11.7.17

Pengajian Ketujuhpuluh Empat (74).







Pengajian Ketujuhpuluh Empat (74).

Assalamu’alaikum War. Wab.
Bismillahirrahmanirrahiem,







“Dan (ingatlah) ketika Kami selamatkan kamu dari Fir’aun dan pengikut-pengikutnya; mereka menimpakan kepadamu siksa yang seberat-beratnya, mereka menyembelih anakmu yang laki-laki dan membiarkan hidup anak-anakmu yang perempuan. Dan pada yang demikian itu terdapat ujian yang besar dari Tuhanmu” ; (Al-Baqoroh : 49).

Pokok Bahasan


Pada Pengajian ke 71 telah diterangkan bahwa Bani Israil dibawah pimpinan Yusuf a.s. yang mendapat jabatan tinggi di Mesir, menerima tawaran konspirasi politik dengan Dinasti Amalik atau yang disebut juga Kaum Hyksos yang menjajah Mesir . Bani Israil menikmati kedudukan yang baik di Mesir selama sekitar 4 abad, dan selama kurun waktu itu populasi Bani Israil di Mesir mencapai 600 000 jiwa. Ketika itu penjajah Dinasti Amalik telah ditumbangkan oleh Dinasti Pribumi, dan tentu saja situasi politikpun berubah. Keberadaan Bani Israil benar-benar dipertimbangkan oleh Fir’aun Ramses I waktu itu yang nama aslinya adalah al-Walid bin Mush’ab ibnur-Rayyan. Tidak lama Ramses I digantikan putera mahkota Menephat yang bergelar Ramses II yang mendakwakan dirinya sebagai tuhan.. Sejak itu tekanan terhadap Bani Israil semakin menghebat.
Kecerdasan dan keuletan Bani Israil dalam bekerja secara ekonomi telah menjadi ancaman bagi pribumi (vide, Buku ke-2). Hal itu juga dipicu oleh sifat inkoperasi dan cauvinisme Bani Israil yang merasa diri sebagai sya’bullah al muchtar (bangsa yang terpilih) yang menciptakan dinding pemisah dengan pribumi Mesir. Maka untuk melindungi kepentingan nasional Mesir, Ramses II menjalankan politik perlindungan nasional dengan cara memberlakukan ras-diskriminasi terhadap Bani Israil. Implementasinya di jaman kuno memang menjadi kejam, yaitu dengan kerja paksa (perbudakan), kemudian meningkat dengan pembunuhan anak-anak laki-laki Bani Israil, dan akhirnya pemusnahan ras dimana Fir’aun memerintahkan setiap suku harus membunuh semua laki-laki Bani Israil termasuk bayi laki-laki.
Menurut Tafsir Jalalain penderitaan ini merupakan ujian bagi Bani Israil, karena telah melakukan bermacam dosa. Dosa yang paling mendasar ialah sinkretisme dimana mereka terpengaruh budaya sihir dan penyembahan berhala Mesir (vide, Buku ke 2). Allah mengutus Musa a.s. untuk membuat mereka bertobat dan menyelamatkan mereka dari Fir’aun. Upaya penyelamatan ini mengandung sejumlah nikmat mu’jizat yang menurut Tafsir Ibnu Katsir bermakna cobaan pula. Artinya setelah mendapat cobaan penderitaan mereka mendapat cobaan kenikmatan. Maksudnya agar Bani Israil kembali kepada iman tauchid sebagaimana diajarkan nenek moyang mereka Ibrahim, Ishak dan Ya’kub (Israil). Penafsiran senada juga disampaikan oleh Ibnu Abas r.a, Mujahid, Abu al-Aliyah, Abu Malik, as Sadi dll.

Ordo Illuminati.

Ini adalah pembahasan keempat Ordo Illuminati sejak Pengajian ke-70. Kita lanjutkan dengan konspirasi. Ordo Illuminati bergerak dengan kulit Freemasonry yang merupakan organisasi neo-Zionis. Diantara konspirasi-konspirasi rahasianya ditempuh dengan langkah-langkah seperti ini :

  1. Suap, berupa uang seperti money politic, bea-siswa dsb. Suap dengan wanita dan prospek karier dibidang akademi, politik, ekonomi, sosial, militer dll. Tujuannya untuk menggaet tokoh-tokoh tersebut dalam jaringan mereka pada jabatan-jabatan tinggi yang mereka upayakan. Target yang dijadikan sasaran adalah mereka yang berambisi, yang terpinggirkan, atau yang tengah terbenam dalam pusaran masalah pribadi, dsb.
  2. Memusatkan pada penguasaan mass-media dan buku-buku secara internasional dengan kendali jaringan para pemodal Yahudi seperti Viacom, Turner, Murdoch dll. Tujuannya untuk mengendalikan opini publik.

Pada pertengahan abad ke-19 kalangan bankir Yahudi sudah berhasil menguasai keuangan sebagian besar negara Eropa dan terus memperluas jaringan keuangan keberbagai belahan dunia, dengan sasaran strategis menguasari Amerika Serikat. Pada dasawarsa pertama abad 20 agenda Illuminati-Freemasonry untuk mendominasi dunia semakin nyata. Mereka bahkan merekayasa serangkaian peperangan hingga perang dunia dengan tujuan menghancurkan dunia lama, agar diatas reruntuhan itu dapat dibangun Novus Ordo Seclorum (Tata Dunia Baru) dan masa depan baru Zionisme Dunia. Rencana Perang Dunia I dan II itu digariskan oleh tokoh puncak Freemasonry Amerika Serikat Albert Pike dengan rinci, a.l. tertuang dalam suratnya kepada Guiseppe Mazzini ttgl. 15 Agustus 1871.
Pike merencanakan “Perang Dunia ke-I” diagendakan pada awal abad 20 diarahkan untuk menghancurkan Tsar Rusia dan merebut negeri yang luas itu sebagi modal untuk mencapai tujuan Illuminati-Freemasonry keseluruh dunia.
Perang Dunia Ke-II direncanakan pertengahan abad 20 dengan memanipulasi perbedaan antara kaum Nasionalis Jerman dan Zionis yang akan menghasilkan perluasan pengaruh Rusia non Tsaris dan berdirinya Negara Israel di Palestina.
Perang Dunia Ke-III direncanakan pada awal abad ke-21 yang bersumber dari berbagai bentuk perbedaan peradaban dan konflik yang menghasilkan kekacauan, terutama dalam pola konflik Arab-Zionis yang mata rantainya akan meluas keseluruh dunia.

Dalam kaitan dengan hal ini seorang sosiolog terkemuka Amerika Serikat Samuel P Huntington  (1993) menyatakan Perang Dunia ke III (bila terjadi) adalah perang antar peradaban. Benturan peradaban akan mendominasi politik global. Garis pemisah antar peradaban akan menjelma menjadi garis pertempuran di masa depan. Konflik antar peradaban akan menjadi tahap akhir dalam evolusi konflik di dunia modern. Sementara Safar Al-Hawali dari Universitas Ummul-Qura Mekah menyatakan, bahwa Perang ini adalah perang Barat melawan Islam. Pemimpin spiritual Iran Ayatollah Ali Khamenei menyerukan perang suci melawan Barat. Peperangan melawan Amerika Serikat dianggap jihad, sehingga yang terbunuh menjadi syuhada yang dijanjikan surga. Jordania juga menganggap perang terhadap Irak pada hakekatnya adalah perang terhadap semua bangsa Arab dan kaum Muslimin.  Seorang sosiolog Yahudi Bernard Lewis (1992) menyatakan : “Kita menghadapi sebuah sentimen dan gerakan yang tingkatannya melebihi isu, kebijakan serta pemerintahan yang membayangi mereka. Hal ini tak lain adalah benturan peradaban-satu reaksi yang mungkin tidak rasional namun historis dari seorang lawan purba (Muslim) terhadap warisan budaya Yahudi-Kristen kita, keadaan sekular kita dan ekspansi keduanya”.

Skenario mendiang Albert Pike sudah terjadi pada Perang Dunia ke I dan ke II, dan untuk Perang Dunia ke III sinyalnya sudah tampak dengan pola benturan antar peradaban. Sejarah Bani Israil membuktikan bahwa mainstream mereka tidak pernah benar-benar beriman kepada Yahweh El Sada’i Tuhan Musa, dan sesungguhnya mereka mengadopsi dalam Judaism ajaran sihir Paraho’s Mesir yang menghasilkan sinkretisme Talmud dan doktrin Qabbala yang menjadi ideology Zionisme.  Peringatan-peringatan Al-Qur’an sesungguhnya mengandung substansi bahwa iman mereka tak lagi dapat diharapkan kecuali hanya sedikit saja. Akankah dunia menyerah kepada Novus Ordo Seclorum dan E Pluribus Unum-nya  Neo-Zionis Illuminati-Freemasonry dengan doktrin sihir Qabbala-nya ? Semua Muslimin harus bersatu dalam Tauhid untuk menjawabnya. Sesungguhnya perang dengan motif benturan antar peradaban adalah kelanjutan dari zaman kuno sebagaimana kita runut dalam sejarah Jerusalem (vide, Buku Ke 4).

Jerusalem.

Kita lanjutkan parallel pembahasan khilafat di Jerussalem. Setelah terbunuhnya Yosia dalam pertempuran di Meggido melawan Fir’aun Nekho II, Mesir yang memegang kontrol Yehuda menaikkan putra kedua Yosia, Yoyakim sebagai Raja Yehuda di Jerusalem pada th. 609 SM. Tapi kontrol Mesir terhadap Yehuda tidak berlangsung lama. Th. 605 SM Raja Nebukadnezar dari Babilonia mengalahkan Asiria dan Mesir di Timur Dekat. Maka seperti negara-negara lain di kawasan itu Yehuda menjadi vassal (kerajaan bawahan) Babilonia. Kontrol Babilonia yang tidak terlalu ketat membuat Yehuda mampu tumbuh dan berkembang. Yoyakim semakin percaya diri, ia membangun istana megah dan chauvinisme Yahudi kembali muncul. Yoyakim beraliansi ke Mesir melepaskan diri dari Babilonia. Para nabi mulai berkhotbah dengan cara lama, bahwa dengan beriman sepenuhnya kepada Yahweh di Bukit Zion, Yahweh akan hadir di Devir Haekal Sulaiman untuk melindungi Jerusalem dari Nebukadnezar seperti yang terjadi ketika mengusir Sanherib. Maka bukit Zion diperlakukan sebagai fetish (obyek yang diyakini memiliki kekuatan magis). Dengan cara meneriakkan slogan “Ini Kuil Yahweh”, maka itu menjadi mantra magis. Padahal berdasarkan ajaran Taurat, Yahweh akan melindungi mereka hanya apabila bertauhid meninggalkan semua tuhan-tuhan yang lain, berlaku kasih sayang, adil, tidak mengeksploitasi orang lain, peduli terhadap anak yatim dan janda. Pendek kata harus dipenuhi prinsip Tzedek,  Misphat dan Shalom (Ketauhidan, Keadilan dan Kesejahteraan) (vide, Buku Ke-4).
Sebelum datang serbuan Nebukadnezar atas pembangkangan vassal Yehuda itu, Yoyakim meninggal. Ia digantikan putranya Yoyakhim.  Raja Yoyakhim tidak memiliki masa jedda sedikitpun. Jerusalem langsung berada dibawah pengepungan bala tentara Babilonia. Setelah 3 bulan Jerusalem menyerah kepada Kaisar Babilonia Nebukadnezar pada th. 597 SM. Jerusalem dihancurkan, Haekal Sulaiman dijarah, lapisan pemimpin, aristokrat dan militer Yehuda berjumlah 10.000 orang di deportasi ke Babilonia. Yang tinggal di Jerusalem hanya lapisan penduduk termiskin. Inilah kehancuran Jerusalem. Kita lanjutkan pada pengajian berikutnya. Terima kasih.

Selamat Idul Adha 1426 H,

Birrahmatillahi Wabi’aunihi fi Sabilih,
Wassalamu’alaikum War. Wab.
Jakarta, 13 Januari 2006.
Pengasuh,



HAJI AGUS MIFTACH

Ketua Umum Front Persatuan Nasional.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar