Pengajian Keseratus
Duapuluh (120)
Assalamu’akaikum
War. Wab.
Bismillahirrahmanirrahiem.
“Hai Bani Israel, ingatlah akan nikmatKu yang
telah Aku anugerahkan kepadamu dan Aku telah melebihkan kamu atas segala umat.
(122) Dan takutlah kamu akan suatu hari pada waktu seseorang tidak dapat
menggantikan orang lain sedikitpun, tidak akan diterima tebusan, tidak dapat
memberi syafaat, dan tidak akan ditolong. (123)” ; Al Baqoroh : 122-123.
Kita
akan membahas kedua ayat ini dengan pendekatan eklektik multiperspektif, baik
dari perspektif teologis, antropologis, historiografis, maupun psikologis dll
secara holistis agar mendapatkan pemahaman yang komprehensif dan hikmah
pengetahuan yang setinggi-tingginya dari kandungan kedua ayat ini.
Pokok Bahasan
Jumhur
mufassirin berpendapat “Bani Israil” pada ayat didepan,
bukanlah Bani Israil di masa Rasulullah saw melainkan nenek moyang Bani Israil.
Hanya nenek moyang di periode zaman yang mana tidak di jelaskan. Tetapi jika
merujuk pada kalimat “…ni’matiyallatie
an’amtu alaikum… (nikmatKu yang telah Aku anugerahkan kepadamu)”, maka
dapat ditafsirkan pada zaman Daud dan Sulaiman pada abad ke 10 SM, terutama
zaman Sulaiman (970-930 SM) yang dianggap sebagai puncak kebesaran Bani Israil
di masa silam. Tetapi para antropolog dan historiograf mengungkapkan fakta yang
berbeda. Mereka berpendapat bahwa Bibel berlebihan dalam menggambarkan
kebesaran kerajaan Sulaiman yang fakta sebenarnya hanya kerajaan kota yang kecil saja, dan
cepat runtuh. Beberapa tahun setelah meninggalnya Sulaiman, Jerusalem jatuh ke dalam kekuasaan Fir’aun Shisak I dari Dinasti Mesir yang ke 22. Hal itu a.l. dikemukakan oleh
sejarahwan Wells dalam A History of the World yang dikutip juga oleh Ahmad
Shalaby dalam Muqaranatul Adyan : Al Yahudiyah (1991).
Dengan
demikian, maka kalimat selanjutnya:”Wa
‘annie fadhdholtukum ‘alal-‘alamien” (dan Aku telah melebihkan kamu atas segala
umat), menjadi tidak sesuai jika diartikan secara duniawi. Berdasarkan
fakta negeri Kana’an pada puncak kejayaannya
hanyalah sebuah negeri kecil yang tidak memiliki kelebihan apapun terhadap
bangsa-bangsa besar dengan peradaban tinggi yang ada diseputarnya seperti
bangsa Mesir, Babilon (Irak) dan Asyur (Syria ). Maka pengertian ‘fadhdholtukum alal ‘alamien’ lebih bermakna ukhrowiyah atau
transenden, yakni kelebihan dalam memahami dan menjalankan iman tauhid yang
menurut keyakinan Yahudi yang sebenarnya, menjadi kunci pencapaian kebahagiaan
di akherat. Jika Bani Israil di masa Rasulullah saw memahami sejarah itu dan
konsisten dengan keyakinan tauhid nenek-moyang mereka, maka semestinya mereka
beriman kepada Rasulullah saw, sehingga berhak atas mereka nikmat sebagaimana
yang direrima nenek moyang mereka dahulu. Ayat 123 menegaskan sifat transenden
kedua ayat ini, dan mempertegas hukum-hukum akherat yang didasarkan atas
perbuatan ekfektif seseorang sewaktu hidup di dunia, dengan pertanggungjawaban
langsung yang bersifat individual. Tidak ada penebusan dosa dan tidak ada
syafaat bagi kaum musyrikin.
Zaman
Sulaiman
Kita
akan membahas zaman Sulaiman berdasarkan realitas sejarah bukan dongeng. Sulaiman
memiliki nama Israel Jedidiah (Kekasih Yahweh), putra Raja Daud dengan istri
Batsyeba yang bangsa Yebus. Jika bangsa Yebus termasuk dalam pengelompokan
bangsa Arab purba, maka Sulaiman berdarah campuran Yahudi-Arab. Sulaiman
memerintah mulai th. 970 SM menggantikan ayahnya Raja Daud yang wafat dalam
usia tua. Tindakan tragis pertama yang dilakukan Sulaiman ialah membunuh
kakaknya Adonia bersama komandan Yoab. Setelah itu ia memecat dan mengasingkan
pendeta Abyatar. Mereka telah memberontak terhadap ayahnya, Raja Daud.
Penulis
Deutronomi abad ke 6 SM yang berciri fundamentalis Yahudi, menuduh Sulaiman
sebagai penyembah berhala karena membangun kuil-kuil untuk para dewa dari
istri-istrinya yang sangat banyak dan sebagian besar bangsa asing. Sulaiman
juga dituduh telah ikut memuja dewa-dewi negeri tetangga seperti Astarte dewi Sidon , Milcom dewa Amman
dan Chemosh dewa Moab , yang
altar-altarnya di bangun di bukit-bukit sebelah timur Jerusalem . Karena kasus ini Raja Sulaiman
dinilai tidak melaksanakan ajaran pokok tzedek
(kebenaran/ketauhidan). Akibatnya dia tidak dapat menerapkan kedua ajaran pokok lainnya, yaitu mishpat (keadilan) dan shalom (kedamaian/kesejahteraan). Ihwal
Raja Bani Israil Sulaiman sudah kita bahas dalam pengajian-pengajian yang lalu,
dan lebih kita dalami dalam konteks penafsiran kedua ayat di atas.
Dari
sudut pandang yang lain, perbuatan Sulaiman dinilai positif sebagai afirmatif
terhadap kelompok minoritas, dan menunjukkan sikap toleran dan semangat pluralitas
yang tinggi. Pada titik ini kepemimpinan Sulaiman bersifat sekuler dan
menegakkan keadilan bagi semua agama dan kepercayaan yang ada di negaranya.
Sikap serupa juga dianut oleh para dinasti Islam di Cordova (Al-Andalusia) abad
ke 9-16 dan dinasti Utsmaniyah abad ke 16-20.
Tidak
seperti dalam dongeng yang serba indah, politik ekonomi Kerajaan Sulaiman
buruk. Program-program pembangunan yang sangt ambisius dan tidak produktif
serta tidak terencana dengan benar membuat ekonomi negara bangkrut. Sulaiman
terpaksa melepas dua puluh kota di Galilea Barat
untuk membayar hutang pembelian material kepada Raja Hiram dari Tirus (Phoenicia ).
Sulaiman menindas wilayah Utara (Israel ) dengan memecah belah
menjadi duabelas unit administrative yang masing-masing diwajibkan untuk
mengirimkan bahan pangan bagi kerajaan selama 30 hari dalam setahun dan
menyediakan laki-laki dalam jumlah kelewat besar untuk kerja paksa. Di wilayah
Selatan (Yehuda) hal itu tidak terjadi. Maka jelas ini merupakan ketidakadilan
yang sudah berlangsung sejak masa Daud dan lebih parah lagi di masa Sulaiman. Banyaknya laki-laki yang meninggalkan
pekerjaannya untuk kerja paksa di proyek-proyek pembangunan yang tidak
produktif semakin merusak perekonomian. Terdapat tidak kurang tigapuluh ribu
laki-laki Israel
dipaksa kerja rodi. Sedangkan di Selatan tidak terjadi demikian. Ini
menimbulkan kemarahan yang luas di Utara dan menumbuhkan semangat untuk
memisahkan diri dari Jerusalem
yang menindas.
Ketidakadilan
membuat disintegrasi. Putranya Yeroboam
(Yarub’am) yang menjabat komanda daerah pasukan kerajaan (corvee) memberontak dengan dukungan
seorang nabi di wilayah Utara. Raja Sulaiman berhasil memadamkan pemberontakan
ini, tetapi gagal menangkap Yeroboam yang berhasil lari ke Mesir dan mendapat
perlindungan di istana Fir’aun Shisak. Tidak lama setelah peristiwa ini
Sulaiman wafat (th. 930 SM), dimakamkan di sisi ayahnya Daud di Ir Daud (Kota
Daud) kotaraja Jerusalem .
Sulaiman digantikan putranya Rehabeam
(Rahub’am). Kepemimpinan Rehabeam diterima di Selatan sebagai keniscayaan,
tetapi di tolak di Utara. Yeroboam kembali dari Mesir dan segera ditahbiskan
sebagai Raja Israel di Utara dan membangun ibukota di Tirza. Maka berakhir
sudah kerajaan Kana’an Bersatu yang didirikan Daud pada th. 1.000 SM dan
berakhir di masa Sulaiman pada th. 930 SM, atau hanya berusia 70 th. Terutama
akibat kegagalan ekonomi dan ketidakadilan yang membuat negara bangkrut dan
disintegrasi.
Baitul
Maqdis
Selain
dongeng, maka saatu-satunya sumbangan berharga era Sulaiman kepada peradaban
Semit adalah pembangunan Haekal Muqaddas atau Baitul Maqdis (Tempat Suci) yang
di gagas dan di bangun di masa Daud dan diselesaikan pada masa Sulaiman. Haekal
Muqaddas yang dikalangan Bani Israil terkenal pula dengan sebutan Haekal
Sulaiman dimaksudkan sebagai tempat suci bagi penyimpanan Tabut Perjanjian atau
Tabut Suci, yaitu peti yang berisi Loh Batu yang bertuliskan 10 ayat Perjanjian
antara Yahweh dengan Bani Israel yang diterima Musa a.s. di bukit Sinai sekitar
abad ke 15 SM. Tabut Suci bagi Bani Israil merupakan perlambang kehadiran
Yahweh ditengah-tengah umatnya yang terpilih. Selama masa pengembaraan Bani
Israil, Tabut Suci itu dibawa serta dan ditempatkan di Kemah Suci yang dapat
berpindah setiap kali. Ketika Daud telah berhasil mempersatukan Kerajaan Israel
di Utara dan Kerajaan Yehuda di
Selatan , ia
memerlukan ibukota yang netral. Maka Jerusalem yang berhasil ditaklukkan pada
th. 1000 SM menjadi pilihan yang ideal. Maka tiba waktunya Daud membangun
sebuah kuil agung, tempat suci bagi singgasana Yahweh di muka bumi dan untuk
memberikan legitimasi bagi kedudukan Jerusalem
sebagai ibukota. Tapi Nabi Nathan mengungkapkan firman Yahweh belum mengijinkan
Daud membangun suatu Tempat Suci bagiNya. Menurut penulis Kitab Tawarikh, Daud
terlampau banyak menumpahkan darah, sehingga tidak diberi kehormatan ini.
Firman
yang memberi Ijin membangun Tempat Suci atau Baitul Maqdis baru diterima pada
masa pemerintahan Sulaiman. Para penulis
Tawarikh menyebutkan Sulaiman seorang yang cinta damai sehingga layak menerima
kehormatan ini. Maka dibangunlah Haekal Suci yang megah di bukit Zion sebuah situs yang
telah disiapkan Daud dengan cara membelinya dari raja lama Yebus Araunah.
Dengan berdirinya Baitul Maqdis menaikkan status Jerusalem
dari sekedar ibukota menjadi kota
suci. Atau inilah awal Jerusalem sebagai kota suci yang kemudian
menempati posisi sentral dalam sejarah monoteisme. Baitul Maqdis atau Masjidil
Aqsha (Masjid yang Jauh) merupakan tempat suci bagi agama Yahudi, Nasrani dan
Islam serta menjadi sumber sengketa yang tiada habis-habisnya di dunia hingga
masa sekarang.
Sekian,
semoga awal tahun syamsiyah 2007 memberikan berkah yang banyak bagi kita semua,
terima kasih.
Birrahmatillahi
Wabi’anihi fi Sabilih,
Wassalamu’alaikum
War. Wab.
KH.
AGUS MIFTACH
Ketua
Umum Front Persatuan Nasional
Tidak ada komentar:
Posting Komentar