11.7.17

Pengajian Keseratus Duapuluh (120)







Pengajian Keseratus Duapuluh (120)

Assalamu’akaikum War. Wab.
Bismillahirrahmanirrahiem.









Hai Bani Israel, ingatlah akan nikmatKu yang telah Aku anugerahkan kepadamu dan Aku telah melebihkan kamu atas segala umat. (122) Dan takutlah kamu akan suatu hari pada waktu seseorang tidak dapat menggantikan orang lain sedikitpun, tidak akan diterima tebusan, tidak dapat memberi syafaat, dan tidak akan ditolong. (123)” ; Al Baqoroh : 122-123.

Kita akan membahas kedua ayat ini dengan pendekatan eklektik multiperspektif, baik dari perspektif teologis, antropologis, historiografis, maupun psikologis dll secara holistis agar mendapatkan pemahaman yang komprehensif dan hikmah pengetahuan yang setinggi-tingginya dari kandungan kedua ayat ini.

Pokok Bahasan

Jumhur mufassirin  berpendapat “Bani Israil” pada ayat didepan, bukanlah Bani Israil di masa Rasulullah saw melainkan nenek moyang Bani Israil. Hanya nenek moyang di periode zaman yang mana tidak di jelaskan. Tetapi jika merujuk pada kalimat “…ni’matiyallatie an’amtu alaikum… (nikmatKu yang telah Aku anugerahkan kepadamu)”, maka dapat ditafsirkan pada zaman Daud dan Sulaiman pada abad ke 10 SM, terutama zaman Sulaiman (970-930 SM) yang dianggap sebagai puncak kebesaran Bani Israil di masa silam. Tetapi para antropolog dan historiograf mengungkapkan fakta yang berbeda. Mereka berpendapat bahwa Bibel berlebihan dalam menggambarkan kebesaran kerajaan Sulaiman yang fakta sebenarnya hanya kerajaan kota yang kecil saja, dan cepat runtuh. Beberapa tahun setelah meninggalnya Sulaiman, Jerusalem jatuh ke dalam kekuasaan  Fir’aun Shisak I dari Dinasti Mesir yang ke 22. Hal itu a.l. dikemukakan oleh sejarahwan Wells dalam A History of the World yang dikutip juga oleh Ahmad Shalaby dalam Muqaranatul Adyan : Al Yahudiyah (1991).
Dengan demikian, maka kalimat selanjutnya:”Wa ‘annie fadhdholtukum ‘alal-‘alamien” (dan Aku telah melebihkan kamu atas segala umat), menjadi tidak sesuai jika diartikan secara duniawi. Berdasarkan fakta negeri Kana’an  pada puncak kejayaannya hanyalah sebuah negeri kecil yang tidak memiliki kelebihan apapun terhadap bangsa-bangsa besar dengan peradaban tinggi yang ada diseputarnya seperti bangsa Mesir, Babilon (Irak) dan Asyur (Syria). Maka  pengertian ‘fadhdholtukum alal ‘alamien’ lebih bermakna ukhrowiyah atau transenden, yakni kelebihan dalam memahami dan menjalankan iman tauhid yang menurut keyakinan Yahudi yang sebenarnya, menjadi kunci pencapaian kebahagiaan di akherat. Jika Bani Israil di masa Rasulullah saw memahami sejarah itu dan konsisten dengan keyakinan tauhid nenek-moyang mereka, maka semestinya mereka beriman kepada Rasulullah saw, sehingga berhak atas mereka nikmat sebagaimana yang direrima nenek moyang mereka dahulu. Ayat 123 menegaskan sifat transenden kedua ayat ini, dan mempertegas hukum-hukum akherat yang didasarkan atas perbuatan ekfektif seseorang sewaktu hidup di dunia, dengan pertanggungjawaban langsung yang bersifat individual. Tidak ada penebusan dosa dan tidak ada syafaat bagi kaum musyrikin.

Zaman Sulaiman

Kita akan membahas zaman Sulaiman berdasarkan realitas sejarah bukan dongeng. Sulaiman memiliki nama Israel Jedidiah (Kekasih Yahweh), putra Raja Daud dengan istri Batsyeba yang bangsa Yebus. Jika bangsa Yebus termasuk dalam pengelompokan bangsa Arab purba, maka Sulaiman berdarah campuran Yahudi-Arab. Sulaiman memerintah mulai th. 970 SM menggantikan ayahnya Raja Daud yang wafat dalam usia tua. Tindakan tragis pertama yang dilakukan Sulaiman ialah membunuh kakaknya Adonia bersama komandan Yoab. Setelah itu ia memecat dan mengasingkan pendeta Abyatar. Mereka telah memberontak terhadap ayahnya, Raja Daud.
Penulis Deutronomi abad ke 6 SM yang berciri fundamentalis Yahudi, menuduh Sulaiman sebagai penyembah berhala karena membangun kuil-kuil untuk para dewa dari istri-istrinya yang sangat banyak dan sebagian besar bangsa asing. Sulaiman juga dituduh telah ikut memuja dewa-dewi negeri tetangga seperti Astarte dewi Sidon, Milcom dewa Amman dan Chemosh dewa Moab, yang altar-altarnya di bangun di bukit-bukit sebelah timur Jerusalem. Karena kasus ini Raja Sulaiman dinilai tidak melaksanakan ajaran pokok tzedek (kebenaran/ketauhidan). Akibatnya dia tidak dapat menerapkan  kedua ajaran pokok lainnya, yaitu mishpat (keadilan) dan shalom (kedamaian/kesejahteraan). Ihwal Raja Bani Israil Sulaiman sudah kita bahas dalam pengajian-pengajian yang lalu, dan lebih kita dalami dalam konteks penafsiran kedua ayat di atas.
Dari sudut pandang yang lain, perbuatan Sulaiman dinilai positif sebagai afirmatif terhadap kelompok minoritas, dan menunjukkan sikap toleran dan semangat pluralitas yang tinggi. Pada titik ini kepemimpinan Sulaiman bersifat sekuler dan menegakkan keadilan bagi semua agama dan kepercayaan yang ada di negaranya. Sikap serupa juga dianut oleh para dinasti Islam di Cordova (Al-Andalusia) abad ke 9-16 dan dinasti Utsmaniyah abad ke 16-20.
Tidak seperti dalam dongeng yang serba indah, politik ekonomi Kerajaan Sulaiman buruk. Program-program pembangunan yang sangt ambisius dan tidak produktif serta tidak terencana dengan benar membuat ekonomi negara bangkrut. Sulaiman terpaksa melepas dua puluh kota di Galilea Barat untuk membayar hutang pembelian material kepada Raja Hiram dari Tirus (Phoenicia). Sulaiman menindas wilayah Utara (Israel) dengan memecah belah menjadi duabelas unit administrative yang masing-masing diwajibkan untuk mengirimkan bahan pangan bagi kerajaan selama 30 hari dalam setahun dan menyediakan laki-laki dalam jumlah kelewat besar untuk kerja paksa. Di wilayah Selatan (Yehuda) hal itu tidak terjadi. Maka jelas ini merupakan ketidakadilan yang sudah berlangsung sejak masa Daud dan lebih parah lagi di masa Sulaiman.  Banyaknya laki-laki yang meninggalkan pekerjaannya untuk kerja paksa di proyek-proyek pembangunan yang tidak produktif semakin merusak perekonomian. Terdapat tidak kurang tigapuluh ribu laki-laki Israel dipaksa kerja rodi. Sedangkan di Selatan tidak terjadi demikian. Ini menimbulkan kemarahan yang luas di Utara dan menumbuhkan semangat untuk memisahkan diri dari Jerusalem yang menindas.
Ketidakadilan membuat disintegrasi. Putranya Yeroboam (Yarub’am) yang menjabat komanda daerah pasukan kerajaan (corvee) memberontak dengan dukungan seorang nabi di wilayah Utara. Raja Sulaiman berhasil memadamkan pemberontakan ini, tetapi gagal menangkap Yeroboam yang berhasil lari ke Mesir dan mendapat perlindungan di istana Fir’aun Shisak. Tidak lama setelah peristiwa ini Sulaiman wafat (th. 930 SM), dimakamkan di sisi ayahnya Daud di Ir Daud (Kota Daud) kotaraja Jerusalem. Sulaiman digantikan putranya Rehabeam (Rahub’am). Kepemimpinan Rehabeam diterima di Selatan sebagai keniscayaan, tetapi di tolak di Utara. Yeroboam kembali dari Mesir dan segera ditahbiskan sebagai Raja Israel di Utara dan membangun ibukota di Tirza. Maka berakhir sudah kerajaan Kana’an Bersatu yang didirikan Daud pada th. 1.000 SM dan berakhir di masa Sulaiman pada th. 930 SM, atau hanya berusia 70 th. Terutama akibat kegagalan ekonomi dan ketidakadilan yang membuat negara bangkrut dan disintegrasi.

Baitul Maqdis

Selain dongeng, maka saatu-satunya sumbangan berharga era Sulaiman kepada peradaban Semit adalah pembangunan Haekal Muqaddas atau Baitul Maqdis (Tempat Suci) yang di gagas dan di bangun di masa Daud dan diselesaikan pada masa Sulaiman. Haekal Muqaddas yang dikalangan Bani Israil terkenal pula dengan sebutan Haekal Sulaiman dimaksudkan sebagai tempat suci bagi penyimpanan Tabut Perjanjian atau Tabut Suci, yaitu peti yang berisi Loh Batu yang bertuliskan 10 ayat Perjanjian antara Yahweh dengan Bani Israel yang diterima Musa a.s. di bukit Sinai sekitar abad ke 15 SM. Tabut Suci bagi Bani Israil merupakan perlambang kehadiran Yahweh ditengah-tengah umatnya yang terpilih. Selama masa pengembaraan Bani Israil, Tabut Suci itu dibawa serta dan ditempatkan di Kemah Suci yang dapat berpindah setiap kali. Ketika Daud telah berhasil mempersatukan Kerajaan Israel di Utara dan Kerajaan Yehuda di Selatan, ia memerlukan ibukota yang netral. Maka Jerusalem yang berhasil ditaklukkan pada th. 1000 SM menjadi pilihan yang ideal. Maka tiba waktunya Daud membangun sebuah kuil agung, tempat suci bagi singgasana Yahweh di muka bumi dan untuk memberikan legitimasi bagi kedudukan Jerusalem sebagai ibukota. Tapi Nabi Nathan mengungkapkan firman Yahweh belum mengijinkan Daud membangun suatu Tempat Suci bagiNya. Menurut penulis Kitab Tawarikh, Daud terlampau banyak menumpahkan darah, sehingga tidak diberi kehormatan ini.
Firman yang memberi Ijin membangun Tempat Suci atau Baitul Maqdis baru diterima pada masa pemerintahan Sulaiman. Para penulis Tawarikh menyebutkan Sulaiman seorang yang cinta damai sehingga layak menerima kehormatan ini. Maka dibangunlah Haekal Suci yang megah di bukit Zion sebuah situs yang telah disiapkan Daud dengan cara membelinya dari raja lama Yebus Araunah. Dengan berdirinya Baitul Maqdis menaikkan status Jerusalem dari sekedar ibukota menjadi kota suci. Atau inilah awal Jerusalem sebagai kota suci yang kemudian menempati posisi sentral dalam sejarah monoteisme. Baitul Maqdis atau Masjidil Aqsha (Masjid yang Jauh) merupakan tempat suci bagi agama Yahudi, Nasrani dan Islam serta menjadi sumber sengketa yang tiada habis-habisnya di dunia hingga masa sekarang.

Sekian, semoga awal tahun syamsiyah 2007 memberikan berkah yang banyak bagi kita semua, terima kasih.
Birrahmatillahi Wabi’anihi fi Sabilih,
Wassalamu’alaikum War. Wab.

Jakarta, 5 Januari 2007



KH. AGUS MIFTACH
Ketua Umum Front Persatuan Nasional

















Tidak ada komentar:

Posting Komentar