11.7.17

Pengajian Kedelapanpuluh Lima (85)






Pengajian Kedelapanpuluh Lima (85)

Assalamu’alaikum War. Wab,
Bismillahirrahmanirrahiem,







“Dan (ingatlah) ketika Musa memohon air untuk kaumnya, lalu Kami berfirman,”Pukullah batu itu dengan tongkatmu”. Lalu memancarlah darinya duabelas mata air. Sungguh tiap-tiap suku telah mengetahui tempat minumnya (masing-masing). Makan dan minumlah rezeki (yang diberikan) Allah, dan janganlah kamu berkeliaran di muka bumi dengan berbuat kerusakan”; Al-Baqoroh : 60.

Kita akan membahas ayat ini secara eklektik multiperspektif untuk memperoleh pemahaman secara komprehensif dan hikmah yang setinggi-tingginya dari kandungan ayat ini.

Pokok Bahasan.

Secara redaksional ayat ini memiliki topik yang berbeda dengan dua ayat sebelumnya, tetapi secara keseluruhan masih berkaitan dengan sejarah kuno Bani Israil di zaman Musa a.s. sekitar abad ke-15 SM.
Menurut Tafsir Jalalain peristiwa dimaksud ayat ini terjadi ketika rombongan eksodus Bani Israil yang dipimpin Musa itu sangat kehausan di Padang Tih. Ketika itulah Musa berdoa kepada Allah memohon air untuk Bani Israil. Maka Allah berfirman, “Pukulkanlah tongkatmu keatas batu itu”. Musa melaksanakannya, dan terpancarlah dari batu itu 12 mata air, sebanyak jumlah suku Bani Israil, sehingga masing-masing suku mendapatkan satu mata air, tanpa perlu berebut. Lalu Allah berfirman, “Makan (manna dan salwa) dan minumlah rezeki yang baik yang telah diberikan Allah dan janganlah berbuat keonaran di muka bumi dengan melakukan pengrusakan”. Lafadh “mufsidin” memperkuat perbuatan pelaku ‘atsiya’ yang bermakna berbuat keonaran.
Sementara itu tentang jenis batu yang dipukul Musa itu, para mufassir berbeda pendapat. Tetapi pengertian yang terpenting, jika dikehendaki Allah dapat memancarkan air dari batu manapun tanpa perlu dipukul dengan tongkat. Dalam hal ini Allah SWT memberikan pelajaran tentang prinsip sebab-akibat.. Bahwa untuk mendapatkan hasil manusia harus berusaha.

Hierarkhi Qabala

Meskipun telah begitu banyak nikmat dan karunia Allah kepada Bani Israil, namun konstitusi-jiwa Bani Israil yang sudah dipenuhi struktur nilai penyembahan berhala sebagai pengalaman rohani selama 4 abad di Mesir, tidak dapat berubah begitu saja mengikuti struktur nilai Tauhid yang diajarkan Musa a.s. Meskipun telah didukung dengan berbagai mukjizat yang begitu fulgar dan kasat mata untuk memberikan dukungan da’wah Musa a.s. dan untuk memberikan stimulus kejiwaan yang kuat, tetapi kenyataannya konstitusi-jiwa Bani Israil tidak banyak berubah, tetap terikat dengan struktur nilai paganism ancient-Egyptian yang menjadi dasar budaya sinkretisme (kemusyrikan) dikalangan Bani Israil dan membentuk modal-personality paganism yang begitu kokoh-kuat seakan tidak pernah bisa berubah. Hanya sebagian kecil yang benar-benar beriman kepada ajaran Musa a.s.
Bukti kesesatan Bani Israil terlihat jelas dengan terus hidupnya faham Qabala dikalangan mereka yang bercampur-baur dengan Judaism (Taurat dan Talmud) yang menghasilkan hierarkhi-Qabala yang jauh dari pengertian Tauhid yang diajarkan Musa  a.s. Pada Pengajian ke-84 disebutkan adanya Rejim-Shedim berupa makhluk-makhluk supra natural yang berbentuk roh yang semuanya tercipta dari hakekat api. Roh Shedim yang tertinggi adalah Lucifer sang pembawa cahaya. Tetapi Lucifer bukanlah yang tertinggi dalam hierarkhi-Qabala. Lucifer memiliki derajad pada tataran Sefiroth yang bermakna wajah tuhan, yaitu rejim Dewa-dewa seperti Ba’al, Anat, Osiris, Isis, Enlil, Hubal dll yang membawakan nilai-nilai peradaban dari Ein-Sof sang penguasa kegelapan yang abadi, merupakan suatu format tuhan yang tertinggi  sebagai “unity called” yang keberadaannya tidak dapat dimengerti oleh manusia, karena terlalu suci, dan terlalu tinggi. Maka tuhan dalam kegelapan hakiki yang maha tinggi itu lalu memancarkan keistimewaan ketuhanannya dalam jumlah besar ketuhanan kolektif dengan membentuk banyak Dewa-dewa yang disebut Sefiroth. Tugas dari Sefiroth ialah membawakan misi Ein-Sof dari satuan yang tidak dimengerti manusia kepada satuan yang dapat dimengerti manusia. Tetapi ras manusia tertentu menurut faham Qabala memiliki derajad dewata pada tingkatan Sefiroth. Ini membawa Qabalis bukan hanya berhenti pada penyesatan doktrin ketuhanan kolektif, tetapi lebih absurd kepada penyesatan format seksual dimana tuhan merupakan rangkap pria dan wanita, yaitu supernal Bapa dan Bunda yang diistilahkan dengan “Hokmah dan Binah”. Qabala Hokmah yang kreatif dan Binah yang akseptif menghasilkan “creation”. Qabalis modern “Freemasonry” memberi makna creation adalah “the power of evolution” yang menekankan bahwa asal manusia tidak diciptakan melainkan tercipta dengan sendirinya melalui seleksi alam. Maka mereka menamakan hakekat dari evolution itu sebagai The Great Archittec Of The Universe (Arsitek Agung Semesta Alam)/TGAOTU. Tapi sejalan dengan itu terdapat dogma extra-scientific tentang anthropomorphis, dimana tuhan merupakan satu recension Qabalis yang disebut Adam Kadmon merupakan archetypal orang laki-laki. Artinya orang laki-laki terbagi bersama tuhan, kedua-duanya satu percikan ilahi yang tidak diciptakan, dan merupakan satu format organic yang kompleks. Penyamaan Adam yang aneh ini sebagai tuhan telah didukung suatu code qabalis; sejumlah istilah dalam bahasa Ibrani yang menyamakan Adam dengan Jehovah atau Yahweh (the Tetragramaton Yod he vav he). Maka Penafsiran Qabalis : Adam Equaled berarti Adam adalah Tuhan. Dengan affirmation ini dilegitimasi suatu ajaran bahwa manusia dalam perwujudannya yang tertinggi memiliki derajad ketuhanan. Tentu yang dimaksud manusia disini adalah Yahudi dan Masonic, karena diluar ras mereka dikategorikan sebagai sub-human, setengah hewan yang disebut ghoyim. Teosofi menyimpang ini merupakan mitologi paganisme yang memerosotkan Judaism dan idealisme manusia sedemikian parah dan melanggar batas akal sehat. Doktrin ini telah merusak Taurat dan ilmu pengetahuan. (Vide, Buku ke-3, Pengajian ke-50).

Menaklukkan dunia.
Gerakan Qabala dilingkungan Bani Israil terus tumbuh dan berkembang hingga di zaman modern. Spektrum-nya tak sebatas nasionalisme Israel yang dalam perkembangannya justru hanya bersifat kamuflatif. Gerakan Qabalis dalam organisasi Global-Freemasonry dan Illuminati tak lagi membatasi diri pada frame-work Israiliyah yang hanya berpusat di Jerusalem yang cuma secuil itu dan ras Israil yang juga cuma komunitas tradisional yang kecil, melainkan mereka mengembangkan diri sebagai organisasi dunia dan bergerak ditingkat dunia, dengan cita-cita universal seperti Novus Ordo Seclorum dan E Pluribus Unum dengan tokoh-tokoh non-Yahudi yang punya pengaruh besar di dunia, baik yang bergerak secara terbuka maupun tersembunyi. Format modern ini sebenarnya sudah diletakkan dasarnya sejak abad 18 oleh Frederich Agung (pemimpin Freemasonry)  dari Prusia dan Adam Weishaupt (pemimpin Illuminati) dari Bavaria-Jerman serta keluarga multi-milyuner yahudi Rothschild. Dari posisi inilah gerakan Global-Freemasonry-Illuminati mendunia, jauh lebih dahsyat dari sekedar perjuangan mendirikan negara kecil bernama Israel di Palestina itu. Mereka mengecoh dunia.
Agenda-agenda dahsyat mereka, seperti pembentukan ideology-ideology materialisme : komunisme, kapitalisme, humanisme, sekularisme dan liberalisme telah berhasil membentuk mainstream baru di dunia. Gerakan menumbangkan dunia lama itu telah melahirkan Revolusi Perancis th. 1789, Revolusi Sosialisme pada abad 19 dan puncaknya Perang Dunia  I dan II pada awal dan pertengahan abad 20. Kini di awal abad 21 gerakan Qabala Global-Freemasonry-Illuminati tengah merancang Perang Dunia ke III untuk mengakhiri tatanan dunia yang dirasa sudah cukup matang untuk memasuki tatanan baru yang lebih maju yang mereka sebut sebagai Novus Ordo Seclorum (Tata Dunia Baru) dan E Pluribus Unum (Kekuasaan Tunggal). Dalam scenario besar mereka, basis-basis peradaban dunia terutama agama-agama dan identitas nasional bangsa-bangsa harus dihancurkan. Tatanan Dunia Baru akan berbentuk Secular-Humanis, bebas agama. Maka sekarang kita tengah menyaksikan fragmentasi agama-agama, terutama agama-agama samawi dengan cara-cara luar biasa. Zaman teknologi informasi yang mereka kuasai dengan baik telah memungkinkan seorang Dan Brown yang Masonic dengan sebuah novel best-seller-nya “the Da Vinci Code” menghancurkan teologi tradisional Gereja Kristen/Katholik yang berumur 2000 th, dengan membatalkan keilahian Yesus Kristus dan menempatkannya kembali dalam posisinya sebagai Rasul yang agung namun sepenuhnya manusia, berdasarkan ajaran asli yang ditemukan pada Dead Sea Scrolls (1950) di Qumron, Yudea dan Gulungan Koptik (1945) di Nag Hammadi, Mesir.  Setelah itu kita menyaksikan aksi karikatur Nabi Muhammad SAW di Koran Denmark Jyllands Posten yang lalu meluas keseluruh Eropa, Amerika dan dunia yang berhasil mempertajam suasana konflik Barat vs Islam yang bernuansa perang peradaban seperti dirancang tokoh Freemasonry-Illuminati Albert Pike (1871) dan prediksi akademik Samuel P Huntington (1993).
Dalam Sambutan Buku ke-5, Prof. Dawam Rahardjo menyebut-nyebut adanya pihak yang menganggap Muhammad SAW dan Ali r.a. sebagai tuhan dalam konotasi yang tidak disetujuinya, tanpa menyebut secara eksplisit pihak yang dimaksud. Semula saya menduga itu adalah kalangan Shi’ah, tetapi seorang penganut Shi’ah sdr. Ali Assegaf  telah menghubungi saya untuk menyanggah dan menolak dengan keras dan tegas anggapan itu. Dia menegaskan spirit Shi’ah adalah Revolusi Karbala, sedangkan prinsip Imamat merupakan struktur teokrasi tauhidiyah yang berpegang pada “Lailaha illallah Muhammadarrasulullah”, dibawahnya adalah Imam Ali, kemudian Imam Hasan, Imam Husein dan seterusnya dalam rangkaian 12 Imam Shi’ah yang diakhiri dengan Muhammad Al-Mahdi atau Imam Mahdi yang ghoib dan dinanti kehadirannya kembali sebagai pemimpin akhir zaman. Setidaknya menurut keyakinan Shi’ah. Kita menghormati keyakinan-keyakinan religius seperti itu dan mengakui otoritas spiritual para pemeluknya dalam menjalankan keyakinan masing-masing, sesuai dengan azas pluralitas dan multikultur (Al-Kafiruun : 6).  Perpecahan yang tampak di blow-up akhir-akhir ini antara Shi’ah dan Sunni setelah insiden Syamara adalah rekayasa Barat untuk memperlemah posisi Kaum Muslimin di Teluk Parsi. Konsistensi dukungan Iran terhadap kemenangan Hamas di Palestina yang Sunni membuktikan secara substansial tidak ada perpecahan antara Shi’ah dengan Sunni.
Selain Palestina, komunitas strategis pada garda terdepan menghadapi Barat saat ini adalah Kaum Shi’ah Iran dan Irak yang kini merupakan komunitas strategis Islam yang terkuat di dunia.

Tumbangnya rejim diktatorial Partai Baath (Sunni) pimpinan Saddam Husein oleh invasi Amerika Serikat, telah memungkinkan bersatunya kaum Shi’ah Iran dan Irak. Dan demokratisasi Irak yang disponsori Amerika Serikat menimbulkan kerumitan tersendiri bagi AS, ketika yang memenangkan pemilu bebas pertama di Irak ternyata adalah partai politik Kaum Shi’ah. Tidak mustahil kekuasaan kaum Shi’ah dikedua negeri Teluk Parsi itu akan menyatukan kedua negara seperti di zaman Parsi Raya dimana Imam Ali berkedudukan di Kaufah, ibukota Parsi waktu itu. Bukan mustahil tradisi-tradisi Islam yang mengacu kepada tradisi-tradisi Arab Saudi yang berasal dari zaman pra Islam akan di revisi atau bahkan dihapuskan, dalam rangka reformasi Islam. Dunia tengah bergerak kearah perubahan-perubahan besar peradaban yang tak terbayangkan sebelumnya. Kita lanjutkan pada pengajian mendatang. Sekian, terima kasih.

Birrahmatillahi Wabi’aunihi fi Sabilih,
Wassalamu’alaikum War. Wab.
Jakarta,  31 Maret 2006,
Pengasuh,



HAJI AGUS MIFTACH
Ketua Umum Front Persatuan Nasional.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar