Pengajian Keseratus Tiga (103),
Assalamu’alaikum
War. Wab.
Bismillahirrahmanirrahiem,
“Alangkah buruknya
(perbuatan) mereka yang menjual dirinya sendiri dengan kekafiran kepada apa
yang telah diturunkan Allah, karena dengki bahwa Allah menurunkan karunia-Nya
kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya. Karena itu mereka
mendapat murka sesudah (mendapat) kemurkaan. Dan untuk orang-orang kafir azab
yang menghinakan ini”: Al-Baqoroh : 90.
Seperti
biasa kita akan melakukan pendekatan eklektik untuk pembahasan ayat ini, dengan
multiperspektif secara holistis, baik dari persepektif teologis, antropologis,
historiografis maupun psikologis dll. Dengan demikian kita berharap akan dapat
mencapai pemahaman yang komprehensif dan hikmah yang stinggi-tingginya dari
kandungan ayat ini.
Pokok
Bahasan
Dari
redaksinya, ayat ini berkaitan dengan Bani Israil Madinah di zaman Rasulullah
SAW dimana mereka menolak beriman kepada Rasulullah SAW karena tidak dapat
menerima adanya kerasulan di luar Bani Israil. Kondisi psikologis yang chauvinist ini disebut oleh para
mufassirin sebagai sikap dengki dan iri-hati yang timbul dari sifat sombong.
Perhatikan Al-Mu’min : 60 :”Sesunggunya
orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka jahanam
dalam keadaan hina dina”.
Kalimat
“alaa ghodzobin” pada ayat diatas
menggambarkan beberapa kemurkaan Allah sekaligus terhadap Bani Israil Madinah.
Menurut Jalalain,’Allah memurkai mereka karena telah mengabaikan Taurat, dan
Allah memurkai mereka lagi karena kafir terhadap rasul yang diutus kepada
mereka (Nabi Isa a.s.); dan memurkai mereka lagi karena kafir terhadap
Rasulullah SAW. Mereka diancam azab kehinaan di dunia dan akhirat. Ibnu Abbas
r.a. berpendapat kalimat,’alaa ghodzobin’
bermakna kemurkaan diatas kemurkaan.
Narasi
ayat ini penuh dengan nuansa kemarahan dan kebencian serta cenderung tidak
mengakui kebebasan Bani Israil untuk menentukan keyakinan spriritual-nya. Baik
Ibnu Katsir maupun Jalalain sama-sama mensasarkan kalimat “wa lil-kaafiriena ‘adzaabun(m)-muhien(un)” kepada Bani Israil,
artinya mereka harus beriman kepada Rasulullah SAW, jika tidak, maka mereka
masuk kategori golongan kafir yang akan mendapatkan adzab yang menghinakan. Penafsiran yang berisi
kekerasan-kekerasan spiritual semacam ini menjadi sumber konflik ideologis yang
abadi di antara Muslim-Arab vs Yahudi. Dan bahkan menimbulkan pengaruh yang
bias bagi Muslimin di seluruh dunia.
Perang
Israel-Palestina/Arab
Pada
akarnya, perang Israel
vs Palestina/Arab adalah perang sekuler, tetapi konflik itu sama-sama
ditafsirkan oleh Muslim dan Yahudi secara agamis (vide, The Battle of God,
Karen Armstrong, 2000). Dengan narasi-narasi mufassir seperti diatas, maka
konflik itu menjadi bersifat ideologis dan sangat membahayakan. Ini merupakan
bentuk pencampuradukkan mitos dan logos yang jika digabungkan akan menimbulkan
keadaan-keadaan yang sangat berbahaya seperti kerusuhan dan perang yang
terus-menerus terjadi antara Israel-Arab. Mitos menyangkut hal-hal mutlak yang
diyakini oleh suatu komunitas dan berakar pada kondisi batin mereka. Mitos
tidak memerlukan bukti-bukti empirik untuk menyatakan kebenarannya, namun
didasarkan pada bentuk-bentuk keyakinan dan ritualitas yang mendukungnya. Baik
Yahudi maupun Muslim memiliki system mitologi masing-masing yang tidak bisa
dikompromikan. Narasi ayat diatas adalah salah satu contoh. Mitos selalu
berpijak pada masa lalu, kepada dasar-dasar fundamental yang bersifat salafi
dan metafisis. Sementara logos yang didominasi akal pikiran bersifat kongkret,
kedepan kepada nilai-nilai baru yang bersifat materiil. Keduanya memiliki
fungsinya masing-masing dalam kehidupan dan peradaban manusia. Tidak dapat
dicampuradukkan yang justru dapat menghilangkan nilai keduanya. Sebagai contoh
adalah “Inkuisisi Spanyol” yang dicanangkan pasangan Raja Ferdinand dari Aragon dan Ratu
Isabela dari Castile ,
dua kerajaan Iberia
kuno yang disatukan kedua penguasa Katholik itu melalui pernikahan. Inkuisisi Spanyol melancarkan pemaksaan
Kristenisasi terhadap Yahudi dan Muslim pada akhir abad 15 setelah jatuhnya
Granada dari kekuasaan Muslim, yang justru memicu de-kristenisasi dan
sekularisasi secara luas di benua Eropa. Dengan kata lain system mitologi suatu
entitas tidak dapat dipaksakan pada entitas yang lain. Pada awal abad 16 lahir
gerakan Protestanisme dibawah pimpinan rahib Martin Luther dari Jerman sebagai bentuk penolakan terhadap
determinasi Katholik yang dimulai dari Inkuisisi Spanyol yang brutal.
Tidak
bisa lain, penyelesaian Perang Palestina-Israel harus ditempatkan pada kerangka
sekuler, berpijak pada Resolusi PBB No. 181/1947 dimana harus berdiri dua
negara Palestina dan Israel
di bumi Palestina. Tidak bisa didasarkan pada kitab suci masing-masing yang
justru akan memperluas perang ini menjadi perang agama, perang peradaban dan
akhirnya perang dunia seperti yang diinginkan gerakan Freemasonry dan
diramalkan oleh Samuel Huntington. Derasnya desakan gencatan senjata dari
negara-negara Barat dan negara-negara Islam, memperkuat keyakinan bahwa perang
itu dan perluasannya tidak diperlukan. Artinya harus segera ditempuh
penyelesaian sekuler.
Islam
dan Khonghucu.
Dalam
“Clash of Civilization”, Samuel P
Huntington, diungkapkan potensi kerjasama Islam-Pan Slavik dan Khonghucu
sebagai antipool peradaban Barat. Dalam sessi perang Palestina-Israel sekarang
ini kita menyaksikan berperannya rudal-rudal Kasutya buatan Russia (Slavik) yang diluncurkan secara massif
oleh para pejuang Hezbollah melawan serangan artileri modern Israel yang
lebih unggul. Dibelakang ini masih ada China dan Korea Utara yang akan
menyusul dukungan kepada Hezbollah. Sementara AS sebagai pemimpin peradaban Barat secara tradisional
berdiri dipihak Israel .
Ini membuktikan kebenaran hipotesa Huntington .
Sementara
itu Intelijen militer AS memiliki keyakinan bahwa militer Syria dan Iran terlibat dalam pasukan
Hezbollah. Ini merupakan indikator perluasan perang yang disadari semua pihak
harus dihindari, karena dampaknya yang tidak terukur pada perkembangan kedepan.
Minggu
30 Juli 2006, pesawat Israel
mengebom kota
Qana yang menewaskan sedikitnya 54 penduduk sipil, 37 diantaranya anak-anak.
Kekejaman ini menggambarkan immoralitas Israel yang bertentangan dengan
rasa kemanusiaan peradaban dunia modern. Dengan korban Qana ini, maka
sedikitnya serangan Israel sejak 12 Juli 2006 ke Lebanon telah mengakibatkan
750 korban tewas dan lebih 2000 orang terluka. Akibat serangan Qana, PM Lebanon
Fuad Saniora membatalkan pertemuan
dengan Menlu AS Condolezza Rice, dan
menegaskan hanya memiliki satu opsi, yaitu gencatan senjata tanpa syarat.
Pembantaian
Qana ini menempatkan PM Ehud Olmert sebagai tukang jagal yang setara dengan PM
Ariel Sharon yang membiarkan pembantaian warga sipil yang berlindung di Sabra
dan Shatila pada th. 1982.
Kita
lanjutkan pengajian berikutnya. Sekian, terima kasih.
Birrahmatillahi
Wabi’aunihi fi Sabilih,
Wassalamu’alaikum
War. Wab.
Pengasuh,
KH.
AGUS MIFTACH
Ketua
Umum Front Persatuan Nasional
Tidak ada komentar:
Posting Komentar