Pengajian
Kedelapanpuluh Lima
(85)
Assalamu’alaikum
War. Wab,
Bismillahirrahmanirrahiem,
“Dan (ingatlah) ketika Musa
memohon air untuk kaumnya, lalu Kami berfirman,”Pukullah batu itu dengan
tongkatmu”. Lalu memancarlah darinya duabelas mata air. Sungguh tiap-tiap suku
telah mengetahui tempat minumnya (masing-masing). Makan dan minumlah rezeki
(yang diberikan) Allah, dan janganlah kamu berkeliaran di muka bumi dengan
berbuat kerusakan”; Al-Baqoroh : 60.
Kita
akan membahas ayat ini secara eklektik multiperspektif untuk memperoleh
pemahaman secara komprehensif dan hikmah yang setinggi-tingginya dari kandungan
ayat ini.
Pokok
Bahasan.
Secara
redaksional ayat ini memiliki topik yang berbeda dengan dua ayat sebelumnya,
tetapi secara keseluruhan masih berkaitan dengan sejarah kuno Bani Israil di
zaman Musa a.s. sekitar abad ke-15 SM.
Menurut
Tafsir Jalalain peristiwa dimaksud ayat ini terjadi ketika rombongan eksodus
Bani Israil yang dipimpin Musa itu sangat kehausan di Padang Tih. Ketika itulah
Musa berdoa kepada Allah memohon air untuk Bani Israil. Maka Allah berfirman,
“Pukulkanlah tongkatmu keatas batu itu”. Musa melaksanakannya, dan terpancarlah
dari batu itu 12 mata air, sebanyak jumlah suku Bani Israil, sehingga
masing-masing suku mendapatkan satu mata air, tanpa perlu berebut. Lalu Allah
berfirman, “Makan (manna dan salwa) dan minumlah rezeki yang baik yang telah
diberikan Allah dan janganlah berbuat keonaran di muka bumi dengan melakukan
pengrusakan”. Lafadh “mufsidin” memperkuat perbuatan pelaku ‘atsiya’ yang
bermakna berbuat keonaran.
Sementara
itu tentang jenis batu yang dipukul Musa itu, para mufassir berbeda pendapat.
Tetapi pengertian yang terpenting, jika dikehendaki Allah dapat memancarkan air
dari batu manapun tanpa perlu dipukul dengan tongkat. Dalam hal ini Allah SWT
memberikan pelajaran tentang prinsip sebab-akibat.. Bahwa untuk mendapatkan
hasil manusia harus berusaha.
Hierarkhi
Qabala
Meskipun
telah begitu banyak nikmat dan karunia Allah kepada Bani Israil, namun
konstitusi-jiwa Bani Israil yang sudah dipenuhi struktur nilai penyembahan
berhala sebagai pengalaman rohani selama 4 abad di Mesir, tidak dapat berubah
begitu saja mengikuti struktur nilai Tauhid yang diajarkan Musa a.s. Meskipun
telah didukung dengan berbagai mukjizat yang begitu fulgar dan kasat mata untuk
memberikan dukungan da’wah Musa a.s. dan untuk memberikan stimulus kejiwaan
yang kuat, tetapi kenyataannya konstitusi-jiwa Bani Israil tidak banyak
berubah, tetap terikat dengan struktur nilai paganism ancient-Egyptian yang menjadi dasar budaya sinkretisme
(kemusyrikan) dikalangan Bani Israil dan membentuk modal-personality paganism yang begitu kokoh-kuat seakan tidak
pernah bisa berubah. Hanya sebagian kecil yang benar-benar beriman kepada
ajaran Musa a.s.
Bukti
kesesatan Bani Israil terlihat jelas dengan terus hidupnya faham Qabala
dikalangan mereka yang bercampur-baur dengan Judaism (Taurat dan Talmud) yang
menghasilkan hierarkhi-Qabala yang jauh dari pengertian Tauhid yang diajarkan
Musa a.s. Pada Pengajian ke-84 disebutkan
adanya Rejim-Shedim berupa
makhluk-makhluk supra natural yang berbentuk roh yang semuanya tercipta dari
hakekat api. Roh Shedim yang tertinggi adalah Lucifer sang pembawa cahaya. Tetapi Lucifer bukanlah yang tertinggi
dalam hierarkhi-Qabala. Lucifer memiliki derajad pada tataran Sefiroth yang bermakna wajah tuhan, yaitu rejim Dewa-dewa seperti Ba’al,
Anat, Osiris, Isis, Enlil, Hubal dll yang membawakan nilai-nilai peradaban dari
Ein-Sof sang penguasa kegelapan yang
abadi, merupakan suatu format tuhan yang tertinggi sebagai “unity
called” yang keberadaannya tidak dapat dimengerti oleh manusia, karena
terlalu suci, dan terlalu tinggi. Maka tuhan dalam kegelapan hakiki yang maha
tinggi itu lalu memancarkan keistimewaan ketuhanannya dalam jumlah besar
ketuhanan kolektif dengan membentuk banyak Dewa-dewa yang disebut Sefiroth. Tugas dari Sefiroth ialah
membawakan misi Ein-Sof dari satuan yang tidak dimengerti manusia kepada satuan
yang dapat dimengerti manusia. Tetapi ras manusia tertentu menurut faham Qabala
memiliki derajad dewata pada tingkatan Sefiroth. Ini membawa Qabalis bukan
hanya berhenti pada penyesatan doktrin ketuhanan kolektif, tetapi lebih absurd
kepada penyesatan format seksual dimana tuhan merupakan rangkap pria dan
wanita, yaitu supernal Bapa dan Bunda yang diistilahkan dengan “Hokmah dan Binah”. Qabala Hokmah yang
kreatif dan Binah yang akseptif menghasilkan “creation”. Qabalis modern “Freemasonry” memberi makna creation
adalah “the power of evolution” yang
menekankan bahwa asal manusia tidak diciptakan melainkan tercipta dengan
sendirinya melalui seleksi alam. Maka mereka menamakan hakekat dari evolution
itu sebagai The Great Archittec Of The
Universe (Arsitek Agung Semesta Alam)/TGAOTU. Tapi sejalan dengan itu
terdapat dogma extra-scientific tentang anthropomorphis, dimana tuhan merupakan
satu recension Qabalis yang disebut Adam
Kadmon merupakan archetypal orang laki-laki. Artinya orang laki-laki
terbagi bersama tuhan, kedua-duanya satu percikan ilahi yang tidak diciptakan,
dan merupakan satu format organic yang kompleks. Penyamaan Adam yang aneh ini
sebagai tuhan telah didukung suatu code qabalis; sejumlah istilah dalam bahasa
Ibrani yang menyamakan Adam dengan Jehovah atau Yahweh (the Tetragramaton
Yod he vav he). Maka Penafsiran Qabalis : Adam Equaled berarti Adam
adalah Tuhan. Dengan affirmation ini dilegitimasi suatu ajaran bahwa
manusia dalam perwujudannya yang tertinggi memiliki derajad ketuhanan. Tentu
yang dimaksud manusia disini adalah Yahudi dan Masonic, karena diluar ras
mereka dikategorikan sebagai sub-human, setengah hewan yang disebut ghoyim. Teosofi menyimpang ini merupakan
mitologi paganisme yang memerosotkan Judaism dan idealisme manusia sedemikian
parah dan melanggar batas akal sehat. Doktrin ini telah merusak Taurat dan ilmu
pengetahuan. (Vide, Buku ke-3, Pengajian ke-50).
Menaklukkan
dunia.
Gerakan
Qabala dilingkungan Bani Israil terus tumbuh dan berkembang hingga di zaman
modern. Spektrum-nya tak sebatas nasionalisme Israel yang dalam perkembangannya
justru hanya bersifat kamuflatif. Gerakan Qabalis dalam organisasi
Global-Freemasonry dan Illuminati tak lagi membatasi diri pada frame-work
Israiliyah yang hanya berpusat di Jerusalem yang cuma secuil itu dan ras Israil
yang juga cuma komunitas tradisional yang kecil, melainkan mereka mengembangkan
diri sebagai organisasi dunia dan bergerak ditingkat dunia, dengan cita-cita
universal seperti Novus Ordo Seclorum dan
E Pluribus Unum dengan tokoh-tokoh non-Yahudi yang punya pengaruh besar di
dunia, baik yang bergerak secara terbuka maupun tersembunyi. Format modern ini
sebenarnya sudah diletakkan dasarnya sejak abad 18 oleh Frederich Agung (pemimpin Freemasonry) dari Prusia dan Adam Weishaupt (pemimpin Illuminati) dari Bavaria-Jerman serta
keluarga multi-milyuner yahudi Rothschild.
Dari posisi inilah gerakan Global-Freemasonry-Illuminati mendunia, jauh
lebih dahsyat dari sekedar perjuangan mendirikan negara kecil bernama Israel di
Palestina itu. Mereka mengecoh dunia.
Agenda-agenda
dahsyat mereka, seperti pembentukan ideology-ideology materialisme : komunisme,
kapitalisme, humanisme, sekularisme dan liberalisme telah berhasil membentuk
mainstream baru di dunia. Gerakan menumbangkan dunia lama itu telah melahirkan Revolusi Perancis th. 1789, Revolusi
Sosialisme pada abad 19 dan puncaknya
Perang Dunia I dan II pada awal dan
pertengahan abad 20. Kini di awal abad 21 gerakan Qabala
Global-Freemasonry-Illuminati tengah merancang Perang Dunia ke III untuk
mengakhiri tatanan dunia yang dirasa sudah cukup matang untuk memasuki tatanan
baru yang lebih maju yang mereka sebut sebagai Novus Ordo Seclorum (Tata Dunia Baru) dan E Pluribus Unum (Kekuasaan Tunggal). Dalam scenario besar mereka,
basis-basis peradaban dunia terutama agama-agama dan identitas nasional
bangsa-bangsa harus dihancurkan. Tatanan Dunia Baru akan berbentuk Secular-Humanis, bebas agama. Maka
sekarang kita tengah menyaksikan fragmentasi agama-agama, terutama agama-agama
samawi dengan cara-cara luar biasa. Zaman teknologi informasi yang mereka
kuasai dengan baik telah memungkinkan seorang Dan Brown yang Masonic dengan
sebuah novel best-seller-nya “the Da
Vinci Code” menghancurkan teologi tradisional Gereja Kristen/Katholik yang
berumur 2000 th, dengan membatalkan
keilahian Yesus Kristus dan menempatkannya kembali dalam posisinya sebagai
Rasul yang agung namun sepenuhnya manusia, berdasarkan ajaran asli yang
ditemukan pada Dead Sea Scrolls
(1950) di Qumron, Yudea dan Gulungan
Koptik (1945) di Nag Hammadi, Mesir. Setelah itu kita menyaksikan aksi karikatur
Nabi Muhammad SAW di Koran Denmark Jyllands
Posten yang lalu meluas keseluruh Eropa, Amerika dan dunia yang berhasil
mempertajam suasana konflik Barat vs Islam yang bernuansa perang peradaban
seperti dirancang tokoh Freemasonry-Illuminati Albert Pike (1871) dan prediksi akademik Samuel P Huntington (1993).
Dalam
Sambutan Buku ke-5, Prof. Dawam Rahardjo menyebut-nyebut adanya pihak yang
menganggap Muhammad SAW dan Ali r.a. sebagai tuhan dalam konotasi yang tidak
disetujuinya, tanpa menyebut secara eksplisit pihak yang dimaksud. Semula saya
menduga itu adalah kalangan Shi’ah, tetapi seorang penganut Shi’ah sdr. Ali
Assegaf telah menghubungi saya untuk
menyanggah dan menolak dengan keras dan tegas anggapan itu. Dia menegaskan
spirit Shi’ah adalah Revolusi Karbala, sedangkan prinsip Imamat merupakan
struktur teokrasi tauhidiyah yang berpegang pada “Lailaha illallah
Muhammadarrasulullah”, dibawahnya adalah Imam Ali, kemudian Imam Hasan, Imam
Husein dan seterusnya dalam rangkaian 12 Imam Shi’ah yang diakhiri dengan
Muhammad Al-Mahdi atau Imam Mahdi yang ghoib dan dinanti kehadirannya kembali
sebagai pemimpin akhir zaman. Setidaknya menurut keyakinan Shi’ah. Kita
menghormati keyakinan-keyakinan religius seperti itu dan mengakui otoritas
spiritual para pemeluknya dalam menjalankan keyakinan masing-masing, sesuai
dengan azas pluralitas dan multikultur (Al-Kafiruun : 6). Perpecahan yang tampak di blow-up akhir-akhir
ini antara Shi’ah dan Sunni setelah insiden Syamara adalah rekayasa Barat untuk
memperlemah posisi Kaum Muslimin di Teluk Parsi. Konsistensi dukungan Iran
terhadap kemenangan Hamas di Palestina yang Sunni membuktikan secara
substansial tidak ada perpecahan antara Shi’ah dengan Sunni.
Selain
Palestina, komunitas strategis pada garda terdepan menghadapi Barat saat ini adalah
Kaum Shi’ah Iran dan Irak yang kini merupakan komunitas strategis Islam yang
terkuat di dunia.
Tumbangnya
rejim diktatorial Partai Baath (Sunni) pimpinan Saddam Husein oleh invasi
Amerika Serikat, telah memungkinkan bersatunya kaum Shi’ah Iran dan Irak. Dan demokratisasi
Irak yang disponsori Amerika Serikat menimbulkan kerumitan tersendiri bagi AS,
ketika yang memenangkan pemilu bebas pertama di Irak ternyata adalah partai
politik Kaum Shi’ah. Tidak mustahil kekuasaan kaum Shi’ah dikedua negeri Teluk Parsi
itu akan menyatukan kedua negara seperti di zaman Parsi Raya dimana Imam Ali
berkedudukan di Kaufah, ibukota Parsi
waktu itu. Bukan mustahil tradisi-tradisi Islam yang mengacu kepada
tradisi-tradisi Arab Saudi yang berasal dari zaman pra Islam akan di revisi atau
bahkan dihapuskan, dalam rangka reformasi Islam. Dunia tengah bergerak kearah
perubahan-perubahan besar peradaban yang tak terbayangkan sebelumnya. Kita
lanjutkan pada pengajian mendatang. Sekian, terima kasih.
Birrahmatillahi
Wabi’aunihi fi Sabilih,
Wassalamu’alaikum
War. Wab.
Pengasuh,
HAJI
AGUS MIFTACH
Ketua
Umum Front Persatuan Nasional.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar