Pengajian Keenampuluh
Delapan (68)
Assalâmu’alaikum
Wr.Wb..
Bismillahirrahmanirrahiem.
“Dan
dirikanlah salat, tunaikanlah zakat, dan rukuklah bersama orang-orang yang
rukuk” ; (Al-Baqoroh : 43).
Ayat
ini masih berkaitan dengan ayat sebelumnya dalam hubungannya dengan perilaku
orang-orang Yahudi. Kita lanjutkan eklektik pembahasan dari berbagai perspektif
sebagaimana biasa.
Pokok Bahasan
Asbabun-nuzul
ayat ini masih berkaitan dengan sikap dan perilaku orang-orang Yahudi Madinah
dengan mainstream Bani Quraizah dan Bani Nadir yang merupakan dua suku besar
yang berpengaruh di kalangan Bani Israil.
Dalam
ayat ini, Allah menjatuhkan tiga macam perintah kepada Bani Israil, yaitu:
- Agar
mereka mendirikan salat, yakni menghadapkan seluruh hati kepada Allah swt.
dengan tulus-khusyuk yang merupakan jiwa ibadah salat, dengan melengkapi
syarat-rukunnya serta menjaga waktu-waktunya.
- Agar
mereka menunaikan zakat sebagai pernyataan syukur kepada Allah swt. yang
telah memberikan nikmat kehidupan dan rizki dengan membantu fakir miskin
dan sebaliknya, untuk menumbuhkan kerjasama yang harmonis dalam
masyarakat.
- Agar
mereka memasuki jamaah Kaum Muslimin.
Ulasan
Tentang
penekanan kata rukuk (warka’uu), menurut Tafsir Jalalain berkaitan
dengan cara-cara salat orang Yahudi yang tidak ada gerakan rukuk. Maka mereka
diminta melakukan rukuk sesuai syariat Islam dan masuk ke dalam jamaah
peribadatan Kaum Muslimin. Makna lafadz “ma’arroki’ien” dalam pengertian
demikian. Sementara itu Tafsir Ibnu Katsir menerangkan bahwa perintah salat dan
zakat ini harus didahului dengan keimanan Bani Israil kepada Risalah Muhammad
SAW. Tanpa keimanan itu, maka tidak sah semua amal peribadatan dimaksud.
Perintah
dalam ayat ini juga berlaku bagi segenap Kaum Muslimin. Yang terpenting dari
kandungan ayat ini bagi Muslimin ialah tentang keutamaan salat berjama’ah.
Banyak ‘ulama’ menjadikan ayat ini sebagai dalil yang mewajibkan atau
meninggikan keutamaan salat berjama’ah.
Dalam
kaitan dengan hal itu Rasulullah SAW bersabda :
“Sholatul-jamaa’ati
afdholu min sholati ahadikum wahdahu bi-khomsatin wa-‘isriena juz’a(n)” :
“Sholat jama’ah lebih utama dari sholat sendirian salah seorang diantara kamu
dengan dua puluh lima bagian” ; (Al-Umm Imam Syafi’i dari Abu Hurairah r.a.)
Kaum
Ibrani ke Mesir yang pertama
Dalam
beberapa pengajian terdahulu telah kita ungkapkan tentang sejarah asal-usul
Bani Israil yang berakar pada Kaum Hebrew atau Ibri yang kemudian disebut
Bangsa Ibrani yang berpangkal dari Abraham atau Ibrahim a.s. Antropolog Ahmad
Shalaby menyebut Ibrahim bin Tarih berasal dari Aur-Khaldan atau Ur-Kasdim
(istilah Bibel), Mesopotamia Selatan. Tetapi teolog Kristen Berthold Pariera
menyebut asal Abaraham adalah kota Haran yang terletak di barat laut
Mesopotamia. Menurut teolog Berthold dalam rencana perjalanan untuk hijrah ke
Kana’an, Tarih atau Terah (istilah Bibel) dan rombongan anggota keluarganya
termasuk anaknya Ibrahim singgah di kota Haran dan menetap beberapa lama di
kota itu hingga Terah meninggal. Dari kota Haran itulah sesungguhnya perjalanan
Abraham atau Ibrahim ke Kana’an dimulai (Berthold A. Pariera O. Carm, Abraham Imigran Tuhan dan
Bapak Bangsa-bangsa, 2004 : hal. 19-25). Tetapi sebenarnya kedua versi ini
tidak berbeda secara prinsipiil. Antropolog Karen Armstrong menyebut Ibrahim berasal
dari Ur, sama dengan Shalaby.
Tentang
perjalanan Nabi Ibrahim Al-Khalil bin Tarih a.s dari Aur ke Kana’an telah kita
ungkapkan dalam beberapa pengajian terdahulu. Kini kita akan membahas
pengungsian Ibrahim ke Mesir sebagai kedatangan Bangsa Ibrani pertama kali ke
negeri Delta Nil yang subur itu.
Ketika
itu negeri Kana’an dilanda kemarau kering yang panjang yang mengancam kehidupan
Ibrahim dan keluarga besarnya. Mereka kemudian berimigrasi lagi ke Selatan,
yaitu ke Mesir yang subur-makmur dengan kemajuannya dibidang pertanian. Masa
itu kerajaan besar Mesir diperintah oleh dinasti Amalik (Amalekites).
Ibrahim, Sarah istrinya dan rombongannya
memasuki kota Mesir yang ramai. Kecantikan Sarah segera menarik perhatian
banyak orang terutama para punggawa Mesir yang segera melaporkan hal ini kepada
Fir’aun. Manyadari hal ini Ibrahim menyuruh Sarah mengaku sebagai adiknya, agar
ia tidak dibunuh oleh Fir’aun (Bibel : Kejadian 12 : 11-13). Benar, karena
Fir’aun ternyata memang menginginkan Sarah yang diaku sebagai adiknya itu untuk
menjadi istrinya. Ibrahim mendapat sambutan baik dari Fir’aun, dilimpahi dengan
berbagai hadiah domba, lembu, keledai, kuda, unta, budak laki-laki dan
perempuan (Kejadian 12 : 16). Walhasil Sarah
diambil menjadi istri Fir’aun, tetapi Bibel mengisahkan adanya “tulah” yang
hebat yang menimpa Fir’aun dan istananya disertai suatu pemberitahuan Tuhan
bahwa Sarah adalah istri Ibrahim (Kejadian 12 : 17). Maka dengan marah Fir’aun
memanggil Ibrahim dan berkata: “Apakah yang kau perbuat ini terhadapku ?
Mengapa tidak kau beritahukan, bahwa ia istrimu ? Mengapa engkau katakan : ‘dia
adikku’, sehingga aku mengambilnya menjadi istriku ? Sekarang, inilah istrimu,
ambillah dan pergilah !” (Kejadian 12 : 18-19). Fir’aun lalu mengusir Ibrahim
dan Sarah keluar dari Mesir dengan damai, dan seluruh hadiah harta bendanya
yang berlimpah dari Fir’aun diijinkan untuk dibawa serta (Kejadian 12 : 20).
Teolog
Berthold menulis (2004): “Ditengah ancaman terhadap hidupnya sendiri Ibrahim
tidak segan-segan berbohong dan mengorbankan istrinya. Apalagi disertai dengan
pertukaran harta benda. Perbuatan ini menurut Berthold jauh dari terpuji, dan
harus diakui, Fir’aun yang tidak menerima janji berkat (dari Yahweh) itu tampil
lebih mulia”.
Al-Qur’an
memiliki pandangan yang berbeda dengan Bibel dan para teolog tentang Ibrahim
a.s. (dan ras keturunannya) Dalam hal
ini Al-Qur’an menegaskan :
“Kami
telah menjadikan mereka (Ibrahim, Ishak dan Ya’qub) sebagai pemimpin-pemimpin
yang memberi petunjuk dengan perintah Kami, dan telah Kami wahyukan kepada
mereka mengerjakan kebajikan, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan
hanya kepada Kami-lah mereka selalu menyembah” ; (Al-Anbiya : 73).
Jerusalem
semakin suram.
Th. 870 SM
Raja Yehosofa naik tahta di Jerusalem. Semula ia dipuji sebagai raja yang setia
kepada Yahweh sebagai satu-satunya Tuhan Yehuda. Tetapi ternyata kemudian ia
menerima pernikahan puteranya Yoram dengan Putri Atalya putri Raja Ahab dan Ratu Izebel dari Israel yang
penyembah Dewa Baal. Putri Atalya membawa patung Baal tuhan pagan dari Phunisia
itu menjadi sembahan di Jerusalem dengan membangun kuil Baal di kota itu yang
dipimpin oleh pendeta agama Sidon bernama Mattan.
Pernikahan
Yoram dan Atalya secara politis telah menempatkan Yehuda menjadi vassal Israel.
Hal itu terbukti dalam peperangan melawan Damaskus abad ke-9 dan ke-8 SM,
Yehuda menempatkan kekuatannya dibawah
Israel. Tetapi peperangan Yehuda melawan Moab, Ammon dan Seir mendapat dukungan
Israel sehingga berhasil dimenangkan dan memberikan kemakmuran bagi Jerusalem.
Yehosofa memerintah hingga 848 SM. Ia digantikan Yoram putranya. Tetapi situasi
berubah cepat. Raja-raja wilayah Asiria (Irak) membentuk koalisi yang berpusat
di Niniwe dengan kekuatan yang terbesar pada zaman itu. Mereka bermaksud
meluaskan kekuasaan ke wilayah Barat dan terus menuju Laut Tengah. Mereka
mengalahkan koalisi Israel-Damaskus-Anatolia pada th. 863 SM yang mencoba
menahan gerak laju mereka. Namun mereka membiarkan Yehuda yang tidak menarik
itu tetap merdeka. Tetapi bukan berarti kedamaian meliputi Jerusalem. Yoram
wafat, ia digantikan putranya yang tak lama kemudian wafat juga, sehingga yang
naik tahta kemudian (841 SM) adalah cucu Putri Atalya yang masih kecil. Ini
menempatkan Putri Atalya sebagai Wali Raja. Atalya berambisi membasmi Dinasti
Daud melalui berbagai pembunuhan-pembunuhan. Tetapi aksi ini mendapat
perlawanan dari pendeta Haekal Sulaiman dan para aristokrat yang berhasil
mengorganisasikan kudeta terhadap Atalya, dan melantik cucunya dari darah
keturunan Yoram (Dinasti Daud) yang masih bayi Yoas menjadi Raja Yehuda.
Yoas sendiri nyaris tewas oleh aksi Atalya kalau tidak diselamatkan para
pendeta di Haekal Sulaiman. Mereka kemudian mengeksekusi Putri Atalya dan
merobohkan kuil Baal-nya. Sementara dibawah raja bayi itu Jerusalem terancam
berbagai musuh dari luar. Masa-masa suram Jerusalem agaknya terus berjalan.
Kita lanjutkan pada pengajian berikutnya. Sekian, terima kasih.
Birrahmatillahi
Wabi’aunihi fi Sabilih.
Wassalamu’alaikum
War. Wab.
Jakarta,
02 Desember 2005,
Pengasuh,
Tidak ada komentar:
Posting Komentar