11.7.17

Pengajian Keenampuluh Delapan (68)

Pengajian Keenampuluh Delapan (68)

Assalâmu’alaikum Wr.Wb..
Bismillahirrahmanirrahiem.






“Dan dirikanlah salat, tunaikanlah zakat, dan rukuklah bersama orang-orang yang rukuk” ; (Al-Baqoroh : 43).

Ayat ini masih berkaitan dengan ayat sebelumnya dalam hubungannya dengan perilaku orang-orang Yahudi. Kita lanjutkan eklektik pembahasan dari berbagai perspektif sebagaimana biasa.

Pokok Bahasan

Asbabun-nuzul ayat ini masih berkaitan dengan sikap dan perilaku orang-orang Yahudi Madinah dengan mainstream Bani Quraizah dan Bani Nadir yang merupakan dua suku besar yang berpengaruh di kalangan Bani Israil.

Dalam ayat ini, Allah menjatuhkan tiga macam perintah kepada Bani Israil, yaitu:
  1. Agar mereka mendirikan salat, yakni menghadapkan seluruh hati kepada Allah swt. dengan tulus-khusyuk yang merupakan jiwa ibadah salat, dengan melengkapi syarat-rukunnya serta menjaga waktu-waktunya.
  2. Agar mereka menunaikan zakat sebagai pernyataan syukur kepada Allah swt. yang telah memberikan nikmat kehidupan dan rizki dengan membantu fakir miskin dan sebaliknya, untuk menumbuhkan kerjasama yang harmonis dalam masyarakat.
  3. Agar mereka memasuki jamaah Kaum Muslimin.

Ulasan

Tentang penekanan kata rukuk (warka’uu), menurut Tafsir Jalalain berkaitan dengan cara-cara salat orang Yahudi yang tidak ada gerakan rukuk. Maka mereka diminta melakukan rukuk sesuai syariat Islam dan masuk ke dalam jamaah peribadatan Kaum Muslimin. Makna lafadz “ma’arroki’ien” dalam pengertian demikian. Sementara itu Tafsir Ibnu Katsir menerangkan bahwa perintah salat dan zakat ini harus didahului dengan keimanan Bani Israil kepada Risalah Muhammad SAW. Tanpa keimanan itu, maka tidak sah semua amal peribadatan dimaksud.
Perintah dalam ayat ini juga berlaku bagi segenap Kaum Muslimin. Yang terpenting dari kandungan ayat ini bagi Muslimin ialah tentang keutamaan salat berjama’ah. Banyak ‘ulama’ menjadikan ayat ini sebagai dalil yang mewajibkan atau meninggikan keutamaan salat berjama’ah.
Dalam kaitan dengan hal itu Rasulullah SAW bersabda :
“Sholatul-jamaa’ati afdholu min sholati ahadikum wahdahu bi-khomsatin wa-‘isriena juz’a(n)” : “Sholat jama’ah lebih utama dari sholat sendirian salah seorang diantara kamu dengan dua puluh lima bagian” ; (Al-Umm Imam Syafi’i  dari Abu Hurairah r.a.)

Kaum Ibrani ke Mesir yang pertama


Dalam beberapa pengajian terdahulu telah kita ungkapkan tentang sejarah asal-usul Bani Israil yang berakar pada Kaum Hebrew atau Ibri yang kemudian disebut Bangsa Ibrani yang berpangkal dari Abraham atau Ibrahim a.s. Antropolog Ahmad Shalaby menyebut Ibrahim bin Tarih berasal dari Aur-Khaldan atau Ur-Kasdim (istilah Bibel), Mesopotamia Selatan. Tetapi teolog Kristen Berthold Pariera menyebut asal Abaraham adalah kota Haran yang terletak di barat laut Mesopotamia. Menurut teolog Berthold dalam rencana perjalanan untuk hijrah ke Kana’an, Tarih atau Terah (istilah Bibel) dan rombongan anggota keluarganya termasuk anaknya Ibrahim singgah di kota Haran dan menetap beberapa lama di kota itu hingga Terah meninggal. Dari kota Haran itulah sesungguhnya perjalanan Abraham atau Ibrahim ke Kana’an dimulai (Berthold  A. Pariera O. Carm, Abraham Imigran Tuhan dan Bapak Bangsa-bangsa, 2004 : hal. 19-25). Tetapi sebenarnya kedua versi ini tidak berbeda secara prinsipiil. Antropolog Karen Armstrong menyebut Ibrahim berasal dari Ur, sama dengan Shalaby.

Tentang perjalanan Nabi Ibrahim Al-Khalil bin Tarih a.s dari Aur ke Kana’an telah kita ungkapkan dalam beberapa pengajian terdahulu. Kini kita akan membahas pengungsian Ibrahim ke Mesir sebagai kedatangan Bangsa Ibrani pertama kali ke negeri Delta Nil  yang subur itu.
Ketika itu negeri Kana’an dilanda kemarau kering yang panjang yang mengancam kehidupan Ibrahim dan keluarga besarnya. Mereka kemudian berimigrasi lagi ke Selatan, yaitu ke Mesir yang subur-makmur dengan kemajuannya dibidang pertanian. Masa itu kerajaan besar Mesir diperintah oleh dinasti Amalik (Amalekites). Ibrahim,  Sarah istrinya dan rombongannya memasuki kota Mesir yang ramai. Kecantikan Sarah segera menarik perhatian banyak orang terutama para punggawa Mesir yang segera melaporkan hal ini kepada Fir’aun. Manyadari hal ini Ibrahim menyuruh Sarah mengaku sebagai adiknya, agar ia tidak dibunuh oleh Fir’aun (Bibel : Kejadian 12 : 11-13). Benar, karena Fir’aun ternyata memang menginginkan Sarah yang diaku sebagai adiknya itu untuk menjadi istrinya. Ibrahim mendapat sambutan baik dari Fir’aun, dilimpahi dengan berbagai hadiah domba, lembu, keledai, kuda, unta, budak laki-laki dan perempuan (Kejadian  12 : 16). Walhasil Sarah diambil menjadi istri Fir’aun, tetapi Bibel mengisahkan adanya “tulah” yang hebat yang menimpa Fir’aun dan istananya disertai suatu pemberitahuan Tuhan bahwa Sarah adalah istri Ibrahim (Kejadian 12 : 17). Maka dengan marah Fir’aun memanggil Ibrahim dan berkata: “Apakah yang kau perbuat ini terhadapku ? Mengapa tidak kau beritahukan, bahwa ia istrimu ? Mengapa engkau katakan : ‘dia adikku’, sehingga aku mengambilnya menjadi istriku ? Sekarang, inilah istrimu, ambillah dan pergilah !” (Kejadian 12 : 18-19). Fir’aun lalu mengusir Ibrahim dan Sarah keluar dari Mesir dengan damai, dan seluruh hadiah harta bendanya yang berlimpah dari Fir’aun diijinkan untuk dibawa serta (Kejadian 12 : 20).

Teolog Berthold menulis (2004): “Ditengah ancaman terhadap hidupnya sendiri Ibrahim tidak segan-segan berbohong dan mengorbankan istrinya. Apalagi disertai dengan pertukaran harta benda. Perbuatan ini menurut Berthold jauh dari terpuji, dan harus diakui, Fir’aun yang tidak menerima janji berkat (dari Yahweh) itu tampil lebih mulia”.

Al-Qur’an memiliki pandangan yang berbeda dengan Bibel dan para teolog tentang Ibrahim a.s. (dan ras keturunannya)  Dalam hal ini Al-Qur’an menegaskan :






“Kami telah menjadikan mereka (Ibrahim, Ishak dan Ya’qub) sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami, dan telah Kami wahyukan kepada mereka mengerjakan kebajikan, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kami-lah mereka selalu menyembah” ; (Al-Anbiya : 73).

Jerusalem semakin suram.

Th. 870 SM Raja Yehosofa naik tahta di Jerusalem. Semula ia dipuji sebagai raja yang setia kepada Yahweh sebagai satu-satunya Tuhan Yehuda. Tetapi ternyata kemudian ia menerima pernikahan puteranya Yoram dengan Putri Atalya putri  Raja Ahab dan Ratu Izebel dari Israel yang penyembah Dewa Baal. Putri Atalya membawa patung Baal tuhan pagan dari Phunisia itu menjadi sembahan di Jerusalem dengan membangun kuil Baal di kota itu yang dipimpin oleh pendeta agama Sidon bernama Mattan.
Pernikahan Yoram dan Atalya secara politis telah menempatkan Yehuda menjadi vassal Israel. Hal itu terbukti dalam peperangan melawan Damaskus abad ke-9 dan ke-8 SM, Yehuda  menempatkan kekuatannya dibawah Israel. Tetapi peperangan Yehuda melawan Moab, Ammon dan Seir mendapat dukungan Israel sehingga berhasil dimenangkan dan memberikan kemakmuran bagi Jerusalem. Yehosofa memerintah hingga 848 SM. Ia digantikan Yoram putranya. Tetapi situasi berubah cepat. Raja-raja wilayah Asiria (Irak) membentuk koalisi yang berpusat di Niniwe dengan kekuatan yang terbesar pada zaman itu. Mereka bermaksud meluaskan kekuasaan ke wilayah Barat dan terus menuju Laut Tengah. Mereka mengalahkan koalisi Israel-Damaskus-Anatolia pada th. 863 SM yang mencoba menahan gerak laju mereka. Namun mereka membiarkan Yehuda yang tidak menarik itu tetap merdeka. Tetapi bukan berarti kedamaian meliputi Jerusalem. Yoram wafat, ia digantikan putranya yang tak lama kemudian wafat juga, sehingga yang naik tahta kemudian (841 SM) adalah cucu Putri Atalya yang masih kecil. Ini menempatkan Putri Atalya sebagai Wali Raja. Atalya berambisi membasmi Dinasti Daud melalui berbagai pembunuhan-pembunuhan. Tetapi aksi ini mendapat perlawanan dari pendeta Haekal Sulaiman dan para aristokrat yang berhasil mengorganisasikan kudeta terhadap Atalya, dan melantik cucunya dari darah keturunan Yoram (Dinasti Daud) yang masih bayi Yoas menjadi Raja Yehuda. Yoas sendiri nyaris tewas oleh aksi Atalya kalau tidak diselamatkan para pendeta di Haekal Sulaiman. Mereka kemudian mengeksekusi Putri Atalya dan merobohkan kuil Baal-nya. Sementara dibawah raja bayi itu Jerusalem terancam berbagai musuh dari luar. Masa-masa suram Jerusalem agaknya terus berjalan. Kita lanjutkan pada pengajian berikutnya. Sekian, terima kasih.

Birrahmatillahi Wabi’aunihi fi Sabilih.
Wassalamu’alaikum War. Wab.

Jakarta, 02 Desember 2005,
Pengasuh,



HAJI AGUS MIFTACH


Ketua Umum Front Persatuan Nasional

Tidak ada komentar:

Posting Komentar