Pengajian Keenampulun
Enam (66),
Assalamu’alaikum
War. Wab.
Bismillahirrahmanirrahiem,
“Dan
berimanlah kamu kepada apa yang telah Aku turunkan (Al-Qur’an) yang membenarkan
apa yang ada padamu (Taurat), dan janganlah kamu menjadi orang yang pertama
kafir kepadanya, serta janganlah kamu menukarkan ayat-ayatKu dengan harga yang
rendah, dan hanya kepadaKu-lah kamu harus bertaqwa” ; (Al-Baqoroh : 41).
Setelah
libur selama satu bulan sejak medio Romadhon hingga laste syawal sekarang ini,
maka inilah pengajian pertama kita, yaitu Pengajian ke-66. Seperti tradisi
pengajian ini, kita akan melakukan kajian dan pembahasan secara
eklektik-multiperspektif dari aspek teologi, antropologi, historiografi dan psikologi untuk menggali hikmah yang
setinggi-tingginya dari setiap ayat Al-Qur’an.
Pokok
Bahasan.
Dalam
ayat tsb diatas terdapat empat perintah Allah kepada Bani Israil, yaitu :
- Agar Bani
Israil (Kaum Yahudi) beriman kepada Al-Qur’an yang diwahyukan Allah kepada
Rasul terakhir Muhammad SAW yang diutus kepada semua ummat manusia,
- Agar
mereka tidak tergesa-gesa menyangkal dan menjadi orang pertama yang
mengingkari Al-Qur’an, karena sesungguhnya mereka telah mengetahui
kebenaran Al-Qur’an sebagaimana tersirat dalam Taurat, dan seharusnya
mereka menjadi kaum yang pertama beriman kepada Al-Qur’an.
- Agar
mereka tidak berpaling dari Al-Qur’an, hanya karena mengejar keuntungan
duniawi seperti harta dan pangkat yang kecil artinya jika dibandingkan
dengan ridho Allah dan kebahagiaan akhirat. Bahkan dengan demikian mereka
telah menggali azab dunia dan akhirat.
- Agar
mereka semata-mata beriman dan bertaqwa kepada Allah dan mengutamakan
keridhoan Allah SWT dan kebahagiaan akhirat.
Ulasan
Asbabunnuzul
ayat tsb diatas berkaitan dengan sikap orang-orang Yahudi Madinah yang
mendustakan Rasulullah SAW. Menurut Tafsir Jalalain sikap itu kemudian
diperkuat dengan sikap Kaum Yahudi dari Bani Quraizah dan Bani Nadir yang
merupakan dua suku Yahudi yang besar yang pada akhirnya mempengaruhi sikap
sebagian besar Bani Israil di Madinah.
Tentang
“yang pertama ingkar” terhadap Al-Qur’an Tafsir Ibnu Katsir menerangkan memang
bukan dilakukan oleh Yahudi Madinah, melainkan Quraisy Mekah.
Terhadap
Bani Israil sesungguhnya ayat tsb mengandung harapan akan keimanan mereka,
berkaitan dengan pertalian yang ada dalam ajaran Al-Qur’an dan ajaran Taurat
terutama tentang ketauhidan. Tetapi sifat-sifat etnosentrisme budaya yang
berlebihan membawa Yahudi kepada sikap Chauvinsme yang hanya mengakui
nilai-nilai kebenaran dari keyakinannya sendiri dan menolak semua nilai
kebenaran diluar system nilai dan system social yang mereka yakini, yaitu agama
Yahudi (Zionisme) yang disinyalir banyak mengandung penyimpangan-penyimpangan
dari ajaran tauhid Musa a.s. yang sebenarnya. Ayat tsb diatas bahkan mengisyaratkan
domain sifat-sifat materialism Kaum Yahudi yang lebih mementingkan aspek-aspek
dhahiriah/inderawi (agnostisisme) yang semu dan fana daripada aspek-aspek
ukhrowiah (transcendental) yang hakiki dan abadi. Hal itu tidak saja dijumpai
dalam masa Madinaturrasul, tetapi memang terbukti sepanjang sejarah Bani Israil
yang panjang sejak Abraham atau Ibrahim bin Tarih a.s. dari Aur-Khaldan hingga
David Ben Gurion dan negara Israel modern masa sekarang.
Mengisolir
diri
Sifat
“mengisolir diri” atau inkoperasi menjadi ciri khas konstitusi jiwa Yahudi yang
diwarisi sejak Ibrahim a.s yang mengisolir diri dari peradaban penyembah berhala negeri Aur dan
negeri-negeri disepanjang perantuannya hingga tiba di Kana’an. Ketika sebagian
besar dari mereka menyeleweng dari agama Ibrahim dan menjadi penyembah berhala,
sifat mengisolir diri itu tetap melekat pada kejiwaan mereka dan menjadi
kepribadian mereka yang bersifat endogen.. Ini membawa konsekwensi
tersingkirnya mereka dari sejarah dan peradaban kawasan disekitarnya, akibat
lanjutnya kaum Yahudi menganggap lingkungan sejarah dan peradaban non-Yahudi
sebagai musuh.
Seorang
antropolog abad 20 Charles Kent dalam penelitiannya mengungkapkan
: “Perjalanan sejarah membuktikan bahwa orang-orang Ibri itu merasa
selalu dikelilingi oleh bangsa-bangsa yang memusuhinya seperti bulatan api yang
tidak memberi peluang untuk melepaskan
diri”. Menurut catatan antropolog Ahmad Syalabi bangsa-bangsa diseputar bangsa
Yahudi di Kanaan memiliki peradaban yang lebih tinggi.
Seorang
tokoh Yahudi abad 20 Dr. Chain Weizman menyatakan : “Orang-orang Yahudi
dimanapun di seluruh dunia memiliki cara hidup yang sama, mereka suka
mengisolir diri dalam bagian-bagian dunia ini seakan hidup di dunia lain dari
dunia yang di huni umat manusia”.
Semnentara
itu seorang pakar Lahaut (Theologi) Agama Yahudi, Salamon Shakhtar mengatakan
: “…yang dimaksud inkoperasi (mengisolir diri) dalam pergaulan umat manusia
ialah hilangnya personalitas, dan jenis inkoperasi ini dengan semua konklusinya
lebih menakutkan daripada pembunuhan”.
Lebih
jauh antropolog Ahmad Syalabi menjelaskan : “Sikap mengisolir diri itu
menjadi sumber berbagai insiden yang
berbahaya. Ras Yahudi benar-benar memandang bangsa-bangsa lain sebagai musuh
yang harus diawasi dan dicurigai. Mereka tidak dapat mempercayai apapun diluar
ras Yahudi, meskipun telah berjasa besar terhadap bangsa Yahudi. Mereka hanya
percaya kepada sesama ras Yahudi dan hanya bangsa Yahudi yang menjadi tanah air
yang harus dimuliakan. Dimata Yahudi bangsa lain tidak ada artinya, tidak perlu
dihormati dan dihargai, serta jasanya tidak perlu dikenang”. Ini menjadi sumber
konflik di dunia sejak zaman “Saul” hingga “Theodor Herzl”.
Kemundurah
khilafat di Jerusalem.
Sikap Bani
Israil Madinah yang dihadapi Rasulullah SAW bukan sekedar produk psikologis di
masa itu, tetapi merupakan refleksi-psikologis yang terbentuk dari masa ribuan
tahun sebelumnya, yang telah membentuk ketidaksadaran kolektif yang mewaris
dari masa ke masa dari generasi ke generasi. Mari kita lanjutkan pembahasan
kita tentang khilafat agama samawi yang pertama di era Jerusalem yang
diperankan oleh Bani Israil.
Pada
Pengajian ke-65 diungkapkan bahwa pada th. 930 SM Rehabeam naik tahta
menggantikan ayahnya Raja Sulaiman yang wafat. Meskipun diterima baik di Selatan,
Rehabeam atau Rahub’am dalam logat Arab menghadapi tantangan di Utara. Untuk
menerima Tahta Rehabeam para tetua suku di Utara mengajukan persyaratan
pengurangan pajak dan kerja paksa, yang ternyata ditolak mentah-mentah
Rehabeam. Bahkan pada suatu pertemuan di Shikem atau Syakim dalam logat Arab
(sekarang kota Nablus), Rehabeam membuat pernyataan yang sangat keras : “Ayahku
(Sulaiman) telah memukulmu dengan cambuk; saya benar-benar akan memukulmu
dengan cambuk yang penuh dengan duri dan besi” (Karen Armstrong, 1997).
Akibatnya para tetua di Utara mengambil langkah memisahkan diri dari Kerajaan
Kana’an Bersatu. Mereka merajam hingga mati pejabat urusan kerja paksa, dan
memaksa Rehabeam menyelamatkan diri pulang ke Jerusalem. Perpecahan telah
berkobar, dan persatuan yang berhasil dibangun Daud dan Sulaiman kini hancur
berantakan. Para tetua di Utara melantik putra dan komandan pembangkang di masa
Sulaiman, Yeroboam atau Yarub’am dalam logat Arab, menjadi Raja
Israel terpisah dari Yehuda di Selatan yang didominasi suku Yahuza (Yehuda) dan
Benyamin yang masih berhasil dikuasai oleh Rehabeam di Jerusalem.
Pembangkang
Yeroboam yang dimasa Raja Sulaiman melarikan diri ke Mesir, setelah mangkatnya
Raja Sulaiman bergegas kembali ke Palestina kemudian bergabung dengan para
tetua Kerajaan Isreal di Utara yang menentang Rehabeam. Setelah menjadi Raja
Israel, Yeroboam membangun ibukota Israel baru di Tirza dan menjadikan
kuil-kuil lama di Bethel dan Dan sebagai kuil kerajaan.
Dengan
demikian maka terbelahlah Kerajaan Kanaan Bersatu menjadi dua kerajaan, yaitu
Kerajaan Israel di Utara dengan ibukota Tirza dan rajanya Yeroboam,
dan Kerajaan Yehuda di Selatan dengan ibukota Jerusalem dan rajanya Rehabeam.
Inilah awal era
kemunduran khilafat agama samawi yang dibawakan Bani Israel di Jerusalem.
Sejarah berikutnya akan mengantarkan khilafat Bani Israel kepada kehancuran.
Kita lanjutkan pada pengajian berikutnya. Sekian, terima kasih. Minal ‘Aidien
wal Faizien, moon maaf lahir dan batin (‘Iedul Fitri, 1 Syawal 1426 H).
Birrahmatillahi
Wabi’aunihi fi Sabilih,
Wassalamu’alaikum
War. Wab.
Jakarta, 18
Nopember 2006,
Pengasuh,
Tidak ada komentar:
Posting Komentar