dari kegelapan Arabia lalu memancar terang keseluruh
dunia. Inilah langkah awal sublimasi besar umat manusia dari absurditas roh-roh
kegelapan kepada Allah Zat Yang Maha Esa; dari mitologi yang fana kepada
transcendental yang abadi. Istrinya Khadijah beriman pertama, lalu sepupunya
Ali bin Abi Thalib, Arqam bin Abil-Arqam, Abdullah bin Mas’ud, Abu Hurairah,
Amr bin Yasir, Bilal bin Rabah dll.
Rasulullah SAW mengajarkan : “Semua orang
dalam kesesatan kecuali menyempurnakan tali (kasih) hubungan dengan Allah dan
tali (kasih) hubungan dengan sesama manusia”. Itulah prasyarat untuk
mencapai kebahagian hakiki di dunia dan di akhirat. Sebagaimana Isa a.s.,
Rasulullah SAW juga menghadapi banyak tantangan dari kalangan bangsanya
sendiri seperti ramalan pendeta Nasrani Bakhira dan Masthura. Ketika tekanan
terhadap Kaum Muslimin semakin menghebat di Mekah, Rasulullah SAW sesuai
petunjuk Allah memutuskan untuk Hijrah ke Yatsrib yang kemudian disebut Madinah
Al-Munawarah atau Madinatur-Rasul (Kota Rasul). Peristiwa Hijrah menjadi titik
tolak kebangkitan Kaum Muslimin.
Setelah itu Allah membukakan jalan kemenangan
dan kejayaan yang tak lagi terbendung, dan membawa Islam ke puncak peradaban
dunia hingga masa 1500 tahun kemudian. Sebagai salah satu arus utama peradaban
dunia, Islam dewasa ini dianut oleh tidak kurang dari satu setengah milyar umat
manusia di seluruh dunia, dan merupakan satu-satunya agama Tauhid.
Selamat merayakan Maulid Rasulullah SAW, dan
bagi ikhwan umat Nasrani selamat ber-Hari Raya Paskah. Semoga Allah meridhoi.,
terima kasih.
Birrahmatillahi Wabi’aunihi fi Sabilih,
Wassalamu’alaikum War. Wab.
Jakarta, 14 April 2006
Pengasuh,
K.H. AGUS MIFTACH
Ketua Umum Front Persatuan Nasional.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar