7.7.17

Pengajian Keempatpuluh Tiga.-TWU

PENGURUS PUSAT

PENGAJIAN TAUHID WAHDATUL UMMAH
Manggala Wanabakti Bldg, Wok IV It. 6 No. 609 A
Jin. Jend. Gatot Subroto Jakarta .10270, Telp/Fax : (021) 5701151


Pengajian Keempatpuluh Tiga.


Assalamualaikum War.  Wab.

“Shummum-bukmum-umyum, fahum Iaa yarji'uun" : "Mereka tuli, bisu dan buta, maka tidaklah mereka kembali (kejalan yang benar); (AI-Baqoroh : 18)".

Ini merupakan ayat ke-11 dari 13 ayatul-munafieqin (QS 2 : 9-20).
Kita akan membahasnya secara eklektik dari berbagai perspektif secara komprehensif dan holistis agar dicapai hikmah pemaharnan yang utuh dan mencerahkan.

Tafsir Jalalain


“Mereka tuli (terhadap kebenaran, maksudnya tidak mau menerima kebenaran yang didengarnya), bisu (terhadap kebaikan hingga tidak mampu mengucapkannya), buta (terhadap jalan kebenaran dan petunjuk Allah sehingga tidak dapat melihatnya), maka mereka tidak akan kembali dari kesesatan)” ; ( Al Baqoroh: 18).

Ayat ini rnenggambarkan orang-orang munafik itu tidak hanya seperti orang­-orang yang kehilangan cahaya sebagaimana digambarkan pada AI-Baqoroh 17, tetapi juga seperti orang-orang yang kehilangan beberapa Indra pokok, seperti tidak dapat mendengar, bicara dan melihat yang tentunya akan membawanya kepada kebinasaan. Mereka dikatakan tuli karena tidak mendengarkan nasihat dan petunjuk Rasulullah, bahkan meskipun mendengar mereka tidak faham. Dikatakan seperti bisu, karena mereka tidak mau menanyakan kepada Rasulullah hal-hal yang kabur bagi mereka; tidak berkernauan meminta penjelasan dan petunjuk, sehingga mereka kehilangan kesempatan untuk mengambil manfaat dari segala pelajaran dan ilmu pengetahuan yang dikemukakan Rasulullah. Dikatakan buta, karena mereka kehilangan manfaat pengamatan dan manfaat pelajaran Rasulullah. Mereka tidak dapat mengambil makna pelajaran dari segala kejadian yang mereka alami dan dari pengalaman bangsa-bangsa lain. Mereka tidak dapat kembali kejalan yang benar karena sifat~sifat autistis tersebut dan mereka tetap membeku ditempatnya, ditengah perubahan besar peradaban yang tengah terjadi..

Asbabun~nuzul

Asbabun-nuzul ayat tersebut diatas masih berkait dengan asbabun~nuzuI Al-­Baqoroh 14, yaitu perilaku Abdullah bin Ubay dkk yang melecehkan para sahabat terkemuka seperti Abu Bakar, Umar dan Ali r.anhum. Peristiwa itu memang menjadi asbabun-nuzul terpenting ke-13 ayatul-munafieqin.

Untuk melengkapi pengetahuan kita, mari kita ungkap siapa sebenamya Abdullah bin Ubay pemimpin kaum munafikin yang paling terkenal pada masa awal kebangkitan Islam di Madinah AI-Munawwarah, dan yang sehari-harinya tidak jauh dari lingkaran Rasulullah SAW.
Sebelum Hijrah di Madinah yang waktu itu masih bemama Yatsrib terdapat dua suku besar yaitu suku-suku Aus dan Khazraj yang dekat dengan kalangan Yahudi. Ketika terjadi peristiwa Hijrah mereka mengaku beriman kepada Allah dan Rasululullah, tetapi sesungguhnya mereka berdusta, mereka tidak beriman. Pengakuan beriman itu untuk mengelabuhi dan mempermainkan Kaum Muslimin. Pada mulanya sikap mereka ini tersembunyi, tetapi setelah Perang Badar yang terjadi pada tahun kedua Hijrah yang membawa kemenangan menentukan bagi Kaum Muslimin, sikap munafik mereka mulai tampak dipermukaan, disebabkan karena ketidakrelaan mereka melihat kemenangan Kaum Muslimin. Semula mereka berharap Kaum Muslimin dan Quraisy Mekkah sama-sama hancur dalam peperangan itu sehingga suku Aus dan Khazraj akan menjadi yang terkuat di Hejaz dan berkesempatan mengambil alih kekuasaan di seluruh Hejaz.
Abdullah bin Ubay adalab seorang pemimpin Madinah dan kabilah Khazraj, anak dari seorang tokoh kuat yang pernah menjadi pemimpin kabilab Khazraj dan kabilab Aus sekaligus. Sebelum Hijrah Rasul, sebenarnya Abdullah bin Ubay telah dipersiapkan oleh suku Khazraj dan Aus untuk menjadi Raja Madinah. Tapi setelab kemenangan Muslimin dalam perang Badar, kedudukan politik Rasulullah menjadi sangat kuat. Perkembangan ini memupus harapan Abdullah Ubay untuk menjadi Raja di Madinah. Maka ia mengubah tak-tiknya. Abdullah Ubay berkata kepada para pengikutnya ,"Situasi sekarang jelas menunjukkan kemenangan bagi Muhammad, marilah kita bersikap seolah-olah masuk Islam, meskipun sebenamya kita membenci mereka”. Dengan siasat itu mereka bermaksud menjalankan tipu daya untuk merusak Ummat Islam dari dalam. Diantara pengikut Abdullah Ubay banyak terdapat orang-orang Yahudi.
Meskipun mereka sholat dan shiyam, tujuannya hanya untuk mengelabuhi mata umum. Mereka tidak menghayati jiwa dari penbadatan itu, karena sesungguhnya mereka memang tidak termasuk dalam golongan orang-orang yang beriman dan merasakan keagungan Allah SWT. Mereka tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah SWT mengetahui semua perbuatan mereka yang nyata maupun tersembunyi. Rasulullah mengibaratkan” mereka seperti seekor anak domba yang bingung dan ragu diantara dua domba, bolak-balik, kadang mengikuti yang satu dan kadang mengikuti yang lain” (HR. Muslim dari lbnu Umar). Dan lebih dari itu sesungguhnya mereka hanyalah orang~orang yang membinasakan dirinya sendiri.


Sabda Rasulullah SAW:
Innamaa matsalie wa-matsalu ma ba’atsanillaahu bihi kamatsali rojulin ata qouman; faqola ya qoumi innie ro-aituljaisya bi’ainayya wa innie anannadzierul’uryaanu fannajaa-a fa-athoo’ahu thoo-ifatunm-min qoumihi fadlajuu wantholaquu ‘ala mahalihim fanajao wakadzdzabat thoo-ifatunm­minhum fa-ashbachuu makaanahum fashobbachahumuljaisyu fa-ahlaka hum wajtaacha hum”. Fadzaalika matsalu man ‘athoo-ayi fattaba’a maa ji’tu bihi wamatsalu man ‘ashoonie wa kadzdzaba bimaa ji’tu bihi minal­haqqi" : "Perumpamaan aku dan agama yang disuruh Allah aku menyampaikannya, serupa dengan seorang laki-laki yang datang kepada suatu kaum dan mengatakan : "Hai kaumku ! Sesungguhnya aku melihat tentara musuh, dengan kedua mataku sendiri, dan sesungguhnya aku orang yang memberikan peringatan secara terbuka (terus terang dan jujur). Maka selamatkanlah dirimu” . Lalu sebagian dari kaum itu mengikuti anjuran tadi dan mereka berangkat di malam itu, berialan menurut kesanggupan mereka. Maka merekapun selamat. Dan yang lain mendustakan keterangan itu dan mereka tetap di tempatnya sampal pagi. Di pagi itu mereka kedapatan oleh tentara musuh, lalu merekapun dibinasakan dan dimusnatikan. Inilah perumpamaan orang yang mematuhi perintahku dan mengikuti apa yang kusampaikan. dan perumpamaan orang yang mendurhakai perintahku dan mendustakan kebenaran yang aku sampaikan kepada merek”;’ (HR. Bukhari dari Abu Musa ra.: 1953).

Ulasan.

Dalam Pengajian Keempatpuluh Dua telah diungkapkan bahwa sesungguhnya orang-orarig munafik itu hanya bertuhan kepada hawa nafsunya sendiri (Al­Jatsiyah : 23). Tuhan-tuhan berhala yang mereka ciptakan hanyalah manifest pembenaran pemujaan hawa nafsu mereka. Telah sering diungkapkan bahwa ritualitas sinkretisme mitologi purba yang dianut Arab Jahiliyah berintikan pada seks dan perang. Berbasis pada rejim instinktif das Es yang impulsive dan hewani. Hidup bagi mereka bersifat hedonis-materialis, semata-mata agnostic tanpa pemahaman transcendental akhirat. Bahkan AI-Jatsiyah 24 mengungkapkan ketidaktahuan mereka tentang konsep kehidupan sesudah mati yang menjadi inti ajaran agama-agama samawi, khususnya agama Tauhid-Islam, (vide. Pengajian ke-42).
Sikap jiwa yang autistis dengan psiko-kognitif yang menolak stimulus baru dari nilai-nilai ajaran Islam menjelaskan kondisi kejiwaan munafikin yang berhenti pada fiksasi-regresi nilai-nilai kebudayaan lama yang menguasai ketidaksadaran kolektif mereka.yang diwarisi dari nenek moyang mereka selama beribu-ribu tahun, yaitu nilai-nilai sinkretisme mitologi Mesopotamia purba dan Israel purba dengan berbagai ritual berhalaisme sebagaimana sudah sering kita ungkapkan pada rangkaian pengajian terdahulu.
Reformasi yang dilancarkan Islam, berintikan pada transferabilitas progresif dari budaya mitologi yang primitive dan rendah diferensiasinya kepada peradaban Tauhid yang modern dan tinggi deferensiasinya. Ini menyangkut proses mentaldevelopment yang membangun kecakapan ego dalam memahami konsep kehidupan secara utuh dalam sisi agnostic dan sisi transcendent. Emansipasi Tauhidiyah dalam proses ini telah membawa kebangkitan Arabia dan dunia kepada tingkat peradaban yang lebih tinggi. lnilah yang menjadi sumber energi sublimasi progresi kebudayaan manusia pada abad-abad benkutnya.
Pada puncaknya konsep Islam membenkan kepastian masa depan kehidupan manusia sesudah mati dalam realitas transcendental alam akherat yang nir]asadi dan semata-mata ruhaniyat, bahkan pada derajat tertinggi dalam kesatuan yang hakiki dengan Sang Maha Pencipta;
Mari kita simak ungkapan suflyah Syaikh Abdul Qodir al-Jaelani:
“Barangsiapa menghendaki akhirat, maka wajib baginya mengabaikan (arti) dunia. Dan barangsiapa menghendaki Allah Sang Maba Pencipta wajib baginya mengabaikan (arti) akhirat. (Dunia dan akhirat adalah ciptaan); maka jika kamu menghendaki Sang Maha Pencipta, lepaskanlah semua keinginan terhadap ciptaannya. Berbahagialah dengan Allah saja, campakkanlah kesyirikan dan ikhlaslah dalam setiap kehendak. Mendekatlah kepada-Nya dengan horrnat, dan jangan memandang kehidupan akhirat, kehidupan duniawi orang-orang dan segala kesenangan inderawi”.

lnilah puncak yang tertinggi. Emansipasi ruh-Tauhd yang transcendent yang melampaui semua nilai logika dalam struktur ruang dan waktu. lnilah sublimasi phsycologis yang tertinggi, yaitu pencapaian struktur nilai transcendental yang nirjasadi dan abadi, akan tetapi yang didasarkan pada sikap mental dan penlaku efektif di dunia. Maka simak pula pernyataan flqhiyah Syaikh Abdul Qodir al-Jaelani:
"Pandanglah segala kemaujudanmu sebagai berhala, demikian pula segala ciptaan lainnya. Pe!iharalah perintah dan larangan-Nya. Jika tidak demikian. ketahuilah bahwa kamu difitnah setan dan dipermainkannya. Maka kembalilah senantiasa pada Syari’at Islam dan berpegangteguhlah padanya; tinggalkan hawa nafsu, karena setiap hakekat yang tidak dilandasi syari’at adalah batal”.

Dizaman ini kita masih terus menyaksikan kemunafikan dan kejahilan yang menyesatkan manusia. Semoga Iman-Tauhid menyelamatkan kita. Amien.
Sekian, terima kasih, Birrahmatillahi Wabi'aunihi fi Sabilih, Wassalamu’alaikum War. Wab.

Jakarta, 20 Mei 2005,
Pengasuh,



HAJI AGUS MIFTACH.

Ketua Umum Front Persatuan Nasional

Tidak ada komentar:

Posting Komentar