![]() |
PENGURUS PUSAT
PENGAJIAN TAUHID WAHDATUL UMMAH
Manggala Wanabakti Bldg, Wok IV It. 6 No. 609 A
Jin. Jend. Gatot Subroto Jakarta .10270,
Telp/Fax : (021) 5701151
Pengajian
Keempatpuluh Tiga.
Assalamualaikum
War. Wab.
“Shummum-bukmum-umyum, fahum Iaa yarji'uun" :
"Mereka tuli, bisu dan buta, maka tidaklah mereka kembali (kejalan yang
benar); (AI-Baqoroh : 18)".
Ini
merupakan ayat ke-11 dari 13 ayatul-munafieqin (QS 2 : 9-20).
Kita
akan membahasnya secara eklektik dari berbagai perspektif secara komprehensif
dan holistis agar dicapai hikmah pemaharnan yang utuh dan mencerahkan.
Tafsir Jalalain
“Mereka tuli (terhadap kebenaran, maksudnya tidak mau
menerima kebenaran yang didengarnya), bisu (terhadap kebaikan hingga tidak
mampu mengucapkannya), buta (terhadap jalan kebenaran dan petunjuk Allah
sehingga tidak dapat melihatnya), maka mereka tidak akan kembali dari
kesesatan)” ; ( Al Baqoroh: 18).
Ayat
ini rnenggambarkan orang-orang munafik itu tidak hanya seperti orang-orang
yang kehilangan cahaya sebagaimana digambarkan pada AI-Baqoroh 17, tetapi juga
seperti orang-orang yang kehilangan beberapa Indra pokok, seperti tidak dapat
mendengar, bicara dan melihat yang tentunya akan membawanya kepada kebinasaan.
Mereka dikatakan tuli karena tidak mendengarkan nasihat dan petunjuk
Rasulullah, bahkan meskipun mendengar mereka tidak faham. Dikatakan seperti
bisu, karena mereka tidak mau menanyakan kepada Rasulullah hal-hal yang kabur
bagi mereka; tidak berkernauan meminta penjelasan dan petunjuk, sehingga mereka
kehilangan kesempatan untuk mengambil manfaat dari segala pelajaran dan ilmu
pengetahuan yang dikemukakan Rasulullah. Dikatakan buta, karena mereka
kehilangan manfaat pengamatan dan manfaat pelajaran Rasulullah. Mereka tidak
dapat mengambil makna pelajaran dari segala kejadian yang mereka alami dan dari
pengalaman bangsa-bangsa lain. Mereka tidak dapat kembali kejalan yang benar
karena sifat~sifat autistis tersebut dan mereka tetap membeku ditempatnya,
ditengah perubahan besar peradaban yang tengah terjadi..
Asbabun~nuzul
Asbabun-nuzul ayat tersebut diatas
masih berkait dengan asbabun~nuzuI Al-Baqoroh 14, yaitu perilaku Abdullah bin
Ubay dkk yang melecehkan para sahabat terkemuka seperti Abu Bakar, Umar dan Ali
r.anhum. Peristiwa itu memang menjadi asbabun-nuzul terpenting ke-13
ayatul-munafieqin.
Untuk melengkapi pengetahuan kita,
mari kita ungkap siapa sebenamya Abdullah bin Ubay pemimpin kaum munafikin yang
paling terkenal pada masa awal kebangkitan Islam di Madinah AI-Munawwarah, dan
yang sehari-harinya tidak jauh dari lingkaran Rasulullah SAW.
Sebelum Hijrah di Madinah yang waktu
itu masih bemama Yatsrib terdapat dua suku besar yaitu suku-suku Aus dan
Khazraj yang dekat dengan kalangan Yahudi. Ketika terjadi peristiwa
Hijrah mereka mengaku beriman kepada Allah dan Rasululullah, tetapi
sesungguhnya mereka berdusta, mereka tidak beriman. Pengakuan beriman itu untuk
mengelabuhi dan mempermainkan Kaum Muslimin. Pada mulanya sikap mereka ini
tersembunyi, tetapi setelah Perang Badar yang terjadi pada tahun kedua Hijrah
yang membawa kemenangan menentukan bagi Kaum Muslimin, sikap munafik mereka
mulai tampak dipermukaan, disebabkan karena ketidakrelaan mereka melihat kemenangan
Kaum Muslimin. Semula mereka berharap Kaum Muslimin dan Quraisy Mekkah
sama-sama hancur dalam peperangan itu sehingga suku Aus dan Khazraj akan
menjadi yang terkuat di Hejaz dan berkesempatan mengambil alih kekuasaan di
seluruh Hejaz.
Abdullah bin Ubay adalab seorang
pemimpin Madinah dan kabilah Khazraj, anak dari seorang tokoh kuat yang pernah
menjadi pemimpin kabilab Khazraj dan kabilab Aus sekaligus. Sebelum Hijrah
Rasul, sebenarnya Abdullah bin Ubay telah dipersiapkan oleh suku Khazraj dan Aus
untuk menjadi Raja Madinah. Tapi setelab kemenangan Muslimin dalam perang
Badar, kedudukan politik Rasulullah menjadi sangat kuat. Perkembangan ini memupus
harapan Abdullah Ubay untuk menjadi Raja di Madinah. Maka ia mengubah
tak-tiknya. Abdullah Ubay berkata kepada para pengikutnya ,"Situasi
sekarang jelas menunjukkan kemenangan bagi Muhammad, marilah kita bersikap
seolah-olah masuk Islam, meskipun sebenamya kita membenci mereka”. Dengan
siasat itu mereka bermaksud menjalankan tipu daya untuk merusak Ummat Islam
dari dalam. Diantara pengikut Abdullah Ubay banyak terdapat orang-orang Yahudi.
Meskipun mereka sholat dan shiyam,
tujuannya hanya untuk mengelabuhi mata umum. Mereka tidak menghayati jiwa dari
penbadatan itu, karena sesungguhnya mereka memang tidak termasuk dalam golongan
orang-orang yang beriman dan merasakan keagungan Allah SWT. Mereka tidak
mengetahui bahwa sesungguhnya Allah SWT mengetahui semua perbuatan mereka yang
nyata maupun tersembunyi. Rasulullah mengibaratkan” mereka seperti seekor
anak domba yang bingung dan ragu diantara dua domba, bolak-balik, kadang
mengikuti yang satu dan kadang mengikuti yang lain” (HR. Muslim dari lbnu
Umar). Dan lebih dari itu sesungguhnya mereka hanyalah orang~orang yang
membinasakan dirinya sendiri.
Sabda
Rasulullah SAW:
Innamaa matsalie wa-matsalu ma ba’atsanillaahu bihi
kamatsali rojulin ata qouman; faqola ya qoumi innie ro-aituljaisya bi’ainayya
wa innie anannadzierul’uryaanu fannajaa-a fa-athoo’ahu thoo-ifatunm-min qoumihi
fadlajuu wantholaquu ‘ala mahalihim fanajao wakadzdzabat thoo-ifatunmminhum
fa-ashbachuu makaanahum fashobbachahumuljaisyu fa-ahlaka hum wajtaacha hum”.
Fadzaalika matsalu man ‘athoo-ayi fattaba’a maa ji’tu bihi wamatsalu man
‘ashoonie wa kadzdzaba bimaa ji’tu bihi minalhaqqi" : "Perumpamaan
aku dan agama yang disuruh Allah aku menyampaikannya, serupa dengan seorang
laki-laki yang datang kepada suatu kaum dan mengatakan : "Hai kaumku !
Sesungguhnya aku melihat tentara musuh, dengan kedua mataku sendiri, dan
sesungguhnya aku orang yang memberikan peringatan secara terbuka (terus terang
dan jujur). Maka selamatkanlah dirimu” . Lalu sebagian dari kaum itu mengikuti
anjuran tadi dan mereka berangkat di malam itu, berialan menurut kesanggupan
mereka. Maka merekapun selamat. Dan yang lain mendustakan keterangan itu
dan mereka tetap di tempatnya sampal pagi. Di pagi itu mereka kedapatan oleh
tentara musuh, lalu merekapun dibinasakan dan dimusnatikan. Inilah perumpamaan
orang yang mematuhi perintahku dan mengikuti apa yang kusampaikan. dan
perumpamaan orang yang mendurhakai perintahku dan mendustakan kebenaran yang
aku sampaikan kepada merek”;’ (HR. Bukhari dari Abu Musa ra.: 1953).
Ulasan.
Dalam Pengajian Keempatpuluh Dua telah
diungkapkan bahwa sesungguhnya orang-orarig munafik itu hanya bertuhan kepada
hawa nafsunya sendiri (AlJatsiyah : 23). Tuhan-tuhan berhala yang mereka
ciptakan hanyalah manifest pembenaran pemujaan hawa nafsu mereka. Telah sering
diungkapkan bahwa ritualitas sinkretisme mitologi purba yang dianut Arab
Jahiliyah berintikan pada seks dan perang. Berbasis pada rejim instinktif das
Es yang impulsive dan hewani. Hidup bagi mereka bersifat hedonis-materialis,
semata-mata agnostic tanpa pemahaman transcendental akhirat. Bahkan AI-Jatsiyah
24 mengungkapkan ketidaktahuan mereka tentang konsep kehidupan sesudah mati
yang menjadi inti ajaran agama-agama samawi, khususnya agama Tauhid-Islam,
(vide. Pengajian ke-42).
Sikap jiwa yang autistis dengan
psiko-kognitif yang menolak stimulus baru dari nilai-nilai ajaran Islam
menjelaskan kondisi kejiwaan munafikin yang berhenti pada fiksasi-regresi
nilai-nilai kebudayaan lama yang menguasai ketidaksadaran kolektif mereka.yang
diwarisi dari nenek moyang mereka selama beribu-ribu tahun, yaitu nilai-nilai
sinkretisme mitologi Mesopotamia purba dan Israel purba dengan berbagai ritual
berhalaisme sebagaimana sudah sering kita ungkapkan pada rangkaian pengajian
terdahulu.
Reformasi yang dilancarkan Islam,
berintikan pada transferabilitas progresif dari budaya mitologi yang primitive
dan rendah diferensiasinya kepada peradaban Tauhid yang modern dan tinggi
deferensiasinya. Ini menyangkut proses mental-development yang
membangun kecakapan ego dalam memahami konsep kehidupan secara utuh dalam sisi agnostic
dan sisi transcendent. Emansipasi Tauhidiyah dalam proses ini telah
membawa kebangkitan Arabia dan dunia kepada tingkat peradaban yang lebih
tinggi. lnilah yang menjadi sumber energi sublimasi progresi kebudayaan manusia
pada abad-abad benkutnya.
Pada puncaknya konsep Islam membenkan
kepastian masa depan kehidupan manusia sesudah mati dalam realitas
transcendental alam akherat yang nir]asadi dan semata-mata ruhaniyat, bahkan
pada derajat tertinggi dalam kesatuan yang hakiki dengan Sang Maha Pencipta;
Mari kita simak ungkapan suflyah
Syaikh Abdul Qodir al-Jaelani:
“Barangsiapa menghendaki akhirat,
maka wajib baginya mengabaikan (arti) dunia. Dan barangsiapa menghendaki Allah
Sang Maba Pencipta wajib baginya mengabaikan (arti) akhirat. (Dunia dan akhirat
adalah ciptaan); maka jika kamu menghendaki Sang Maha Pencipta, lepaskanlah
semua keinginan terhadap ciptaannya. Berbahagialah dengan Allah saja,
campakkanlah kesyirikan dan ikhlaslah dalam setiap kehendak. Mendekatlah
kepada-Nya dengan horrnat, dan jangan memandang kehidupan akhirat, kehidupan duniawi
orang-orang dan segala kesenangan inderawi”.
lnilah puncak yang tertinggi.
Emansipasi ruh-Tauhd yang transcendent yang melampaui semua nilai logika dalam
struktur ruang dan waktu. lnilah sublimasi phsycologis yang tertinggi, yaitu
pencapaian struktur nilai transcendental yang nirjasadi dan abadi, akan tetapi
yang didasarkan pada sikap mental dan penlaku efektif di dunia. Maka simak pula
pernyataan flqhiyah Syaikh Abdul Qodir al-Jaelani:
"Pandanglah segala kemaujudanmu sebagai
berhala, demikian pula segala ciptaan lainnya. Pe!iharalah perintah dan
larangan-Nya. Jika tidak demikian. ketahuilah bahwa kamu difitnah setan dan
dipermainkannya. Maka kembalilah senantiasa pada Syari’at Islam dan
berpegangteguhlah padanya; tinggalkan hawa nafsu, karena setiap hakekat yang
tidak dilandasi syari’at adalah batal”.
Dizaman ini kita masih terus
menyaksikan kemunafikan dan kejahilan yang menyesatkan manusia. Semoga
Iman-Tauhid menyelamatkan kita. Amien.
Sekian, terima kasih, Birrahmatillahi Wabi'aunihi fi
Sabilih, Wassalamu’alaikum War. Wab.
Jakarta, 20 Mei 2005,
Pengasuh,
HAJI AGUS MIFTACH.
Ketua Umum Front Persatuan Nasional

Tidak ada komentar:
Posting Komentar